Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-155


__ADS_3

Author mendapat inspirasi dari para ibu" nih wkwk


Aira menyipitkan matanya.


'Ooh i see apa maksudnya'


Alex langsung memeluk Aira dengan manja, kepalanya disandarkan di dada Aira.


"Kangen berduaan sama kamu" ucap Alex.


Ah..Benar, Aira sampai lupa mereka jarang berduaan lagi. Aira mengerahkan seluruh tenaga dan perhatiannya untuk Atiya.


Aira membalas pelukan Alex, satu tangannya mengusap punggungnya, satunya lagi mengelus lembut kepala Alex.


"Waktu itu siapa yang mau cepat punya anak hum?" tanya Aira.


"Mas" jawab Aira.


Aira tersenyum, ia menyentuh pipi Alex.


"Tanggung akibatnya ya sayang..." ledek Aira.


Alex cemberut.


"Kamu masih lama?"


"Apanya?" tanya Aira.


"Gak jadii.."


Alex menggemaskan sekali.


"Udah ah mas, fokus ngurus Atiya dulu" ucap Aira.


"Aku mau ngerjain tugas kuliah, numpuk banget...udah berapa minggu aku gak masuk" lanjutnya.


Alex berubah tuli, ia tidak mau melepas pelukannya, ia masih mau dipeluk dan diusap oleh sang istri.


"Mas?"


"..."


Tidak ada respon.


Aira menghela nafas.


'Sepertinya ada satu lagi bayi yang harus ditidurkan..''


"Ayo pindah ke kamar" ucap Aira.


"Kamu ikut" Alex langsung merespon.


"Iya aku temenin sampai mas tidur" ucap Aira.


"Cuma temani?" tanya Alex lagi.


'Ini maunya apa ya?'


'Banyak mintanya, untung ganteng'


Alex mendongak menatap Aira sambil tersenyum lebar, menanti jawaban dari wanita itu.


Tampang penuh harapan.


"E-ee gak tau deh" ucap Aira.


Alex tersenyum mesum.


Ia langsung kembali tegak.


"Ayo sekarang" ucapnya.


Aira mendelik.


"Eh aku ma-masih belum bo-boleh itu..." ucap Aira.


"Iya mas tau sayang" ucapnya.


'Astagfirulloh gue mau diapain'


Alex menggenggam tangannya mengajak Aira untuk segera ke kamar yang satunya, kamar yang tidak ada Atiya.


"I-ini teh aku belum habis mas"


"Nanti mas bikinin lagi" ucapnya.


"Mas-"


Alex memasang tampang sedih.


"Yaudah ayo" ucapnya.


Aira pun bangkit, lihat wajah girang Alex, benar-benar kekanak-kanakan.


"Jalan duluan kamunya" pinta Alex.


"Jalan barengan aja kenapa sih" ucap Aira.


"Jangan membantah, keburu bangun bocahnya" ucap Alex.


'Memang itu tujuan saya om, eh canda om'

__ADS_1


Aira berjalan didepan Alex, pria itu memeluknya dari belakang sampai didepan kamar.


"Buka nih?" tanya Aira.


"Enggak, kamu banting pintunya" ucap Alex.


"Kok kesel?"


Aira menggoda Alex agar membuat Alex geram, karena itu lucu.


"Aira.." ucap Alex.


Aira cekikikan.


"Masuk?" tanya Aira lagi.


Alex menghela nafas, ia langsung menggendong Aira.


"Hahaha" tawa puas Aira.


"Kamu sengaja bikin mas kesel kan?"


Aira pura-pura lugu.


"Enggak tuh.."


"Kamu lupa gimana cara mas balas dendam waktu itu?"


Alex menaikkan kedua alisnya.


Sial, Aira teringat kejadian balas dendam Alex saat ia masih mengandung Atiya. Tubuh Aira seketika merinding.


'Waduh..lupa gue'


"Gak mas, sumpah bercanda" paniknya.


Alex menaikkan bahunya tak acuh.


Ia sedikit menunduk agar bisa membuka pintu kamar tersebut.


"Hari ini kamu masih selamat" ucap Alex.


Alex menggendong Aira masuk kedalam kamar dan pintu tertutup rapat.


Blam!..


"Mas awas loh aku teriak Atiya bangun" ancam Aira.


"Coba kalau berani"


"Mas Alex!" ucap Aira.


"Huwaaa mama"


Sekitar pukul sembilan lewat, Alex sudah tertidur pulas disamping Aira, tangannya melingkar dipinggang wanita itu.


Aira menepuk-nepuk punggungnya.


"Sshh..sakit banget bibir gue" gumamnya.


Ia mengintip Alex untuk memastikan pria itu benar-benar tidur.


"Hah akhirnya tidur bayi besarnya.." leganya.


Aira perlahan memindahkan tangan Alex dari pinggangnya, ia bersiap turun dari ranjang. Namun tangan Alex menarik pinggangnya lagi.


"Mau kemana?"


Aira memejamkam matanya, ia menoleh pada Alex.


"Mas, kamu gak lupakan punya anak?" tanya Aira.


Barulah Alex melepas tangannya.


Aira mengelus kepala Alex lalu mengecup pipinya.


"Bentar ya sayang" ucap Aira.


Alex mengangguk dengan mata yang mengantuk.


Aira keluar dari kamar tersebut.


Ia merenggangkan otot-ototnya, perlu tenaga ekstra untuk 'menemani' bayi besar sampai tidur.


"Hah..Bayi besar selesai, sekarang ngecheck si bayi kecil" ucap Aira.


Ia masuk ke kamar mereka, perlahan mendekati box tempat tidur Atiya. Beruntungnya Atiya masih tertidur lelap.


"Atiya tumben gak rewel?..Kamu bersekongkol sama papa ya?" tanya Aira.


Ia mengusap pipi anaknya dan memberikan kecupan singkat.


"Cepat tumbuh besar ya nak.." ucapnya.


Aira beralih ke meja belajar, ketidak rewelan Atiya bukan berarti ia bisa istirahat, masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikan.


Besok Aira memang belum masuk, tapi ia ingin menyelesaikan satu persatu tugas kuliahnya.


Ia melirik jam di dinding.


"Ini jam sembilan lewat, kemungkinan selesai jam sebelas..Atiya biasa bangun karena buang air besar jam segitu juga..Abis itu nyiapin baju kerja mas Alex..Baru istirahat" gumamnya.

__ADS_1


"Okeh semangat!"


Aira menghidupkan laptopnya dan mulai mengerjakan tugas kuliahnya. Ia sangat fokus dengan layar laptop.


Cklek..


Suara pintu dibuka, itu Alex yang pindah dari kamar sebelah. Pria itu melanjutkan tidurnya diranjang.


"Ngantuk berat" kekeh Aira.


Beralih dari itu, mulai terdengar suara rintihan dari Atiya, Aira buru-buru menghampiri anaknya.


"Atiya buang air besar ya nak.." ucap Aira.


Ia menenangkan sang anak sambil mengganti popok.


"Atiya anak mama~, si cantik dan penurut~" ia bersenandung.


"Tadaa..Popoknya udah mama ganti" ucap Aira.


Atiya berhenti menangis.


"Ayo kita bobo lagi" seru Aira.


Ia mengangkat tubuh Atiya ke gendongannya, ia menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur sambil mengayun-ayunkan tangannya.


"Syuh...Syuh...Syuh..."


Dirasanya Atiya mulai tenang, Aira coba menidurkannya kembali ke box tempat tidur bayi.


Baru kepalanya menyentuh bantal, Atiya kembali merengek.


"Eh..cup cup sayang..Iya-iya gak mama taruh ditempat tidur.." ucapnya menenangkan.


Mau tak mau, ia akhirnya menidurkan Atiya sembari mengerjakan tugas kuliahnya.


Tapi, Atiya benar-benar tidak bersahabat, tangisnya semakin kuat.


Aira menutup laptopnya, dan mengayun-ayun lagi.


"Sayang...bobo yaa.."


Berjalan kesana kemari untuk menenangkan sang anak. Ia melirik Alex yang masih tertidur.


Ia memutuskan keluar kamar, karena takut menganggu istirahat suaminya.


Aira bisa bernafas lega, saat dibawa keliar kamar dan ia menyenandungkan lagu, Atiya berhasil tidur kembali.


"Terimakasih ya Allah akhirnya tidur.." gumam Aira.


"Sayang" panggil Alex.


Aira menoleh.


Ternyata pria itu terbangun. Alex mendekati Aira sambil mengusap matanya.


"Atiya rewel lagi dek?" tanyanya.


Oke senyaman Alex kalau memanggil istrinya.


Aira mengangguk.


Ia melihat wajah Aira yang benar-benar lelah.


"Biar mas yang gendong Atiyanya"


Aira menolak.


"Mas besok kerja"


"Mas masuk siang dek.. Sekarang kamu masuk kekamar, istirahat"


Tangannya menyentuh bagian bawah mata Aira.


"Liat mata panda kamu, sana istirahat, jalan kita masih panjang, mau kamu mas jadi duda?"


Aira memukul lengan Alex.


"Jangan ngomong gitu"


"Yaudah sana tidur..Mas udah cukup istirahatnya..Ya?"


Aira mengangguk.


Alex mengusap kepala Aira.


"Sweet dream my wife"


Cup..


Cup..


Ia mengecup kedua pipi Aira.


Berat rasanya memasrahkan Atiya pada Alex, tapi pria itu memaksa demi dirinya juga.


"Bener nih?"


Alex mengangguk.


"Sana masuk" tegasnya.

__ADS_1


Aira tersenyum.


"Makasih mas sayang, love you" ucapnya.


__ADS_2