Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-171


__ADS_3

Alex, pria itu menghadap ke depan cermin, jari-jarinya sibuk memasang kancing-kancing kemeja batiknya. Aira sengaja menempah sendiri ke butik langganannya, mereka menggunakan batik dengan motif yang sama atau couple.


"Mas mau sarapan dirumah atau enggak?" tanya Aira yang muncul dari balik pintu kamar tersebut.


"Iya mau, Roti panggang aja..Yang simpel Ra" jawabnya.


"Oke siap, itu Atiya liatin bentar yaa" ucap Aira.


Alex menggangguk.


Ia menghampiri putri kecilnya yang berbaring di ranjang.


"Atiya udah mimik asi beyumm?" tanya Alex dengan menirukan cara anak kecil berbicara.


"Beyuum?" wajahnya menunjukkan ekspresi kaget yang mengemaskan.


Jadi siapa yang sebenarnya bayi disini?.


"Em..Emm jahatnya mama, anak papa kok beyum dikasih makan, nanti papa cubit mama ya sayang, biar gak nakal lagi" candanya sambil terkekeh.


Atiya yang diam membuat Alex semakin gemas dan enggan berhenti untuk mencium pipinya yang gembul.


Aira yang masuk sembari membawa nampan berisikan dua roti dan secangkir kopi ditanggannya, menggeleng-gelengkan kepala saat melihat kelakuannya sang suami.


"Udah dong mas, jangan begitu..kasian anaknya" tegur Aira.


"Greget liat pipinya Ra, gemes mirip mamanya" ucap Alex.


'Haduh haduh rayuannya, masih pagi loh haha'


"Yang ngelahirin aku, ya pasti mirip aku" ucap Aira dengan sombong.


"Bikinnya bareng jangan lupa.." saut pria itu.


Tawa Aira pecah.


"Nih, sarapan nih biar jangan ngomong aneh-aneh" ucap Aira menyodorkan nampan tadi.


Alex berdehem, sebelum beranjak ia mencium pipi Atiya sekali.


"Makasih sayang" ucapnya.


"Emm, sama-sama"


Alex menyantap roti panggangnya lalu menyeruput secangkir kopi hangat buatan sang istri, hanya sebuah kopi tapi kalau buatan istri semua jadi lebih enak.


"Kita berangkat jam berapa? aku mau liat Mira pake gaun pengantinnya" ucap Aira.


"Lima belas menit lagi kita berangkat" saut Alex.


Aira mengangguk.


Tak lama ia menghela nafas.


"Gak nyangka..Sama-sama dapet dosen" ucapnya.


Alex menarik sudut bibirnya mendengar itu.


"Tapi mas-"

__ADS_1


Aira menyelipkan tangannya di lengan Alex, tubuhnga didorong maju.


"Kisahnya mereka lebih menarik gak sih?" tanyanya.


"Menarik darimana?" Alex bertanya balik.


"Ck..Gini, menurut pandangan istri kamu yang cantik ini, Mira sama pak Raka dulu gak akur banget, kayak gak akan mungkin bisa bersatu..Terutama karena masalah-"


"Jangan dibahas lagi" pinta Alex.


"Ooh oke-oke, yang itu aku lewati, terus gak taunya tuh mereka tiba-tiba BOOM!"


Alex tersentak kaget hingga hampir tersedak roti di mulutnya, saat Aira memukul lengannya secara tiba-tiba.


"Uhuk!"


"Eh maaf-maaf" ucapnya sembari mengusap-usap dada Alex.


"Mas gitu aja kaget" lanjutnya.


Alex mengerutkan dahi.


"Kamu yang nepuk lengan mas tiba-tiba loh Ra" ucap Alex membela diri.


Aira manyun.


"Yaudah maaf paksu~"


Alex berdehem.


"Udah bisa aku lanjut ceritanya?" tanya Aira.


"Hum, lanjut"


"Memang sudah jodoh mau gimana lagi" sambung Alex.


Aira mengangguk setuju.


"Kira-kira gimana nanti rumah tangga mereka ya?" tanya Aira.


Alex menoleh ke sang istri, tangannya bergerak dan menjitak kepala wanita itu.


"Awh.."


"Kok dijitak sih?!" protesnya.


"Ngapain kamu mikirin rumah tangga orang lain?" tanya Alex.


Aira langsung bungkam, ia lupa suaminya ini sangat sensitif. bagaimana bisa dia melupakan hal itu..Argh bodohnyaa.


Aira menyatukan kedua jari telunjukknya yang lentik.


"Anu..Ma-maaf mas, tadi-itu hehe kelepasan" ucapnya dengan tawa garing.


Alex meliriknya, lalu menaruk cangkir yang ada ditangannya.


"Cium" ucapnya dengan wajah dingin.


Aira tersenyum lebar, ia mengalungkan tangannya dileher Alex, kepalanya bergerak maju, mendekatkan wajah mereka berdua dan..

__ADS_1


"OOEEEEK..OOOEEEEK"


Spontan keduanya menoleh kearah Atiya, bayi itu menangis sekencang mungkin sampai membuat Aira ketar-ketir menjauh dari Alex.


"Astagfirulloh Atiya, maaf nak maaf" paniknya.


Aira mengambil Atiya dan mengayun-ayunnya tubuh mungil putri kecil itu didalam gendongannya.


"Oooeeek ooooeeek" tangis Atiya.


"cup..cup..cup..Anakku yang cantik~" ia menepuk-nepuk pantat bayinya.


"Ini mama sayang, ini mama gendong ya nak yaa"


Tapi tangisan itu bukan mereda, malah semakin kencang.


"Huwaaaa maaas" Aira ikut merengek.


Bibirnya ditekuk kebawah, Aira tampaknya sudah kewalahan. Alex tidak bisa menahan tawa melihatnya, lucu sekali, ibu dan anak sama-sama menangis.


'Mamanya kenapa jadi gemas juga' ucap Alex dalam hati.


Aira menghentak-hentakkan kakinya agar Alex segera menolongnya.


"Iya papa datang Atiyaa" ucap Alex.


'Pertama mamanya dulu dibereskan'


Alex menyentuh kepala Aira sambil tersenyum, bukan senyum tulus, tapi senyum meledek.


"Eyeliner kamu luntur, jangan nangis" ucap Alex.


Aira mendelik.


'Hah? ngo-ngomong apa dia barusan?!'


'Ey-eyeliner gak boleh luntur!'


Aira berhenti sebelum air matanya benar-benar keluar.


"Beneran luntur?" tanyanya.


Alex menggeleng.


"Cuma bercanda" ucap Alex.


Benar kan? Aira langsung berhenti, sekarang lanjut target berikutnya yang menangis tak henti. Alex dengan sigap mengambil Atiya, ia mengecup dahi Atiya lalu mengayun-ayunkannya, sama seperti yang Aira lakukan.


Alex bersenandung dengan merdu.


"Atiya kalau menangis nanti mirip mama nak" ucapnya.


Ajaibnya, Atiya langsung tenang kembali, tangisannya benar-benar langsung redam begitu ditangan Alex.


"Udah diem?" tanya Aira, suaranya memelan.


Alex mengangguk.


"Ya Allah, sama kamu kok selalu jadi anteng dia mas" ucap Aira.

__ADS_1


"Hahaha dia tau papanya sayang" balas Alex.


"Ma-Maksud?! aku juga sayang Atiya ya" Aira tak mau kalah.


__ADS_2