
Alex yang mengambil alih kemudi, sesekali matanya melihat kearah Aira yang masih tersedu-sedu, bahkan untuk menangis lagi pun air matanya tidak keluar, wanitanya banyak menangis.
"Aira..Sudah.."
"Sakit banget pak..Hiks.."
Alex khawatir Aira akan jatuh sakit.
"Saya tau Aira, tapi-"
"Saya mau Mira yang dulu" gumamnya.
Alex menghela nafas.
"Aira dengar, yang lalu biarkan berlalu, Mira yang dulu gak akan bisa kembali, ambil pelajarannya, jangan terlalu percaya pada orang lain"
"Kecuali saya" lanjutnya.
Aira enggan menjawab, lebih baik jangan ajak Aira berbicara sampai ia tenang.
Alex mengalah, ia kembali menyetir mobil, sampai akhirnya suara isakan Aira tidak terdengar lagi. Wanita itu tertidur dikursinya.
Tangan kiri Alex mengusap kepala Aira, senyuman tipis terulas dipipinya. Wajah Aira sangat polos kenapa Mira setega itu pada istrinya.
Dreet!
Alex merogoh saku celananya mengeluarkan handphonenya.
"Lex aman kan?" tanya Regi.
"Humm, makasih ya Gi"
"Sama-sama"
"Eum Lex lo gak berantem kan sama Aira?"
Alex terkekeh pelan, Regi kira ia bertengkar dengan Aira.
"Enggak, tadi teman Aira baru pulang kejakarta, jadi dia buru-buru sampai aku ketinggalan" bohongnya.
Tidak mungkin kan Alex menceritakan masalah pribadi istrinya pada orang lain, Bukan sifatnya sekali.
Regi ber oh ria.
"Yaudah gue tutup ya"
"Iya"
Alex menaruh handphonenya kembali kedalam saku, ia melihat sekilas Aira, sebenarnya ada yang mengganjal dipikiran Alex.
Siapa Nana? gadis itu yang disebut Aira tadi, apa hubungannya dengan Aira.
"Tetap tidur sampai kita dirumah" gumamnya.
Mobil mereka memasuki pekarangan rumah, Alex memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Ia tidak tega membangunkan wanita yang terlelap disampingnya.
Alex turun lebih dulu lalu berjalan kearah tempat duduk Aira, dibukanya pintu mobil tersebut.
"Eungh" lenguh Aira saat Alex mencoba melepas sabuk pengaman di tubuhnya.
Dengan perlahan Alex menggendong tubuh Aira keluar, belum sampai didepan pintu mata Aira terbuka, ia sudah bangun.
"Pak" panggilnya pelan.
Suaranya terdengar serak akibat banyak menangis.
"Hum?"
Aira menggeleng, biarlah Alex menggendongnya sampai kekamar, Aira letih tidak ada lagi tenaga untuk menolak.
Ia terus memandangi wajah Alex, entahlah rasanya lebih nyaman saat memandang pria itu.
Tangan Alex menurunkan tubuh Aira diatas tempat tidur, dengan telaten dan penuh kelembutan Alex menarikkan selimut untuk menutup tubuh Aira.
Jujur! Aira tertegun melihatnya.
"Kamu istirahat dulu" ucapnya.
Alex melihatnya, mata mereka bertemu, buru-buru Aira mengalihkan pandangannya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Alex.
Aira menggeleng.
__ADS_1
Alex menghela nafas lalu melangkah menuju pintu.
"Pak, maaf" ucap Aira pelan.
Alex menghentikan langkahnya.
"Sudah, istirahat" ujarnya.
"Bapak mau ke-kemana?"
"Dapur masih kotor, lauknya juga belum dipindah ke piring, belanjaannya belum saya taruh kekulkas" ucap Alex.
Aira tersadar, ia lupa kalau tadi sedang memasak makan siang untuk Alex, tapi karena bertemu Mira ia meninggalkan semuanya begitu saja.
Dan yang membuat Aira merasa bersalah adalah Alex pasti lapar.
"Biar saya yang beresin" ucap Aira hendak beranjak dari tempat tidur.
"Gak usah, biar saya kamu istirahat"
Tentu Aira menolak, Aira salah, benar yang Alex bilang yang lalu biarlah berlalu! Ia harus bisa bangkit dari kesedihan, cukup sudah Aira matanya terbuang.
"Saya gak kenapa-napa kok" jawab Aira cepat.
Aira menghampiri Alex lalu menggandeng tangannya.
"Yang lalu biarkan berlalu..Ayo kita makan siang pak" ucap Aira lalu tersenyum.
Alex ikut tersenyum, mata Aira jelas memperlihatkan kesedihan.
"Ayo?" ulang Aira.
"Hum"
Keduanya turun kearah ruang makan, Aira menggandeng tangan Alex sambil menuruni anak tangga.
"Jangan nangis karena dia lagi" ucap Alex.
Aira menaikkan Alisnya.
"Humm iya, gak akan" balas Aira.
Cup
Kecupan singkat mendarat dipipi Aira.
'A-apa ini semacam hadiah?'
Pipi Aira memerah, ia menunduk lalu tersenyum. Alex tau itu, dan membuat hatinya membaik, ia berhasil membuat Aira senang.
Lebih baik melihat Aira salah tingkah dari pada menangis.
"Sa-saya siapin makanannya" ucap Aira gugup.
Alex menarik kursinya lalu duduk, tangannya digunakan untuk menompang dagu. Manik matanya menatap lekat tubuh Aira dari belakang.
Indahnya menikah itu saat suami duduk manis sambil memandangi istrinya yang tengah menyiapkan makan.
Aira membawa piring dan nasi keatas meja makan, matanya mengerjap beberapa kali saat Alex menatapnya.
"I-ini" ucap Aira.
Alex mengerutkan dahi, kenapa cuma ada satu piring makan dihadapannya.
"Kamu gak makan?"
Aira menggeleng, ia kehilangan nafsu makannya.
Alex menghela nafas.
"Yasudah saya juga" ucapnya.
Aira mendelik.
"Jangan gitu, bapakkan belum makan siang"
"Lalu kamu?" balas Alex.
Aira menunduk, bagaimana mengatakannya pada Alex, nafsu makannya tidak ada sama sekali karena memikirkan mantan sahabatnya.
"Aira"
Ayolah Aira, Alex hanya tidak ingin dirimu sakit.
"Saya.."
__ADS_1
Tanpa basa-basi Alex menarik tangan Aira pelan, membimbingnya agar duduk dipangkuannya.
Aira meneguk salivanya.
"Saya makan, kamu juga harus makan" ujarnya.
Jantung Aira berdetak kencang, ini bukan pertama kalinya tapi kenapa ia masih gugup.
"Mana lauknya Aira" ucap Alex.
"i-ya ini diambil"
Aira mengambilkan nasi kedalam piring tersebut secukupnya dan lauk. Tubuh Aira kaku, posisi duduknya kurang nyaman, tapi ia tidak berani bergerak.
Srek..
Tangan kiri Alex melingkar dipinggang Aira lalu mengusap perut rata Aira lembut.
"Aaaa" seru Alex sembari menyodorkan sendok makan kemulut Aira.
Oh tuhan! apakah Alex tengah memanjakan Aira?!
Dengan ragu-ragu Aira membuka mulutnya menyambut suapan Alex.
"Pinter" ucap Alex.
Giliran pria itu menyuapkan nasi kemulutnya sendiri.
"Pak, saya makan sendiri aja" ucap Aira.
"Hum?"
Alex menatap Aira.
"Saya makan sendiri, gak usah disuapin" ucap Aira memalingkan wajah.
Terdengar helaan nafas Alex, pria itu meletakkan sendoknya kembali.
'Gue salah ngomong?!'
"Kamu tau? saya seperti ini agar kamu melupakan masalah 'dia' saya gak mau kamu terus memikirkan orang lain"
"Ucapan 'dia' jangan diambil hati, itu cuma ucapan orang bodoh yang taunya iri, saya akan urus semuanya"
"Ingat, kamu punya saya" ucap Alex, tatapan matanya sendu.
Aira tersentuh mendengarnya, sejak kapan suaminya yang galak dan dingin bisa bersikap seperti ini.
"Saya udah lupain masalah tadi, saya cuma.."
Alex memegang bahu Aira.
"Gapapa, sulit diawal, saya tetap membantu kamu" ucap Alex menenangkan Aira.
Aira mengangguk.
"Tetap duduk disini ya" ucap Alex.
Mau menolak tapi takut, mau lanjut tapi canggung, ah sudahlah!.
"Saya anggap iya"
Alex kembali menyuapi Aira, senyuman manis terus terpampang dibibir pria itu membuat wajah Aira memerah.
Mungkin Alex harus mencari tau sendiri soal gadis yang bernama Nana. Pasti gadis itu berperilaku buruk pada Aira.
"Pak udah" Aira menolak suapan Alex, lalu bangun dari pangkuan pria itu.
Ya, Alex tidak memaksa kalau Aira sudah kenyang.
"Hmm, kamu istirahat sana, biar saya yang beresin ini" ucap Alex.
"Enggak, sebentar lagi sore jadi nanggung, saya sekalian beresin rumah" ucap Aira.
"Tidur aja dulu, saya gak mau kamu sakit" ucap Alex.
'Pak Alex perhatian banget'
"Tapi kan.."
"Pergi kekamar sekarang atau saya temenin kamu tidur?" rayu Alex.
Aira langsung pergi menaiki tangga.
Alex terkekeh pelan dengan tingkah Aira, ternyata sangat mudah mengatasi keras kepala Aira.
__ADS_1
ADA YANG KANGEN KEUWUAN? KITA AKAN MEMASUKI TAHAP" KEBUCINAN. SO! DITUNGGU YA!