Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-98


__ADS_3

oke author gak up malam-malam lagi, insyallah yaa


Mobilnya melaju kembali, ia jadi gelisah. Sepanjang perjalanan banyak yang bisa membuat tekadnya untuk menunda pernikahan sedang goyah.


Umur Raka sekarang dua puluh tujuh tahun, berbeda satu tahun dari Alex, yang artinya Alex lebih tua darinya.


Raka memang tampan, tapi kenapa belum ada wanita yang benar-benar datang dan bisa membuatnya niat untuk menikah.


"Aduh, gara-gara Alex" kesalnya.


Raka berhenti disebuah kedai coffee modern, ia ingin membeli secangkir kopi yang bisa menenangkan pikirannya.


"Mas americano satu" ucap Raka.


Ia pergi duduk dikursi yang berada tepat ditengah.


"Jodoh pasti datang" gumamnya.


Raka melihat handphoennya yang ada diatas meja, menatap dalam benda itu.


"Ssshh..Kalau ada telfon masuk, berarti dia jodoh aku" gumam Raka.


Ide konyol ini muncul begitu saja, semacam dugaan yang mungkin bisa menjadi kenyataan.


Cukup lama ia menunggu benda itu berdering, bahkan kopi yang ia pesan sudah tiba.


"Tuan ini kopi americano nya" ucap pelayan.


Raka tidak mengalihkan pandangannya.


"Yayaya terimakasih" usirnya.


'Ayoo berdering!'


Drreet...


MENAKJUBKAN!


Boleh Raka berteriak? Ah sepertinya tidak perlu.


Benda itu memang berdering, cuma orang yang menelfonnya ini membuat Raka tidak jadi bersorak ria.


Kalian tau siapa?


Yap! Itu Mira.


Raka berdecap sebal, ia mengangkat telfonnya. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya demi meredakan kekesalan.


"Assalamuallaikum pak"


"Waalaikumsalam, ada apa? Kenapa?" tanya Raka.


"Maaf pak saya menganggu"


"Sangat menganggu, kamu gak tau saya lagi nunggu telfon dari jo-" ucapan Raka tertahan.


"Jo? Jo apa pak?"


Mau taruh dimana kalau Raka ketahuan menghayal mendapat telfon jadi jodoh yang tidak jelas?.


"Bukan urusan kamu, cepat bilang ada apa?"


"Pak"


"Hum?"


"Jujur saya takut ketemu Aira besok, saya hancur rasanya, tapi perasaan Aira lebih hancur.."


"Itu kesalahan kamu"


"Y-ya saya tau pak..Tapi bapak percaya kan sama saya? Saya itu tulus jaga Aira pak, saya juga gak tau kenapa saya bisa nekat.." suara Mira bergetar.


Sebagai pria sejati, Raka juga tidak tega melihat Mira.


"Kamu nangis?"


"E-enggak pak.."


Raka memiijit pelipisnya, Raka bersumpah, untuk kedepannya tidak lagi ikut campur masalah orang lain.


Ia akan jadi orang baik saja.


"Mira, dalam persahabatan, pasti ada masa perselisihannya, sebenarnya hal biasa cuma kalau sampai menikung suami seperti yang kamu lakukan ini cukup kelewatan"


"P-pak saya gak nikung, demi allah saya gak nikung"

__ADS_1


Raka mengerutkan dahi.


"Kenapa bapak berpikir saya nikung Aira, saya gak nikung.."


'Kalau bukan nikung terus kenapa kamu ganggu rumah tangga orang Miraaaa' ucap Raka dalam hati.


Raka ikut bingung.


"Coba jelaskan secara rinci"


Mira menarik nafas panjang lalu menceritakan semuanya pada Raka.


"Jadi begitu?"


"Ya..Saya bersumpah pak" ucapnya.


"Kenapa kamu gak jadi Nano pemeran utama film thailand itu?"


Mira langsung tertawa mendengarnya.


"Kenapa kamu ketawa?"


"Hhh..Gakpapa pak, lagi serius bapak malah bahas Nano"


Tanpa sadar Raka tersenyum.


"Oke..Mira, bisa kamu ngomong ini semua didepan Aira besok?" tanya Raka.


Mira sedikit ragu.


"Jangan takut, kamu sendiri sudah bersumpah kalau yang kamu bilang tadi benar..Aira pasti bisa mengerti juga, besok kalian harus bertemu" ucap Raka.


"Bapak bisa temani saya?"


'Sebenarnya aku ini dosennya atau temannya, kenapa seenaknya memerintah'


Raka menghela nafas, ia tidak bisa menolak permintaan Mira, terlebih lagi suaranya yang terdengar lemah.


"Ya, temui saya" ucap Raka.


Raka meletakkan kembali handphonenya, mengusap wajahnya.


Ia menggeleng tak habis pikir.


"Raka, Raka..Bisa-bisanya diperintah Mahasiswi sendiri"


Bunyi dari keyboard laptop memenuhi ruang kamar Aira yang sunyi. Bunyi itu berasal dari jari-jari Alex yang tak berhenti mengetik didepan laptop milik Aira.


Ah...Idamannya dosen satu ini, ia berjanji menyelesaikan semua tugas kuliah Aira.


"Kenapa tugas mahasiswa sebanyak ini" gumam Alex.


Padahal dia dosen, salah kan diri kalian para dosen yang memberikan banyak tugas.


"Pantes banyak yang ngeluh" lanjutnya.


Aira menggeliat otomatis selimut yang menutup tubuhnya, sedikir turun.


Alex menarik lagi selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh Aira, ia menatap wajah Aira lama.


Ia kembali lagi ke laptopnya, sampai Akhirnya selesai sudah.


"Akhirnya"


Alex merenggangkan tangannya lalu memindahkan laptop keatas meja.


Ia bisa merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh Aira sekarang juga.


"Hummm" gumam Alex saat memeluk Aira erat.


Wangi parfum Aira, nyaman sekali dihirup. Perlahan mata Alex mulai tertutup dengan posisi memeluk Aira.


Bhuk!


"Akh..." pekik Alex.


Ia tidak jadi menutup mata, pasalnya tangan Aira, entah kenapa tiba-tiba meninju wajahnya.


"Kamu dendam ya sama mas?"


Alex mulai berpikir Aira pasti sedang menghajar Alex dalam mimpinya.


Ia menahan tangan Aira lalu mencoba untuk tidur kembali. Namun, kaki Aira pula yang beraksi.


Kaki Aira menendang betis Alex, Alex menahan kakinya juga, begitu terus sampai Alex putus asa.

__ADS_1


Alex benar-benar frustasi, sejak kapan Aira jadi tidak bisa diam begini saat tidur.


"Sabar Alex..."


Alhasil Alex turun dari ranjang, ia pindah kekamar lain meninggalkan Aira.


Malam berganti pagi, Alex bisa tidur dengan nyenyak dikamar yang ada di lantai satu.


Sekitar pukul lima pagi Alex terbangun karena alarm handphonenya.


Ia hendak beranjak dari ranjang, namun sesuatu yang melingkar dipinggang menghalanginya.


Posisi Alex tadi malam memang membelakangi, jadi sisi yang dibelakanginya kosong.


'Setan?!'


Jantung Alex mulai berdetak kencang, ia tidak berani menoleh kebelakang. Ia yakin setan sudah memeluknya sepanjang malam.


'Apa karena ini kosong jadi ada setan?!'


Mulutnya mulai berkumat-kamit membaca ayat kursi dan ayat-ayat yang bisa mengusir setan.


Di rasa cukup, Alex mulai memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


"Bismilah" ucapnya.


Ia menoleh kebelakang.


Betapa terkejutnya Alex, karena yang ada dibelakangnya dan memeluknya sepanjang malam adalah sosok wanita yang masih terlelap dengan damai.


Siapa lagi kalau bukan.


"Aira?"


"Tunggu..Bisa jadi ini hantu yang menyerupai Aira?"


Alex menyentuh pipi Aira, memastikan keaslian wujud Aira, apakah itu Aira atau hanya hantu.


Alex bisa mengelus dadanya sekarang, itu benar-benar Aira.


"Alhamdulilah bukan setan" ucapnya.


"Tapi kapan Aira pindah kesini?"


Dari pada penasaran, Alex menepuk pelan lengan Aira.


"Airaa, bangun" ucapnya.


"Eungh" lenguh Aira.


"Kamu kenapa pindah kesini?" tanya Alex.


Aira mengusap kedua matanya, ia setengah sadar.


"Emm?"


"Kamu kenapa pindah kesini?" tanya Alex lagi.


Aira mencerna pertanyaan Alex, kemudian ia berkedip cepat.


"Mas gak ada dikamar, makanya aku kesini" ucapnya.


"Kamu tau dari mana mas disini?"


Aira mengangguk.


"Dirumah ini ada empat kamar, sayu kamar tidur kita, satu ruang kerja mas, dua kamar kosong, saya kesini karena tau, cuma kamar ini yang udah saya pasang sprei, kamar yang satunya belum" ucap Aira.


"Aku takut sendirian jadi jam satu, pindah kesini"


"Mas kenapa sih ninggalin aku sendirian?"


Alex terkekeh.


"Gimana gak ditinggal, kamu kdrt sama mas waktu tidur, daripada babak belur, mas pindah" ucap Alex.


Aira menyengir.


'Waduh masa iya gue mukulin pak Alex? Pantes pas mimpi kayak berasa banget mukulnya'


"Aira, jangan-jangan kamu.."


"Hehe maaf, jangan salahin aku, salahin mimpi aku yang mukulin mas" ucapnya sambil cekikikan.


"Kamu beneran mimpi kdrt ke mas?" ucap Alex tak percaya.

__ADS_1


"Hehe iya"


'Astaga'


__ADS_2