
Aku mau nyelesaikan karya ini sebentar lagii~~~TApi pada penasaran sama hendra dan rachel ya wkwk, tenang aja secepatnya mereka muncul !
Brak!
Alex membuka dengan kasar pintu rumahnya, ia mulai memangil nama Aira berulang kali.
"Aira"
"Aira Alkeyna? Kamu dirumahkan?"
Alex mengecek kedalam kamar tidur, kosong. Tidak ada sosok Aira didalam sana.
Dugaannya salah.
Aira tidak kembali kerumah.
Lalu kemana wanita itu pergi?.
Alex menghubungi Mira.
"Mi-"
"Pak, kepantai XX sekarang" ucap Mira.
Mata Alex terbuka lebar.
"Aira ada disana?"
"Belum tau, tapi kemungkinan besar disana, Gi-Gilan yang kasih tau saya" ucap Mira.
'Gilan..'
"Saya tunggu bapak dipintu masuk pantai" ucap Mira.
Rahang Alex mengeras.
Sial! Dia kalah cepat dengan anak itu.
Jangan sampai Gilan menyentuh istrinya seujung jaripun, Alex tidak terima itu.
Ia segera menyusul Mira.
"Aira.." suara Alex gemetar.
Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Alex sampai, ia bisa melihat Mira dan Raka berdiri didepan pintu masuk.
Ia turun dari mobil, berjalan kearah dua insan itu.
"Pak Alex..." suara Mira tampak ragu-ragu.
Alex menatapnya lekat.
"Mana? Aira udah ketemu?"
Mira menoleh pada Raka sebentar, pria itu mengangguk, ia menatap Alex lagi.
"Iya pak..Ta-tapi.."
"Bawa saya kesana" ucapnya.
Mira dan Raka sebenarnya agak ragu, didalam sana pasti akan terjadi perang besar antara Alex dan Gilan.
"Kalian kenapa?! Bawa saya ke Aira!" bentaknya.
"Oke ayo.." ucap Mira.
Mereka bertiga berlari menuju tempat Gilan, pria itu sempat menghubungi Mira lagi. Mira bersyukur itu kabar baik, bahwa Gilan sudah menemukan Aira.
Akan tetapi itu menjadi kerisauan Mira dan Raka adalah, bagaimana ekspresi Alex nanti.
Dan benar saja.
Mereka bertiga dipertontonkan adegan yang membuat mereka semua kaget.
Kalian tau apa itu?.
Yap!
Gilan memeluk erat Aira, sangat erat.
Mira melirik pria disampingnya yang menatap dingin kearah Gilan. Tangan ex mengepal.
"Brengsek!" umpatnya.
Ia melangkah mendekat, Raka menahan tangan Alex.
"Lepas" ucap Alex penuh penekanan.
__ADS_1
Dari sorot matanya, bisa Mira lihat penuh kemarahan.
"Pak tolong..Ini tempat umum" ucap Raka.
Alex menunjuk Gilan.
"Apa itu juga pantas dilakukan ditempat umum?" ucapnya.
"Pak.."
Alex menepis tangan Raka, ia melanjutkan langkahnya menghampiri Gilan.
"Pak..Ini gimana?" tanya Mira cemas.
"Saya gak bisa ngelarang, Alex udah kalut" ucapnya.
Sebelum itu.
"Iya kakak cari orang ini..Kamu liat?" tanya Gilan.
Gadis itu melihat dengan seksama foto dilayar handphone Gilan.
"Eum..."
Gadis itu mengangguk membuat Gilan seolah-olah mendapat sebuah harapan.
"Ka-kamu liat?"
"Hum!, kakak ini tadi duduk dipinggir pantai sendirian"
"Kamu yakin dek?" tanya Gilan lagi.
"Iya, karena itu aku tanya ke kakak, apa kakak lagi cari seseorang, soalnya kakak perempuan itu kayak itu gelisah" ucapnya.
'Akhirnya Aira.."
Gilan memegang kedua pundak gadis kecil itu.
"Kamu bisa bawa kakak ketempat itu?"
Gadis itu mengangguk, Gilan dengan semangat menghubungi Mira.
"Aira ketemu!"
"Serius?!"
"Alhamdulilah..Syukurlah..Gue otw kesana, lo jaga Aira dulu"
"Iya"
"Tapi Gilan, jang-"
Klik!
Gilan memasukkan handphoennya kedalam saku.
"Ayo dek anter kakak kesana" ucap Gilan.
Gadis kecil itu menggandeng tangan Gilan, ia mengikuti kemana gadis itu membawanya.
Sampai akhirnya langkah gadis itu berhenti.
"Itu kakaknya" ucap gadis itu sambil menunjuk kearah depan.
Gilan melihatnya, iya benar sekali, itu Aira. Pakaian yang dikenakannya sama, Gilan mengambil dompetnya lalu memberikan gadis kecil itu beberapa lembar uang.
"Ini ucapan terimakasih dari kakak" ucap Gilan dengan Girang.
"Kebanyakan ini"
"Gakpapa bawa aja, sekali lagi terimakasih" ucap Gilan.
Gadis itu pun pergi.
Tanda menunda lagi, Gilan mendekat pada Aira, ia meraih lengan Aira yang duduk di pinggiran pantai.
"Aira" panggilnya.
Mata Aira berkaca-kaca sekaligus kaget, Gilan mengejarnya sampai kesini?.
"Ka-kak Gilan?"
Greb!
Aira tersentak kaget, Gilan tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.
"Kak..To-tolong lepasin" ucap Aira.
__ADS_1
Gilan tidak mengindahkan ucapan Aira, memeluk Aira membuat semua rasa resah dan gelisahnya terhempas begitu saja.
Ia sangat khawatir.
Aira mencoba mendorong dada Gilan, ia tidak boleh berpelukan seperti ini.
"Ra, iya..Aku maafin kamu, aku maafin..tolong jangan pergi kayak gini lagi..Aku khawatir" lirih Gilan.
Aira terdiam.
"Dari awal liat muka kamu aku udah gak sanggup buat marah, aku sayang kamu..Rasa sayang ini yang bikin aku gak bisa benci kamu"
Mata Aira bergetar.
"Aku-aku.." Aira terbata-bata.
"Aku tau..Aku gak bisa milikin kamu, anggap ini pelukan terakhir Ra" ucap Gilan.
"Kak..To-tolong lepasin.." Aira memberontak.
Ia takut terjadi sesuatu yang buruk nantinya.
"Kamu bisa nerima aku jadi teman kamu? Kita gak harus bermusuhan kan? Kedepannya aku juga bakal nemuin wanita terbaik" tanya Gilan tiba-tiba.
Aira menunduk.
"Ya...Ki-"
Srek!
Lengan Gilan ditarik kasar oleh seseorang, hingga pelukannya terlepas.
Mata Aira membulat kaget, orang itu adalah Alex. Wajah pria itu merah padam, menahan amarah.
Tangannya mencangkram kuat bagian leher pakain Gilan.
Alex tidak meliriknya sama sekali, pria itu menatap tajam Gilan lalu menyeretnya pergi.
"Ma-mas!" panggil Aira.
Ia mengikuti Alex, sambil mencoba mencegahnya. Namun, Alex seakan dibuat tuli, ia mengabaikan sang istri yang menarik tangannya agar melepas cengkramannya.
Mira maupun Raka ikut mengejar, Sebagai sesama Pria Raka mencegah juga.
"Lex, ini tempat umum" ucap Raka.
Alex terus berjalan, membawa Gilan ketempat yang lebih sepi.
Ia mendorong tubuh Gilan hingga tersungkur ditanah, lalu mendekat dan..
Bhuk!
Satu pukulan melayang ke pipi Gilan, Aira semakin histeris.
"Kak Gilan!" Teriak Aira.
Raka tidak bisa hanya berbicara dan berusaha menarik Alex, karena pria itu terus mendorongnya dan Alex terus memukul wajah Gilan. Alex jauh lebih keras kepala dari pada mahasiswa yang diajarnya.
Melihat Gilan yang sudah tak berdaya, Raka menyelipkan tangannya diantar lengan Alex lalu menyeret dengan paksa tubuh Alex agar menjauh dari Gilan.
"Lepas!" bentak Alex.
"Sadar Lex, sadar..Dia tetap Mahasiswamu, mau kamu bunuh hah!" bentak Raka balik.
Tidak ada embel-embel bapak lagi dari Raka.
Nafas Alex terengah-engah, ia melihat gilan yang tersungkur lemas ditanah akibat pukulan-pukulannya.
Aira yang gemetaran mendekati Gilan, ia ingin memastikan Gilan masih bernafas.
"Ka-kak Gilan.." lirihnya.
"P-pak Raka! cepat bantu kak Gilan,bawa ke mobil kalian!" teriak Aira.
Raka melepas Alex, ia menghampiri Aira dan membopong tubuh pria malang itu, dibantu oleh Mira, dan ada tiga atau empat penduduk sekitar yang melihat pun ikut membantu.
Mereka pergi, meninggalkan Aira dan Alex. Aira menutup wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.
Seluruh tubuhnya dingin, rasanya ia ingin mati kalau sampai Alex berakhir dipenjaga karena menghajar Gilan.
Dua orang ibu-ibu, mendekati Aira.
"Mbak..Ayo mbak bangun..saya papah kerumah saya.." ucap mereka pelan.
Aira tidak tau lagi, pikirannya kacau. Ia menurut dibawa oleh dua ibu-ibu itu kerumahnya yang dekat dengan pantai.
Alex hanya terdiam sambil menatap Aira.
__ADS_1