Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-71


__ADS_3

YUK MAMPIR KE KARYA AUTHOR YANG TERBARUUU😊


Sinopsis : jadi novel ini menceritakan seornag ceo tampan kaya raya yang jatuh cinta pada gadis muda berusia tujuh belas tahun, si gadis itu awal awalnya bener-bener judes banget, beda dari ceo yang awalnya ingin membalas kekesalannya pada gadis itu, malah semakin hari semakin mencintainya.



Alex buru-buru meneguk teh hangat yang diberikan Aira. Jujur, Aira membuatnya kaget bukan main.


Kata mama yang diucapkannya membuat Alex berdebar.


Malu? Jangan ditanya lagi.


"Anu..Saya kebayang kartun yang saya tonton tadi hehe" elak Aira.


"Kartun?"


Aira mengangguk cepat.


"Iya bayinya gemes banget waktu minta minum ke mamanya, jadi dia minta diambilin, sebagai imbalan si mama minta di-dicium..Gitu mas"


"Gemes banget?"


Aira mengangguk.


"Iya banget mas"


Percaya?


Mulus sekali karangan Aira, sampai adegannya mirip dengan Alex tadi.


"Begitu?"


"Huum"


"Kebetulan ya, adegannya mirip saya yang lagi makan dan minta minum kekamu.."


'Mampus..Salah ngarang'


Dua kali Aira lupa suaminya itu Dosen.


Aira menggaruk belakang telinganya sambil menyengir.


"Ke-kebetulan iya"


Alex mangut-mangut.


"Syukur dia percaya" ucap Aira pelan.


"Ngomong apa kamu disitu?"


Aira menggeleng.


"Gak ada, mas udah selesai kan? Sini saya taruh meja"


Aira menyingkirkan mangkuk dari tempat tidur. Matanya sempat melirik kejam dinding yang menunjukkan pukul enam sore.


Dahinya mengerut.


"Kenapa waktu jadi lama banget ya kalau deket pak Alex" gumam Aira heran.


"Ra, sinii" panggil Alex.


Ah, Alex memanggilnya lagi, padahal Aira cuma berjarak beberapa langkah dari tempat Alex.


"Bentar lagi magrib" ucap Aira.


"Mas mau apa lagi?" tanya Aira.


Ia duduk ditepi ranjang, tangannya menyentuh leher dan dahi Alex.


"Badannya masih panas"


"Aira" panggil Alex.


"Hum...Kenapaa?"


Aira menatap mata sayu Alex.


"Mata saya rasanya panas" adu Alex.


Aira tersenyum simpul.


"Namanya lagi sakit mas"


Tiba-tiba Alex memeluk pinggang Aira, bibirnya mengerucut kedepan. Alex persis seperti anak bayi tengah rewel.


"Saya gak suka" eluh Alex.

__ADS_1


Aira kasihan melihatnya Alex yang lemas tak berdaya. Ia teringat waktu masih tinggal bersama orangtuanya, saat Aira masuk angin, Iren biasanya mengerok punggungnya menggunakan uang logam.


Haruskah ia lakukan itu juga ke Alex?.


"Mas..Ee..Mau saya kerokin gak?" tanya Aira ragu-ragu.


"Gak, sakit" tolak Alex.


"Saya aja berani, masa mas enggak, lakik bukan?" ejek Aira.


Alex tetap menolak, ia merasa perih kalau kulitnya tersentuh uang logam, apalagi sampai merah-merah, Reva pernah melakukannya sekali, dan Alex sangat tidak suka.


"Dikerokin supaya ilang anginnya mas, bentar aja ya ya?" bujuk Aira.


"No"


Kesabaran Aira habis, dari tadi Alex tidak menurut.


"Mas janji apa tadi? Kalau mau disini sama saya harus nurut kan?"


Alex memasang wajah sedih.


"Tapi sakit Aira" belanya.


"Yaudah sana pulang, saya gak mau ngurusin" kesal Aira.


Aira bangkit, melepaskan tangan Alex dari pinggangnya.


Alex panik, Aira marah sekarang.


"Baik-baik saya mau"


Aira duduk kembali.


"Telungkup cepat, biar saya ambil uang logam sama minyak angin" tegas Aira.


Pria itu merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, kemejanya diangkat keatas hingga bagian punggungnya terekspos.


Baru Aira menyentuh punggungnya Alex sudah berteriak.


"Ra, sakit Ra" ucapnya pelan.


"Yaampun belum juga mulai, jangan kayak anak kecil, diem aja disitu" ucap Aira.


Ya tuhan, Aira galak sekali.


Sekitar pukul enam lewat dua belas Aira selesai, dan selama itu pula Alex terus berdumel, dan memohon Aira agar berhenti, tapi Aira acuhkan.


Alex harus sembuh, Aira tidak mau suaminya itu sakit.


Ia menurunkan lagi kemeja Alex.


"Selesai" ucapnya.


Alex menolah, matanya berkaca-kaca menahan perih.


"Kamu jahat Aira, ini perih" eluh Alex.


"Yang penting sembuh"


Malam.


Usai melaksanakan sholat magrib, sangking lemasnya Alex langsung terlelap ditempat tidur.


Dibalik terlelapnya Alex, ada Aira yang telaten mengusap-usap rambutnya.


"Akhirnya tidur" gumam Aira.


Ia menaikan selimut hingga dada Alex.


Damainya wajah Alex saat tidur. Aira tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ada orang yang mengambil Alex darinya.


Mungkin Aira bisa gila saat itu juga.


Ketampanan Alex ini sungguh aduhai, postur tubuh yang bagus, pasti wanita-wanita akan tergoda dengannya.


"Awas aja ada pelakor" gumam Aira sambil mengagumi wajah Alex.


Dyna-nanana hey~


Dyna-nanana hey~


Mata Aira membulat kaget, ia lupa mematikan nada dering handphonenya. Aira langsung membawa benda itu menjauh dari tempat tidur.


Ia melihat siapa yang menelfonnya.


'Kak Mawar?'

__ADS_1


"Halo kak ada apa?"


"Kamu dimana? kok rumah kalian keliatan sepi banget"


"Kakak kerumah?!" ucap Aira kaget.


Aira membungkam mulutnya lalu melirik kearah tempat tidur memastikan Alex tidak terganggu suaranya.


"Iya, mau ngobrol sama suami kamu bahas soal bisnis waktu itu"


"Sama siapa?"


"Kepo..Kalian kemana sih?"


Aira mengigit kukunya.


"Kita lagi..Lagi dirumah temennya pak Alex, ada acara kak" ucap Aira.


"Ooh gitu, pantesan..Yaudah lain kali aja kakak dateng lagi" ucap Mawar.


"Hum, maaf ya kak"


"Iya kakak balik ya"


"Ya hati-hati"


Bisa-bisanya Mawar datang kerumah, kalau Aira bilang mereka dihotel. Wanita rempong itu pasti akan memberi tau yang lainnya.


Aira menaruh handphonenya dimeja. Ia berdiam diri sejenak.


"Beli kaos buat pak Alex gak ya?"


"Eh gak perlu kayaknya, kan cuma satu malam doang disini"


"Tapi kasian.."


Aira pun mengambil hoodienya didalam koper, lalu membuka pintu kamar perlahan agar Alex tidak terbangun. Ia berniat untuk membeli satu kaos dan celana panjang untuk ganti Alex.


Jalanan terlihat ramai, Aira terus berjalan di tepi jalan sambil meluhat beberapa toko pakaian yang bagus. Sampai akhirnya ia masuk kedalam satu toko khusus pakaian pria.


"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu mbak?" tanya pelayan toko.


Aira mengangguk.


"Saya mau cari kaos biasa mbak, satu aja" ucap Aira.


"Kaos? Mbaknya bisa kesebelah sana untuk lihat-lihat dulu" ucap pelayan ramah.


Aira memilih satu kaos berwarna navy dan Celana pendek selutut, Aira ingat Alex suka warna hitam, putih dan navy, hampir seluruh pakaiannya santainya berwarna itu.


"Terimakasih mbak, silahlan datang kembali"


Aira keluar dari toko, ia tidak langsung kembali kehotel. Aira memutuskan untuk jalan-jalan disekitar hotel.


Ia singgah ke sebuah cafe, Aira salah satu penggemas coffee, tak heran ia tau semua jenis coffee.


Aira menyeruput cangkir coffee, sambil memandang keluar kaca.


"Aira?"


Aira menoleh kearah suara.


"Bener kamu ternyata" ucap orang itu lagi.


Aira terperanjat dari tempat duduknya, lihat dengan siapa dia bertemu.


"Na-Nana?"


'Waduh masalah datang'


"Iya ini gue, lo tumben sendiri aja Ra?"


Apa ini? Aira tidak salah dengar? Kenapa Nana tiba-tiba jadi ramah?.


"Jangan ganggu gue, gue lagi pengen sendiri" ucap Aira.


Tanpa diizinkan, Nana malah duduk didepan Aira. Entah apa yang diingin Nana kali ini.


"Lo gak denger gue ngomong apa?"


Tiba-tiba Nana meraih tangan Aira.


"Aira gue salah, gue minta maaf, gue juga korban disini" ucap Nana.


'Korban?..Apa Nana juga ada masalah dengan Mira?'


Aira menatap binggung gadis itu. Nana menarik nafas panjang lalu menunduk.

__ADS_1


"Gue putus sama Gilan" ucapnya.


__ADS_2