
Waktu terus berjalan, hari demi hari mereka lewati, bulan pun berganti. Kandungan Aira sekarang telak masuk usia tujuh bulan.
Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, perut Aira sekarang sudah membesar, berat badannya juga bertambah dan pipinya semakin chubby.
Dibalik itu semua, Alex selalu menjaganya, pria itu sering dibangunkan Aira tengah malam, untuk menuruti ngidamnya yang aneh-aneh.
Yang membuat Alex heran, Aira hanya ngidam saat tengah malam, dan di siang hari ia selalu menempel pada Alex.
Pria itu tidak pernah marah ataupun mengeluh pada Aira, apapun yang istrinya mau ia akan menuruti tanpa menolak.
Terlebih, Aira akhir-akhir ini susah tidur karena perutnya yang membesar, Alex rela tidak tidur semalaman untuk memeluknya dan mengusap perut Aira.
Wanita itu juga tetap masuk kuliah, kehamilannya sudah diketahui oleh orang-orang. Alex sendiri yang memberitahunya lewat postingannya yang menunjukkan hasil usg Aira.
Sempat heboh tapi semua berjalan lancar berkat Alex.
"Mas, cepat pulang ya" ucap Aira.
Ia menelfon Alex, pria itu masih dikampus sedangkan Aira sudah diantar pulang lebih dulu.
"Iya dek, mas pulang sebentar lagi..Kaki kamu masih ngilu?" tanya Alex.
Aira melihat kakinya.
"Sedikit mas, tapi gakpapa kok, kalau liat mas nanti semua ngilunya sembuh hehe" candanya.
"Gitu ya..Oke mas juga mau cepat-cepat pulang, kasihan adek kangen" ucap Alex.
Aira mengigit ibu jarinya, pipi wanita itu memerah.
"Bukan aku, tapi baby-nya" ucap Aira.
"Hum.."
"Kalau capek suruh aja Rachel bantuin kamu" ucap Alex.
"Iya mas, dia dari tadi bantuin aku, aku gak boleh ini itu, mirip sama mas" ucap Aira.
"Kayaknya gitu gak perlu nyari pembantu dek.."
Aira tertawa.
"Jahat banget, masa adek sendiri mau dijadiin pembantu" kekehnya.
"Mumpung dia gak punya pekerjaan"
"Aduin bunda nih" ancam Aira.
"Jangan sayang..Yaudah mas tutup dulu telfonnya ya?"
"Uhm.."
Klik!
Aira menaruh handphonenya dimeja, ia melihat kanan dan kiri.
"Ngapain ya?"
Tok..Tok..
"Masuk"
Pintu kamar Aira dibuka, muncullah gadis putih dengan rambut hitam sepundak.
Gadis itu tersenyum pada Aira sambil membawa nampan berisi cemilan dan buah.
"Tadaa! I brought this~" ucapnya.
"Astaga Rachel..Kamu kenapa repot-repot" ucap Aira menerima nampan dari Rachel.
Yap! Ini adik perempuan Alex yang menetap diaustralia, bulan lalu ia akhirnya pulang keindonesia. Aira sendiri tertegun melihat kecantikan Rachel, hidungnya mancung, tubuhnya tinggi dan kulitnya putih.
Rachel adalah Alex versi wanita menurut Aira, mereka sangat-sangat mirip, ditambah aksen aussie nya yang menarik. Aira sampai minder karena kecantikannya.
Tapi Alex akan marah saat Aira bilang kalah cantik, ia akan mencium Aira tanpa ampun!.
"Its okay..Mbak lagi hamil jadi aku bawakan ini supaya mbak gak turun kebawah lagi" ucap Rachel.
Mungkin faktor menetap disana, cara Rachel berbicara bahasa indonesia sedikit lucu, tapi lancar.
Beruntung Aira bisa berbahasa inggris, walaupun sedikit.
"Makasih ya..Kamu gak capek?"
Rachel menggeleng.
"Eh mbak..Ini kapan lahirnyaa? Aku gak sabar banget" ucapnya sambil memegang perut Aira.
Aira tersenyum.
"Dua bulan lagi..Kamu masih disinikan?"
"Syukurnya iya..Ah gak sabar pengen liat baby"
__ADS_1
Rachel tinggal bersama Alex, itu permintaan Reva dan Rachel yang ingin lebih dekat dengan kakak iparnya, ia juga menjadi teman disaat Alex sibuk.
"Kamu kapan nyusul?" ledek Aira.
"Masih lama, Aku baru mau masuk kuliah loh" gerutunya.
"Kamu udah pilih universitas yang cocok?" tanya Aira.
Rachel mengangguk, ia merangkul lengan Aira dan bersandar dipundaknya.
"Udah..Kata bunda pilih yang diindonesia, bunda gak mau ditinggal lagi" ucap Rachel.
"Hum..Coba aja dulu, kalau lolos alhamdulilah dek"
"Iya mbak, tapi ayah maunya aku diluar negeri..semakin yakin aku, kalau ayah hero mau buang aku" ucapnya.
Aira tertawa geli.
"Ada-ada aja kamu, mana mungkin ayah buang anak perempuan secantik kamu"
'Mulutnya suka ngomong yang ngadi-ngadi kayak pak Alex'
"Hehe, oh iya mbak, kenapa gak ambil cuti?"
"Nanti aja deh, mbak takut ketinggalan materi kuliah, gak lulus-lulus ding" ucap Aira.
"Apa gunanya si Alex? Minta dia buat perfect in nilai mbak"
Aira mendelik.
"Kamu mbak aduin mas Alex mau?"
"Aduin aja, nyebelin tau si Alex itu, pelit lagi" cibir Rachel.
"Haha, Alex itu memang dosen, tapi mbak gak mau membebani dia sama kewajiban mbak, harus jujur juga"
"Mentang-mentang suami dosen jadi nilai tinggal minta ubah" lanjut Aira.
Rachel menyengir.
"Bercanda mbak ampun" ucapnya.
"Kamu tuh mirip banget ya sama mas Alex, cuma beda tinggi doang"
"Gak mau ah mirip sama dia" tolak Rachel.
'Bisa-bisanya gak mau dimiripin sama orang ganteng'
'Gue aja pengen mirip sama pak Alex'
"Mas Alex itu, galak, suka merintah, pelit, judes" omel Rachel.
'Eh sebentar, lumayan nih buat circle julitin pak Alex Hahaha'
"Satu lagi dek, banyak maunya" ucap Aira.
Rachel mengacungkan ibu jarinya.
"Benar, dia banyak maunya, tapi kalau ke aku itu positif dan ke mbak..Ehm..banyak maunya dalam artian yang berbeda" ucap Rachel sambil menaik-naikkan alisnya.
"Heh"
Rachel berlari keluar kanar sambil tertawa terbahak-bahak.
Aira menggelengkan kepalanya, tak habis pikir. Kakak beradik ini memang mirip.
"Gak ada bedanya sama mas Alex" gumam Aira.
Aira berjalan kearah pintu, namun tiba-tiba kepala Rachel muncul membuatnya tersentak kaget.
"Mbak"
"Astagfirulloh Rachel..Kamu ngaggetin mbak" ucap Aira sambil mengelus dada.
"Im sorry.."
"Ada apa?"
"That's your husband coming, mobilnya baru aja masuk kebagasi" ucap Rachel.
"Serius?"
Rachel mengangguk.
Akhirnya Alex pulang, Aira menuruni anak tangann dibantu Rachel, ia takut kakak iparnya itu terjatuh dan dalam bahaya.
"Oke calm down " ucap Rachel.
"Maaf terlalu bersemangat" kekeh Aira.
"Seperti pengantin baru ya" ledek Rachel.
Aira tersenyum manis.
__ADS_1
Sampailah didepan pintu, mereka berdua berdiri disana menunggu Alex membuka pintu.
Cklek..
"Assalamuallaikum" ucapnya.
"Waalaikumsalam"
Alex melihat kedepan, dua wanita cantik sudah menunggunya.
Ya meskipun yang satunya tersenyum cerah dan satunya lagi memasang wajah menyebalkan.
Aira menghampiri suaminya dan mengambil alih tas pria itu.
"Kamu udah makan?"
"Udah, berdua sama Rachel"
Alex mengusap kepala Aira.
"Aira makan banyak Rak?" tanya Alex pada adiknya.
"Udah dibilang bekali-kali, panggil Chel..bukan Rak"
"Oke maaf, jadi dia makan banyak atau gak?" tanya Alex, wajah tidak perduli pada Rachel yang mengomel.
'Buset sesama muka dingin sedang perang'
"Banyak!" sengak Rachel.
"Mas bilangin bunda kalau gak sopan" ucap Alex.
"Mas yang mulai, panggil dengan benar dong"
"Nama kamu Rak setau mas"
"Rakjel" lanjut Alex.
Alex semakin jadi mengejek adiknya.
Aira memijat pelipisnya, bingung harus memihak siapa. Dua-duanya sama.
"Mas udah, dia capek jangan kamu ledekin" ucap Aira.
Alex berbisik ditelinga Aira.
"Gakpapa sayang"
Aira berdecap, ia memelototi Alex.
"Mas.."
"Ekhem.." Alex berdehem.
Rachel merengut sambil melipat kedua tangannya.
"Oke Rachel.." ucap Alex.
"Jangan ngambek, jelek kamu, kalau Aira cantik ngambeknya"
Alex mencapit bibir adiknya.
"Bawel" ucap Rachel.
"Udah kan?" ucap Alex pada Aira.
"Humm"
"Yaudah keatas yuk, mas gerah"
Ia melihat Rachel.
"Thanks maid" ledek Alex lalu berjalan sambil menggandeng tangan Aira.
"What?! you call me maid?!"
Aira menoleh kebelakang sambil meminta maaf dan meminta Rachel tidak usah meladeni kakaknya.
"Awas ya aku aduin bunda"
"Aduh takut banget" saut Alex.
Phak!
"Akh..Sakit Aira" pekiknya.
Alex mengelus lengannya yang dipukul Aira.
"Demen banget ganggu Rachel"
"Seru liat dia ngomel" kekeh Alex.
'Astaga usilnya pak Alex'
__ADS_1
Kalau begini Aira mana bisa marah.