
Sudah pada bosen pastinya karena gak update sebulan, tapi sekarang author kembaliii! alhamdulilah diberi kesehatan.
Mira mengetuk-ngetuk layar handphone yang ia taruh diantara kedua pahanya yang dilapisi kain. Kakinya terus bergerak, ia sangat gugup, gelisah bercampur cemas dan keringat dingin.
Mira baru saja selesai dirias oleh para MUA, wajahnya bersinar dan cantik, orang tuanya tak salah pilih MUA, ini memuaskan!.
Mira menatap lurus kedepan dan beradu dengan pikirannya.
"Mau air putih?" tawar Maeza.
Mira menoleh, orang yang ia butuhkan datang tepat waktu.
"Bundaaaa" panggilnya sembari merentangkan kedua tangan.
Maeza tersenyum lebar menyambut dengan pelukan hangat.
"Kamu gelisah?" tebaknya.
Mira mengangguk.
"Mau bunda temani sebentar?"
"Uhmmm" dehem Mira.
Maeza beralih pada dua perias pengantin yang berada dikamar.
"Mbak, bisa keluar sebentar aja?" pinta Maeza dan tersenyum kepada mereka.
"Baik nyonya" ucap keduanya, berangsur pergi.
Maeza melihat putrinya dengan seksama, naluri seorang ibu pasti mengerti, ditambah ia juga pernah menikah. Anaknya ini sedang berdebar.
"Mira lihat bunda nak" pintanya.
Mira menatap Maeza.
"Bunda bisa ngerasain apa yang anak bunda rasakan, kamu gugup, takut, khawatir, semua itu sudah bunda alami..Kamu berdoa, minta ke Allah semoga dilancarkan pernikahan kalian ini dan berjalan dengan baik, percaya sama Allah semoga apa yang membuat kamu cemas tidak terjadi"
"Tarik nafas kamu dalam-dalam,terus hembuskan dengan perlahan, ucapkan bismillah" ucap Maeza.
Mira mengikuti perkataan Maeza, ia mulai menarik nafas lalu menghembuskan dengan perlahan.
"Bismillah.." ucapnya.
Maeza tersenyum, ia mengusap punggung anaknya.
"Alhamdulilah, merasa lebih baik?"
'Lumayan melegakan'
Mira mengangguk.
"Bunda" panggilnya.
"Iyaa?"
"Jadi seperti ini yang dirasakan Aira ya bunda, tapi Mira rasa Aira mengalami gugup lebih parah karena belum kenal dekat sama yang dinikahi" ucap Mira.
Maeza mengangguk.
"Benar, dan begini cara mamanya nenangin, Aira itu wanita yang kuat, begitu juga anak bundaa" ucap Maeza.
__ADS_1
Mira tersenyum mendengarnya.
"Hah...Bunda terharu nak, tinggal beberapa jam lagi ayah dan bunda melepas kamu yang sudah menjadi istri orang"
Air mata tak terbendung pun menetes.
"Bundaaa"
"Bunda gak sedih nak, ini air mata bahagia, bunda bahagiaa" ucapnya sambil terisak.
Mira mempererat pelukannya pada sang ibunda.
"Mira yang dulu hobinya keliaran bareng Aira, kesana kemari selalu berdua sama bunda. kamu tuh dulu sekecil ini nak (memperagakan menggendong bayi), cengeng, satu jari luka dikit yang di obati sepuluh jari, terus sampai umur tiga belas tahun, tidur wajib dipeluk sama papa, kalau gak begitu gak mau tidur haha" ucapnya dibarengan kekehan kecil.
'Gue inget, kejadian itu karena kena serpihan kayu di halaman belakang..tapi bunda inget semuanya dengan detail'
"hiks..Bunda bangga bisa menjadi orang tua kamu nak, kamu harus jadi istri yang berbakti, gak boleh ngelawan apalagi berdecap kesel ke suami, neraka tempat kamu nanti" ucap Maeza.
"Iyaa bunda..bunda jangan nangis ah, nanti aku ikutan nangis" suara Mira bergetar menahan air mata.
"Bunda berhenti nangis nak, tapi bunda gak bisa nutupi rasa bahagia ini"
Mira mengusap air mata yang terus menetes membasahi pipi Maeza, lalu mendekatkan wajahnya mengecup pipi sang ibu.
"Bunda, terimakasih udah jadi pelindung dan penasehat terbaik dalam hidup Mira, bunda adalah bunda yang terbaik diseluruh universe" ucap Mira.
"Banyak banget universe"
Mira tersenyum lebar.
"Benar, sebanyak itu juga rasa bersyukur dan cinta Mira ke ayah bundaa" ucapnya.
Maeza memeluk lagi putrinya.
"Nanti aku gak bisa dibawa pulang sama Raka bun, kasian dia udah kasih mahar mahal tapi pulang tangan kosong" candanya.
Maeza memukul pelan lengan Mira.
"Heh kamu ini, bunda gak jual kamu ya"
"Bercanda bunda cantikk" ucapnya.
Mereka tertawa bersama sembari berpelukan.
Tok..Tok..
"Bunda? bunda didalam?" tanya seseorang dari luar pintu kamar.
"Bun itu suara ayah" ucap Mira.
"Oiyaa bener, ayah nyariin bunda ini pasti, ditinggal sebentar udah kangen"
Mira tertawa dibuatnya.
Maeza melepas pelukannya.
"Ada ayah, masuk aja" ucap Mira.
cklek..
"Hemm disini rupanya bunda bersembunyi" ucap Ayah Mira, kedua tangannya, masing-masing berada diatas pinggang.
__ADS_1
'Aihh gemes banget ayah'
"Ayo yah tangkep aja si bunda" ucap Mira mengompor-ngompori orang tuanya.
"Ayah ditinggal bentar udah nyariin, bunda ngangenin banget ya?" tanya Maeza.
Ayah Mira tertawa.
Ia meletakkan tangannya didada.
"Ayah bisa merasakan kalau bunda gak ada disekitar ayah, kemana kira-kira belahan jiwa ku ini pergi, ayah resah jauh dari bunda" ucapnya melebih-lebihkan.
Astaga sangat menggelikan dan menggelitik sekali.
"Hahaha astaga ayah, tuh bun bales bun dengan keromantisan bunda" ucap Mira.
"Gamau ah ayah kamu raja lebay"
Maeza merangkul pinggang suaminya.
Ya tuhan lucu sekali keluarga ini.
Mira mendekat kedua orang tuanya, dia pasti akan merindukan suasana ini, bermanja dengan orang tua, selalu diberi perhatian dan kasih sayang yang luar biasa.
"Ayah sama bunda pasti berat ngelepas Mira" ucap Mira.
Ayahnya tersenyum, menyentuh pipi putrinya.
"Pasti, ayah harap Mira setelah menikah bisa memberi kasih sayang dan seluruh perhatian ke suamimu, jangan lupa mampir ke rumah ini ya"
Mira mengangguk.
"Mau peluk kalian berdua" pintanya.
"Sini sayang" ucap Maeza.
Mereka bertiga berpelukan, keduanya mencium pipi kanan dan kiri Mira. menyalurkan semua energi mereka untuk sang putri dihari berbahagia ini.
"Bunda, Mira gak ngelarang kalian buat punya anak lagi" ucapnya.
"Hah?" ucap kedua orang tua Mira serentak.
"Iyaa kan dulu Mira ngelarang, karena Mira mau jadi satu-satunya, tapi sekarang kalian bakal kesepian, Mira udah pikirin ini matang-matang"
Maeza melihat sang suaminya.
"Anu, Mira sayang, bunda sudah tidak ingin punya momongan lagi, lebih baik Mira yang segera kasih kami momongan, benarkan pa?"
"Benar, cucu yang cantik dan ganteng"
Mira mengedipkan sebelah matanya, lalu mengacungkan ibu jari.
"Siap! sepuluh cucu mau gak?"
"Se-sepuluh?"
Mira mengangguk dengan percaya diri.
"Harus punya banyak anak, karena kami saling mencintai, dan gak terpisahkan!" ucapnya.
"Ayah, anakmu luar biasa" ucap Maeza membuat suaminya tertawa.
__ADS_1
NGOMONG" AYAH MIRA BELUM PUNYA NAMA KAN YA? AUTHOR SAMPAI LUPA NAMA PEMERAN SENDIRI SANGKING STRESS NYA 〒_〒.