
...Ini adalah karya pertama jadi bahasa dan penulisan masih belum tertata, jgn lupa mampir ke My Beloved Lecturer, ini bahasanya insyaallah lebih rapi, meskipun gak 100%, dan alur cerita bakal berbeda dari novel perjodohan lain, insyaallah 👀💗...
...Yang pasti gak akan seribet Aira flnya hehe, mohon dukungannya kak....
Paginya.
Aira bangun pagi-pagi sekali, memasak sarapan pagi lalu kembali kekamar lagi, ia masih gamam, duduk termenung.
'Hari ini harus gue bilang semuanya'
'Harus!'
Aira melihat sekitar kamar, matamya tertuju pada benda persegi panjang milik Alex yang terletak diatas nakas. terlintas sebuah ide untuk menyembunyikan Kejadian tadi malam.
Perlahan ia mendekati benda itu, agar pria itu terusik tidurnya, dan ia berhasil. Segera Aira buka beberapa Aplikasi yang menurutnya sangat kuat untuk menampakkan peristiwa itu.
Beruntung handphone pria itu tidak dikunci.
"Harus gue block semua pengikut pak Alex" gumamnya.
Aira mengotak-atik benda itu,lalu meletakkannya kembali ditempat asal, Aira hampir saja ketahuan karena Alex yang menggeliat tiba-tiba.
'Gakpapa kayak gini dulu, gue belum siap ngejelasin semuanya, lagian bukan gue juga yang salah'
Benar yang dikatakan Mira, Aira ini egois dan tidak pernah menyadari hal-hal yang dianggapnya sepele malah akan membahayakan dirinya sendiri.
"Kamu ngapain?" tanya Alex dengan suara khas orang bangun tidur.
Aira tersentak kaget.
"Ee-Gak ada" ucapnya.
Alex mengusap matanya.
"Ini jam berapa?"
"Jam...Jam empat subuh pak" ucap Aira, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Ba-bapak mau mandi? biar saya siapin air hangat?" tanya Aira, Alex mengangguk.
Aira pun beranjak menuju dapur untuk memanaskan air mandi Alex, jantungnya berdetak kencang, ia khawatir, apa Alex melihatnya mengotak-atik handphonenya
Aira benar-benar takut.
Kamar.
Alex mengambil handphonenya, sekedar mengecek saja, tiba-tiba muncul satu notifikasi pesan, setelah membacanya wajah Alex berubah, entah apa isi pesan itu dan siapa pengirimnya tidak tau.
Cklek..
Aira masuk sambil membawa ember kecil berisi air panas, ia melihat suaminya sangat serius menatap layar handphonenya, Aira tidak berpikir kenapa, intinya ia sudah menyembunyikan semuanya dari Alex.
"Pak udah nih" ucapnya.
"Hm"
Alex menaruh kembali benda itu, lalu berjalan kekamar mandi.
"Hari ini kelas pagi?" tanya Aira sebelum keluar kamar mandi.
"Iya"
Aira mangut-mangut.
Disiapkannya pakaian kerja Alex, ditaruh datas tempat tidur, paginya Aira sangat sibuk dengan mengurus suami. Sesekali ia melirik penasaran, apa yang dibaca Alex tadi.
"Gak mungkin jugakan pak Alex tau" ucapnya.
Beberapa saat kemudian Alex selesai mandi, Aira menyiapkan barang-barang kuliahnya. lalu turun kebawah untuk membawakan Alex secangkir kopi.
"Pak ini kopinya"
Alex mengacuhkannya, pria itu sibuk memakai pakaiannya, Aira berinisiatif memakaikan dasi, diambilnya dasi Alex yang tergeletak dihempat tidur.
"Ini mau saya pakein?"
Alex menoleh.
"Tidak usah, saya bisa sendiri" ucapnya.
Aira pun memberikannya pada Alex.
"Pak, kayaknya nanti saya pulang agak lama, ada urusan"
__ADS_1
Sudut bibir Alex terangkat, pria itu seolah-olah tau apa yang akan Aira lakukan.
"Pak?"
"Hm?"
"Gak jadi"
Aira mengusap lehernya, suasana macam apa ini, Aira merasa Alex jadi dingin lagi padanya, padahal saat bangun Alex tidak seperti itu. Sampai keduanya didalam mobilpun Alex tidak meliriknya sama sekali, pria itu hanya fokus kedepan.
'Moodnya lagi jelek kali ya?'
"Pak"
"Hm?"
"Kenapa?" tanya Aira.
Alex menggeleng.
'Yaudahlah biarin dulu' Pikirnya.
Mereka tiba dikawasan universitas, kali ini Alex membawa Aira hingga kedepan pintu kampus, entah apa yang merasuki Alex, Aira tidak tau. Wanita itu kalang kabut.
"Pa-pak, keparkiran aja" ucap Aira.
Alex mengacuhkannya.
'Allahu gimana ini'
Aira menggigit kukunya tegang.
"Pakk" suaranya memohon.
Beruntunglah Aira, Alex memutar Arah keparkiran. Ia buru-buru turun dari mobil.
"Pak makan siang nanti saya telfon" seru Aira, tapi diabaikan lagi, Aira hanya bisa mendengus pasrah.
"Saya tetap datang keruangan bapak, oke!"
Wanita itu pergi, lagi-lagi handphone Alex berbunyi, pesan baru dari orang yang sama dengan tadi pagi. Alex mencoba menghubungi orang itu, tapi tidak diangkat.
Ia berdiam diri didalam mobil, sampai orang tadi menelfonnya balik.
Alex memukul stirnya kesal, sebenarnya ada apa ini, kenapa orang itu mengatakan Aira penipu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aira berjalan dengan tergesa-gesa, dari awal masuk ia sudah mendapat ujaran kebencian, gadis-gadis yang tidak bisa menerima kenyataan. Aira menhan diri untuk tidak menampar mulut-mulut mereka.
Ia sampai didepan kelasnya, namun ada tiga orang yang menghadangnya.
"Mau kemana lo?" ucapnya.
"Gue gak ada urusan ya sama lo, minggir" ucap Aira.
Gadis yang didepan Aira mendecap.
"Ck..Lo punya urusan sama gue, lo gak tau gue siapa?" ucapnya.
'Siapa lo? tukang sapu sekolah?'
Aira menatap sinis tiga gadis itu, ooh Aira tau apa yang mereka mau.
"Gak tau, tukang sapu kali" ucap Aira meremehkan.
Gadis yang kelihatannya ketua dari mereka, tidak terima.
"Bangsat! gue ini senior, berani lo sama gue?"
ucapnya.
"Udah Nana hajar aja" ucap salah satu wanita.
'Cih Nana'
Aira baru ingat, Nana itu mantan kekasih Gilan, mereka putus dua bulan yang lalu, dan yang Aira tau Nana tidak terima perpisahan itu.
Aira tersenyum sombong.
"Oh Nana? yang udah diputusin tapi gak tau diri?"
"Masih ada muka ya lo" cibir Aira.
__ADS_1
Nana mengepal tangannya, wajahnya merah emosi.
"Brengsek"
Tangannya hendak menampar Aira, tapi tertahan karena seseorang mencegahnya.
"MAU APA LO SETAN!?" suara Mira menggelegar.
Ia mencengkram kuat tangan Nana hingga sang empu kesakitan.
"Le-lepas!!" bentak Nana.
Mirapun melepas kasar tangan Nana.
"Lo gakpapa Na? mau gue beresin mereka?" tanya satu teman Nana.
"Gak usah, ada temennya yang gila" ucap Nana.
Apa? barusan Nana mengatakan Mira gila? wah kelihatannya Nana sudah bosan hidup. Mira mendekat ditatapnya mata Nana.
Sungguh Mira seperti iblis kalau sedang marah.
"Gue gila? memang, kenapa? gak suka?"
ucap Mira.
Ia mengulung lengan bajunya.
"Sekarang lo pilih, mau gue bikin mati ditempat atau kritis?"
Ketiganya bergedik ngeri, Nana melihat orang-orang memperhatikan mereka, mau tidak mau ia harus pergi. Tak lupa ia mencibir Aira lebih dulu.
"Bye pelacur" bisik Nana yang pasti didengar Mira.
"Heh cabe! gue tandain lo ya, Awas lo! mobil lo yang warna merah diparkiran kan? hati-hati pulang lo tinggal nama" ucap Mira.
Aira menarik Mira kekelas, sudah cukup untuk menjadi pusat perhatian, Mira memang sulit diredakan.
"Apa sih?" ucap Mira kesal.
"Malu Mir, malu" ucap Aira.
Mira melipat kedua tangannya.
"Liat! coba gue gak ada udah ditampar lo, mending lo tolak aja Gilan sebelum tuh cabe-cabe an nyelakain lo Ra" Tegas Mira.
Aira mengigit bibir bawahnya. Mira mencengkram bahu Aira.
"Cukup! gakbadda pertimbangan lagi, lo tolak dia atau gue kasih tau semuanya sama suami lo"
Tubuh Aira menegang.
"L-lo ngancem gue?"
"Demi Allah Ra ini semua karena gue gak mau lo kena masalah" ucap Mira.
Aira menghela nafas.
"Jangan ikut campur, ini urusan gue Mir, apapun yang gue lakuin itu pasti benar" ucap Aira.
Ya tuhan, Mira tidak mengerti apa isi otak Aira, tidakkah ia bersyukur punya Alex yang zuper perfect dalam hidupnya. Oh ayolah, Mira hanya takut ini semua menjadi panjang.
Mira memijit pangkal hidungnya.
"Oke, gue lepas tangan sama lo, terserah lo, jangan cari gue lagi" ucap Mira.
Aira membulatkan matanya.
"Mir? really? lo mau mutus persahabatan kita karena ini doang?" ucap Aira.
Mira mendekat, beruntung kelas masih sepi dan Mira mengecilkan volume suaranya, jangan sampai ada yang mendengar.
"Ini doang? apanya yang doang Ra? suami lo Ra..Suami lo..inget suami lo..Ya tuhan" Mira sampai pusing memikirkannya.
"Gunain otak lo buat mikir, lo boleh temuin gue, kalau udah sadar"
ucap Mira lalu pergi meninggalkan Aira sendirian.
'Brengsek! semuanya jadi gini' umpat Aira salam hati.
Ia mengacak rambut frustasi, Air matanya tak terbendung hingga akhirnya menangis.
"Hiks...Mama..Aira gak ngerti harus gimana" isaknya.
__ADS_1