
Aira merebahkan tubuhnya ketempat tidur, menatap langit-langit kamar. keheningan membuatnya mengingat ucapan Mira.
"Lo itu udah nikah, punya pak Alex,tapi kenapa lo masih mau sama semua cowo, lo mau nempel kesiapapun, gue jijik sama lo!" ucap Mira dengan berteriak.
"Dan satu hal lagi..Kenapa semua orang cuma perduli sama lo!"
"Padahal gue itu lebih baik dari pada lo! sedangkan Lo? lo itu gak lebih dari cewek murahan" ucap Mira.
Tatapan Mira penuh kebencian saat mengatakan semuanya, membuat hati Aira terasa sesak.
Mungkin ini memang kata-kata yang sudah lama Mira pendam didepan Aira.
"Kenapa sih Mir..Lo berubah"
"Segitu rendahnya lo mandang gue" gumam Aira.
Ia mengambil handphone yang ada diatas meja, tangannya bergerak membuka galeri, ada beberapa album yang dibuat khusus untuk Mira.
Banyak sekali kenangan mereka waktu SMA dulu, ada foto yang dipotret saat perpisahan sekolah. Aira tertawa renyah kalau mengingat kejadian dimana Mira terjatuh saat turun dari Bus, ia sampai harus menemani Mira yang merajuk karena menahan malu.
"Lo itu orang yang lucu Mir, tingkah lo yang bikin gue sampai gak bisa bedain mana yang tulus mana yang cuma pura-pura"
Air matanya malah menetes lagi, padahal Aira sudah berjanji agar melupakan Mira dan pengkhianatannya tapi mengapa sangat sulit.
Cklek!
Alex masuk kedalam kamar, ia melihat Aira yang buru-buru menghapus air mata dan menyembunyikan handphonenya.
Ia menghela nafas, mendekat kearah tempat tidur.
"Kamu nangis lagi Aira?"
Aira menggeleng.
'Sudah tertangkap basah, masih mengelak'
Alex mengusap kepala Aira.
"Saya gak akan marah..Lebih baik menangis dari pada dipendam"
Mendengar ucapan Alex, perlahan air matanya turun lagi. Ia menangis lalu memeluk tubuh Alex.
"Hiks..Mira jahat" isaknya.
Pelukan Aira semakin erat, Alex mengusap-usap punggungnya. Sepuluh menit berlalu Aira akhirnya mulai tenang.
"Sudah lega?" tanya Alex.
Aira mengganguk, ia melepas pelukannnya.
"Ma-makasih " ucapnya pelan dengan kepala menunduk.
Alex tersenyum.
"Begini cara berterimakasihnya"
Mata Aira mengerjap saat Alex menarik dagunya hingga bibir mereka menyatu.
Buk!
Aira mendorong dada Alex menjauh, Alex marah? Tentu tidak, ia malah terkikik melihat ekspresi Aira.
Wanita itu memalingkan wajah.
"Kamu mau mandi air hangat?"
'?!'
Aira menatap Alex bingung.
'Kesambet apa nih?'
"Aira?"
Aira menggeleng cepat.
"Eee-sa-saya"
"Oke saya siapkan" potong Alex.
Alex segera beranjak kekamar mandi yang ada didalam kamar tersebut untuk menyiapkan air hangat. Aira bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.
Apa es batunya sudah mencair?.
Apa sesuatu menghantam kepala Alex hingga sifatnya berubah?.
Tak lama Alex membuka pintu kamar mandi, senyumannya itu tidak luntur sama sekali!.
Jangan lupakan lengan kemeja yang digulung keatas membuat jantung Aira terpacu.
"U-udah?" tanya Aira pada Alex yang menghampirinya.
Alex mengangguk dengan manis, ia terlihat seperti seekor anak kucing yang menggemaskan.
Aira kebingguan karena salah tingkah.
"Mandi yuk" seru Alex.
Mata Aira membulat.
'Ma-mandi bareng?!'
__ADS_1
Aira langsung menyilang kedua tangan didepan dada.
"Gak!" tegasnya.
Alex mengerutkan dahi.
"Kamu kenapa? Saya minta kamu mandi" ucap Alex.
'Jadi bukan mandi bareng? Haih...syukur'
Aira menurunkan tangannya lalu berpura-pura merapikan rambutnya.
"O-oh kirain" ucapnya.
"Kamu pikir saya ngajakin mandi bareng?"
Sial tebakan Alex tepat sekali.
Aira menggeleng cepat, pria itu malah tersenyum misterius.
"Kamu ternyata punya pikiran jorok Aira" celetuk Alex.
'Lo yang mancing-mancing'
Aira berusaha tidak menggubris ucapan Alex, ia bangun dari tempat tidur dan melangkah keluar.
"Mau kemana?"
Aira mengernyit.
'Ya mau mandilah, pake nanya'
"Mau mandi"
Alex malah tertawa.
"Kamar mandi itu disana, ngapain kamu keluar kamar?" Kekehnya.
'Sialan! Lupa!'
Aira merutuki kebodohannya, kalau sudah seperti ini kelihatan sekali ia salah tingkah.
"Makasih" jawab Aira ketus.
'Bodoh banget Ra, lo bodoh'
Aira menepuk-nepuk jidatnya.
Blam!
Pintu kamar mandi ditutup kuat oleh Aira.
"Bisa gak? Atau perlu saya temani didalam?" goda Alex.
Alex tertawa lepas dibuatnya.
Kamar mandi.
"Bisa gak? Atau perlu saya temani didalam?" rayu Alex.
Aira menutup telinganya dari suara kemesuman Alex.
"Diam!" teriaknya.
Terdengah suara tawa pria itu, Aira semakin kesal. Alex sedang menggodanya, ia tau itu.
Tapi Aira tidak bisa menahan diri untuk tidak salah tingkah.
"Bentar-bentar nyebelin, bentar-bentar baik" cibir Aira.
Ia menanggalkan semua pakaian ditubuhnya lalu masuk kedalam bathtub.
Alex pintar, berendam air hangat membuat tubuh Aira lebih rileks dan merasa lebih baik.
Ia memejamkan mata menikmati air hangat yang terasa seperti memijat tubuhnya.
"Jangan terlalu lama, kamu bisa masuk angin" ucap Alex dari depan pintu.
"Iya"
Sudut bibir Aira terangkat, ia tersenyum.
'Kalau dipikir-pikir pak Alex perhatian ya?'
Aira ingat tadi Alex pasti mengejarnya sampai dirumah Mira dengan khawatir.
Membayangkan wajah cemas Alex saja sudah membuat pipi Aira merona.
"Hihi..Pak dosen suamiku" gumamnya.
Puas berendam air hangat, Aira pun meraih sebuah handuk berwarna purple miliknya yang disediakan dikamar mandi.
Ia pikir akan lebih baik kalau memberi Alex sebuah balasan atas perhatiannya, yaitu dengan menjadi istri yang baik.
Cklek.
Aira membuka pintu kamar mandi dan mendapati Sang suami tertidur lelap.
Ia melangkah mendekati Alex, lututnya menyentuh lantai dan tangannya menompang dagu ditepi tempat tidur.
"Kecapean ya?" Aira menoel-noel pipi Alex.
__ADS_1
"Kasian banget ya suamiku" kekehnya.
Aira menatap wajah lelap Alex, tangannya mengelus lembut rambut Alex.
"Pak Alex kalau tidur ganteng ya, keliatan goodlooking" puji Aira.
"Anak kita juga nantinya goodlooking" saut Alex dengan mata tertutup.
Aira membelalakkan mata, ia terperanjat dari tempatnya.
"Se-sejak kapan bapak bangun?!" ucapnya gelagapan.
Alex membuka matanya lalu tersenyum menampakkan gigi.
"Dari kamu keluar kamar mandi" ucapnya polos.
"Hah?! Be-berarti-"
'Mampus?! Dia denger dong apa yang gue omongin'
"Kasian banget suamiku" Alex meniru cara berbicara Aira.
Aira langsung kalang kabut dibuatnya.
"Berarti apa hum?"
Alex duduk, kedua tangannya menompang dagu, terlihat imut.
'Pak Alex kesambet apa sih?
Aira menggeleng pelan.
"Bukan apa-apa" ucapnya.
Alex mangut-mangut.
"Gitu ya?"
"I-iya!"
Sebenarnya Alex hanya menutup mata, ia tidak tidur. Kesimpulannya apa Alex mendengar semuanya? Tentu!.
"Kamu masih pakai handuk loh Ra"
Alex menunjuk tubuh Aira yang masih berbalut handuk, lagi-lagi Aira sembrono! Bukankah yang seperti bisa membangunkan singa yang kelaparan?.
"Yaampun lupa" Aira berjalan mundur sambil menutupi tubuhnya.
"Mau kemana? Ganti disini aja"
Aira memelototi Alex.
"Apa maksud ngomong gitu?"
Alex menaikkan bahu.
'Sengaja nih pasti bikin gue salting'
Aira berdiri didepan pintu kamar mandi, bagaimana sekarang? Bagaimana cara mengganti baju?.
Sesekali matanya melihat Alex yang duduk santai.
"Ganti aja, saya tutup mata nih" ucap Alex.
'Jangan mau tertipu daya Aira'
"Aira" panggil Alex.
Aira mengabaikannya, wanita itu tetap kekeh berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Aira Alkeyna, saya kesana atau kamu yang kesini" ucapnya.
"Gak mau" tolak Aira.
Jujur wajah takut Aira sangat lucu, sudah kedinginan tapi tetap kekeh menolak. Rasanya Alex akan menariknya ke atas tempat tidur sekarang juga.
Alex berdecap, begitu Alex bangkit Aira mundur satu langkah.
"Ma-mau ngapain?!" ucapnya was-was.
'Fiks kayak gini dipending dulu mau jadi istri yang berbakti'
'Ta-tapi dosa kan ya?'
"Mau pakaikan kamu baju" celetuknya.
Aira menyipitkan matanya, mulai berjaga jangan sampai Alex mendekatinya.
Lihatlah betapa seriusnya Aira menanggapi ucapan Alex.
"Sudah cepat ganti baju saya gak lihat" ucap Alex mengalah.
Tidak tega mengerjai Aira yang sudah kedinginan.
"Yang bener?!"
Alex mengangguk lalu berbalik badan menutup matanya. Aira bergegas mencari sebuah piyama dan memakainya.
Sorot matanya mengawasi gerak-gerik Alex.
"Padahal saya juga sudah lihat semuanya" ceplos Alex.
__ADS_1
Hei bisa tidak bapak Alex yang terhormat diam sebentar dan biarkan Aira memakai piyama dengan damai.
'Nyebelin banget mulutnya!'