
"Ha-halo kar?"
"AIRA ******, LO UDAH NIKAH?!"
Aira meringis,menjauhkan handphoen dari telinganya.
"Anu..Nanti gue jelasin y-ya" ucap Aira.
"Sumpah Arghh, bisa gila gue Ra, lucky banget lo"
"Hehe"
"Gimana sih hari-hari bobo disamping pak dosen? Kepo gue"
"Ya biasa, pelukan" ceplos Aira.
"Bang-bangsat! Aira yang nikah lo yang melting gue" suara Sekar heboh.
"Iya itu tandanya orang sirik" ejek Aira.
"Sombong banget mentang-mentang istri pak Alex"
"Jelas suami gue ganteng, apa
lagi pas bobo" Aira memanas-manasi.
Sekar histeris disana.
"Stop! Stop! Gue jadi kesel campur seneng, gak ngerti lagi deh, intinya nanti sore harus lo jelasin, sedetail-detailnya"
"Iya-iyaa"
"Serius Ra gue kaget plus gak nyangka-"
"Udah nanti lanjut"
Aira menutup telfonnya sepihak, baru saja stau panggilan berakhir sudah masuk panggilan lain.
17 panggilan tak terjawab.
Nana (4)
Other people..
"Gila, banyak juga nomor yang gak dikenal" gumam Aira.
Ia mengotak-atik lagi handphonennya.
"Gak rela banget nikahnya sama pelakor" Aira meniru salah stau komentar julid dipostingan terbarunya.
"Pelakor? Siapa yang gue rebut? Ngelawak ni orang" kesalnya.
Cklek..
Alex muncul sembari membawa segelas susu ditangannya.
"Nih" ucap Alex.
"Makasih mas"
Aira lanjut melihat handphonennya.
"Banyak notif?"
Aira mengangguk.
"Banyak banget, coba liat punya mas"
Alex dengan suka rela memberikan handphonennya pada Aira, raut wajah Aira berubah.
"Dih..Gak ada yang berani julid, tapi dilapak saya pada nyinyir"
"Karena saya ganteng" jawab Alex.
Aira menatap sinis pria itu.
"Dasar"
Alex tersenyum.
Greb!
"Akhirnya semua tau kamu punya saya" ucap Alex.
Alex memeluknya, Aira akui awalnya dirinya takut untuk "go publik" tapi setelah lihat hasilnya ia merasa tenang dan senang.
"Hum..Iya" ucap Aira.
Alex menatap Aira.
"Kalau gitu, nanti anaknya lahir saya bawa aja kekampus, gimana?"
Aira mendelik.
Pletak!
Dahi Alex yang mulut seperti aspal baru jalan tol, terkena sentilan maut Aira.
"Heh, dikira kampus punya kita apa? Mana boleh!"
__ADS_1
Alex meringis sakit.
"Ya kan maksud saya biar anak saya juga dilihat orang, "oh ini anaknya pak Alex ganteng banget ya, kayak papanya" gitu" ucap Alex.
Aira merinding mendengarnya, tingkat kepedean Alex sudah ditahap akhir.
"Iya terserah, yang penting situ bahagia, saya yang tidak cantik bisa apa?" sindir Aira.
Alex panik.
"Maksud saya kalau anaknya laki-laki pasti ganteng kayak saya,masa laki-laki cantik?"
Aira memutar bola matanya.
"Ngeles teruss"
"Enggak, saya ngomong apa adanya"
"Iya sayang, percaya kok percaya" Aira menepuk-nepuk pundak Alex.
Dreeet...
Mata keduanya tertuju pada handphone Aira.
Nana Kating calling you..
"Yah..Again"
"Speaker" pinta Alex.
"Kalau saya angkat ini, dia teriak atau gak?" tanya Aira.
"Enggak?"
Alex mengangguk setuju.
"Tapi kalau dia teriak, saya cium mas" ucap Aira.
Alex kaget sekaligus senang.
"Oke ide bagus"
Alex menatap layar handphone, Aira melirik pada pria itu. Sejujur-jujurnya ia tauu Nana pasti berteriak, entah kenapa ia ingin mencium Alex, jadi ia menjadikan Nana ini sebagai pengalihan niatnya.
"Oke..Satu, dua, tiga"
Aira menggeser tombol hijaunya dan..
"AIRAA OMG! ARE U KIDDING ME?!"
Alex bersemangat karena ia yang akan mendapat hadiah cium dari istrinya. Aira mencoba menahan tawa.
"Um iya?"
"Gue gak salah kan? Pak Alex itu suami lo? Kalian married?"
"Humm"
"Aira terimakasih kewarasan gue hilang, lo berhasil bikin gue mikir keras kayak orang gila!"
"KENAPA GAK ANGKAT TELFON GUE?!" lanjutnya.
"Kan tadi rame banget, jadi satu-satu Na, maaf mendadak tapi emang itu kenyataannya"
"Ja-jadi yang tadiii gue k-ketemu pak Alex?"
"Oh kamu yang ngadu keistri saya?" saut Alex.
Nana berterika histeris.
"PAK ALEX?!"
"Iya ini saya, kamu bikin istri saya berprasangka buruk" ucap Alex.
Aira menahan tawanya.
"Aduh bapak, maaf, kan saya gak liat istri bapak" ucap Nana.
"Udah ya, lain kali gue ceritain, capek nih kuping diteriakin mulu" ucap Aira.
"Gak ada lain waktu, besok harus dijelasin, gak mau-"
Aira membulatkan matanya, Alex mematikan panggilan Nana yang sedang berbicara.
"Mas?"
"Berisik, buang-buang waktu" ucap Alex.
'Hei anda biang keladinya ya'
"Sekarang tepati janji, ayo cium"
Alex memegang kedua pinggang Aira, matanya menutup.
'Ini kalau gue kasih kaos kaki, gimana ya?'
'Eh jangan deh kasian hahaha'
"Karena saya orangnya tepat janji, jadi saya cium" ucap Aira.
__ADS_1
"Iya cepat" jawab Alex tidak sabaran.
Wajah Aira mendekat, semakin menghapus jarak diantara mereka dan akhirnya benda kenyal berwarna merah itu saling bersatu.
Alex pikir cuma kecupan, tapi Aira lebih agresif. Wanita itu membuat Alex kaget, karena ia pindah kepangkuan Alex, dan mengalungkan tangannya dileher Alex.
Alex mengikuti alur ciuman Aira, yang begitu memabukannya.
"Aira kamu jangan pancing saya"
Alex mengerjapkan matamya. Apa ia tidak salah lihat? Ini pertama kali Aira menampakkan smirknya.
"Ucapan terimakasih" ucap Aira, ia menekan tengkuk Alex.
Sepuluh menit lamanya bibir mereka saling bertautan. Aira menyudahi ciumannya dengan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Alex.
"Malu?"
Aira mengangguk, Alex terkekeh lalu mengusap rambut Aira.
"Kalau saya seriusan kamunya bisa bahaya" ucap Alex.
"Ditahan dulu" ucap Aira
"Hummm" Alex mendekatkan hidungnya pada leher mulus milik Aira.
Wangi parfum Aira tiada duanya bagi Alex.
"Mas"
"Hum?"
"Apa kita gak terlalu kaku?"
Alex mengerutkan dahinya.
"Kaku?"
Aira menegakkan tubuhnya.
"Bukan hubungan kita, tapi cara kita berbicara" ucap Aira.
Alex masih belum paham.
"Bisa kita merubah saya jadi aku atau mas sama adek?"
"Alasannya?"
"Karena mas selalu bilang saya, dan saya ngikut, jadi ngerasa masih kaku aja" ucap Aira.
"Oke...Kita coba" ucap Alex.
"Eh tunggu satu lagii"
"Apa?"
"Jangan pake bahasa baku! Kecuali dikampus" ucap Aira.
"Iyaa mas coba" ucap Alex.
Aira mengecup seluruh wajah Alex.
"Yeayy! Sekarang antar saya mandii" ucap Aira.
"Ma-mandi?"
"Huum, kenapa? Antar sampe kamar mandi doang" ucap Aira.
"Ooh saya-mas pikir mau dimandiin sekalian" celutuk Alex.
"Situ menang banyak" cibir Aira.
"Sekarang mas yang banyak ngalah" ucap Alex.
Aira tersenyum kikuk.
"Y-ya harus sabar!"
"Buruan gendonggggg" rengek Aira.
Alex perlahan bangkit dari ranjang sembari menggendong tubuh Aira yang semakin berat.
'Kayaknya waktu itu Aira gak seberat ini'
"Jangan ngomongin berat badan aku, ini karena lagi hamil ya" kesalnya.
Alex terdiam.
'Kok bisa dengar, padahal dalam hati'
"Kok kamu bisa tau?" Alex menurun Aira didalam kamar mandi.
Aira menyibakkan rambutnya.
"Keliatan jelas dari muka mas, jadi aku simpulin aja gak tau nya beneran" ucap Aira.
Alex tertawa kecil.
"Yaudah mas tunggu diluar, nanti mau digendong lagi kan?"
__ADS_1