
Aira melihat tatapan tajam yang Alex berikan pada pria yang menolongnya, wajah Aira pucat ketakutan.
Ia bersumpah akan menghabisi Raka kalau Alex menjauhinya.
Brak!
Alex membanting kuat pintu mobil.
"P-pak istigfar, dia cuma bantuin saya" ucap Aira dengan suara gemetar.
Mata Alex seperti seorang iblis yang siap membantai siapapun yang menyentuh Aira saat itu juga.
Pria itu menyalakan mobil lalu melaju dengan cepat, Aira hanya bisa menggenggam erat sabuk pengan sembari berdoa agar selamat sampai kerumah.
Alex sudah tersulut amarah, begitu sampai ia langsung menarik Aira kedalam rumah.
"Pak, maaf.."
Air mata membanjiri pipi Aira, Alex nampak asing sekarang. Benar kata orang marahnya orang sabar itu menakutkan.
Aira mencoba melepas cengkraman Alex yang kuat, pria itu sekarang menyeretnya ke tangga.
"Mas lepas..Jangan gini saya takut.."
Alex menghentikan langkahnya, Aira baru saja memanggilnya 'mas'. ia berbalik badan melihat jelas wajah Aira yang pucat dan gemetar terlihat menyedihkan.
Ia melepas cengkraman tangannya, lalu mundur satu langkah. Alex sadar, apa yang ia lakukan sampai istrinya ketakutan setengah mati, karena tersulut emosi Alex hampir saja melukai Aira.
"Aira sa-saya"
"Ini alasan saya gak mau bilang ke mas!" Bentak Aira.
Perlahan ia meraih tangan Aira yang dingin, tatapan tajam berubah lembut.
"Aira..Maaf saya khilaf" suara Alex terdengar serak.
Dengan ragu Aira menatap mata Alex, Alex benar-benar bisa gila melihat kondisi Aira. Wanitanya nampak kacau.
"Saya takut" ujarnya lalu menangis lagi.
Alex menarik tubuh Aira kepelukannya, rasa bersalah menerpanya.
"Maaf, maaf.." ucap Alex khawatir.
Bodoh, Alex merasa bodoh tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, ia hanya marah pada Raka tapi malah membuat Aira takut juga. Bahkan dipelukannya Alex bisa merasakan tubuh Aira yang bergetar.
Alex mencium kepala Aira.
"Mas jangan marah-marah lagi" ucap Aira pelan.
"Saya gak marah, saya minta maaf Aira" ucap Alex.
Ia melepas pelukannya lalu menyentuh kedua pipi Aira, Ya tuhan Alex apa yang kamu lakukan.
"Ma-mana yang sakit?" tanya Alex khawatir.
Dengan sesegukan Aira menunjukkan lengan yang ditarik kasar Alex tadi.
Lengan Aira memerah, Alex merutuki dirinya sendiri karena berbuat kasar. Diciumnya seluruh lengan Aira yang merah, cukup lama ia menciumnya.
"Masih sakit?"
Aira menggeleng.
"U-udah baikan"
Alex lega mendengarnya, ia membawa tubuh Aira kembali kepelukannya, memberi kecupan bertubi-tubi dikepala Aira. Setidaknya itu bisa membuat Aira tenang dan tidak takut lagi padanya.
"Kamu maafin saya kan?"
__ADS_1
Aira mengangguk, wajahnya dibenamkan kedada Alex.
"Saya benar-benar jahat, maaf aja gak cukup untuk ngobatin ketakutan kamu.."
Aira mendongak, asalkan Alex tidak marah lagi sudah cukup bagi Aira. Setidaknya Alex sudah membalas apa yang Raka lakukan padanya.
"Enggak, saya gakpapa asalkan bapak gak berubah kayak tadi dan gak naik mobil dalam keadaan marah, saya khawatir kalau bapak kenapa-napa"
Secemas itu Aira padanya membuat Alex tersenyum, senyuman tertulusnya untuk sang istri.
"Saya gak akan seperti itu lagi" ucap Alex lalu mengecup dahi Aira.
Mereka berpelukan diatas tangga, pemandangan yang sangat jarang terjadi, moment Aira pertama kali memeluknya seerat itu.
"Beruntung ada yang kasih tumpangan ke saya, kalau gak gimana coba?"
"Kenapa harus laki-laki?"
"Saya gak tau, saya panik banget liat bapak, terus nyetop mobil orang"
Alex memijat pelipis, Aira ini ceroboh, apa ia tidak bisa berpikir kalau seandainya pria yang memberi tumpangan itu punya niat buruk lalu Aira dibawa pergi. Ah Alex tidak sanggup membayangkannya.
"Jangan sembarangan lagi, saya gak mau kamu kenapa-napa"
"Saya juga gak mau bapak kenapa-napa" balas Aira.
Alex mengusap kepala Aira.
"Lain kali kalau ada masalah cerita ke saya, saya suami kamu"
Aira mengangguk, memang patut dirinya disalahkan, Alex pati merasa terpuruk karena Aira.
"Bapak juga banji jangan gitu lagi, kita belum punya anak..Saya gak mau jadi janda" ucap Aira tiba-tiba.
Alex terperanjat mendengar ucapan Aira, dari kemarin istrinya selalu membawa-bawa tentang anak.
Bibir Aira ditekuk kebawah, seolah-olah menunjukkan rasa kecewanya.
Cup!
Kini giliran Aira memberi kecupan dipipi Alex, pria itu menyungging senyuman.
Jujur senyuman Alex itu tiada duanya bagi Aira, senyuman yang mempesona menjadi candu Aira, dan terkadang Alex terlihat panas dan menggodanya. tidak salah kalau Aira memberi nama Alex suami tampan dan panasku.
"Jadi.." Alex menggantung kalimatnya membuat Aira bingung.
"Jadi apa?"
Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Aira sehingga hanya berjarak beberapa centi saja.
"Jadi kapan kita coba menghadirkan Alex junior?"
Aira meneguk salivanya, wajahnya memerah. Aira mendorong dada Alex, ia lupa masih berada ditangga, tubuhnya nyaris terjatuh kebelakang kalau Alex tidak segera meraih pingggangnya.
Aira malah kembali memeluk erat Alex.
"Hampir aja" ucap Alex.
"Gimana kalau tadi saya jatuh" ucap Aira.
"Kan gak jadi jatuh" celetuk Alex.
"Itu akibatnya kalau menolak ajakan suami" lanjut Alex, sudut bibir pria itu terangkat.
Aira menatap sebal Alex.
"Suaminya kayak gini wajar ditolak" cicit Aira.
Alex terkekeh, kenapa Aira mudah terbawa perasaan seperti ini.
__ADS_1
"Terus harus suami yang bagaimana supaya gak ditolak?"
Ia mencium leher Aira gemas.
"Gak tau" ketus Aira.
Tiba-tiba Alex mendusel-dusel dileher Aira dan merengek.
"Mau kamu~" nadanya dibuat-buat seperti anak kecil yang minta es krim.
Aira bergedik, tubuhnya merinding melihat tingkah Alex yang berusaha membujuknya.
"Dalam mimpi" cicit Aira lalu masuk kedalam kamar.
Alex tersenyum licik.
"Ayolah sayang~" rengek Alex mengejar Aira kedalam kamar.
Sore berubah menjadi malam, tapi
Alex tak gentar sama sekali, sejak mereka berbaikan ditangga tadi sampai usai sholat magrib. Ia terus mengekori Aira kemana pun wanita itu pergi.
Lihatlah, saat ini tangannya mengalung dipinggang Aira yang tengah memasak makan malam, memeluknya dari belakang.
Aira tetap berpegang teguh pada pendiriannya, semalam mereka baru melakukannya, kalau malam ini juga Aira tidak sanggup.
"Pak jangan gitu ah!" omel Aira.
Baik! Aira masih sabar Alex mengabaikannya, malah tingkah pria itu makin menjadi-jadi.
'Lebih repot ngurusin bayi besar dari pada bayi beneran' ucap Aira dalam hati.
Aira mencoba fokus pada memasak, tapi tangan Alex mulai tidak terkendali membuat kesabarannya habis.
Pak!
Aira memukul tangan Alex, otomatis pelukannya terlepas.
"Awh.." eluh Alex.
"Sakit Aira"
Alex mengadu, ia memajukan tangannya kewajah Aira.
"Makanya peluk-peluk aja, tangan gak usah kemana-mana" cibir Aira.
Bukan Aira benci atau durhaka pada suami, ia hanya lelah. Lagipula marahnya ke Alex tidak sungguhan.
"Diam disana, tunggu saya selesai masak"
Lucunya Alex, bibirnya manyun kedepan. Ia menuruti perintah Aira untuk duduk diam dimeja makan sampai masakan selesai.
Begitu Alex pergi, Aira menghela nafas lega.
"Hilang sudah si pengganggu" gumamnya.
"Lucu juga ya, pak Alex yang dinginnya nauzubillah bisa manja kayak bocah"
"Gue gak kepikiran dia bakal berubah gini waktu nikah"
"Tapi pas marah serem banget"
Aira mengingat waktu lamarannya, Alex mengenakan kemeja batik berwarna coklat, wajah dinginnya menambah kesan Cool dan keren.
Jika diingat lagi Aira terkekeh, ia sempat bilang akan kekurangan kasih sayang, tapi melihat alex seperti tadi Aira rasa ia harus menarik ucapan itu kembali.
"Kenapa lama?" seru Alex dari tempat makan.
Aira tersadar.
__ADS_1
"Bentarr" sautnya.