Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-87


__ADS_3

Aira menuruni anak tangga sambil menyentuh lehernya, ia juga sedikit kecewa aksi Alex disudahi begitu saja.


Sebelum hamil Aira pasti menolak, tapi sekarang Aira malah ingin lebih dimanja pria itu terutama dicium seperti tadi.


"Kenapa Ra?" tanya Reva memecah lamunan Aira.


"Y-ya bunda?"


"Kamu kenapa, turun tangga jangan ngelamun takut salah injek nanti jatuh" ucap Reva.


Aira mengaruk rambutnya.


"Maaf bunda hehe"


"Hum..Alex udah pulang?"


Aira mengangguk.


"Dikamar bun abis mandi, ini Aira mau nyiapin makan siang buat mas Alex" ucap Aira.


Reva tiba-tiba mendekati Aira dengan heboh.


"Aduh jangan dong nak, nanti kamu capek, bunda aja ya?" ucapnya.


Aira menggeleng, tidak pantas mertuanya yang memasak makan siang untuk suaminya, padahal Aira masih ada dan tidak melakukan apa-apa.


"Mana tuh Alex, masa istrinya disuruh bolak-balik turun tangga" ocehnya.


"Alex" panggil Reva.


"Gakpapa bun, Aira yang mau" ucap Aira mencegah Sang mertua.


Alex yang berada dikamar mendengar ibunya memangil pun keluar. Ia menuruni anak tangga, menghampiri dua wanita itu.


Reva menatapnya tajam, Astaga apa lagi salah Alex, pikirnya.


"Bunda kenapa manggil?"


"Kamu ini gimana, kasian istri kamu lagi hamil muda disuruh bolak balik turun tangga, kandungannya kan masih lemah, kenapa gak kamu aja yang turun ambil makan" Reva mengomeli Alex habis-habisan.


Aira menoleh pada suaminya, ia tak enak hati, padahal ini kewajibannya tapi Alex jadi sasaran bundanya.


Aira mencoba menyakinkan mertuanya.


"Bundaa, mas Alex baru pulang kerja, saya yang mau kok, bunda jangan salahin mas Alex" ucap Aira.


Tatapan Reva berubah, ia melunak saat menatap menantunya.


"Baiknya istri kamu Lex..Untung ada Aira ya, kalau gak hiiih" ucap Reva.


Alex terbodoh didepan bundanya, apa kesalahannya sampai bunda dari tadi mengomelinya.


Reva pergi setelah tenang, Aira menolah pada Alex.


"Mas balik ke kamar deh, biar saya masak"


Alex memasang tampang sedih.


"Ikuttt" ucapnya.


Mereka berdua pergi kedapur, Alex menjadi asisten Aira, pria itu memasangkan celemek untuk Aira, dan mengikuti semua perintah dari Aira.


"Mas bawangnya bisa kamu iris tipis-tipis gak?" tanya Aira.


Alex dengan wajah lugunya menggeleng.


'GANTENG BANGET ALLAHUAKBAR!'


"Belajar ngiris coba, nanti kalau saya gak ada gimana" ceplos Aira.


Alex tiba-tiba meninggalkan bawang begitu saja, lalu memeluk Aira dari belakang. Kepalanya disenderkan di bahu Aira.


Aira tersentak kaget.


"Mas kenapa sih?"


"Kamu kenapa ngomong gitu Ra" ucap Alex sedih.


'Emang gue salah? Kan sewaktu-waktu gue lagi ppl atau kkn kan gak dirumah, terus pergi-pergi, jadi gue gak ada'


"Jangan ngomong hal yang bikin saya berpikiran yang buruk" lanjutnya.


Yaampun Alex salah paham, ia pikir Aira bilang dirinya tidak ada itu meninggal. Aira tertawa geli dalam hatinya.


"Mas, maksud saya bukan saya meninggal" ucap Aira.

__ADS_1


Alex menegakkan kepalanya.


"Lalu?"


"Saya kan Mahasiswi sewaktu-waktu disuruh magang, pulangnya malam, mas saya tinggal sendirian...Kalau gak bisa masak, gimana coba?" Jelas Aira.


Alex bernafas lega, ia kira istrinya itu memberi kode kalau dia sehera dijemput yang maha kuasa, atau buang tabiat.


"Saya pikir kamu buang tabiat" ucap Alex.


Aira menyikut perut pria itu.


"Akh..." pekik Alex.


"Ngomong sembarangan lagi saya gak mau masak nih" ancam Aira.


"Nanti kalau kamu sudah lebih baik, ajari saya masak, saya juga mau bantu kamu" ucap Alex mengalihkan percakapan.


"Nanti kalau inget" celetuk Aira.


Alex mencium pipi Aira.


"Dasar bumil" cibir Alex.


"Siapa yang bikin saya hamil?" sarkas Aira.


"Saya"


Alex dengan senyuman diwajahnya, menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya terlihat menyebalkan.


"Dih"


Alex menjahili Aira, wanita itu melanjutkan kegiatan masaknya. Alex mencuri beberapa kesempatan dalam kesempitan.


Contohnya?.


Ia terus-menerus berlalu-lalang dibelakang Aira lalu mencuri kecupan dari pipi Aira, begitu terus sampai Aira risih.


Dosen yang terkenal cool dan cuek, bisa ditahklukkan Aira.


"Mas!" tegur Aira.


"Apa?" tanya Alex dengan wajah tak berdosa.


"Saya lagi membantu kamu" jawabnya.


"Bantunya satu, untungnya berulang-kali" sindir Aira.


Alex tidak mengubrisnya. Ia terus menyibukkan diri sendiri.


Kruukk~


Aira mendelik mendengar suara yang berasal dari perut Alex.


"Aira lapar" eluh Alex.


"Itu bukan lapar, tapi cacing-cacing diperut mas lagi demo pasti" ejek Aira.


"Ngarang kamu" ucap Alex.


"Dibilangin ngeyel"


Aira membawa makanan yang sudah dimasaknya keatas meja makan, diikuti oleh Alex.


"Wah, ini yang saya masak tadi kan?" ucapnya.


Aira meringis.


'Gak keseleo lidahnya ngomong gitu' ucap Aira dalam hati.


Jelas-jelas Aira yang memasaknya, Alex cuma mondar-mandi tidak jelas.


"Iya ini mas yang masak" ucap Aira.


Alex menarik kursi untuk segera menyantap makanan, perutnya sudah keroncongan.


"Kamu mau makan?" tanya Alex.


"Enggak, udah kenyang makan cupcake tadi" ucap Aira, ia duduk dikursi samping Alex.


"Kurangin makan manis, kamu sidah terlalu manis buat saya" ucap Alex.


'Please ya pak Alex lagi makan masih aja ngalus'


"Iya-iya terserah papanya si baby" ucap Aira.

__ADS_1


Ia menompang dagu dengan kedua tangannya, sambil memperhatikan Alex yang makan dengan lahap.


"Saya gak pernah nyangka kalau kita sampai ditahap ini" ucap Aira.


Alex menghentikan aktivitasnya.


"Saya dulu paling tgak menginginkan pernikahan ini, saya benci sama mas, saya benci semuanya yang memaksa saya menikah, tapi sekarang saya udah mau jadi mama.."


Aira menggenggam tangan Alex.


"Terutama punya suami kayak mas" lanjutnya


Alex mengulas senyuman.


"Mungkin kalau bukan dijodohin saya bisa nikah sama yang lain yang gak labil" ucap Alex merusak suasana romantis yang Aira bangun.


Aira memasang wajah jutek, ia menghempaskan tangan Alex.


"Malesin" ucapnya.


Alex tertawa, ia menggenggam kembali tangan Aira.


"Bercanda sayang, kamu tau saya dari dulu suka sama kamu, perjodohan juga karena saya, mana mungkin saya mau nikah sama yang lain"


Aira terlanjur badmood.


"Aira, kamu cantik, anak kita pasti bangga punya mama seperti kamu" puji Alex.


Aira menahan senyumnya, posisinya ia sedang kesal.


"Kamu itu wanita terbaik, wanita kesayangan saya setelah bunda dalam hidup saya"


Apa ini tergolong dalam rayuan untuk membujuknya? Kalau iya, terima kasih Aira tersentuh.


"Aira, terimakasih sudah mau menerima saya dalam hidup kamu"


Blush~


Pipi Aira memerah.


"Saya mau ganti menu" ucap Alex.


Aira mengerjapkan matanya, apa Alex tidak suka masakannya? kenapa tiba-tiba minta yang lain.


"Mas gak suka?"


Alex menggeleng.


"Suka, tapi saya lebih tertarik sama yang masak" ucap Alex.


Alex menarik dagu Aira, sehingga wajah mereka saling berdekatan dan bibir hanya berjarak 5 centi meter.


Aira sudah menutup matanya menanti ciuman dari Alex.


"Bibii, ke.."


"Dapur bentar..." lanjutnya pelan.


Reva masuk kedapur, spontan kedua orang yang baru ingin berciuman itu memencar, dan menyentuh apapun didekat mereka. Alex kembali makan dan Aira bangun dari tempat duduknya.


'Ya Allah kegep'


"Ma-mas tadi mau apa?" tanya Aira.


"E..Ee itu saya mau minum" ucap Alex.


Aira berjalan mengambil air minum dengan linglung.


"Ini mas" ucap Aira.


"Makasih"


"Duh bunda ganggu" ucap Reva.


"E-eh bunda duduk bun, ganggu apa? gak ada yang diganggu kok" ucap Aira menarikkan kursi agar mertuanya duduk.


"Duduk bun"


"Enggak bunda ganggu, kalian tadi kan mau..Ekhem.." ucap Reva.


"Enggak bun, tadi tuh cuma niupin mata Aira yang kelilipan" elak Alex.


Ia menatap Aira, wanita itu segera mengangguk.


Reva jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri kedua anaknya ini ingin berciuman, tapi yasudahlah mungkin ia salah lihat.

__ADS_1


__ADS_2