Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-123


__ADS_3

Radit menaikkan kedua alisnya.


Secara tidak langsung Radit menyinggungnya, Aira tau itu. Saat ini mana mungkin Radit tidak tau, ditambah Gilan pasti sering bercerita padanya.


Sampai menjadikan Nana umpan.


"Eh sorry gue gak maksud hehe, masuk gih" ucapnya.


Aira tersenyum, ia masuk kedalam ruangan, sedangkan Radit pergi meninggalkannya sendiri.


"Gak masalah disindir gitu, emang gue yang salah.." gumam Aira.


Ia duduk disofa menunggu Radit yang memanggil Gilan. Ruangan begitu sepi, hanya suara jam dan detak jantung Aira sendiri yang bisa ia dengar.


Sekitar sepuluh menit lebih Aira duduk disana, Gilan tak kunjung datang.


"Lama banget ya..Keburu masuk"


Tring!


Aira membuka pesan whatsapp dari Mira.


...Miranjink🐶...


Aman kan? Kok lama banget? Si Gilan ngomong apa?


^^^Dia gak ada diruangannya^^^


^^^Gue dari tadi nunggu, katanya mau dipanggilin tapi gak dateng-dateng.^^^


Astaga..


Gue kesana deh, biar gue temenin.


^^^Gak usah^^^


^^^Kayaknya bentar lagi dateng^^^


Bener? Yaudah deh, cepet balik ya


Dosen killer ini masalahnya.


^^^Iya^^^


Aira mencoba menunggu lagi, tiba-tiba knop pintu ruangan bergerak.


Aira menoleh kearah pintu.


'Akhirnya dateng'


Cklek..


Tepat seperti dugaan Aira, orang yang membuka pintu adalah Gilan. Pria itu tengah menerima telefon.


"Iya nanti gue kabarin lagi gimana ke.." ucapan Gilan terhenti sata melihat sosok Aira berdiri sambil tersenyum kearahnya.


Aira tersenyum canggung.


"Gue tutup dulu, nanti gue telfon balik" ucap Gilan.


Pria itu menutup kembali pintu, ia hanya melirik Aira sebentar.


"Ada apa?" tanyanya dingin sembari berjalan kekursi miliknya.


"Aira mau ngejelasin semuanya kak.." ucap Aira.


Aira tau pria itu menghindar untuk bertatap mata dengannya.


"Masalah apa ya?" ucapnya.


Aira semakin gelisah, sepertinya Gilan benar-benar membencinya.


"Aira minta maaf kak, selama ini Aira belum siap ngomong dan banyak bohong, kalau-"


"Kalau kamu udah nikah gitu?" potong Gilan.


Aira mengangguk pelan.

__ADS_1


Gilan mendesis.


"Gila ya, selama ini aku bawa istri orang" ucapnya.


Aira menunduk.


"Kak dengerin penjelasan Aira"


"Sebenernya awal kita jalan..Aku masih single belum nikah, dan waktu itu aku bener-bener kagum sama kak Gilan.."


"Tapi semuanya terjadi gitu aja..Aira nikah sama pak Alex.."


"Aku bingung harus ngomong apa..posisinya aku dijodohin kak" lanjut Aira pelan.


Mata Gilan membulat, ia kaget. Dimasa sekarang ini masih ada yang namanya perjodohan?.


"Dijodohin?"


"Iya, Aku gak bilang ke kakak, karena aku malu..Aku juga masih suka sama kakak dan aku kepikiran buat cari cara supaya bisa batalin semua itu dan bisa sama kakak.."


Gilan memijat pelipisnya.


"Kamu bisa mikir gak sih? Pantes gak? kamu ngomong suka sama pria lain padahal kamu udah nikah?" Suara Gilan mulai meninggi.


Mata Aira berkaca-kaca.


"Iya aku salah kak, aku ceroboh..Aku juga gak bisa nolak permintaam orang tua, dan juga ajakan kakak, walaupun Mira sering ingetin aku..Aku gak bisa"


"Dan seiring berjalannya waktu, Aira mulai sadar kalau langkah Aku salah, sekarang aku bahagia sama pernikahan aku kak, aku nyesel sampai bikin kakak ngungkapin perasaan didepan orang" lanjutnya


"Cih.."


"Kamu bahagia, aku yang malu, kamu itu bikin aku jadi orang bodoh Ra, dengan percaya diri bawa kamu kesana kemari, ngungkapin perasaan didepan orang-orang, dan yang ternyata istri orang"


"Hah..Bodohnya"


Aira menahan air matanya, ia tidak boleh menangis didepan Gilan.


"Suami kamu itu si Alex kan?" tanya Gilan tiba-tiba.


"Aira mewakili pak Alex minta maaf, Aira udah jelasin ke pak Alex juga.."


"Kak...Aira gak tau mau gimana lagi, Aira siap dibenci, Aira siap mau di katai apapun, yang penting kak Gilan bisa lega" ucapnya.


"Memang itu yang pantes kan?" ucap Gilan dingin.


Hati Aira sakit rasanya, Gilan berubah drastis.


Aira mengangguk.


"Iya memang itu pantes buat aku..Maaf kak" ucap Aira.


"Kamu sebanding sama perempuan.."


Gilan marah, tapi sulit sekali rasanya mengumpat pada Aira.


"Perempuan murahan? Iya Aira tau kok, semua orang juga bilang aku murahan.." tebak Aira.


Gilan terdiam.


"Aira lega kak Gilan mau dengerin semuanya dan gak ngusir Aira"


"Aira permisi dulu kak" lanjutnya.


Aira membuka pintu.


"Kenapa gak dari tadi pergi? muak denger omongan kamu" ucap Gilan.


Aira menggengam erat knop pintu.


"Maaf..Maaf udah ganggu"


"Hm"


Blam!


Pintu ditutup oleh Aira.

__ADS_1


Rahang Gilan mengeras, tangannya mengepal.


"Bangsat" umpatnya.


Ia mengusap wajahnya kasar.


Jujur Gilan amat sakit hati, ia ingin membenci wanita yang berani membuatnya malu. tapi Gilan tidak bisa, ia bukan orang seperti itu,  ia tetap memaafkan Aira.


"Kenapa gak gue usir langsung" ucap Gilan.


Tadi Radit menghampirinya dan mengatakan Aira datang mencarinya dan berada ada diruangannya. Gilan tidak begitu perduli, ia sengaja membuat wanita itu menunggu.


Ketika ia berpikir wanita itu sudah pergi, makanya ia datang, nyatanya Aira tetap menunggunya.


"Selamat Aira, gue gak bisa gak maafin lo.." ucapnya pelan.


..


Gadis itu khawatir bukan main, Aira janji akan kembali sebelum kelas dimulai, nyatanya sampai kelas mau berakhirpun wanita itu tidak muncul.


"Aira..Angkat dong" ucap Mira gelisah.


'Pasti ni anak nangis, udah gue duga, kenap bandel banget sih gak mau ditemenin' ucap Mira dalam hati.


"Mira Aira mana? Nanti kelas pak Alex presentasi loh" ucap Sekar.


"Bisa diem gak?!"


Spontan Mira meninggikan suaranya pada Sekar.


"So-sorry gue spontan" ucap Mira.


"Aira kenapa?" tanya Sekar.


"Ee...Gakpapa, Kar titip tas gue ya, gue mau izin dulu ke Dosen" ucap Mira.


Ia harus menemui Gilan, Mira tidak tenang karena handphone Aira mati.


Setelah mendapat izin sepuluh menit oleh Dosennya, Mira berlari menuju ruangan Gilan, tempat yang didatangi Aira.


Ia juga tak berhenti mencoba menghubungi Aira.


Harap-harap wanita itu menghidupkan kembali handphonenya.


"C'mon Aira...Angkat.."


"Ayo angkat.."


Tanpa sopan santun, Mira langsung membuka pintu Gilan. dengan kasar.


Brak!


Gilan mendongak, ia menatap Mira yang bercucuran keringat dan nafas terengah-engah.


"Mana Aira?!" teriaknya.


Jantung Gilan berdetak kencang, apa maksud Mira bertanya padanya?.


Bukankah seharusnya Aira sudah dikelas sekarang.


"Gue tanya dimana Aira?!"


"Aira udah pergi dari tadi.." ucap Gilan.


Mira menyentuh dahinya.


"Astaga..Aira lo kemana sih!"


Mira hendak pergi, tapi secepat kilat Gilan menahan tangannya.


"Lepas" ucap Mira.


"Aira gak balik kekelas?" tanyanya cemas.


"Bukan urusan lo, gara-gara lo dia gak balik kekelas" ucap Mira emosi.


Mata Gilan membulat, jadi kemana Aira tadi?.

__ADS_1


__ADS_2