Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-169


__ADS_3

Raka berlari kecil menuju ruang tamu, ia menghampiri kedua wanita yang ada disana dan berdiri didepan mereka sambil tersenyum lebar.


"Kenapa kamu?" tanya Mira dengan wajah bingung.


Ia tak menjawab dan langsung memeluk Syifa dengan erat.


"Allahuakbar..Raka" ucapnya kaget.


"Ma, lancar ma alhamdulilah" ucap Raka.


Mata Syifa membulat.


"Be-berhasil? yang bener kamu..Ya Allah Raka..Mama seneng dengernyaa" ucap Syifa, ia mengusap-usap punggung anaknya.


Mira menatap bingung kondisi didepannya.


Raka melepas pelukannya, Syifa menyentuh kedua pipi putranya.


"Mama yakin kamu bisa, bagus nak, bangga mama"


Raka mengangguk, ia menoleh pada Mira, wanita itu tersenyum kaku.


"Sini kamu peluk juga" ucap Raka.


Tangannnya merenggang ingin memeluk wanitanya, Mira menghindar dan Syifa menahan putranya.


"Heh belum sah, jangan macem-macem" ancam Syifa.


"Peluk aja ma" ucap Raka memelas.


"Gak boleh Raka..Sini Mira deket mama, jangan deket Raka, nanti silap dia peluk kamu" pinta Syifa.


Mira menyengir, lalu menggeser duduknya, Raka pindah ke sofa lainnya. Tapi ekspresi wajahnya benar-benar bahagia.


"Ma, Raka kenapa girang banget? baru dapat apa dari papa?" bisik Mira.


Syifa tertawa kecil.


"Dapat kamuu" ucap Syifa.


Mira melongo.


"Aku?" tanya Mira menunjuk dirinya sendiri.


Syifa mengangguk.


"Iya dapet kamu Miraaa"


Pipi Mira dicubit oleh mertuanya.


Mira mengusap-usap pipinya, matanya beralih pada Raka.


'Ngebayangin apa sih Raka sampe senyum-senyum gitu..'


Sadar diperhatikan, Raka melihat Mira, alisnya naik turun.


Mira mengernyit.


"Apaan sih" gumamnya pelan.


"Mira, itu minumannnya diminum nak" ucap Syifa.


"Iya maa"


Sorenya..


"Mama Mira pulang dulu yaa.." pamit Mira.


Mereka berpelukan dengan hangat.


"Em, belum pulang aja mama udah kangen.." ucap Syifa.


"Sabar ya ma, bentar lagi Mira bisa mama uyel-uyel, biar puas


"Yang ada Mira kamu taruh dikamar terus" goda Syifa.

__ADS_1


Mira melongo.


"Anak muda ma" saut Raka santai.


Syifa tertawa.


"Udah gih, anter Mira, kamu bawa jalan terus, kasian dia..Tubuhnya harus banyak istirahat biar nanti tetap sehat pas hari pernikahan, kamu juga Raka tahan diri buat gk ketemu dulu beberapa hari sebelum pernikahan" nasehatnya.


Keduanya mengangguk.


Dirumah, Mira juga dinasehati oleh bundanya agar menjaga jarak dulu sampai hari pernikahan tiba.


"Nah, yasudah..Hati-hati dijalan ya nak ya.." ucap Syifa.


"Iya ma, assalamualaikum.." ucap Mira sembari mencium tangan Syifa.


Mira masuk kedalam mobil, diikuti dengan Raka, Syifa masih berdiri disana memperhatikan mereka.


"Ma, pergi dulu yaa" Raka menurunkan kaca jendela mobilnya.


"He'em.. Pelan-pelan bawa mobilnya, jangan sampai lecet menantu mama" omelnya.


Astaga mamanya sangat posesif sekali dengan kekasihnya, berkali-kali Raka diomeli dan diperingati agar tidak melukai perasaan maupun fisik Mira, Meskipun begitu Raka sangat bersyukur, orangtuanya membuka kedua tangan menyambut kekasihnya dengan baik.


Mobil mulai melaju, Mira ikut membuka jendela mobilnya, kepalanya menyembul keluar, ia tersenyum lebar melihat kearah belakang, tangannya yang mungil melambai-lambai.


"Bye byee mama"


Syifa yang melihat itu pun tersenyum balik dan melambaikan tangannya juga.


Begitu keluar dari area rumah Raka, Mira kembali duduk dikursinya dengan baik.


"haha, Mama memang sebelas dua belas sama bunda, cocok mereka nih kalo aku satuin" kekehnya.


"Ribut pasti kalo disatuin sayang" jawab Raka.


"Lucu tauu"


"Iya deh.."


"Sayang, jadi ini terakhir kali kita ketemu dong? kan kita gak boleh bareng dulu sampai tiba hari H" ucap Mira.


Mira menatap Raka yang fokus ke jalan Raya didepannya.


"Pfftt!"


Mira membungkam mulutnya yang ingin tertawa, ia meledek pertanyaan yang diajukan Raka padanya.


"Aku nanya serius ini, malah diketawain" ucap Raka.


"Eh siapa yang ketawa, enggak Ya"


"Lagian pertanyaan kamu tuh, seharusnya pertanyaan aku kekamu..Kamu kuat gak? gak ketemu aku dulu haha"


Yang paling sulit ditinggal itu Raka, rasanya ia lemas jika tidak melihat Mira satu hari saja..Huft! terlalu berlebihan!, tapi begitulah Raka.


"Aku? aku kuat" ucapnya percaya diri.


Mira tertawa lepas, ia memukul lengan Raka. perutnya tergelitik dengan ungkapan percaya diri dari kekasihnya.


"Hahahaha, delapan puluh persen ucapanmu gak bisa dipercaya" ucapnya.


"Ah enggak, seratus persen gak bisa dipercaya"


Raka ikut tertawa.


"Jangan salah loh, aku bisaa, dan gak telponan sama kamu juga aku bisa" ucap Raka tak mau kalah.


Mira menyipitkan matanya.


"Coba aja kamu gak ngabarin aku..Awas" ucap Mira, tatapan matanya tajam.


Raka bergedik ngeri dibuatnya.


'Dia yang mulai, dia sendiri yang kesal..haduh..perempuan'

__ADS_1


Ditengah perjalanan mereka sempat singgah ke mini market untuk membeli minuman dan makanan ringan, kemudian lanjut mengemudi. cocok sekali mereka ini, sama-sama tukang jajan.


"Sayang, aku lupa mau nanya ini"


ucap Mira membuka percakapan.


Raka menaikkan dagunya, bertanya 'apa'.


"Kamu tadi kenapa girang gitu, sampe peluk-pelukan sama mama, Terus mama juga keliatan terharu..Seneng gitu, ada apa sih?" tubuh Mira bergerak kesamping, tangannya yang lentik mencolek lengan Raka.


Mira penasaran.


"Ummm.."


"Ini mau tau banget?"


Mira mendengus.


"Jangan bercanda, aku serius"


Raka tersenyum.


"Nanti aja ya aku kasih tau kamu" ucapnya.


"Aaaa~ kapan?" Kedua tangan Mira menggoyang-goyangkan lengan Raka.


"Pas udah sah" balasnya.


"Lama...Kenapa tunggu sah? memang itu tentang apa?" hujanan pertanyaan dilontarkan bibir wanita itu, ia sangat penasaran.


Raka menahan tawanya.


"Ini Rahasia..Secret!" ucapnya.


"Rahasia banget?"


Raka mengangguk.


"Banget-banget?"


Astaga Mira ini, rasa ingin taunya begitu tinggi.


"Iya sayang, ini rahasia..Sekarang duduk yang bener, nanti kamu bisa kenapa-kenapa, oke?" pinta Raka.


Mira duduk dengan rapi kembali di bangkunya, tapi bibirnya tak henti menggerutu.


"Harus banget sih nunggu setelah pernikahan, keburu lupa"


"Rahasia terus, sebenarnya aku ini siapa.." gerutunya.


Raka gemas melihat bibir kekasihnya yang tidak bisa diam, meskipun semua sudah berhasil Raka tuntaskan, ia tetap tidak bisa memberitahu wanita itu.


"Mira sayang, bibirnya jangan ngedumel" ucap Raka, nada yang ia lontarkan begitu lembut.


Matanya tetap fokus pada jalanan, tangannya bergerak menyentuh kepala Mira, digerakannya dengan usapan-usapan lembut.


"Tentang apapun itu, intinya demi kebahagiaan kita...Kamu tau kan sayangnya aku ke kamu Gimana?"


Mira diam mendengarkan.


"Aku langsung bensin orangtua kamu, berarti aku serius membina rumah tangga, kamu juga siap dampingi aku sebagai kepala rumah tangga..jangan karena hal yang sepele atau apapun itu kamu jadi ngomong yang seharusnya gak kamu omongan, paham kan?"


Mira mengangguk pelan.


Raja menoleh sebentar, tak lupa senyum termanis ia berikan.


"Aku gak akan lupa sama janji, kamu tenang aja" lanjutnya.


Kalau Raka sudah berbicara, Mira tidak berani melawan. perlahan tangannya menyelip ke lengan Raja, lalu bibirnya mengerucut.


"Aku sayang kamu" ucapnya.


"Aku juga sayang kamu, lebih dari yang kamu tau"


Mira tersenyum lebar.

__ADS_1


Huft.. Pernikahan? hari itu pasti sangat membahagiakan, Mira tidak sabar merasakannya perasaan bahagia saat bersanding dengan orang yang ia cintai.


'Sebentar lagi..Itu sebentar lagi..Kita bakal serumah, ketemu setiap hari' ucap Mira dalam hati.


__ADS_2