
"Bapak diruangan kan?"
"Iya"
Aira berjalan dikoridor yang sepi sambil menelfon Alex.
"Oke tunggu, saya kesana secepat kilat melebihi jarjit" ucapnya.
Dan benar, Aira berlari sekencang mungkin agar cepat sampai. Tak perlu mengetuk lagi, Aira langsung membuka pintu.
Suaminya sendirian, kenapa harus repot-repot mengetuk.
"Pak, udah beres semua kan? Pulang yuk" ucap Aira.
Ia mendekati Alex lalu menompang dagunya dipundak Alex, Aira menahan tawa, ia pura-pura tidak bersalah padahal wajah Alex kelihatan kusut.
"Ayo pulang" ucap Aira manja.
Alex pun berbenah, Aira memandangi gerakan Alex dengan tersenyum polos.
"Udah?"
Alex mengangguk.
"Let's go" Aira merangkul lengan Alex.
Baru satu kaki melangkah keluar ruangan Aira melepas lagi pelukannya.
"Saya lupa masih dikampus hehe"
Alex hanya berdehem.
Aira menyamakan langkah kakinya dengan Alex, sampai diparkiran Aira membuka pintu mobil seperti biasa, semacam tidak ada kejadian apa-apa.
"Jadi beli makan?"
Alex tadinya akan memasang selfbelt namun berhenti, pria itu menatap Aira. Wajahnya terlihat serius.
"Saya tanya, kamu beneran pergi berdua sama laki-laki lain?"
Mata mereka saling bertatapan, Aira tertegun dengan ketampanan Alex.
"Jawab Aira" ucapnya pelan.
"Hah? Enggak bertiga"
"Saya, Mira, sama laki-lakinya satu" jelas Aira menggunakan jari-jarinya.
Alex menatapnya curiga, wajah Alex membuat Aira tak sanggup menahan tawa dan akhirnya lepas.
"Hahaha"
"Kasian banget mukanya hahaha, padahal boongan" tawa Aira.
Alex diam beberapa saat, mencerna maksud istrinya.
"Ka-kamu.." Alex memijit pangkal hidungnya.
Dia ternyata ditipu oleh Aira, pantas saja Aira sangat berani ditelfon tadi.
Aira tertawa sampai memukul pundak Alex.
"Duh..sakit perut"
"Maaf ya pak hahaha"
Alex menggertak giginya.
"Kamu ngerjain saya kan?"
Aira menekuk bibir kebawah.
"Enggak kok, cuma iseng" ucap Aira.
Kesal karena dikerjai, Alex memakai sabuk pengamannya lalu melajukan mobilnya dengan cepat.
"Pak Alex pelan dong! Belum punya anak kita, jangan mati dulu!" protes Aira, kepalanya terbentuk kekursi mobil.
"Enggak kok, cuma iseng" ucap Alex santai.
Seperti tidak asing.
'Dia bales dendam epribadeh'
"Gak kreatif pak"
"Stop panggil saya bapak" ucap Alex.
Aira menyatukan alis.
"Yang panggil bapak siapa?"
Alex menunjuk Aira.
__ADS_1
"Saya enggak manggil bapak tuh"
"Terus pak itu apa kalau bukan bapak?" tanya Alex.
Aira menyipitkan kedua matanya.
"Dih geer, pak itu bopak, bukan bapak..Lagian situ sama bopak kalah jauh" ucap Aira.
"Bukan orang paling kaya dikampung kucrit"
"Tapi saya ganteng"
"Dia juga ganteng karena uangnya" sengak Aira.
Yap Alex mengalah dan memilih diam, tidak ada gunanya berdebat dengan Aira yang punya beribu alasan.
"Beli dimsum" ucap Aira ditengah perjalanan.
"Ituu didepan bentar lagi ada toko dimsum, beliin~" pinta Aira.
Matanya dikedipkan beberapa kali agar menarik perhatian Alex. Namanya juga pria, pasti luluh kalau wanitanya bertingkah imut.
Alex segera menepi dan turun dari mobil, ciri khas wajah Alex yang dingin membuat Aira gemas.
'Gak ngerti lagi sama pak Alex'
'Makin hari makin nurut'
Aira memainkan handphonennya sembari menunggu Alex kembali, baru saja menghidupkan data, sudah muncul beberapa pesan dari pria yang paling tidak ingin Aira lihat, yap! itu Gilan.
Aira
Aku tau kamu pasti benci
Tapi ini penting
Aku mau ngomong..
Aira menghela nafas.
'Mau apa lagi sih? Kurang puas dapetin satu cewek plus malu maluin gue?'
'Seharusnya gue block aja'
Aira membalas pesan Gilan penuh keterpaksaan.
^^^Maaf kak gak bisa^^^
Sebentar aja Ra
^^^Kenal kayak dulu^^^
Aku belum bisa nerima
Kamu tolak aku.
Aku cinta sama kamu Ra
^^^Aku gak punya rasa ke kakak^^^
^^^Kita cuma sebatas teman^^^
Apa perhatian aku selama ini
Gak buktiin Ra?
^^^Aku gak bisa, kak Gilan juga ada Nana^^^
Aku gak perduli
Aku maunya kamu
Belum sempat Aira membalas tiba-tiba Gilan menelfonnya, Aira melihat kearah luar, memastikan keadaan sekitar aman. pria itu meminta Aira untuk mengangkat panggilannya.
"Ra, percaya aku cuma mau kamu"
"Aku sama Nana gak ada hubungan, kita cuma teman"
"Tujuan kakak bilang gini ke aku apa? Gak ada yang nanya hubungan kakak sama Nana" ucap Aira dingin.
"Kamu cemburu kan?"
Aira menghela nafas.
"Atas dasar apa aku harus cemburu kakk..Udah ya aku sibuk"
Aira mengakhiri telefonnya. Ia pusing, mau sampai kapan lagi Gilan mendesaknya, Aira takut kalau sampai Alex tau dan bertengkar dengan Gilan.
Dari kaca depan mobil terlihat Alex membawa kantung plastik berwarna putih, Aira buru-buru memasukkan handphonenya.
"Ini"
Aira meraih kantung plastiknya.
__ADS_1
"Makasih"
Ia membuka bungkusan lalu menaruh diatas paha, Aira suka kalau dimsumnya dicacah dan diberi sambal. Intinya harus sampai hancur.
"Kenapa digituin makanannya?" tanya Alex sembari menyetir.
"Ini cara makan saya, biar enak"
Alex menggeleng kepala, terheran-heran dengan istrinya. Aira sibuk mengunyah dimsum dimulutnya selama perjalanan, jadi tidak begitu banyak topik pembicaraan.
Mereka sampai dikediaman.
Saat tiba tadi Alex langsung pergi kekamar, Sedangkan Aira duduk diruang tamu menonton televisi, ah lebih tepatnya televisi yang menontonnya.
Wanita itu melamun, lama ia terlamun sampai tak menyadari kehadiran Alex. Alex menuruni anak tangga, rambutnya basah karena baru selesai mandi.
Ia memandangi Aira duduk dengan tatapan kosong, Alex mendekat lalu ikut duduk disebelahnya.
"Mandi" ucap Alex.
"..."
"Mandi Aira" Alex mengulang ucapannya, tapi tetap tidak dijawab.
Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Merasa diabaikan, Alex menarik pinggang Aira membenangkan wajahnya didadanya, Airapun tersadar dari lamunannya.
"Eh..Pa-pa Alex" ucapnya kaget.
Aira sebenarnya ingin mendorong tubuh Alex menjauh, niatnya itu diurungkan sebab Alex terlihat nyaman.
Posisi mendadak berubah, Alex menggendong tubuh Aira dipangkuannya.
Wajah Alex perlahan mulai naik, mencapai leher Aira, menghirup aroma wanita itu. Satu kecupan dilayangkan keleher Aira, Aira tidak melawan.
"Kamu mikirin apa?" tanyanya.
"Mikirin kuliah" jawab Aira.
"Bohong" ucap Alex.
"Akh" erang Aira karena Alex menggigit lehernya.
"Hukuman karena kamu berbohong"
Aira menatap jengkel Alex.
"Sakit tau!"
Alex tidak perlu, malahan ia melanjutkan aksinya mencium leher mulus Aira.
Dari awal menikah sampai detik ini Aira sulit menolak sentuhan Alex, padahal ia belum mencintai Alex sepenuhnya. Tapi tubuhnya seolah-olah nyaman dengan sentuhan itu.
"Pak udah.." ucap Aira, mendorong pelan dada Alex.
Ini masih sore dan Alex sudah mulai melakukan hal yang tidak-tidak, membuat Aira heran, padahal mereka baru saja melakukannya semalam.
"Aira Alkeyna" ucap Alex.
Aira paham maksud Alex memanggil namanya dengan lengkap.
"Saya masih capek" eluh Aira.
Wajah Alex nampak kecewa, mau bagaimana lagi memang istrinya lelah. Alex pun menyingkirkan tubuh Aira.
"Mandi, kamu bau tidak enak dicium" ceplosnya.
Aira membulatkan mata.
"Saya gak mau mandi" ucap Aira lantang.
"Jorok" cibir Alex.
"Gak perduli, biarin tetep bau" Aira membuang muka.
Wah Aira merajuk karena ucapan Alex tadi. Alex tersenyum melijat tingkah istrinya.
Muncul sebuah trik dikepala Alex, perlahan bibirnya mendekat ketelingan Aira.
"Mau dimandikan?" rayu Alex.
Tubuh Aira menegang, bulu kuduk Aira merinding mendengar bisikan Alex, ditambah gembusan nafas yang terasa ditelinga Aira.
"Da-dasar mesum!"
Aira bangkit lalu pergi menuju kamar, kakinya dihentak-hentakkan ke lantai sebagai bentuk kekesalan.
"Mandinya lebih cepat, saya tunggu disini buat uji coba" ucap Alex.
"Gak mau dasar gila!" teriak Aira.
Alex tertawa puas, sejujurnya Alex tidak mungkin akan melakukannya tanpa persetujuan Aira, tapi karena Aira yang mudah sekali terbawa suasana dan digoda, Alex jadi menyukai sifatnya itu.
"Abis ini saya mau ngomong penting, tetep disitu ya!" Teriak Aira dari dalam kamar.
__ADS_1
"Iya sayang" ucap Alex.