
**Alhamdulilah karya author muncul diberanda..Sini absen siapa yang baru baca cerita aku :v
terimakasih banyak buat semua yang dukung cerita aku...Jangan lupa koreksinya yaaa**..
Alex membawa Aira kekamar, dan mendudukkannya ditepi ranjang.
"Aira Alkeyna" panggil Alex.
"Hum?"
"Saya tidak suka lihat kamu diam"
Aira mengerutkan dahi.
"Saya tau kamu biasanya tidak bisa diam, jadi sikap kamu yang gini bikin saya tidak suka" ucap Alex.
Aira pun tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba menjadi sangat malas untuk berbicara
"Aira"
"Hum"
"Saya sayang sama kamu" ucap Alex.
Aira mengerjapkan mata, apa Aira tidak salah? Alex baru saja bilang sayang padanya? Itu benar keluar dari mulut tajam Alex?.
"Kamu tidak percaya?"
Spontan Aira menggeleng.
"Ehmm..Pe-percaya kok"
'Demi apa? Pak Alex sayang gue?'
'Gue gak salah denger kan?'
'Allahu jangan sampai muka gue memerah please'
Aira membuang muka kearah lain.
"Saya sayang sama kamu" ucap Alex lagi.
Jantung Aira semakin berdebar tak karuan, ia tidak berani menatap wajah suaminya.
"Sa-"
Aira menutup mulut Alex.
'Iya tau! Jangan diucapin lagi'
'Gak ngerti banget orang salting'
"Iya-iya" ucap Aira.
Alex menatapnya tajam, buru-buru Aira melepas bekapannya lalu membuang muka. Lama Alex menatapnya membuat Aira semakin risih.
'Mau ngapain sih?'
Tiba-tiba Alex mendorong tubuh Aira hingga tergeletak, pria itu naik keatasnya.
"Ba-bapak mau ngapain?!" Pekik Aira.
Rasa panik menyerangnya, posisi yang sangat membahayakan.
"Pak!"
Aira menahan dada Alex, tapi percuma tenaga pria lebih kuat. Alex semakin mendekatkan wajahnya membuat Aira menutup rapat matanya.
"Sa-saya pusing" ucap Aira.
Alex langsung berhenti, perlahan mata Aira terbuka melihat wajah Alex.
"Maaf saya lupa"
Alex bergeser dari tubuh Aira.
'Gue salah ya?'
'Mukanya kecewa banget'
'Tapi gue beneran pusing, kalau dipaksain bisa tumbang dikampus besok'
Aira melirik pria disebelahnya dengan ragu-ragu.
"Pak..Ehm..."
Aira menggigit bibir bawahnya.
'Gimana cara minta maaf nya'
Dengan ragu-ragu Aira menatap Alex.
"Sa-saya minta maaf, saya gak enak badan" ucapnya pelan.
Alex mengangguk, hanya mengangguk tidak lebih.
"Tidur" ucap Alex datar.
Aira yakin pria itu kecewa, tanpa pikir panjang Aira merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut.
Ia melirik lagi Alex yang menutup matanya.
"Pak"
"Hm?"
"Marah?"
"Enggak"
"Kok dingin?"
"Saya ngantuk"
"Bohong" bantah Aira.
Alex tidak menjawab, Aira semakin yakin Alex marah. Ia memdekatkan tubuhnya pada Alex lalu memeluknya.
Alex membuka matanya.
__ADS_1
"Peluk aja" ucap Aira.
Dengan senang hati Alex memeluk balik Aira.
"Jangan marah, bapak serem" cibir Aira.
"Hmm"
"Jangan hmm"
Aira memukul pelan dada Alex.
"Gini aja deh..Sebagai permintaan maaf saya kasih bonus" ucap Aira.
"Apa?"
Aira mendongak lalu mencium pipi Alex.
"Itu bonus" ucapnya sambil tersenyum.
"Bonus itu disini"
Alex menunjuk bibirnya.
Cup!
"Pak Alex!"
Alex mencuri kecupannya.
"Apa?" tanya Alex dengan wajah tak bersalah.
"Nyebelin"
Cup
Cup
Cup
Alex malah memberinya kecupan bertubi-tubi.
"Ish!" Kesalnya membuat Alex terkekeh.
"Tidur, sebelum saya berubah pikiran"
Aira langsung memejamkan mata, setakut itu dia Alex berubah pikiran.
Paginya.
Aira tengah memasang dasi untuk Alex, ia sedikit berjinjit karena Alex lebih tinggi darinya, jangan lupakan tangan Alex yang melingkar dipinggang wanita itu.
"Kamu kalau kekampus tidak usah cantik-cantik" ujar Alex.
Alex menatap heran.
"Kenapa?"
"Nanti kamu diambil orang, saya tidak rela" ucapnya.
"Bisa aja si bapak"
Pasang dasi Alexpun selesai, Aira beralih merapikan pakaiannya, hari ini ia mengenakan kemeja biru oversize dipadukan dengan celana kain berwarna cream.
"Jangan perdulikan, setelah mata kuliah Raka adalah mata kuliah saya, kalau dia macam-macam kamu bisa langsung bilang kesaya" ucap Alex.
Aira mengangguk.
Usai sarapan pagi, mereka masuk kedalam mobil untuk berangkat kekampus.
Aira tampak ragu membuka pintu.
"Masuk" perintah Alex.
"I-iya"
Aira menghela nafas lalu masuk kedalam mobil. Selama perjalanan keduanya sama-sama diam.
"Kamu gugup?" tanya Alex.
Aira mengangguk.
"Waktu saya gak ada, yang pasti ada Mira disamping kamu"
Alex menggenggam tangan Aira.
"Saya percaya dia bisa jaga kamu" ucap Alex.
'Ah iya..Ada Mira'
'Bisa-bisanya gue lupa punya sahabat siluman harimau'
"Bisa Aira?"
Aira mengangguk.
Sampailah dilingkungan Universitas, Aira turun lebih dulu setelah berpamitan dengan Alex.
Langkah kakinya dipercepat agar segera sampai kekelasnya. Pukul tujuh pagi tentu saja sepi, tinggal melewati satu lorong lagi maka Aira sampai.
"Suaminya mana?"
Aira menoleh kekiri lorong arah ruang musik, ada Raka dengan membawa tasnya berjalan mendekati Aira.
'****** pake ketemu disini lagi'
Aira berusaha santai, ia kembali melangkah mengabaikan Raka.
"Sungguh tidak sopan ya, apa suami kamu tidak mengajarkan sopan santun?"
Tangan Aira mengepal.
Ini yang ia tidak suka, kenapa Raka tidak menjadi perempuan saja? Mulutnya sudah seperti tetangga yang julid.
Ia berbalik.
"Tentu suami saya mengajarkan sopan santun..Bahkan beliau mengajarkan saya cara menjaga mulut agar bisa dihargai orang lain" Aira menyindir Raka.
Raka dengan wajah sialannya itu mangut-mangut.
"Saya jadi penasaran..Kamu bayar berapa Alex sampai mau menikahi kamu?"
__ADS_1
'What?'
'Apa maksud?!'
"Bapak kurang puas ganggu saya?"
Raka menunjuk dirinya.
"Saya? Saya ganggu kamu?"
Ia membuang muka.
"Kamu kira saya kurang kerjaan?"
'Terus faedahnya lo ngusik pernikahan gue apa jaenab?'
"Oh begitu? Lantas kenapa bapak sangat perduli pada hubungan saya? Atau jangan-jangan bapak naksir sama suami saya?"
Ucapan Aira membuat Raka menatapnya tajam.
"Ya saya maklumin..Kegantengan suami saya itu memang tidak diragukan, sampai sesama jenis naksir..Tapi saya yang menang, duluan dapet sih..Mau gimana lagi?"
"Aira Alkeyna kamu.."
"Sayang ya, ganteng-ganteng gay" cibir Aira lalu pergi, meninggal Raka yang mati kutu.
"Aira lihat saja kamu ya!"
"Maaf muka bapak gak enak sipandang" ucap Aira lantang.
'Mampus kan lo'
Raka yang kurang kerjaan memang patut diperlakukan tidak sopan. Dia saja tidak bisa menghargai Aira buat apa Aira menghargainya.
"Aira gue mau ngomong something" ucap Mira pada Aira yang baru saja masuk kekelas.
"Apa tuh?"
Aira duduk disamping Mira.
"Soal orang yang kirim poto ke pak Alex"
Aira tiba-tiba jadi antusias, sudah lama ia penasaran siapa dalang dibalik potonya dengan Gilan.
"Kalau ketemu mau lo apain Ra?" tanya Mira.
"Udah ketemu?"
"Gue nanya dijawab dulu" ucap Mira.
"Hum..Yang pastinya gak bakal gue maafin Mir, sampai pak Alex marah banget waktu itu..Heran gue..Faedahnya apa coba ngancurin rumah tangga gue..kalau ketemu gue cakar-cakar mukanya, sumpah kecewa banget sih"
jelas Aira.
Mira menelan ludah.
"Memangnya kenapa lo nanya gitu?"
Mira menggeleng.
"O-orangnya belum ketemu Ra"
Aira kecewa.
"Sayang banget Mir..."
"Tapi yaudahlah biarin aja, biar Allah yang bales manusia kayak gitu"
ucap Aira.
"Ya" balas Mira singkat.
Aira kembali sibuk dengan dunianya, Mira? Gadis itu tengah melamun, melamun karena apa, Aira tidak tau.
"Ehm..Aira, besok gue gak ngampus" ucap Mira.
Aira mengerutkan dahi.
"Lo sakit?"
"Ya enggaklah, besok mau jemput ayah gue dibandara"
Aira membulatkan matanya.
"Serius? Ayah lo udah balik? Ciee makan-makan" rayu Aira.
Seperti yang Aira tau, Ayah Mira punya bisnis diluar negeri, sudah tiga tahun ini ayahnya tidak pulang keindonesia.
"Iyaaa begitulah"
"Ciee Mira..Besok gue ikut yayaya?"
"Gak usah, ntar dimarahin pak Alex lo bolos" cegah Aira.
Aira mempoutkan bibirnya.
"Yah.."
"Sabar ya~" ledek Mira.
Mata kuliah Raka dimulai, waktu pertama pria itu masuk kelas, ia menatap tajam Aira tapi tidak melakukan apa-apa yang membuat darah Aira mendidih.
Bahkan yang membuat Aira kagum, Raka tidak mengerjainya dikelas sampai kelasnya selesai.
'Harus kasih laporan ke pak Alex'
ucap Aira dalam hati.
Karena kelas telah selesai, Aira berniat keruangan Alex.
"Mira keruangan pak Alex yuk"
Mira menggeleng.
"Gue mau keruangan pak Raka, Nganter ini" ucap Mira.
Aira melihat flasdish milik Raka yang tadi ketinggalan, memang pria itu meminta Mira untuk mengantarkannya.
Aira mengangguk paham.
"Oke, gue sendiri aja..Kalau Raka macem-macem sikat aja " kekehnya.
__ADS_1
Mira tersenyum.
"Iya bawel"