
...jadilah pembaca yang bijak, jika tidak menyukai sebuah karya lebih baik diamlah. Kamu tidak tahu bagaimana susahnya membuat sebuah karya....
Alex sudah rapi dengan setelan jasnya, pria itu sudah siap untuk mengajar. Lain halnya dengan Aira, ia masih duduk ditempat tidur mengumpulkan nyawa.
"Mau jam berapa lagi saya nunggu kamu?" tanya Alex sembari memakai dasi.
Aira mengusap wajahnya.
"Bentar..Masih ngantuk" eluhnya.
Alex melangkahkan kaki ketempat tidur, Aira membelalakkan matanya karena Alex tiba-tiba menggendongnya.
"Pa-pak Alex!"
"Jangn berisik kalau gak mau saya mandikan kamu" ucapnya.
Aira langsung terdiam tidak berani membantah.
Alex menggendongnya sampai kedalam kamar mandi dan mendudukkannya di toilet.
"U-udah sana keluar" ucap Aira malu.
Alex malah tersenyum.
"Saya disini aja" ucapnya santai.
Aira melongo kaget.
"Gak! gak boleh! keluar sana" tegas Aira.
Alex menggeleng dengan senyuman mesumnya.
"Saya malu.." ucap Aira pelan.
"Kenapa malu? saya juga sudah tau semuanya" celetuk Alex.
Pipi Aira memerah.
'Tolonglah, suami gue gini amat'
"Yaudah sa-saya gak mau mandi" ancam Aira.
Alex terkekeh, ia hanya menggoda Aira.
"Saya tunggu diruang tamu"
Cup
Satu kecupan dilayangkan ke dahi Aira, lalu Alex menutup kembali pintu kamar mandi.
Aira menyentuh kedua pipinya.
"Pak Alex sejak kapan jadi manis?" gumamnya sambil senyum-senyum.
Skip..
Aira menuruni anak tangga dengan perlahan, menghampiri Sang suami yang menunggu diruang tamu.
"Pak" panggil Aira.
Alex menoleh.
"Gak sarapan dulu? biar saya masakin" ucap Aira.
"Tidak sempat Aira, kita sudah kesiangan"
'Kesiangan?'
Aira melihat jam tangan miliknya, sudah hampir pukul delapan pagi.
"Astagfirulloh, pak Alex gak ngomong dari tadi..Ayo berangkat cepetan" ucap Aira.
Ia langsung menarik tangan Alex keluar rumah, Aira lupa hari ini ada mata kuliah Raka, ia malas kalau sampai berurusan dengan pria aneh itu lagi.
"Gara-gara pak Alex nih" sebal Aira.
Alex cuma bisa menggelengkan kepala, sebenarnya yang salah siapa dan siapa yang disalahkan. jelas-jelas Aira yang terlambat bangun dan lama termenung.
Mereka masuk kedalam mobil, sepanjang perjalanan Aira terus mengomeli Alex yang tidak bersalah.
"Coba liat nih udah jam delapan pas" eluhnya.
"Iya kamu tenang, jangan ngomel terus" ucap Alex.
"Gak bisa, saya-"
"Diem atau saya turunkan kamu disini" ancam Alex.
__ADS_1
'What? gue diancem?'
"Kamu yang salah, kenapa lama dikamar, dari tadi kamu salahin saya terus" ucap Alex.
Aira tak bergeming.
'Iya juga sih? kok gue nyalahin pak Alex'
Akhirnya tiba juga mereka didaerah kampus.
"Kamu belum sarapan kan?" tanya Alex.
"Oh iya lupa" Aira menepuk jidatnya.
"Ngomel terus sampai lupa beli sarapan" lanjutnya.
Alex menatap Aira.
"Kamu juga makan sedikit semalam, kalau kamu sakit gimana?" cemasnya.
"Enggak sayang, udah ya" ucap Aira selembut mungkin.
Alex menghela nafas.
"Humm, yasudah hati-hati kekelasnya, butuh apa-apa telefon saya" ujar Alex.
Aira mengangguk.
Ia turun dari mobil, sampai didepan pintu kampus Aira bisa merasakan Alex terus menatapnya.
'Secemas itu dia'
Aira kembali melangkah, ia menghela nafas tenang, ternyata banyak Mahasiswa lebih suka datang disaat jam kuliah akan dimulai.
Sialnya, dari depan Aira melihat Nana dan teman-temannya, Aira berharap semoga mereka hanya lewat dan tidak mengusiknya.
Nyatanya mereka memang lewat, mengabaikan Aira.
'Duh, untung gak ngulah'
"Miraa" panggil Aira.
Mira, Mahasiwi paling rajin datang pagi sudah duduk rapi dikursinya. Mira langsung bangun saat melihat kedatangan Aira.
"Airaa, maaf ya semalem gue gak bisa dateng" ucap Mira.
Mira menyengir.
"Nih baru masuk pesan lo, gak ada jaringan dari semalem" Mira menunjukkan pesan Aira.
"Aih...Gue kira lo kenapa-napa"
"Hehe"
Aira duduk dikursinya.
"Jam berapa matkul pak Raka mulai?"
Mira membuka handphonenya.
"Jam delapan lewat lima belas, masih ada lima senggang lima belas menit" ucap Mira.
"Gue mau tidur dulu ya, ngantuk banget"
Aira menaruh kepalanya dimeja, dan kedua tangannya menjadi bantal. Tubuh Aira terasa sakit sejak pagi tadi, tapi ia tidak mengatakannya pada Alex.
"Hayo semalem lo ngapain sama pak Alex?"
Mira mencolek lengan Aira.
"Sst..Bukan urusan bocil" suara Aira berbisik.
"Istirahat deh lo, pasti capek semaleman bikin debay haha" ledek Mira.
Aira mendongak sebentar, menatap sinis Mira lalu kembali tertunduk.
"Iye, tidur deh biar gue bangunin pas pak Raka dateng" ucap Mira melanjutkkan main handphonenya.
Airapun memejamkan matanya. beberapa saat kemudian Mira membangunkannya karena kelas akan segera dimulai, tapi Aira tak kunjung membuka mata.
"Ra..Bangun" ucap Mira.
"Aira, bangun oi, pak Raka bentar lagi masuk" ucap Mira.
Aira tak bereaksi.
"Aduh Aira, nanti lo dikeluarin" paniknya.
__ADS_1
"Airaa" panggil Mira sembari menepuk pundak Aira.
"Aira please bangun bego, ntar dihu-"
"Selamat pagi semuanya" sapa Raka.
Tamat riwayat Aira, Raka sudah tiba dikelas. Mira semakin kalang kabut, pasalnya mereka ada dibarisan kedua, tentu dapat terlihat oleh Raka.
"Pa-pagi pak" ucap Mira.
Tangan Mira menepuk-nepuk pungung Aira, hasilnya tetap sama.
"Mira, disebelah kamu kenapa?" tanya Raka.
Tubuh Mira menegang, Mira menelan ludah, Raka menatapnya tajam.
"Ee-e anu pak"
"Itu Aira Alkeyna?" tanyanya.
Mira mengangguk cepat.
'Maaf Aira, lo tidur kayak kebo'
Raka melangkahkan kaki mendekati kursi Aira, Mahasiswa lain juga melihat kearah mereka.
Brak!
Raka memukul meja.
"AIRA ALKEYNA" suara bariton Raka berhasil membuat Aira bangun.
Wanita itu langsung tegak dengan wajah kaget.
"Bagus sekali kamu tiduran disini ya" ucap Raka.
Aira menoleh kesamping, mendapati Raka dengan tatapan tajam dan tangan di masukan kedalam saku.
Gleg!
'Mampus gue'
"Ma-maaf pak saya ku-kurang enak badan" ucap Aira.
Aira menegok ke Mira.
"Kenapa gak bangunin gue?" tanyanya pelan.
"Udah ya, tapi lo gak bangun-bangun"
jelas Mira.
"Saya tidak mau dengar alasan kamu, keluar dari ruangan saya, temui saya saat kelas selesai" tegas Raka.
Aira merutuki kebodohannya, senyenyak itu dia sampai tidak sadar Mira berulang kali membangunkannya.
"Pak saya benar-benar tidak enak badan" ucap Aira.
"Iya pak, bapak gak liat mukanya pucet" ucap Mira membela Aira.
Raka tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Saya bilang Keluar"
Akhirnya Aira bangkit, dengan kaki yang lemas ia berjalan keluar dari kelas. Mau bagaimana lagi, ia tidak diterima dimata kuliah Raka hari ini.
Mira menatap iba pada sahabatnya.
"Saya melarang kamu untuk kekantin ataupun ruang kesehatan, tetap didepan kelas atau kamu saya keluarkan dari kelas saya untuk seterusnya" ujar Raka.
Aira menghentikan langkahnya.
"Ya" sewot Aira.
'Gila? pak raka punya dendam pribadi sama gue?'
"Bagus kamu jawab begitu?" ujar Raka.
Aira menghela nafas kasar, ia berbalik lalu membungkukkan tubuh.
"Maaf bapak Raka yang terhormat, saya akan mengikuti perkataan anda" ucap Aira.
'Songgong banget si Raka'
'Belom aja gue aduin sama pak Alex'
Maaf Author baru sempat up, author lagi kurang fit, nulis ini aja kepala pusing banget..Ditambah ada yang komentar yang bikin mood author Anjlok_-
__ADS_1