Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-51


__ADS_3

Follow author dong :v



Semoga betah nangkring disitu :v


Aira menghidangkan masakannya, menu malam ini nasi goreng, kepala Aira sedikit pusing jadi ia memutuskan masak makanan yang cepat jadi saja.


"Tumben masak nasi goreng" ucap Alex sambil menyendok nasi kemulutnya.


"Tadi mau masak yang lain, tapi kepala saya pusing kebanyakan nangis" ucap Aira.


Alex meletakkan sendoknya kembali, Aira mengerutkan dahi. Ada apa dengan Alex tiba-tiba jadi diam.


"Kamu banyak nangis karena saya" ucap Alex pelan.


'Hei..Pak Alex kok jadi melow gini'


Aira bingung harus bagaimana, menyesal rasanya mengatakannya tadi. Alex merasa bersalah lagi kan.


"E-e pak udah makan..Saya gakpapa kok..Nih liat "


Aira tersenyum lebar menghibur Alex.


"Ayolah, saya baik-baik aja, makan lagi cepat!"


Aira meraih sendok Alex lalu menyodorkan kemulut pria itu, harus dipaksa agar tidak dibahas lagi masalah yang tadi.


"AAaa dong" pinta Aira.


Mulut Alex terbuka menerima suapan nasi dari Aira.


"Pinternya suami saya" puji Aira sembari mengacungkan dua ibu jari pada Alex.


Alex masih tak berkutik.


'YAALLAH PAYAH BANGET BALIKIN MOODNYA'


'Gimana dong..m'


'Ini mulut gak bisa dijaga sih'


Aira menelan ludah, hanya ada satu cara memperbaiki mood Alex, intinya harus nekat!.


Yakin dan modal nekat, Aira menghampiri Alex, kedua tangannya menangkup pipi Alex dan..


Cup!


Alex membulatkan mata kaget dengan Aira yang tiba-tiba menciumnya, bibir Aira menempel lama dibibir Alex, ia bahkan menutup matanya rapat.


Bukan Alex namanya kalau tidak terpancing, pria itu menarik pinggul Aira hingga duduk dipangkuannya, ciuman berubah menjadi ganas. Kali ini Aira pula yang kaget.


'Mampus gue, kayaknya kebablasan!'


Alex menggigit bibir Aira sampai mulutnya terbuka, ya ampun mereka masih berada dimeja makan.


"Engh.." desah Aira.


Buk!


Aira mendorong dada Alex.


"Stop!..stop!"


Alex sepertinya menghiraukan ucapan Aira, bibirnya mendekat lagi, untung Aira menahan bibirnya.


"La-lanjut makan" ucap Aira gerogi.


Ia turun dari pangkuan Alex dan kembali duduk di kursinya melanjutkan makan dengan buru-buru.


Aira menghindari tatapan Alex, pasti pria itu tak terima.


"Kamu sekarang berani ya" ucap Alex.


"Uhuk..Uhuk"


Aira tersedak nasi goreng yang baru disantapnya. Alex langsung memberikan segelas aira putih padanya.


"Pelan-pelan kalau makan" ucap Alex.


Wajah Aira memerah.


'Gara-gara mulutmu ya brader'


"Hm"


Alex melanjutkan makannya, Aira melirik pria itu sebentar. Syukurlah Alex tidak badmood lagi.

__ADS_1


Sekarang Aira berpikir, lebih baik hidup bersama Alex yang mesum dari pada hidup dengan Alex yang dingin dan menyebalkan.


"Jangan diliatin, naksir saya gak tanggung jawab" celetuk Alex.


Aira salah tingkah.


"Ge-er"


"Begitulah kalau maling gak mau ngaku" cibir Alex.


"Dih..Siapa yang maling" balas Aira.


"Kamu"


Alex menunjuk dirinya.


"Saya? Saya gak maling apa-apa tuh" ucap Aira membela diri.


"Kamu maling, maling hati saya" ucap Alex.


Aira bergedik, Alex sangat menggelikan. Darimana ia belajar kata-kata gaul itu, melihat ekpresi Alex saat mengucapkan saja Aira tidak sanggup menahan tawa.


"Astahfirulloh ganteng-ganteng alay" gumam Aira.


"Saya dengar loh" balas Alex.


Aira menyengir.


Usai makan malam, Aira mengangkat piring-piring menuju wastafel, yap! Siapa lagi yang mencuci piring dan masak kalau bukan Aira.


Alex? Pria itu memang pemalas, membantu saja tidak mau, paling-paling mendekati Aira waktu ada maunya.


"Duhh..Capek ya abis masak langsung cuci piring terus ngepel, belum lagi bersihin kamar, nyiapin tugas kuliah" Aira menyindir Alex yang duduk dikursi.


Jangan kalian pikir hati Alex tergerak karena sindirian Aira lalu membantunya, oh itu mustahil.


Nyatanya Alex malah pergi kekamar.


"Loh kok.."


"Sialan..tau gini nangis aja lagi biar dia iba" kesal Aira.


Prank!


Aira tersentak, tangannya yang licin tidak sengaja menjatuhkan piring makannya.


Aira berjongkok untuk mengutip pecahan piring dilantai. Terdengah suara gaduh dari tangga, Alex turun kebawah tergesa-gesa.


"Aira, kamu kenapa?" ucap Alex khawatir.


Aira malah menatap bingung Alex, cuma piring jatuh kenapa Alex sepanik itu.


"Nih piring jatuh" ucap Aira menunjuk pecahan dilantai.


Alex menghela nafas.


"Saya kira kenapa"


Alex berbalik badan hendak kembali kekamar, tentu dicegat Aira. Bisa-bisa Alex mau kembali tidak membantu Aira mengutip pecahan piring.


'Heran gue, gak ada romantis-romantisnya'


"Heh mau kemana?!" Sengak Aira.


"Balik kesini! Enak aja mau tidur-tidur" omel Aira.


Alex mengalah, ia ikutan berjongkok membantu istrinya.


"Kutip tuh yang bersih"


'Di cerita novel, pasti suaminya langsung sigap gendong istrinya menjauh terus beresin pecahan...LAH suami gue?'


Aira memantau Alex, ia kembali menyelesaikan piring-piring yang lain.


"Sudah" ucap Alex.


"Udah bersih?"


Alex mengangguk, Aira mengecek lantai yang sudah bersih.


"Bagus deh, sana balik kekamar" usir Aira.


"Nanggung" ucap Alex.


Aira mengernyit.


"Apanya?"

__ADS_1


"Pecahin satu lagi, kalau saya jongkok kan bisa lihat kaki mulus kamu" ucap Alex santai.


'Heh mulutnya, siapa yang ngajarin'


"Bi-bilang apa barusan?"


Aira mengambil ancang-ancang untuk melempar piring ditangannya ke arah Alex, pria itu langsung lari sambil tertawa.


"Awas ya pak Alex, gak akan saya kasih apapun" ancam Aira.


Pria itu tiba-tiba kembali dengan bibir dimajukan kedepan.


"Saya bercanda" ucapnya.


Alex memeluk lengan Aira, lagi bujuk biar dapet jatah nih ceritanya?.


"Ra"


"Hm"


"Aira"


"Hm?"


"Aira Alkeyna"


Cukup! Habis kesabaran Aira.


"Pak kalau gak bisa diem sa-"


"Soal Raka, saya sudah kasih tau dia kalau kamu istri saya" potong Alex.


Deg!


Jantung Aira akan keluar dari tempat, apa yang Alex katakan barusan?.


Aira mengerjapkan matanya.


"A-apa pak?"


Matilah, Alex tidak tau seberapa liciknya Raka dan sekarang pria itu tau status Aira yang sebenarnya.


Aira tidak tau apa yang akan dilakukan pria itu nanti, Aira tidak mau beritanya menyebar.


"Kenapa bapak bilang?" tanya Aira panik.


'Habis gue..Habis'


Alex menatap Aira, ekspresi macam apa itu Aira? Bukankah seharusnya ia menjadi tenang.


"Karena saya gak mau dia mengganggu kamu Aira..Kalau saya tidak melakukan itu, dia bisa bertindak lebih"


Aira menjauh dari Alex.


"Stop..Bapak gak tau gimana liciknya dia"


"Dia itu-"


"Saya tau dan saya tidak takut" potong Alex.


"Huft...Kalau sampai dia kasih tau yang lain gimana? Gimana nasib saya?"


"Biarkan mereka tau, bukan cuma kamu Mahasiswa yang sudah menikah"


Aira tau, tapi bukan itu masalahnya.


Orang-orang pasti berpikir Aira bukan wanita baik-baik sampai dinikahi Dosennya sendiri.


Kenapa Alex tidak mau mengerti posisinya.


"Bagi bapak ini mudah, tapi bagi saya? Saya bakal dapat yang buruknya aja"


"Aira, kenapa kamu sangat perduli dengan omongan orang? Kita yang menikah, kita yang menjalani semuanya, orang lain tidak akan tau apa-apa selain mengkritik.."


Entahlah Aira pusing, ia berjongkok lalu menutup wajahnya.


"Saya belum siap" lirih Aira.


"Siap atau tidak, ini yang harus kita hadapi Aira, biarkan mereka berbicara apapun sesuka mereka..Kita memang sudah menikah dan beginilah jalannya" ucap Alex.


Suasana hening, Aira nampaknya menangis, pikiran Aira berkecamuk.


"Kamu tenang, saya gak akan biarkan Raka ganggu kamu"


Alex memegang kedua bahu Aira agar bangun. Mata Aira berkaca-kaca, diusapnya air mata Aira.


"Saya janji Aira" ucap Alex meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2