
"Saya sewaktu hamil?"
Alex mengangguk.
"Dari anak pertama sampai anak ketiga beda-beda mas, saya waktu hamil anak pertama saya gak ada ngerasa gejala mual, kayak biasa aja gitu, cuma ada sedikit sih..saya lebih manja kesuami, dan gak mau ditinggal.."
Alex mencernanya, sikap Aira tadi pagi juga begitu.
"Yang anak kedua, baru merasakan mual, pusing, tidak enak badan, mudah nangis..lebih emosional sayanya" jelas Anya.
"Anak ketiga?" tanya Alex.
"Sama juga kayak anak kedua mas.."
"Oo begitu"
"Oiya mas, kalau istri lagi hamil itu tanda, tandanya kelihatan banget ditubuh, misalkan..Payudara membesar, dan berat badan naik"
Alex mangut-mangut.
"Memangnya siapa yang hamil? Aira?" tanya Anya.
"Saya juga tidak tau bu, belakangan ini Aira moodnya berubah-ubah, dan lebih mudah tersinggung" ucap Alex.
Anya tertawa, ia menepuk lengan Alex.
"Bisa jadi dia lagi hamil mas, periksa aja kedokter"
Alex menyengir.
"Iya buk"
"Kalau beneran hamil, anak-anak gadis disini pasti pada patah hati, mas Alex udah mau punya anak" kekeh Anya.
"Mas taulah, apa maksud mereka sering lewat didepan rumah mas Alex, maklum anak gadis susah kalau liat yang bening-bening" cibir Anya.
Alex hanya tersenyum menanggapinya. Dilingkungan rumah Alex memang banyak gadis-gadis remaja dan Mahasiswi seumuran Aira.
Tak heran kalau mereka sering cari perhatian dengan menyapanya setiap lewat didepan rumah. Beruntung Aira tidak tau soal itu, kalau sampai terlihat didepan matamya ada wanita lain menyapa Alex, pasti mulut nya tidak bisa diam.
"Yasudah saya masuk dulu ya bu, terimakasih infonya"
"Sama-sama mas, intinya harus jadi papa sigap! Dan lebih sabar ya mas" ucap Anya.
Alex mengangguk.
"Ditunggu kabar baiknya"
Alex masuk kedalam rumahnya, ia menaruh kantung plastik diatas meja ruang tamu. Selagi Aira tidak ada, Alex menelfon Reva.
"Assalamuallaikum bun"
"Waalaikumsalam nak, ada apa?"
"Em, bun nanti malam Alex kerumah ya ada yang Alex omongin" ucap Alex .
"Boleh-boleh, Airanya ikut kan?"
"Ikut bun"
"Oke bunda mau masak buat kalian kalau gitu"
"Tapi bunda, Alex enggak nginep"
Terdengar nada kecewa dari wanita itu.
"Sayang banget..Bunda kangen Aira, ditambah adek kamu belum pulang juga" ucap Reva.
Bagaimana ini? Alex tidak mau Aira kecapean karena terus berpindah tempat, ia juga harus bekerja.
"Nanti kalau senggang kita nginep bun, Alex masih sibuk kerja"
"Yaudah nak gakpapa"
"Maaf ya bun"
"Iya nak, assalamuallaikum"
"Waalaikumsalam"
Alex beranjak kelantai dua, tangannya perlahan membuka pintu kamar.
"Aira?"
"Apa mas?"
"Kamu mau berangkat jam berapa?" tanya Alex pada Aira yang tengah memilih baju.
"Jam sepuluh"
Jam sepuluh? Berarti masih ada waktu dua jam lagi.
"Kamu tidak mau ambil cuti?"
Aira mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Enggak"
"Kenapa? Saya lihat kamu kecapean"
"Gak bisa mas, saya mau bahas tentang kerja kelompok yang mas bikin beberapa hari lalu" ucap Aira.
"Tugas kelompok?"
Aira mengangguk.
"Ya..saya sebelumnya satu kelompok dengan Mira, tapi sudah berubah, saya harus cari kelompok baru" ucap Aira.
Alex sekarang menyesal memberi tugas itu.
"Kamu jangan kecapean dikampus ya?" ucap Alex sembari mengecup pipi kepala Aira.
'Pak Alex kenapa sih? Tumbenan khawatir' batin Aira.
"Iya bawel..Saya mau siap-siap"
"Bukannya masih lama?"
"Saya mau ketemu orang" ucap Aira.
"Siapa?" tanya Alex.
"Bukan laki-laki kan?" tanyanya lagi.
Aira tertawa.
"Ya bukanlah, ini tuh perempuan, jadi tenang aja" ucap Aira.
Alex bernafas lega.
"Yaudah sana siap-siap"
Mobil.
Aira terus bersenandung mengikuti irama lagu yang diputarkan Alex lewat radio mobil, kepalanya bergerak kekanan dan kiri.
"Kamu suka lagunya?"
Aira mengangguk.
"Hum, bagus lagunya" ucap Aira sembari tersenyum.
Selama perjalanan Alex melirik Aira beberapa kali, ia ingin bertanya pada Aira, tapi ia sedikit ragu, ragu Aira akan marah.
"Em Aira"
"Kamu merasa beda?"
"Be-beda gimana?"
"Kamu lebih menempel kesaya, kadang kamu berubah jutek dan cerewet, kamu juga minta dituruti semua kemauannya.."
Aira nampak berpikir.
"Apa iya gue gitu? Perasaan biasa aja"
"Masa sih?"
Alex mengangguk.
"Ah perasaan mas doang, orang mas yang manja kesaya"
Pipi Alex memerah.
"Tuh kan, pipi mas aja gak bisa bohong"
Alex mengusap belakang lehernya, sial ia tidak bisa melawan Aira.
"Eh..mas.."
"Iya?" Alex menatap Aira serius.
"Saya sebenernya udah telat halangan" ucap Aira.
"Ka-kamu serius?"
Aira mengangguk.
"Tapi mungkin beberapa hari lagi saya halangan, saya jarang banger telat kayak gini" gerutu Aira.
'Itu karena kamu hamil Aira' batin Alex.
"Mas jangan-jangan saya.."
"Jangan-jangan apa?"
Alex menunggu kalimat selanjutnya, Aira pasti akan menyadari kehamilannya.
"Saya kebanyakan minum es ya? Makanya telat" ucap Aira polos.
Yak! Melesat dari dugaan Alex.
__ADS_1
"Kamu hamil mungkin" ucap Alex.
"Apa?!"
Alex tersentak kaget, nada bicara Aira meninggi dan tangannya menepuk tangan Alex.
"Saya hamil?!"
Matanya membulat kaget.
"Bisa jadi"
"Kok bisa? Kita kan.." Aira menggantung kalimatnya.
"Kita apa?"
Aira menggeleng.
"Gak, gak mungkinlah mas, ngaco aja nih" ucap Aira diakhiri tawa.
'Gue hamil? Gak mungkin, gue gak ada mual sama sekali'
Dalam hatinya risau, kenapa Alex bisa berpikir ia hamil?.
Mobil Alex berhenti dipersimpangan dekat kampus, Aira menatap bingung.
"Kok berhenti disini? Kan belum sampai kampus"
"Kamu lupa? Saya kan hari ini cuti, kalau sampai dosen lain lihat mobil saya bagaimana?"
'Oiya lupa gue'
"Yaudah kalau gitu, saya turun" ucap Aira.
"Tunggu" ucap Alex.
"Kenapa?"
Alex menunjuk kedua pipinya.
"Cium"
Aira melihat sekitar, ia mendekat lalu mengecup kedua pipi Alex.
"Bye!" ucap Aira.
"Maaf, saya ti-"
"Gakpapa, lagian saya mau ketemu disitu tuh sama temen saya"
Aira menunjuk salah satu cafe.
"Teman? Teman yang mana?"
Setau Alex Aira cuma punya satu teman, yaitu Mira.
"Yaallah mas, saya ini anak hits, ya jelas punya banyak temen" ucap Aira.
"Dan gebetan" lanjutnya.
Alex membulatkan mata.
"Be-bercanda" ucap Aira panik.
"Coba saja, saya tidak marah"
"Bener?"
Pletak~
Dahi Aira disentil oleh Alex hingga Sang empu meringis.
"Awh..Sakit!"
"Buat apa kamu tanya saya benar marah atau tidak?"
"Yakan mas bilang gak marah kalau saya-"
"Jadi karena saya tidak marah kamu mau punya gebetan? Begitu?" tanya Alex dengan tatapan maut.
Aira menelan saliva.
"Rencananya gitu-eh tapi gak kok, bercanda hehe" ia menyengir.
Tangan Aira perlahan bergeram membuka pintu mobil, ia bersiap untuk kabur.
"Dasar baperan!" Cibir Aira.
Ia berencana langsung kabur, tapi nampaknya Alex memang sulir dikelabuhi, pintu mobil rupanya masih terkunci.
'Mampus gue'
Aira menatap Alex, pria itu tersenyum.
"Mau kabur ya?"
__ADS_1
"E-enggak kok, ini..Apa namanya..Cuma ngecek pintunya doang..Berfungsi apa enggak hehe" elaknya sambil pura-pura mengecek pintu mobil.