Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-124


__ADS_3

Mira menghempas tangan Gilan, ia berlari mencari Aira.


Rasa bersalah dan gelisah menyelimuti Gilan.


Apa karena ucapannya Aira jadi sakit hati? Tapi yang diucapkannya tidak sebanding dengan perbuatan Aira kan?.


Bhuk!


Gilan memukul pintu dengan sekuat tenaga.


"Aira.."


Ia bergegas pergi, mencari Aira, bagaimanapun Aira tetap wanita yang ia sukai, Gilan tidak mau sesuatu terjadi padanya.


"Tolong jangan kenapa-kenapa Ra.." gumamnya.


Aira menatap pantulan dirinya didepan cermin kamar mandi, ia menangis sejadi-jadinya dan memutuskan tidak ikut kelas.


Gilan benar-benar membencinya, bahkan amat membencinya. Aira merasa kacau, ia membuat Gilan tidak bahagia.


Senyuman pria itu tidak pernah lagi ada, dan itu karnanya.


"Hiks..Mama..Aira jahat..Hiks.."


Ia mengusap Aira matanya dengan tissue.


"Coba waktu itu Aira berani, langsung ngomong..Hiks..pasti gak kayak gini.." isaknya.


"Mama Aira mau kayak dulu...Hiks..Aira..Kenapa harus gini sih!"


Handphone ditangan kirinya terus berdering, banyak panggilan tak terjawab dari Mira.


Aira mematikan handphonennya lalu menyimpannya didalam saku. Ia menarik nafas dalam-dalam.


Menatap lekat cermin.


"Ayo Aira lo gak boleh kayak gini..Suami lo selalu dukung..Dan..Sekarang gue gak sendiri lagi.."


Ia mengusap airmatanya, lalu berjalan keluar dari kamar mandi. Entah mau kemana, Aira ingin tenang.


Disisilain, Mira maupun Gilan terus mencari Aira, meskipun awalnya Mira tidak mengizinkannya. Mira juga mencoba menghubungi Alex tapi panggilannya tidak dijawab.


Gilan mencari di tempat-tempat yang pernah Aira kunjungi ataupun tempat terdekat yang biasa didatangi orang-orang ketika sedih.


Tapi nihil..Ia tidak menemukan wanita itu.


"Aira gue salah..Gue maafin lo.." ucapnya frustasi.


Gilan nampak kacau, dahinya penuh keringat, wajahnya pucat.


Dreeet..


Gilan merogoh sakunya, Mira menelfonnya.


"Halo? Aira udah ketemu?!" tanya Gilan bersemangat.


"Belum justru gue mau nanya lo"


Gilan menghela nafas.


"Gue juga gak nemuin dia"


"Shh...Lo udah liat cafe xx?" tanya Mira.


"Udah..Gak ada juga.." ucap Gilan.


"Ah kemana sih tu anak..Kalau dia kenapa-napa gue bakal salahin lo!" ancam Mira.


"Iya gue tau..Kita jangan berantem dulu, Aira belum ketemu" ucap Gilan.


"Hah..Oke yang pasti gue harus bikin perhitungan" ucap Mira.


Gilan memijit pelipisnya.


"Lo udah hubungi si Alex itu?" tanya Gilan dengan nada tak senang.

__ADS_1


"Gak diangkat" jawab Mira.


Gilan mengepal tangannya, suami macam apa itu? Apa dia tidak bisa membaca situasi ketika orang lain terus menerus menghubunginya.


"Apa dia bener-bener dosen?"


"Ah gak ada waktu, lo cari lagi, gue coba check kerumahnya" ucap Mira.


"Tunggu! Aira sering ketempat kayak gimana?"


"Maksudnya?"


"Tempat yang sering dikunjungi Aira kalau sedih" ucap Gilan.


"Aira biasa sering liat tempat yang banyak Airanya...Karena bisa bikin dia tenang"


'Banyak Air?!'


"Oke, makasih"


Gilan kembali kekampus untuk mengambil kendaraannya, setelah mendapat petunjuk dari Mira.


Gilan yakin wanita itu pasti pergi kepantai!, ada dua pantai didekat universitas.


Jaraknya memang lumayan jauh, tapi Ia yakin Aira pasti kesana.


Mira sendiri, memberanikan dirinya untuk mendatangi kelas Alex, ia sudah tidak sabaran lagi. Syukurnya Ada Dosen yang bisa ia tanyai, siapa lahi kalau bukan sang kekasihnya.


Raka bilang akan menyusul Mira setelah kelas selesai.


Tok! Tok!


Mira membuka pintu tanpa disuruh masuk. Mira menatap tajam pria itu sambil mengepal kedua tangannya.


Alex menoleh pada Mira, ia melirik tangan Mira yang mengepal.


'Ada yang gak beres' ucap Alex dalam hati.


Alex beralih pada mahasiswa-mahasiswanya.


Mira berjalan keluar kelas diikuti oleh Alex, begitu didepan pintu Mira langsung menarik tangan pria itu lalu membawanya menjauh dari kelas.


"Mira ada apa? Kenapa kamu tarik tangan saya?"


Mata Mira berkaca-kaca, ia emosi.


"Bapak bisa mikir gak sih! Saya dari tadi coba hubungi bapak! Kenapa gak bapak angkat! Asal bapak tau, Aira hilang!" bentaknya.


Alex membeku, matanya membelalak kaget.


"Hi-hilang?!"


Mira menutup kedua wajahnya, Alex membuatnya strees.


"Iya! Saya sama Gilan dari tadi nyari keseluruh tempat, tapi tetep gak nemu, bapak juga jadi suami gak tanggap banget, coba dari awal bapak angkat telfon sa-"


Wush!


Belum selesai Mira berbicara, Alex langsung pergi.


Alex masuk kedalam mobilnya. Pikirannya mulai tidak tenang, pasalnya Aira tengah mengandung, kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Matilah Alex.


Rasanya sulit untuk memaafkan diri sendiri.


Alex menambah kecepatannya, rahangnya mengeras. Ia menghubungi nomor Aira.


"Maaf nomor yang anda tu-"


"Ya Allah kamu kenapa Aira.." lirih Alex.


Mira dengan nafas terengah-engah menemui Raka.


"Astaga sayang, kamu minum dulu" ucap Raka sembari memberikan botol minuman.

__ADS_1


Mira menepisnya.


"Hah..Gak ada waktu, kita ikut cari Aira..Naik mobil bapak" pinta Mira.


Raka mengecup kening Mira, lalu mengangguk.


"Ayo" ucapnya.


Mereka berdua masuk kedalam mobil Raka.


"Pak coba kita liat ke pantai, kayaknya dia disana" ucap Mira.


"Pantai yang dekat disini ada dua"


"Coba datengin satu-satu!" bentak Mira.


Raka mengangguk cepat.


Ia melajukan Mobilnya menuju pantai. Namun Gilan sudah lebih dulu mencari dipantai pertama, tapi Aira tidak ada, dan sekarang pria itu berada dipantai kedua.


Ia berlari menyusuri pantai, sambil menegok satu persatu pondok.


"Hah..Hah...Aira gak ada disini.." ucapnya.


"Padahal ini tempat terakhir.."


Harapannya ia bisa menemukan Aira disini, tapi hasilnya sama seperti pantai pertama.


Tiba-tiba sebuah ide telintas dipikirannya, ia mengeluarkan handphonenya. Gilan baru ingat kalau ia bisa menunjukkan poto Aira pada pengunjung lain dipantai.


Mungkin caranya bisa berhasil.


Dua orang pengunjung lewat, Gilan menghampiri mereka.


"Permisi..Apa kalian liat perempuan yang ada difoto ini?" tanya Gilan.


Kedua orang itu menggeleng.


"Maaf gak liat mas" ucapnya.


"Oo oke makasih"


Gilan tidak putus asa, ia terus bertanya-tanya pada orang-orang sekitar pantai. Sampai ia letih.


Ia memutuskan duduk sebentar.


Dreeet.


Benda persegi panjang itu berbunyi lagi, Gilan menempelkan ditelinganya.


"Udah ketemu?" tanya Mira.


"Belum, lo gak usah kepantai C Aira gak ada disana, gue ada dipantai kedua, lo kesini sekarang..Kemungkinan Aira ada disini, gue yakin" ucap Gilan.


"Oke, gue kesana, lo tunggu"


"Iya gue tunggu"


Klik!


"Gue yakin dia ada disini..Tapi kenapa orang-orang gak liat dia.." ucap Gilan.


Gilan menunduk mencoba mengumpulkan segala tenaga yang masih tersisa.


Cukup lama ia duduk disana dan menyesali ucapannya.


Tuk..


Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Gilan mendongak, ternyata seorang gadis kecil.


"Kakak lagi cari orang ya?" tanyanya.


Gilan mengerutkan dahinya, bagaimana gadis kecil ini tau. Ia mengangguk dan bergegas menunjukkan foto Aira.


"Iya kakak cari orang ini..Kamu liat?" tanya Gilan.

__ADS_1


Gadis itu melihat dengan seksama foto dilayar handphone Gilan.


__ADS_2