
HAI, MALAM PEMBACA SETIA PDS!
AUTHOR MAU KASIH PENJELASAN SEDIKIT, JADI BANYAK YANG BILANG "KENAPA DISKIP-SKIP, ATAU KENAPA GAK DISELESAIKAN ADEGANNYA" DAN BUANYAK LAGI..
SEBELUMNYA AUTHOR MINTA MAAF BANGET, TERNYATA DI PART 14-15 ITU GAK NYAMBUNG.
KARENA KESALAHAN DARI AUTHOR..
INI PART 14
DAN INI CHAPTER 15
GAK NYAMBUNGKAN?
NAH AUTHOR TERNYATA SALAH COPY, JADI DIDRAF ITU ADA SATU CHAPTER LAGI, SEHARUSNYA ITU YANG JADI PART 15, DAN YANG DIPART 15 ITU PART 16...
BUAT KENYAMANAN KALIAN...AUTHOR BAKAL NGEREVISI PART 15... JADI DIPERPANJANG PARTNYA..
KALIAN BISA CHECK UDAH AUTHOR REVISI YAW!
SEKALI LAGI AUTHOR MINTA MAAF.
BINGUNG NIH..KATA GAK BOLEH KURANG DARI 500 JADI DIGABUNG SAMA UPDATE TAN DEHπ’π’.
...HAPPY READING...
Sebelum sampai kerumah Gilan, mereka mampir sebentar supermarket untuk membeli buah tangan.
"Gilan suka apa Ra?" tanya Alex.
"Gak tau" ucap Aira.
"Kan mantan kamu"
"Berisik, jangan ngajak ribut disini ya, beliin buah aja, beres" ucap Aira.
Usai membayar, mereka melanjutkan perjalanan. Aira diam tetapi dalam otaknya ia sedang merangkai kata-kata maaf untuk pria itu.
Pertemuan terakhirnya buruk, entahlah, mungkin Gilan akan mengusir mereka.
"Gelisah ya?" tebak Alex.
"Sedikit" ucap Aira.
"Banyak juga gakpapa"
"Hm..Mas"
"Apa?"
"Kalau kita diusir gimana?"
"Nanti mas tambahin lebam dimukanya" jawab Alex santai.
"Kok gitu sih" ucap Aira.
"Ya gak mungkin dek, kita baik-baik datang buat jenguk, malah diusir" jelas Alex.
"Iya juga sih.."
"Eh mas, pak Raka kok tau alamat rumah Gilan?" tanyanya lagi.
"Dia sama Mira yang ikut antar Gilan pulang" ucap Alex.
Aira mangut-mangut.
"Pasti muka Gilan lebam semua...Coba mas izinin aku jenguk dia dari kemarin"
"Mau peluk-peluk lagi?"
Aira mendelik.
"Ya gak gitu, tapi kan-"
"Sstt bawel" ucap Alex.
'Oke silent nih gue'
Aira memainkan handphonenya selama perjalanan.
"Mas" panggil Aira.
Alex berdehem.
"Mas gak deg-degan gitu?" tanyanya tiba-tiba.
"Kalian kan rival karena memperebutkan akuu~" ucap Aira.
"Cih..Pasti bangga ya kamu" ucap Alex.
Aira mendengus.
__ADS_1
"Reaksi macam apa itu.."
"Mas gak deg-degan, biasa aja, sesama laki-laki pasti paham" ucap Alex.
Tak terasa akhirnya mereka tiba didepan rumah Gilan, rumahnya itu bisa dibilang cukup megah dan luas.
Banyak tanaman hijau yang ditanam dihalaman rumahnya, menyegarkan saat dilihat.
Aira turun dari mobil sambil membawa bingkisan buah. Mereka masuk sambil bergandengan tangan.
Seorang pembantu menghampiri mereka.
"Sore mas, mbak, cari siapa?" tanya pembantu.
"Saya teman Gilan bi" ucap Aira.
"Oh, mau jenguk tuan Gilan, ayo bibi antar kekamarnya" ucap pembantu ramah.
Aira melihat Alex, ia tersenyum. Mereka mengikuti bibi dari belakang.
"Orang tua Gilan ada bi?" tanya Alex.
"Tuan sama Nyonya lagi gak dirumah mas, mereka baruuu aja keluar"
"Ooh begitu"
"Keadaan Gilan gimana bi?" tanya Aira.
Alex melirik wanita itu.
"Nanya doang" bisik Aira.
"Pulang dari rumah sakit, Tuan Gilan dikamar terus, susah buat makan sama minum, gak mau ngobrol.." ucap bibi.
"Separah itu bi?"
"Hum, kalau lebamnya menurut saya gak terlalu parah..Tapi entah kenapa tuan gak mau keluar kamar..untungnya ada temen perempuannya yang mau jagain tuan" jelas bibi.
"Temen perempuan? Siapa bi?"
'Kok gue kepo ya..Siapa sih yang jagain? Temen perempuan yang deketi Gilan kali ya?'
"Ah itu si Non, yang dulu sering diajak tuan kerumah, deket juga sama Tuan dan Nyonya..."
'Siapa sih? Kok amnesia gue'
"Ini kamarnya tuan Gilan" ucap Bibi.
Bibi berhenti didepan kamar yang ditutupi oleh pintu berwarna cream.
"Tuan..Ada temen tuan datang" ucap Bibi.
"Masuk aja bi" saut Gilan.
Bibi melihat Alex dan Aira.
"Masuk aja mas, mbak..Saya permisi" ucapnya.
Aira mengangguk.
"Makasih bi"
"Sama-sama mbak.."
Aira dan Alex berdiri didepan pintu tersebut.
"Mas kok diem? ayo masuk" ucap Aira.
Alex diam saja tidak menjawabnya.
"Mas?"
"Ah iya?" tanyanya.
'Wah ngelamun dia'
"Ayo masuk, mau sampai kapan berdiri disini?"
Alex menyentuh hidungnya.
"Kamu masuk duluan" pintanya.
Ah Aira mengerti..Ternyata sampai didepan sini Alex menjadi ragu.
"Yaudah aku masuk duluan, mas nanti aku panggil" ucap Aira mengalah.
Alex mengangguk.
Aira membuka sedikit pintu kanar tersebut, ia melihat kedepan. Mata Aira spobtan terbuka lebar, ia tidak kaget dengan kondisi Gilan. Justru orang yang ada disamping Gilanlah yang membuatnta shock.
"Loh Nana?" kagetnya.
Betapa terkejutnya Aira melihat Nana duduk ditepi ranjang Gilan.
'Ja-jadi perempuan yang dimaksud bibi itu Nana?!'
__ADS_1
"Hai Ra" sapanya dengan polos.
Aira masuk kedalam kamar, ia penasaran kenapa Nana bisa bersama Gilan dan menjaga pria itu.
Tapi yang terpenting sekarang itu keadaan Gilan. Aira dengan canggung menatap gilan.
"Kak..Aira bawain buah" ucap Aira.
"Makasih ya Ra" ucap Gilan.
"Sama-sama" ucap Aira.
Nana mengambil alih bingkisan ditangan Aira lalu menaruhnya dimeja.
"Kak Gilan, Aira minta maaf..Kakak sampai dirawat dirumah sakit" ucap Aira.
Gilan tersenyum, ia menggengam tangan Aira.
"Gak perlu minta maaf, kita ini teman, kamu juga gak salah Ra.." ucap Gilan.
Aira mengangguk pelan.
"Lo kesini sama siapa? Sendiri?" tanya Nana.
"Enggak dong, sama pak Alex..Bentar" ucap Aira.
Ia berjalan kearah pintu dan menarik Alex supaya masuk kedalam.
Alex dengan wajah datarnya menurut ditarik Aira.
"Kak Gilan.." panggil Aira.
"Ini pak Alex.." lanjutnya.
Keduanya saling tersenyum kaku.
Aira berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua agar lebih nyaman berbicara.
"Kalian ngobrol dulu, biar aku sama Nana tunggu diluar" ucap Aira.
Gilan mengangguk.
"Yuk Na..Ada yang mau gue tanyain" lanjutnya pelan"
Aira menutup pintu kamar tersebut. Ia menoleh pada Nana, gadis itu cuma diam.
"Heh, lo kok bisa..Di-didalam sama Gilan?" ucap Aira.
"Panjang ceritanya" jawab Nana.
"Cerita! Gue gak mau tau..." desak Aira.
"Disini?" tanya Nana.
'Gak mungkin disini ya, ntar yang didalem denger lagi'
"Kebawah ayo"
Aira menarik Nana, membawanya keluar rumah Gilan dan duduk dikursi taman yang ada di tanaman rumah Gilan.
"Oke aman, cerita" ucap Aira tak sabaran.
"Gue gak ngerti apa-apa, tentang lo yang hilang dan yang lainnya, intinya kemarin tuh, jam delapan malam tiba-tiba Gilan nelfon gue"
"Dia nelfon lo?" tanya Aira.
Nana mengangguk.
"Gue abaikan dong, posisinya kan gue sama dia putus dengan tidak baik..Gue diemin aja nih, lama-lama gue kesel, jadi gue angkat telfonnya"
"Disitu suara Gilan serak banget, dia minta gue buat kerumah sakit..Asli deh Ra gue panik bukan main..Yang ada diotak gue tuh bukan Gilan yang masuk rumah sakit, tapi dia mungkin nabrak orang gitu" ucap Nana.
Aira mendengarkan cerita gadis itu dengan seksama.
"Gue langsung samperin dia dirumah sakit, dan ternyata dugaan gue salah pas liat Gilan mukanya lebam-lebam.."
Tiba-tiba Nana tertawa.
"Lanjut Na~"
"Bentar gue malu sendiri ngingetnya" kekeh Nana.
Aira menyipitkan matanya.
"Jangan bilang lo nangis-nangis didepan Gilan?" tebak Aira.
Nana mengangguk, Aira melongo.
"Hahaha please? Demi apa Na?"
"Iya..Gue langsung nangis liat kondisi Gilan, gue peluk dia terus..Ah gak bisa gue ceritanya..Pokoknya setelah itu Gilan minta gue nemenin dia terus.."ucap Nana.
"Jadi kalian balikan?" tanya Aira.
Nana menahan senyumannya.
__ADS_1