
"Jadi kapan Rachel lulus bun?"
"Tahun ini..Tapi Rachel belum ngabarin bunda kapan pastinya dia mau pulang kesini" ucap Reva.
"Tahun ini bun?"
'Yes akhirnya bakalan ketemu Rachel'
Reva mengangguk.
"Aira gak sabar banget bun, oh iya Rachel itu anaknya gimana sih bun?" tanya Aira penasaran.
"Sama seperti Alex, dia tinggi, putih, wajah dinginnya mirip Alex, tapi Rachel itu anaknya ceria, lucu dan ramah, pokoknya moodbooster dirumah deh, dia dulu hobby banget jailin Alex, sampai Alex ngamuk-ngamuk"
"Alex jarang marah sama Rachel, dia jaga banget Rachel, adiknya gak boleh lecet sedikitpun, sampai apapun yang Rachel mau pasti Alex turuti, dimanjain banget deh" ucap Reva.
"Tapi sekarang.."
Reva beralih menatap wajah Aira.
"Alex yang dimanjain" kekeh Reva.
"Bu-bundaa"
Reva terkekeh.
"Lucu banget kamu kalau ngambek Ra, gimana Alex gak gemes" ucap Reva.
Pipi Aira memerah.
"Eh maaf Aira bunda lupa, kamu istirahat gih, jangan banyak gerak dulu, nanti suami kamu ngomel-ngomel" celetuk Reva.
"Aira gak ngerti bun mas Alex jadi bawel gitu"
"Itu dia lagi nunjukkin tanda sayangnya kekamu, dia mau buktiin kalau dia bisa jadi suami yang baik sekaligus papa yang baik, terutama tuh buat yang ada diperut kamu, tapi ayah dulu gak kayak Alex gini" ucap Reva.
Aira tersenyum.
'Papa yang baik'
"Uhm..Aira kekamar dulu ya bun"
"Iya naik tangganya hati-hati, butuh apa-apa panggil bunda atau bibi ya nak, bunda stay disini"
"Inget vitaminnya diminum" ucap Reva.
Aira mengangguk sambil tersenyum.
"Iya bunda Aira inget semuanya, dan Aira pasti bilang kalau butuh apa-apa"
Reva mengacungkan kedua ibu jarinya.
Airapun pergi kekamarnya, ia harus memberi kabar pada sekar, kalau ia libur hari ini.
Universitas Indonesia, pukul 07:05 Wib.
Alex berada diruangannya, tangan pria itu menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Ia masih deg-degan karena Aira.
Sebelumnya ia sudah meminta cuti satu hari pada dosen mata kuliah Aira.
"Tahan Lex, kamu sayang anak, harus bisa" gumam Alex.
Usia kandungan Aira masih satu bulan, lantas berapa lama lagi Alex tidak boleh menyentuh istrinya itu.
Dreeet
Handphone Alex berdering, dengan semangat ia mengambilnya karena ia pikir itu Aira.
Namun prediksinya melesat, itu cuma telfon dari seorang kurir yang mengirim barang-barang pesanan Aira diaplikasi online.
"Ck.."
Tok..Tok..
Siapa lagi ini, pagi-pagi sudah datang.
"Masuk" ucap Alex.
Pintu terbuka, seorang gadis masuk kedalam lalu duduk dikursi. Senyuman dibibirnya tak kunjung hilang.
"Kamu bisa tutup mulut, gigi kamu kering" celetuk Alex.
Gadis itu langsung menutup mulutnya malu.
"Ada keperluan apa? Saya sibuk"
__ADS_1
ucap Alex dingin.
Ingat Alex hanya menunjukkan sisi imutnya pada Aira, dan hanya Aira seorang yang boleh melihatnya.
"Saya sekar pak, sebelumnya maaf, untuk tugas kelompok saya minta kesenjangan-"
"Bukannya masih ada waktu sampai besok?"
"Saya gak bisa selesaikan pak jad-"
"Dosennya kamu apa saya?" potong Alex.
Sekar gemetaran.
Sebenarnya istrinya sendiri belum mengerjakan tugas kelompok, tapi Alex tidak berani memarahi bumil satu itu.
"Bu-bukan begitu maksud saya pak, seharusnya besok bisa, tapi teman sekelompok saya Aira Alkeyna baru kasih kabar kalau dia libur hari ini, dan baru bisa bertemu sore nanti"
'Jadi dia yang janjian sama Aira'
Alex merubah tatapan tajamnya.
"Oke, saya kasih keringanan, kabari saja saya kapan tugas kamu selesai"
Sekar mengerjapkan mata kaget.
"Makasih banyak pak, saya permisi, maaf mengganggu" ucap Sekar.
'Tadi marah sekarang malah ngizinin'
Sekar membuka pintu ruangan.
"Sekar" panggil Alex.
Sekar menoleh, ia menutup kembali pintu.
"Iya pak?"
"Jangan sampai kalian terlalu memikirkan deadline, santai saja" ucap Alex.
Mata Sekar berbinar-binar, apa ini bentuk perhatian Alex padanya.
"I-iya pak"
"Oke silahkan keluar"
Dasar Alex tanpa sadar dia sudah membuat Mahasiswinya salah tangkap dengan ucapannya.
Padahal semua itu ia tujukan untuk Aira agar nantinya tidak terburu-buru mengejar deadline jadi ia tidak kelelahan.
Kalau bukan karena Aira Alex mungkin sudah memarahi Sekar dan memberi tugas tambahan.
"Kenapa waktu berjalan lambat"
Alex menatap jam dinding, masih ada satu jam lagi sebelum mata kuliahnya dimulai, ia tidak sabar untuk bertemu Aira.
Tring!
"Panjang umur" gumam Aira.
Aira barusaja mengiriminya pesan teks yang menanyakan dirinya.
...Istriku...
Mas yuhuuuuu
Mas udah sampai?
^^^Iya barusan^^^
Syukur deh, saya tadi abis ngobrol sama bunda mas.
^^^Ngobrolin apa?^^^
Banyak, dari A sampai Z
^^^Ada-ada aja kamu^^^
Mas mau telfon boleh?
Aira menambahkan emot sedih pada akhir pesan. Tanpa basa-basi Alex langsung menelfon istrinya.
"Mas"
"Masih lama dikampus?"
__ADS_1
"Iya, nanti jam dua siang baru pulang" ucap Alex.
"Lama banget" eluh Aira.
Suara Aira membuat Alex ingin mengambil kunci mobilnya dan pulang sekarang juga.
"Kamu bosen?"
"Hung, bosen"
"Saya juga kangen mas" lirih Aira.
Alex lemah mendengar kata-kata dari mulut manis Aira.
Seseorang tolong gantikan posisi Alex mengajar supaya ia bisa bermesraan dengan istrinya.
"Saya juga" ucap Alex.
Jika tau seperti ini, Alex ikut cuti saja.
"Mas inget, jangan senyum keperempuan lain apalagi buk putri"
'Mulai lagi'
"Iya inget"
"Jaga jarak lima meter, gak boleh nerima makan siang dari Mahasiswi lain" ucap Aira memperingati.
"Terus saya gimana ketemu dosen-dosen lainnya?"
"Mas kan dosen, masa gak bisa"
"Yaudah saya bilang ke mereka "Maaf buk jaga jarak, istri saya tidak suka suami gantengnya dekat-dekat wanita lain" ucap Alex.
"Saya gak bilang mas ganteng" ucap Aira.
"Jadi saya jelek?"
"Ya enggak! Suami saya ini perfect"
"Lagian mas mana berani ngomong gitu, mas kan jarang ketemu mereka" ucap Aira.
"Itu kamu tau, jadi jangan khawatir, saya bisa jaga mata"
"Bagus deh, lagian mereka gak tau siapa istri mas kan" lanjut Aira.
Alex terdiam, ia ingat mau membahas masalah status pernikahan mereka.
"Aira"
"Hum?"
"Tunggu saya dirumah ya" ucap Alex.
"Iya mas"
"Saya tutup dulu telfonnya"
"Nanti boleh telfon lagi kan?"
Alex tertawa kecil.
"Iya boleh sayang" ucapnya.
"Satu lagi, mas"
"Apa?"
"I love you!" ucap Aira cepat lalu mematikan telfonnya.
"Love you too" gumam Alex.
Alex menyentuh bibirnya menahan senyuman, pernyataan cinta Aira sukses membuat akal sehat Alex hilang.
"Ini bawaan hamil atau tulus dari hati" gumam Alex.
Disisilain Aira menutup wajahnya dengan bantal karena malu, pertama kalinya ia mengatakan hal seperti ini.
"Alay banget gak sih?"
Ia mengigit selimutnya gemas, wajahnya merah padam.
"AAaa kenapa terucap sih, mau taruh dimana muka gue pas pak Alex pulang"
/**SUNGKEM SAMA READERS
__ADS_1
Maafin Author yang telat update๐๐**