
Cklek..
Raka keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap kepalanya menggunakan handuk kecil.
"Hah...Capek" ucapnya.
Ia merebahkan tubuh diatas ranjang, Menyegarkan sekali mandi lalu tidur.
Sangking lelahnya Raka langsung terlelap.
Baru beberapa menit ia tertidur, tiba-tiba Raka bangkit seperti orang kaget.
Ia mengambil jam weaker diatas meja, jam tersebut menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas malam.
"Astaga lupa!"
Ia buru-buru mengambil handphonenya yang ada di ruang tamu, Raka meninggalkan benda itu disana.
"Aih...Lupa"
Raka lupa mengabari Mira kalau ia sudah sampai dirumah, dan masuk spam pesan dari Mira dan beberapa panggilan tak terjawab.
Ah gadis itu pasti khawatir.
Raka menelfon kembali Mira, ia mengigit ibu jarinya.
Tuuut...Tuuutt...
"Halo?" suara Mira terdengar serak, gadis itu sudah tidur ternyata.
"Kamu tidur?"
"Emmm engga kok" elaknya.
'Kenapa bohong sih?'
"Pak Raka Baru pulang?" tanya Mira.
"Sshh..Sebenernya udah dari tadi" ucap Raka.
"Ooohh gitu"
Raka mengaruk tengkukknya.
Ia merasa canggung.
"Maaf, handphone saya tinggal diruang tamu, lupa mau ngabarin" ucap Raka.
Mira tidak ambil pusing, ia maklum, pria itu pasti kelelahan.
"Haha, saya tau kok, istirahat gih"
"Maaf Mira"
"Apasih? Jangan bilang gitu terus, aneh rasanya"
"Saya gak enak"
"Gakpapa kita baru mulai, kejadian gini biasa kok"
'Iya Mira benar'
"Mending tidur sana, hampir jam satu, besok kerja, saya juga kuliah, ya?" ucap Mira.
Astaga suara seraknya itu membuat gemas, pasti menyenangkan kalau Raka melihat langsung wajah dan suara itu.
Raka tersenyum tipis.
"Iya ini tidur"
"Oke goodnight..Hooam"
"Ngantuk banget ya?"
"Hehe iya, ngantuk"
"Yaudah lanjutin tidurnya, besok saya jemput boleh?"
"Boleh"
"Ok-"
Tuuut..Tuuut
"Loh dimatiin?" tanya Raka bingung.
"Haha ngantuk banget ya? Lucunya" ucapnya.
Raka merenggangkan tangannya.
"Kalau gitu aku harus tidur jugaa, besok jemput Miraa" ucapnya.
Raka melenggang ke kamar tidurnya, besok hari pertamanya menjemput gadis yang berstatus kekasihnya.
Malam berganti pagi, Raka sudah rapi dengan kemejanya, ia tengah memasang arloji ditangannya.
"Udah ganteng kan?" tanyanya pada cermin.
Ia hampir bangun terlambat, beruntung malam tadi ia memasang tiga kali alarm pengingat.
"Hari ini kita bakal menjemput seseorang yang spesial!" ucapnya ke mobil.
Iya Raka bicara dengan mobilnya, Mobil yang sudah seperti sahabat dan saksi bisu kejombloan dan kesepiannya seorang Raka, hari ini sudah siap untuk dibawa menjemput Mira.
"Telfon dulu ah"
Raka menempelkan handphone ke telinganya.
"Pagi Mira" sapanya.
__ADS_1
"Pagi juga, harii ini jadi jemput?"
'Oke bagus Mira gak lupa'
"Jadi, saya on the way kesana"
"Udah otw?!" kagetnya.
"Hum"
Mira geger, terdengar kalau gadis itu mulai sibuk.
"Huwaaa kok cepet banget?! Saya belum mandiii" paniknya.
Raka terkekeh.
"Serius belum mandi?"
"Beluuumlah masih jam enam!" teriak Mira.
Raka tersentak, ia sendiri tidak menyadari pukul berapa. Begitu semangatnya dia.
"Haha maaf saya pikir udah jam tujuh" ucap Raka.
Mira menggeleng tak habis pikir.
"Semangat banget mau jemput saya pak" ledek Mira.
"Tingkat kepedean yang bagus" ucap Raka.
Mira tertawa lepas.
"Oke saya mau mandi dulu"
Suara nyaring Mira lucu.
"Iya baunya udah sampai sini" ledek Raka.
"Heh sembarangan, saya gak mandi aja tetep wangi"
"Masa?"
"Bener"
"Yaudah nanti saya cium buat membuktikan" jahilnya.
"Jangan macem-macem, saya bilang ayah"
Raka tertawa karena Mira mengancamnya.
"Bercanda, udah lekas mandi, ngoceh terus kapan mandinya"
"Situ ngajak ngomong terus" jawab Mira.
"Mandii"
Raka masuk kedalam mobilnya.
"Oke meluncur ketemu calon sama mertua" celetuknya.
Wush~
Mira cekikikan, tidak dapat dipungkiri lagi, jantung Mira terus berdebar. Rasanya kuku-kukunya jadi dingin.
"Bundaaaa" teriak Mira sambil menuruni anak tangga.
Maeza meringis sambil menutup kedua telinganya.
"Ya Allah anak siapa sih teriak-teriak" ucap Maeza.
Mira tersenyum, ia memeluk Maeza.
"Anak tunggal kaya raya" celetuk Mira.
"Emang kamu kaya?"
"Aaaa bundaa" rengek Mira.
Maeza mengelus rambut Mira.
"Ada apa kamu teriak-teriak?"
Mira melepas pelukannya, ia tersenyum lebar.
"Si kakak mau jemput" ucap Mira malu-malu.
"Cieeee, mau dijemput pacarnya"
"Hehe"
"Yaudah sana siap-siap, belum mandi kan?"
Mira menggeleng.
"Tadi mau mandi tapi turun dulu laporan sama bunda"
"Ck..Dasar"
"Bolehkan bun?"
Maeza mengerutkan dahi.
"Ya boleh dong, masa gak boleh, dia ngelamar kamu juga boleh" ucap Maeza.
"Akutuh masih adek-adek bun" ucap Mira sok imut.
Maeza menatap geli anaknya.
"Adek-adek apanya? udah ngerti bikin anak gini kok" ceplosnya.
__ADS_1
Mira mendelik.
Vulgar sekali mulut ibu-ibu satu ini.
"Bundaa! Mira bilang sama ayah ya?"
"Bawel, sana mandi, kamu bau ******" ledek Maeza.
Mira pergi kekamarnya, untuk bersiap-siap, gawat kalau Raka tiba ia belum selesai karena banyak mengulur waktu.
"Miraaa pakai wewangian ya" seru Maeza.
'Ih si bunda heboh banget, heran...'
Ting Tung..
"Mbak Lara tolong buka pintunya, kayaknya itu Raka" perintah Maeza pada pembantunya.
"Baik Nya"
Lara berlari kecil membukakan pintu.
"Eh si mas"
Raka tersenyum ramah.
"Nyonya ada mas Raka" panggil mbak Lara.
Secepat kilat, Maeza meninggalkam dapur, menghampiri pembantunya.
"Eh Raka" sapa Maeza.
Raka dengan sopan mencium tangan Maeza.
"Pagi bunda" ucapnya.
Maeza tersenyum balik.
"Aduh gantengnya calon mantu" puji Maeza.
"Ayo masuk nak, duduk dulu" lanjutnya.
"Iya bunda"
Maeza menuntun Raka supaya duduk disofa, padahal tidak dituntun juga Raka bisa.
"Sini duduk"
"Iya bunda, makasih..."
Jujur Raka segan melihat sikap ramah dari bundanya Mira.
"Mbak lanjutin yang didapur ya" ucap Maeza.
"Baik Nyonya"
Raka melirik lantai dua, dimana terletak kamar Mira.
"Miranya mana bun?"
"Lagi siap-siap, dari tadi bunda suruh mandi, baru berangkat mandi, bandel memang" ucap Maeza.
"Baru mandi?"
"Hum"
'Astaga Mira'
"Bunda panggil dulu ya anaknya" ucap Maeza.
"Iya bunda" balas Raka.
Baru beberapa langkah, Maeza berbalik.
"Eh Raka udah sarapan? Bunda baru selesai masak loh" tanya Maeza.
"Uda-"
"Pasti belum, makan bareng ya? Sama Mira juga kok, biar ramai, sepi banget yang sarapan dirumah cuma bunda sama Mira" tawarnya.
Mau menolak tidak enak, Maeza sangat baik padanya. Rakapun mengangguk.
Maeza tipikal orang yang supel, terlebih mengetahui pria yang bersama anaknya itu pria yang sopan dan tampan seperti Raka, dosen pula.
"Alhamdulilah kita sarapan bareng kalau gitu" ucapnya senang.
'Jadi kangen orang tua'
Maeza menaiki tangga menuju kamar Mira. Raka menunduk.
"Masnya kenapa?" tanya mbak Lara tiba-tiba.
Raka mendongak.
"Gakpapa mbak, saya ngantuk" ucapnya.
"Oh hehe, mas harus maklum ya, Nyonya dari kemarin seneng banget tau si Non punya pacar" ucap Lara.
Raka tersenyum.
"Mas tau gak?"
"Apa itu mbak?" tanya Raka penasaran.
"Tadi malam-"
"Hayooo ngomongin apa itu?" tanya Mira yang baru saja turun bersama Maeza.
Author badmood banget😔
__ADS_1