
PLAK!
Mata Mira membulat sempurna, tamparan keras mendarat mulus dipipi kirinya.
"Lo pengkhianat Mir" ucap Aira penuh penekanan.
Dari Sorot matanya tergambar rasa kecewa dan Marah. Mira menatap Aira, ia tidak bisa berkata-kata, tamparan Aira terasa sangat menyakitkan.
"Ini lo kan?"
Aira memutarkan video yang ia dapat tadi di hadapan Mira, seketika wanita itu tercenggang.
'Be-berarti..Aira..'
'Raka sialan!'
Melihat Reaksi diam Mira rasa sakit di hatinya menambah, berarti benar gadis itulah yang ada divideo.
"Mir..Lo..Lo kenapa tega sama gue?"
"A-Aira gue-gue bisa jelasin" ucap Mira terbata-bata.
"Apa Mir? apa yang mau lo jelasin, udah puas kan lo?" bentak Aira.
"Aira kamu tenang" ucap Alex tiba-tiba datang menghampiri mereka, ia memeluk sang istri.
Mira mengepal tangannya.
'Raka bajingan, gara-gara lo!'
"Lo kenapa sih Mir? kita udah bertahun-tahun sama, gue percaya sama lo tapi ini balasan lo?"
"Bukan Aira, please dengerin gue" ucap Mira.
"Lo tau Mir bahagianya gue punya lo sebagai sahabat gue? lo yang berdiri ngebela gue didepan Nana, lo yang selalu ngelindungi gue, tapi..Sekarang lo malah nusuk gue dari belakang, lo mau hancurin rumah tangga gue"
Dada Mira naik turun, cukup sudah! cukup ocehan Aira, ia tidak tahan.
"Kalau iya kenapa?" ucap Mira.
Aira menatap tak percaya, apa yang barusan Mira ucapkan ia tidak salah dengar kan?.
"Mira..Lo-"
Mata Aira bergetar.
"Bu-bukannya lo bahagia liat pernikahan gue?"
Mira mendesis.
"Gue bahagia Ra, gue gak iri sama pernikahan lo, Gue..Gue"
"Tapi Kenapa? kenapa lo sengaja bikin gue ribut kalau lo bahagia liat gue?"
Aira butuh penjelasan keluar dari mulut gadis itu.
"Lo mau tau kenapa gue lakuin ini? asal lo tau gue gak suka sama lo, lo itu gak pernah bersyukur sama apa yang udah lo punya"
"Lo itu udah nikah, punya pak Alex,tapi kenapa lo masih mau sama semua cowo, lo mau nempel kesiapapun, gue jijik sama lo!" ucap Mira dengan berteriak.
"Dan satu hal lagi..Kenapa semua orang cuma perduli sama lo!"
"Padahal gue itu lebih baik dari pada lo! sedangkan Lo? lo itu gak lebih dari cewek murahan" ucap Mira.
Dada Aira rasanya seperti ditusuk, ngilu dan perih. Kenapa kata-kata itu keluar dari mulut Mira sahabatnya.
__ADS_1
Hanya karena pria Mira berubah? hanya karena berebut perhatian Mira menusuknya dari belakang?, ungkapan itu berputar dikepala Aira.
Tubuhnya lemas dipelukan Alex.
"Gue yang ngelakuin semuanya! gue!"
"Bapak tau? siapa yang ngirim pesan dan nelfon bapak?"
Mira beralih menatap Alex.
"Itu saya! saya ngelakuin itu supaya bapak sadar, tinggalin cewek gak berguna ini"
"Jaga ucapan kamu" Alex menatap tajam Mira.
Rahangnya mengeras, mulut Mira sudah cukup jauh menghina istrinya.
"Itu kenyataannya pak! saya yang selalu bersama Aira, bapak cuma orang yang dibodohi"
Alex ingin memaki mulut sialan Mira tapi ditahan oleh Aira. Tatapan Aira sendu.
"Jadi selama ini cuma sandiwara Mira?" tanya Aira pelan.
Dia tau pengkhianatan Mira ini, tapi bisakah Aira mendapat sebuah kepastian kalau Mira memang tulus melakukan segala hal setelah ia menikah untuk terakhir kalinya.
Mira terdiam, pikirannya juga berkecamuk. Kalau boleh jujur, tidak semua ia lakukan dengan bersandiwara. Mira sakit hati karena para pria menyukai Aira, tapi Mira bersumpah ia melindungi Aira itu dengan tulus.
Keegoisannya yang telah menghancurkan segalanya.
"Iya, gue cuma pura-pura, dari awal gue pura-pura" ucap Mira.
Aira mengigit bibir, matanya berkaca-kaca.
"Mi-"
"Mira!" seseorang membentaknya balik dari dalam Rumah.
Mira menoleh kebelakang.
"Bu-bunda?" Mata Mira membulat.
Ia lupa akan keberadaan sang ibu di rumah.
Maeza menghampiri mereka, betapa terkejutnya ia saat mendengar percekcokan anaknya dengan sahabatnya didepan rumah. Wanita itu memegang tangan Aira dengan cemas
"Aira..Tante minta maaf..Tante yang salah..Tante tidak mendidik Mira" Maeza mengusap-usap tangan Aira.
Mira tersentak melihat sang ibu memohon didepan orang yang ia benci.
Aira menggeleng.
"Tante orang baik..Tante gak salah" lirih Aira.
"Tante minta maaf, tante bakal urus Mira" ucap wanita itu memohon.
Alex menyingkirkan tangan Maeza, tatapannya dingin.
"Kami permisi" ucap Alex membawa Aira menjauh dari pintu.
"Pak.."Lirih Aira.
Melihat Aira yang tampak menyedihkan ingin sekali rasanya menghajar wajah Mira, tapi sayangnya tidak bisa ia lakukan.
"Kita pulang Aira" ucap Alex pelan.
Maeza beralih menatap Anaknya, malu? tentu ia malu, anaknya tumbuh menjadi seseorang yang menjijikan.
__ADS_1
"Ikut bunda" ucap Maeza.
Ia menarik lengan Mira masuk kedalam rumah.
Blam!
Pintu rumah tertutup kuat.
"Mira, jelaskan sama bunda apa yang terjadi?" ucap Wanita itu.
Mira diam.
"Kamu gak mungkin kan hancurin rumah tangga Aira nak? bener kan?"
Bukannya menjawab, tiba-tiba Mira terisak.
"Argh!" ia mengacak rambutnya frustasi.
Maeza spontan menutup mulutnya, yang dikatakan Aira benar, anaknya sudah melangkah jauh.
"Kamu..Kamu" Maeza mencengkram tangan Mira.
"Iya! Aku ngelakuin itu!" teriak Mira.
Mata Maeza berkaca-kaca.
"Dimana akal sehat kamu Mira? Aira teman lama kamu!"
Seketika berubah menjadi pertengkaran ibu dan anak.
"Bun..Hiks..Aku sayang sama Aira..Tapi Mira gak suka sikap Aira..Dan orang yang Mira suka semuanya mau sama Aira..Hiks..."
Air mata membanjiri pipi Mira, kenapa semua menyalahkannya? ia juga orang yang tersakiti disini, ia sakit seperti Aira. Kenapa tidak ada yang mau mengerti posisinya.
"Tapi bukan seperti itu Mira..."
"Jadi gimana bun! Aira harus dikasih pelajaran!"
PLAK!
Mira hampir terjungkal kelantai, kali ini ibunya sendiri yang menamparnya. Tamparan Maeza cukup parah sampai membuat sudut bibir Mira berdarah.
"Bu-bunda"
"Bodoh kamu Mira, laki-laki bisa dicari, tapi teman yang setia itu sulit dicari" ucap Maeza, dia marah, sangat marah.
'Bunda bener, tapi bunda gak tau posisi aku gimana'
Maeza memegang dada, nafasnya terengah-engah. Oh tuhan! Mira membuatnya gila.
"Kamu...Kamu lebih baik ikut ayah, bunda malu liat kamu ketemu Aira" ucap Maeza lalu pergi.
Ya, dia pergi meninggalkan anak perempuan semata wayangnya yang berdiri membeku. Mira sakit maka ibunya lebih sakit, hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya melakukan perbuatan tidak pantas.
"Bunda..Mira gak mau!"
"Bunda!"
Mira menatap punggung Maeza yaang mulai menjauh, tangannya mengepal.
"Semua..Gara-gara Raka..Semua jadi hancur! Argh!"
Mira menutup wajahnya.
"Aira..Hiks..Seharusnya kita masih bisa berteman..Gue tetep sayang sama lo.." gumamnya pelan.
__ADS_1