
"kenapa Non?" tanya mbak lara saat melihat Mira mematung didepan pintu.
Mira tersentak kaget.
"Eh maaf Non.."
"Gak..gakpapa kok"
Ia pun masuk kedalam rumah, ternyata sudah ada sang bunda diruang tamu, wanita itu melihat kearahnya sekarang.
"Bunda?"
"Rakanya mana?" tanyanya.
"Udah pulang, dia cuma nganter aku aja bun" ucap Mira.
"..."
Mira melihat gelagat ibundanya yang terus memegang kedua tangannya, seperti orang kebingungan.
"Ada yang mau bunda omongin sama Raka?" tanyanya.
"Oh Mira telpon aja ya biar dia balik, pasti belum jauh dari sini"
Maeza menggeleng cepat, ia menghampiri Mira.
"Jangan, kasian mondar-mandir, Besok masih ada waktu kok"
"Kalau penting sekarang aja bun" ucap Mira.
"Gak penting banget, kamu istirahat gih, udah makan malam kan?"
Maeza menyentuh lengan Mira, dan mengusap kepalanya.
Tangan wanita itu dingin.
"Udah bun"
"Bunda kenapa sih?" tanya Mira.
"Gakpapa sayang, udah sana naik kekamar kamu" ucap Maeza.
Mira menurut, ia menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya. Ia sempat melirik kebelakangnya.
Lagi-lagi gelagatnya seperti orang kebinggungan.
'Feelling gue gak enak..'
'Huft..'
'Semoga bukan apa-apa' ucapnya dalam hati untuk menguatkan dan meyakinkan dirinya sendiri.
Mira sudah pergi kekamarnya, Maeza langsung mengeluarkan handphonenya.
Tentu saja menelpon calon menantunya, Raka.
"Assalamuallaikum nak" ucapnya sedikit berbisik.
"Ooh bunda Walaikumsalam, ada apa bun?" tanya Raka.
"Maaf bunda ganggu, tapi bunda mau tanya"
"Gak kok bunda, tanya aja ke Raka"
"Besok kamu ngajar? Pulang jam berapa?"
"Besok? Emm gak ada kelas Raka besok bun, cuma mau bawa Mira jajan aja bun, bunda mau ketemu?" tanya Raka balik.
'Syukurlah..'
"Iyaa ada yang mau bunda omongin sama kamu, bunda pikir kamu mampir tadi"
"Ooh bisa bun bisa..Maaf tadi Raka gak sempat mampir, takut kena macet bun"
"Iya bunda paham, besok tolong ya bunda minta waktunya sebentar saja" ucap Maeza.
"Baik bun bisa Raka atur"
"Alhamdulilah..jangan sampai Mira tau ya nak..Bunda takut dia tau" ucap Maeza.
"Iya bunda bisa percayakan ke Raka"
"Sudah dulu ya bun, Raka masih nyetir" ucap Raka.
"Oke-oke makasih banyak ya nak, hati-hati nyetirnya.. Assalamuallaikum"
__ADS_1
"Siap bunda, Waalaikumsalam bunda" balas Raka.
Maeza menghela nafasnya.
Esoknya..
Mira turun menemui Maeza yang tengah membaca majalah diruang tamu.
"Bun, Mira berangkat dulu ya, terus nanti pulangnya agak lama, mau jalan sama Raka dulu" ucapnya berpamitan sembari mencium punggung tangan Maeza.
"Raka yang jemput?"
Mira menggeleng.
"Raka hari ini gak bisa jemput, dia minta aku berangkat naik driver online" ucap Mira.
"Oowh..hati-hati dijalan ya nak" balas Maeza.
"Humm, assalamuallaikum bun"
"Waalaikumsalam"
Setelah Mira berangkat Maeza memanggil pembantunya.
"Mbak.."
"Mbaak" panggilnya.
"Iya ada apa Nyonya?" tanya pembantu.
"Tolong bikinkan teh hangat ya, Raka mau datang" pintanya.
Mbak Lara mengangguk lalu pergi.
Handphone Maeza yang ia letak di meja berdering, ia menggapai benda tersebut, tertulis nama menantunya disana.
"Halo Raka udah dimana nak?" tanya Maeza.
"Sebentar lagi sampai perumahan bun, Miranya sudah berangkat?"
"Sudah baru aja dia berangkat"
"Oo oke-oke, Raka sudah dekat ya bun"
Raka mematikan panggilannya.
Maeza memijat pangkal hidungnya, tubuhnya menyandar pada punggung sofa.
"Nyonya gak enak badan? Mau saya ambilkan obat Nyonya?" tawar Lara
Maeza menggeleng.
"Gak usah mbak..Aku gakpapa"
Lara melihat majikannya dengan iba.
"Saya gak tega liat Nyonya begini" ucapnya.
"Aku lebih gak tega liat Mira mbak, aku khawatir tentang dia, dia pasti kecewa berat kalau tau ini.."
"Makanya Aku mau bicarakan ini sama Raka, dia calon suami Mira jadi harus tau" ucap Maeza.
Lara mengangguk.
Ting tung..
Keduanya melihat kearah pintu, Maeza ingin bangkit untuk membuka pintu, Lara langsung mencegahnya.
"Sebentar saya bukakan pintunya, Nyonya duduk aja" ucapnya.
Lara berlari kecil menuju pintu.
Cklek..
"Bunda ada mbak?" tanya Raka.
Lara mengangguk.
"Nyonya udah nunggu dari tadi, masuk aja" ucap Lara.
Raka melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, ia tersenyum ke arah wanita parubaya itu.
"Duduk nak" ucap Maeza.
Suasananya canggung.
__ADS_1
"Sebelumnya maaf bunda minta kamu datang jam segini.."
Raka tersenyum.
"Raka gak keberatan kok bun, bunda mau bicara soal apa?"
Maeza sedikit menunduk.
"Ini tentang pernikahan kalian" ucap Maeza.
Degh!
Mata Raka sedikit melebar, ia berusaha tetap santai.
"A-ada apa bun? Bunda gak membatalkan pernikahan kami kan?" tanyanya.
"Bunda gak membatalkan pernikahan kalian, cuma ini.."
Raka bernafas lega.
Hampir saja ia batal memper-istri Mira.
"Apa bun?"
Raut wajah Maeza berubah.
"Seperti yang kamu tau nak, sebelumnya semua baik-baik aja, ayah Mira bilang dia bakal pulang sebelum pernikahan kalian"
Raka mulai punya firasat buruk dari kalimat calon mertuanya.
"Bun? Jadi ayah.."
Maeza mengangguk.
Tamat sudah..Yang dikhawatirkannya dan Mira benar-benar terjadi. Padahal ia sudah membuat Mira agar tidak memikirkan hal ini, tapi malah terjadi.
"Ayah mira batal terbang ke indonesia" ucap Maeza pelan.
Mata Rara membelalak.
Dia tidak bisa membayangkan kagetnya Mira saat mendengar ini.
"Semalam ayah kabarin bunda, dia batal pulang karena ada masalah diperusahaan.."
Raka mengusap wajahnya.
"Apa gak ada cara lain bun buat ayah bisa hadir diacara pernikahan kami? Saya gak bisa membayangkan wanita yang saya cintai hancur hatinya.."
"Mira sangat ingin ayah hadir dan menepati janjinya" ucap Raka.
"Ayah Mira juga demikian, sangat-sangat ingin melihat putrinya di hari pernikahan, ayah Mira juga cari jalan keluar, bunda bahas ini sama kamu, karena bunda gak mau Mira tau dulu.."
Maeza menangis.
"Bunda bener-bener takut, setiap liat wajah Mira, rasanya bunda sangat bersalah"
Raka memeluk calon mertuanya.
"Mira menikah tanpa ayahnya...bunda takut dia benci ayahnya nak"
"Bun, tenang bun, jangan sampai bunda drop..Biar Raka yang bicara sama Mira"
"Bunda percayakan sama Raka, Mira tanggung jawab Raka juga" ucap Raka.
Raka memanggil Lara yang ada disana agar membawa Maeza istirahat.
"Bun, Raka janji Raka bakal bawa pulang Ayah kesini" ucap Raka.
Entah bagaimanapun caranya, Raka harus membawa pulang ayah Mira.
"Bunda istirahat ya? Bukan demi Raka, tapi demi Mira, bunda gak mau buat Mira sedih kan? Bunda harus baik-baik aja, sama-sama cari jalan keluar" ucap Raka menatap dalam Maeza.
"Mbak, tolong jaga bunda, jangan ditinggal sendirian" pinta Raka.
"Iyaa, ayo Nyonya saya antar kekamar" ucap lara.
Raka tersenyum.
'Mira..'
Raka beranjak dari rumah itu, tujuannya pertama adalah bertemu kedua orang tuanya untuk bertukar pikiran dan mencari jalan keluar.
Siapa yang minta kisah Raka-Mira?
Author bakal kasih tuntas biar cerita segera tamat hehe, kemarin mau tamat gak jadi..
__ADS_1