
Aira melenggang keluar dari kelasnya, tujuannya saat ini adalah ruang kesehatan kampus untuk menghilangkan kantuk yang sejak tadi ia tahan.
Untung saja Alex membantunya, kalau tidak bisa-bisa sampai pagi Aira menyelesaikan tugas-tugasnya.
"Im coming!" seru Aira.
Mira mengikutinya dari belakang sambil membawa beberapa kertas.
"Airaa" panggilnya.
Aira menoleh, perasaannya tidak enak saat melihat kertas-kertas di tangan Mira.
"Temenin gue keruangan pak ramto" ajaknya.
"Sendiri aja ya? gue ngantuk semalem gak tidur nyenyak huhu" ucap Aira memelas.
Jawabannya justru mendapat tatapan curiga dari Mira yang otaknya sudah dipenuhi oleh 21+.
"Aㅡapa?" tanya Aira.
Bukannya menjawab, Mira malah melihat kanan kiri lalu menarik tangan Aira ketempat sepi.
"Heh mau ngapain!" sentak Aira.
"Lo gak tidur nyenyak?" tanya Mira dengan wajah serius.
"Hum"
"Jangan bilang lo begadangnya bareng..ekhem..Pak Alex" ucap Mira.
"Memang bener" jawab Aira.
Mira membulatkan matanya, tangannya terangkat menutup mulutnya yang terbuka, Otomatis kertas ditangannya berjatuhan.
"Biasa aja!"
Reaksi macam apa yang diberikan Mira ini.
"Coㅡcoba lo jaㅡjalan" pinta Mira dengan tergagap-gagap.
Aira menurut, dia berjalan lalu berbalik lagi, Mira memperhatikannya dengan kepalanya yang miring kesamping.
"Shh..aneh jalannya masih normal" gumam Mira.
Aira mengerutkan dahinya.
'Ni anak mikir apa sih?'
"Ra serius lo begadang bareng pak dosen?" ucap Mira.
"Hem,udah gue ngantuk bangetㅡBHAY!" ucap Aira berlalu meninggalkan Mira yang masih diam penuh rasa penasaran.
"Eh...Bukannya gue minta ditemenin tadi?ANJIRLAH AIRAAAAA" teriak Mira membuat Aira mempercepat langkah kakinya.
1 jam kemudian...
Alex melangkah masuk kedalam kelas, matanya tertuju ketempat duduk yang kosong, itu kursi milik Aira, Kemana gadis itu pergi, pikirnya.
"Apa semua sudah dikelas?" tanya Alex.
Yang lain mengangguk, mereka tidak sadar kalau satu orang lagi belum ada dikelas.
"Kenapa bangku disana kosong?"
Mira mengangkat tangannya.
"Maㅡmaaf pak, Aira Alkeyna belum masuk kelas" ucap Mira.
Alex mangut-mangut.
"Oke, saya mau lain kali kalian harus sudah dikelas tidak ada yang terlambat, kalau itu terjadi..Kalian saya keluarkan dari kelas saya selama satu bulan, ini juga berlaku untuk yang tidak mengerjakan tugas kuliah dari saya, bisa dipahami?" tegas Alex.
Semua diam, Alex terlihat sangat dingin, ia bahkan memberi tatapan tajam keseluruh Mahasiswa.
"Kalian bisu?" ucap Alex.
Bahkan Mira pun tidak berani melihat Dosennya.
"Tidak pak" seru mereka.
"Saya tanya sekali lagi, kalian paham?" ucap Alex.
"Paham pak"
"Bagus..Kita mulai kelasnya"
Alex menerangkan materi-materi kuliahnya, dari belakang ada beberapa mahasiswi membicarakannya.
"Pas marah damagenya gak nahan!"
"Berwibawa sekali Dosen satu ini"
"Nikahin aku mas"
Mira yang duduk didekat mereka kepanasan mendengar ocehan tak berfaedah.
"Cih suami orang digebet" cibir Mira.
Beberapa saat kemudian kelasnya selesai, Mira langsung mengambil handphonenya untuk menghubungi sahabat tidak berakhlaknya.
Tutttt
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab panggilan ini"
"Wah molor dimana dia" gumam Mira.
Mira menghubunginya berulang kali, namun hasilnya tetap sama.
"Ini tidur apa mati sih" kesal Mira.
"Mira" panggil Sekar salah satu teman kelasnya.
"Eh iya?"
"Disuruh pak Alex keruangannya" ucap Sekar.
"Oo okeh, makasih ya Kar" ucap Mira.
"Yoo"
__ADS_1
Sekar kembali ketempat duduknya, Mira menelan ludahnya, Haruskah dia mencari Aira lebih dulu agar dia bisa membawa gadis itu bersamanya kesana.
"Ya Allah kenapa saya terlibat" eluh Mira.
Dengan kaki gemetar Mira pergi keruangan Dosennya, Mira menelan ludah susah payah, lihatlah karena ulah Aira, dia yang harus menemui Alex.
"Permisi pak?" ucap Mira.
"Masuk" ucap Alex.
Mira menarik nafas lalu membuka pintu.
"Bapak manggil saya?" ucap Mira.
"Hum..Duduk"
Mira menarik bangku didepan Alex, Tangannya dingin.
sedingin hubungan aku dan kamu...eeaa.
"kemana Aira?" ucap Alex.
Mira mengigit bibir bawahnya.
"Eeㅡtadi Aira bilang ngantuk ke saya pak, terus dia pergi" ucap Mira.
"Kamu temannya kan?" ucap Alex.
Mira mengangguk.
"Biasanya dia bolos dimana?" ucap Alex.
'Tahan Mir jangan deg-degan'
"Biasanya dia tidur diㅡperpustakaan atau gak diruang kesehatan pak" tambahnya.
"Oke kamu boleh keluar" ucap Alex, kemudian fokus ke laptop yang ada didepannya.
'Waw langsung diusir' batin Mira.
Mira buru-buru keluar dari ruangan.
"Liat aja Ra, besok ketemu gue hajar lo" gerutu Mira.
Ditempat lain, Aira terlelap dengan damai, Tubuhnya sesekali berbalik kekanan dan kekiri, ruang kesehatan yang dingin membuat tidurnya semakin nyaman.
Setelah menghilangkan rasa kantuknya, Aira bangun sambil merenggangkan otot lengannya.
"Hoahh...Enak banget tidur jam segini" gumamnya.
Aira turun dari tempat tidur uksnya, bersiap-siap untuk keluar dan pulang.
"Pulang tidur lagi ah"
Dyna nanananana hey~
Dyna nanananana hey~
Handphonenya berbunyi, Aira mengerutkan dahinya, Ada panggilan dari nomor tidak dikenal.
Aira mengabaikan panggilan masuk dihandphonenya, lalu memakai sepatunya kembali.
Dyna nanananana hey~
Dyna nanananana hey~
Kali ini Aira mengangkatnya.
"Halo ini siapa?" ucapnya.
"Keruangan saya sekarang" tegas orang dari seberang.
'Siapa sih'
"Ruangan mana? ini siapa? jangan main
nyuruh-nyuruh aja!" ucap Aira dengan nada meninggi.
"Saya Dosen kamu"
Aira memijit pelipisnya.
"Duh..Dosen disini banyak, bukan satu doang"
"Tudep biㅡ"
"Alex Abasya"
Gleg!
"Ooㅡoo bapak" Aira gelagapan.
Oke tamat riwayat Aira.
"Kesini sekarang" ucap Alex penuh penekanan.
"Iㅡiya pak"
Aira buru-buru memakai sepatu dan merapikan rambutnya lalu menuju keruangan Suami plus Dosennya.
Aira menundukkan kepalanya tidak berani melihat wajah orang didepannya, ia tengah berpikir, bagaimana memulai untuk membela diri.
"Pak saya..." Aira membuka suara.
"Gimana? tidurnya nyenyak?" potong Alex.
Pria itu melipat kedua tangannya didepan dada. Aira yang panik mencoba mencari Alasan.
"Airaㅡ"
"Saya ngantuk pak" jawab Aira cepat.
Aira semakin gelagapan karena Alex menatapnya.
"swear pak, saya ga ada niatan bolos" imbuhnya membela diri.
"Saya gak percaya" ucap Alex.
"Bapak Alex Abasya yang Ganteng, saya tuh baru satu kali ini bolos" ucap Aira.
__ADS_1
"Kayaknya"lanjutnya dengan pelan.
"Mira bilang kamu sering bolos? apa Mira bohong soal itu?" ucap Alex.
Aira mengigit bibirnya, bingung harus mengelak bagaimana lagi.
"Kenapa gak dijawab?" ucap Alex.
Rasanya ingin sekali mencakar wajah dingin nan mempesona milik Alex.
"Eee...Oke!"
Aira menegakkan badannya, Alex sedikit terkejut dengan pergerakan Aira yang tiba-tiba menarik tangannya.
"Saya ngaku pak..Saya emang sering bolos,
tapi-tapi saya janji deh gak bakal gini lagi! asal jangan laporin ke Mama sama papa" Aira memelas.
'Demi keselamatan jasmani!'
"Please pak" bibirnya mengerucut.
"Lepas" ucap Alex datar.
Aira segera melepas gengamannya.
"Maaf Pak"
Dia menunggu jawaban dari Alex, Apa susahnya mengucapkan kata iya, dengan begitu Aira bisa cepat pulang kerumah dan tidur.
"Bapak kok diem aja? sariawan?" ceplos Aira yang dibalas tatapan tajam oleh Alex.
"Oke saya gak akan bilang ke Mama sama Papa" ucap Alex.
"Alhamdulilah" ucap Aira senang.
"Tapi ada syaratnya" imbuhnya.
Aira mengerutkan dahi.
"Selagi gak aneh-aneh, saya penuhi" ucap Aira.
"Aneh gimana?" ucap Alex sambil menatap Aira.
Aira mengedarkan pandangannya karena gugup.
"Ma-mana saya tau pak"
Alex menggelengkan kepala.
"Hemm, nanti dirumah saya kasih tau" ucap Alex.
"Bapak gak akan nyium saya kan?"
Alex menatap tajam Aira.
"Bercanda pak" Aira menyengir.
Alex merapikan mejanya, ia bangkit menggandeng tangan Aira, gadis itu hanya menurut sampai diparkiran.
"Ayo pulang"
"Bapak jangan gandeng saya" protes Aira.
Alex mengabaikannya.
"Pak..."
"Udah sepi Airaa, gak ada yang lihat"
Aira tertegun mendengar Suara Alex yang begitu lembut.
Mereka masuk kedalam mobil, Aira memasang selt belt nya, Dia sesekali melirik Alex yang tengah menggulung lengan kemejanya, dahi pria itu berkeringat.
Jantung Aira semakin berdegub kencang.
'Ya Allah ganteng banget'batinnya.
Aira mengalihkan pandangan saat Alex melihatnya.
"Langsung pulang?"ucap Alex.
"Hum" jawab Aira sambil mengucek matanya.
Alex melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.
Aira melihat kearah luar jendela, memperhatikan mobil dan kendaraan lain yang lewat.
Perlahan kantuknya datang lagi, Aira berusaha menahannya sampai kepalanya berulang kali beradu dengan jendela mobil.
Aira mengelus kepalanya yang terantuk.
'Sshh sakit'
Ia melihat Alex yang tengah menyetir.
"Pak" panggilnya.
"Hm?" dehem Alex.
"Masih lama nyampe rumah?" tanya Aira.
"Sebentar lagi"
"Ck" Aira berdecap.
"Saya masih ngantuk banget pak" eluh Aira.
"Tidur aja, nanti saya bangunin"
Mendengar jawaban Alex, Aira langsung mencari posisi nyaman dikursinya, Perlahan matanya tertutup.
Alex melirik kesebelahnya, terlihatlah aira sudah tertidur pulas dengan kepala miring, tangan kirinya mengelus kepala Aira.
Tidak pernah Alex bayangkan kalau dia akan menikahi gadis yang lebih muda darinya, dan gadis yang menarik seperti Aira.
Ia membenarkan posisi kepala Aira agar menghadapnya, lalu wajahnya perlahan mendekat untuk mengecup kepala Aira.
Cup~
__ADS_1
Alex tersenyum kemudian menghadap kearah jalanan didepan.