Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-62


__ADS_3

udah tersedia nih versi audiobooknya, author denger cerita sendiri bisa salting loh,yuk bantu naikkan viewersnya hihi😹



"Kalau tidak salah waktu itu ada pak"


"Bo-boleh ceritakan sedikit bu?" tanya Alex serius.


"Boleh, tapi kita video call yuk pak" ucapnya.


Yatuhan Putri ini tidak punya malu.


"Bercanda kok pak" lanjutnya diiringi tawa.


"Jadi saya tidak sengaja dengar dari beberapa Mahasiswa, katanya Nana sama teman-temannya bikin keributan di kantin, yaa..Masalah cowok pastinya, biasalah anak muda"


"Bukannya ibu bilang dia pacar Presiden mahasiswa?"


"Nah, itu yang direbutin si Presiden Mahasiswa pak, Gilan namanya..Katanya sih sebelum kejadian Gilannya nembak Mahasiswi lain gitu pak, tapi entah bagaimana ceritanya Gilan malah pacaran sama Nana"


Keyakinan Alex semakin kuat, pasti Nana yang mengirim video pada istrinya, dan mahasiswi lain yang ribut dengan Nana adalah Aira.


Alex yakin karena yang membuatnya bertengkar adalah perihal Gilan menyatakan perasaannya pada Aira.


"Ah begitu ya bu, terimakasih infonya dan maaf menganggu" ucap Alex sopan.


"Semuanya aman selagi bersangkutan dengan bapak hehe" ucapnya.


"Saya tutup ya bu, assalamuallaikum" ucap Alex risih.


Alex melempar handphone Aira kesofa, ia mendudukkan tubuhnya di sofa, tangannya memijit pelipis.


'Kalau yang namanya Nana yang kirim, dari mana dia tau Aira istri saya?'


Pikiran Alex campur aduk, situasi yang membingungkan.


Kenapa Aira tidak mau mengadu kalau ia dicemooh orang lain.


"Mas?"


Alex tersentak kaget, Aira muncul tiba-tiba dan memangilnya.


"Eh maaf mas" ucap Aira.


Alex mengusap-usap dadanya yang berdetak kencang.


"Jangan kebiasaan gitu" ucap Alex.


Aira menatap heran Alex yang seperti orang kebingungan.


"Lagi ngapain sih sampe kaget gitu saya panggil?"


"Bukan urusan kamu"


Ia meraih handphone Aira lalu bangkit, Aira mengerutkan dahi, apa Alex tadi melamun?.


"Kan saya istrinya jadi harus tau" ucap Aira merangkul lengan Alex.


"Istri siapa?" tanya Alex sembari menaikkan alis.


"Ini yang lagi saya gandeng" Aira tersenyum.


Alex mencolek hidung Aira, ia tertawa kecil.


"Oh istri saya..Suamimu ini gak melakukan apapun, cuma kaget" ucap Alex.


Aira menyipitkan mata curiga, Alex semakin dag dig dug.


"Masa?"


"Humm"


Aira diam kemudian mengangguk.


"Oke-oke istrimu percaya" ucapnya.

__ADS_1


Alex bernafas lega, ia merangkul pinggang Aira.


"Ayo kekamar istriku" ucap Alex genit.


Aira menelan ludah, Bulu kuduknya berdiri, ia teringat aktivitas yang dilakukannya bersama Alex sore tadi.


"Hum?"


Alex berdegem melihat sikap diam Aira.


"Ya ayo, ngantuk banget besok harus bertempur" ucap Aira.


'Bertempur dengan perasaan sendiri buat ketemu Mira'


"Malam ini gak mau gladi resik dulu?" tanya Alex dengan senyum setannya.


Aira mendelik.


Cubitan pun didapatkan pinggang Alex untuk kedua kalinya,pria itu memekik kesakitan.


Aira tidak punya hati saat mencubit kecil seperti itu.


"Gak ada gladi resik!" ketusnya.


Ia melangkah pergi dengan kaki yang dihentak-hentakkan, Alex hanya pasrah ditinggal Aira karena ulahnya.


"Ra, yang saya maksud latihan marah-marah bukan itu" ucap Alex membela diri.


Aira menutup kupingnya, Aira tau  maksud awal pria itu apa.


'Pinter banget ngeles, gak kebayang kalau anak gue mirip dia sifatnya'


'Kalau dimarahin emaknya pasti pinter ngeles kayak bapaknya'


"Aira" panggil Alex sedikit merengek.


"Yaudah kesini sebelum saya tutup pintunya" ancam Aira.


Alex mempercepat langkahnya, cengirannya membuat Aira menahan tawa.


Mira mondar mandir didalam kamarnya sambil mengigiti kuku ibu jari, wajahnya pucat dan gelisah seperti menunggu sesuatu.


Tok tok..


Mira buru-buru membuka pintu kamarnya, ia menarik tangan orang yang mengetuk pintu tadi.


"Gi-gimana mbak? Bunda bilang apa?bunda mau kan ngomong sama aku?" suara Mira bergetar.


Lara menggeleng pelan, mata Mira berkaca-kaca. Ia tadi meminta pembantu rumah tangganya yang bernama Lara untuk menemui sang ibu yang tengah menghindarinya.


Sejak Aira pergi dari rumahnya, Maeza benar-benar menghindarinya, mereka tidak makan malam bersama ataupun saling bercengkerama lagi diruang tamu.


Tentu saja Maeza kecewa, dia seorang ibu yang merasa gagal mendidik putri semata wayangnya, hatinya hancur.


Mira menaruh telapak tangam didahinya sembari menunduk, tangan satunya menyentuh knop pintu kamar tersebut.


"Non.." Lara memegang lengan Mira, takut-takut majikannya itu tumbang.


"Non ayo duduk dulu" ucap Lara khawatir.


Namun Mira menggeleng membuat Lara menghela nafas.


"Nyonya butuh waktu untuk sendiri, saya harap non Mira tidak memaksaan diri dulu, Nyonya pasti masih shock" ucap Lara.


Mira menatap Sang pembantu.


"Kalau bunda gak mau liat aku selamanya gimana?"


"Hush, gak mungkin non, Nyonya pasti mau memaafkan non" ucap Lara.


Ya, mungkin Mira harus bisa menahan diri dulu agar ibunya itu mau bertemu dengannya lagi nanti.


"Non istirahat ya, biar saya buatkan teh anget"


Mira mengangguk.

__ADS_1


Lara membantu Mira untuk naik ketepat tidurnya, lalu keluar dari kamar majikannya tersebut.


Mira menatap langit-langit kamarnya, matanya berkedut ingin menangis.


"Arghh! sialan kalian" teriaknya.


Mira mengacak rambutnya frustasi, tatapan matanya penuh dendam.


"Aira gue gak akan maafin perbuatan lo" ucapnya geram.


"Karna lo bunda gak mau liat gue!"


Hati Mira sudah dipenuhi oleh rasa iri dan dengki terhadap sahabatnya itu, seakan-akan kebenciannya sudah menyatu pada dirinya, hanya keburukan Airalah yang terlihat.


Dreeet...


Tiba-tiba handphonenya berdering, Mira tidak berniat menggampai benda itu, ia yakin itu pasti Raka sialan yang ingin berbicara omong kosong.


Hanphonenya berhenti berdering sejenak dan berdering kembali, begitu terus selama empat kali.


Tok..Tok..


"Non saya masuk ya?" tanya Lara dari balik pintu kamar.


Pintu pun dibuka, Lara membawa secangkir teh hangat ditangannya, Ia melirik handphone majikannya yang terus berdering tapi tak kunjung diangkatnya.


"Ini non tehnya" ucap Lara sembari meletakkan teh diatas nakas dekat tempat tidur Mira.


"Makasih mbak" ucap Mira.


"Ee..Itu ada yang telfon non, kok gak diangkat?" tanya Lara dengan hati-hati.


"Biarin" balas Mira singkat.


"Tapi kan non, mungkin itu penting"


Mira beranjak dati tempat tidurnya.


"Bukan urusan mbak, makasih tehnya, mbak boleh keluar sekarang" ucap Mira Dingin.


Begitu pintu tertutup Mira bangkit untuk mengambil benda persegi panjang itu.


Panggilan tak terjawab dari Dosen Raka..


Mira memblokir nomor Raka, ia melempar benda itu ke tempat tidurnya.


"Orang sinting" umpatnya.


Kembali pada pasangan yang sedang kasmaran.


Aira dan Alex berada diatas tempat tidur, Aira sudah terlelap ditempatnya sambil memeluk erat tubuh Alex.


Pria itu belum menutup mata, ia tengah asik memandangi kecantikan sang istri yang terlihat kalem saat tidur. Tangannya membelai lembut rambut Aira sambil tersenyum manis.


Walaupun istrinya itu sempat memarahinya tadi, tapi itu tidak mengurangi rasa cintanya.


Alex seperti anak remaja umur belasan yang sedang jatuh cinda dan kasmaran pada kekasihnya.


Ia mengusap pipi Aira lalu berhenti pada bibir merahnya, Alex melihat dengan cermat bekas luka dibibir wanita itu akibat ulahnya.


Yap, bolehkah Alex menyombongkan diri? dari banyaknya pria yang mendekati Aira dan pernah menjadi pujaan hatinya, Alexlah pemenangnya.


Cuma Alex yang bisa dan tidak boleh orang lain.


"Cantiknya ibu dari calon anak-anakku" ucap Alex.


Tatapannya berubah sayu saat menyadari mata Aira bengkak, Pasti karena wanita itu banyak menangis.


Alex mendekatkan wajahnya.


Cup


Cup


Ia mengecup kedua mata Aira lalu memeluk erat tubuh mungil Aira, kali ini punggung Aira yang mendapat giliran untuk diusap Alex.

__ADS_1


Maaf baru up, kuota author habis soalnya


__ADS_2