
Aira sudah selesai mandi dan membersihkan rambutnya, moodnya baik hari ini, rasa letihnya hilang begitu saja. Aira mengunakan handbody dan wewangian lainnya, agar tercium oleh Alex.
Ia sangat bersemangat, ia akan tampil cantik dihadapan Alex. Polesan make up tipis, tapi tetap terlihat make upnya.
"Udah cantik kan ya?" Monolog Aira.
"Oke! Ayo berangkat sekarang!" Ucapnya bersemangat.
'Hubungan gue sama pak Alex harus lebih baik!'
Aira bertekad dalam hati.
Ia menuruni anak tangga sambil bersenandung, kalau digambarkan mungkin ada bunga bunga diatas kepalanya saat ini.
Alex duduk disofa ruang tamu sambil menyesap kopi buatan pembantu.
"Pak ayo berangkat" ucap Aira.
Pria itu menoleh, Aira memang pintar mencari perhatian, Alex melihat wanita dihadapannya dari atas sampai bawah. Aira terlihat sangat cantik.
Aira menyelipkan rambutnya kebelakang telinga sambil tersenyum.
"Kenapa pak?" ucapnya pura-pura tidak mengerti.
Alex enggan menjawab, pria itu menaruh gelasnya lalu berjalan keluar rumah.
'Bukan masalah Aira..Ini masih masa percobaan' ucapnya dalam hati.
Ia segera menyusul Alex, ayah mertuanya pergi bekerja sedangkan ibu mertua pergi ketoko rotinya. Aira masuk kedalam mobil, percayalah senyuman dari wajahnya tidak luntur sama sekali, mungkin orang yang melihatnya akan menganggap Aira gila.
'Duh tiba-tiba semua jadi cerah'
Mobil mereka sudah melaju, Aira tidak mengerti kenapa Alex betah menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak bicara sepatah katapun, apa penampilannya ini tidak menarik?.
Aira melihat keluar jendela, ia baru sadar kalau belum mengisi apapun diperutnya, ia lapar.
"Pak"
"..."
"Mampir ke minimarket ya?"
Alex seperti mengabaikan tapi ia tetap membelokkan mobilnya kesebuah minimarket, Aira geli hati melihat sikap Alex.
'Ahaha masih sayang istri ternyata' batinnya.
Aira turun dari mobil dengan berlari kecil, awalnya Aira kira Alex tetap didalam mobil ternyata pria itu ikut turun. Aira menahan tawa saat melihat wajah Alex yang dingin.
"Selamat datang, selamat belanja" ucap pegawai minimarket.
Aira menuju rak roti, ia mengambil tiga bungkus roti sandwich dan susu, matanya melirik Alex yang terus mengekorinya.
'Ayo ngomong dong'
"Pak mau ini boleh?" Aira menunjuk snack pedas yang ada dirak atas.
Aira terus menerus memancing mulut Alex agar bersuara, ia menunggu jawaban pria itu.
"Pak?"
"Ini masih pagi, jangan makan itu" ucapnya dingin.
Aira tersenyum menang.
"Oooh oke, ini aja kalau gitu"
Didalam mobil.
Aira mengunyah rotinya dengan penuh kebahagiaan, kita lihat saja sampai kapan Alex tahan tidak berbicara dengan Aira.
Sesekali Alex melirik roti didalam plastik yang dipangku Aira, ia juga belum mengisi perutnya pagi ini. Aira langsung peka, ia membuka roti sandwich lainnya lalu menyodorkannya pada Alex yang tengah menyetir.
"Bapak belum sarapan loh" ucapnya.
"Tetep nyetir biar saya yang suapin sandwichnya" ucap Aira.
Mau tidak mau Alex menurut, ia membuka mulutnyan pandangannya tetap fokus pada jalanan.
"Bener gak ini roti kesukaan bapak? bunda pernah bilang sih ke Aira" ucapnya.
Aira terus berbicara sendiri seperti orang gila. Mobil mereka sampai dirumah yang akan ditempati mereka, keduanya turun. Pandangan Aira mengedar keseluruh rumah.
'Ini beneran rumah yang waktu itu gue liat?'
'Jadi tambah bagus'
"Pak saya lihat kedalam ya?"
Aira masuk kedalam rumah dan kamar tidur, ia membuka lemari baju, sudah ada pakaian Aira lama dan yang baru dibeli.
"Nyaman banget" gumamnya.
Ia melihat ada empat ruang tidur, bukankah kemarin Alex bilang cuma tiga? Kenapa sekarang empat. Aira menghampiri Alex yang ngobrol dengan seorang tukang.
__ADS_1
"Woah, ini istrinya ya pak?" ucap pria parubaya itu.
Aira mengangguk lalu tersenyum simpul, karena senyum lebarnya hanya untuk sang suami.
"Saya Aira pak"
Si tukang mengangguk.
"Oo iya buk, kalau begitu saya permisi dulu ya pak..Buk" ucapnya lalu pergi.
Sekarang waktunya Aira bertanya.
"Pak dilantai satu ada dua kamar, dilantai dua juga gitu..Bukannya bapak bilang cuma ada tiga ya?" tanya Aira.
"Saya tambah satu kamar" begitu singkat jawaban Alex.
"Oooh"
"Tapi kamar sebanyak itu buat apa?"
Tanya Aira lagi.
"Tamu"
Tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikirannya, mungkin ini bisa menjadi cara agar Alex bicara dengan baik, tidak setengah-setengah seperti awal menikah.
"Yaudah saya tidur dilantai satu ya" ucapnya.
Tenang ini hanya karangan, mana berani Aira tidur sendirian dirumah baru.
Tidak ada respon dari Alex, Airapun mengambil langkah selanjutnya, ia menaiki anak tangga hendak kekamar mereka.
"Saya pindahin baju-baju saya kamar bawah, saya takut ngeganggu bapak" ucapnya.
'Mempan please'
Satu langkah menaiki anak tangga, masih tidak ada respon, dua langkah juga sama, dan langkah ketiga barulah Alex bersuara.
"Tetap dikamar kita, jangan kekanak-kanakan" ucapnya.
'Ululu suamiku'
Aira pura-pura kecewa.
"Ck...yaudah"
Tiba-tiba Alex menggenggam tangannya, sontak Aira menatap wajah pria itu.
Aira menggeleng cepat, matanya berbinar-binar sangking senangnya.
"Kita mau kemana?" tanya Aira.
"Kerumah mama" jawab Alex.
Aira kembali bersemangat, ia mengeratkan genggaman tangan Alex, lalu sengaja menariknya agar tubuh Alex mendekat padanya.
Cup..
Satu kecupan mendarat dipipi Alex, ya! Itu ucapan terima kasih untuk Alex.
"Ayo berangkat" serunya seolah-olah tidak terjadi apapun.
Tapi lain halnya Alex, ia malah mematung ditempat, sangat sulit menahan diri karena penampilan Aira, sekarang malah dipancang lagi.
"Ayo?"
Alex menarik Aira lebih dekat lalu menangkup kedua pipinya dan...
Cup
Alex mencium tepat dibibir Aira, wanita itu melotot kaget dengan pergerakan tiba-tiba Alex.
Aira rasanya ingin lompat dari atap rumah tapi diurungkan, ia belum siap mati muda hanya karena dia tidak mau mati konyol.
Alex mencium Aira selembut mungkin, menyalurkan rasa rindunya akibat mendiamkan wanita itu, sontak Aira mengalungkan tangannya dileher Alex, tak lupa menutup pintu rumah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aira senyam-senyum sambil memijat-mijat jari jemari Alex, sedangkan tangan Alex satunya dipakai untuk menyetir.
Wah! Kelihatannya mereka sudah berbaikan, lihatlah tidak ada pembatas diantara mereka lagi, wajah Aira berseri-seri, tidak sia-sia apa yang ia lakukan.
"Pak~" ucapnya manja.
"Hm?"
"Jangan lupa beli buah tangan buat mama, mama suka yang manis-manis, kalau papa suka apa aja" ucapnya.
"Suka apa aja?"
Aira mengangguk.
"Soalnya apapun yang saya kasih papa terima" ucapnya.
__ADS_1
Alex mangut-mangut.
Mobil mereka berhenti dipekarangan rumah Aira, mereka juga sudah mampir membeli buah tangan untuk Iren dan Adrian.
Aira memencet bell rumah, tak lama muncullah si mbak, pembantu rumah.
"Ehh mbak Aira sama si mas" ucap si mbak.
"Mama mana mbak? Kak mawar masih disini kan?"
Pembantu mengangguk.
"Ada mbak, ayo masuk"
Aira bergegas masuk, tapi ditarik Alex.
"Bareng saya" perintahnya.
Aira menyenger, terlalu bersemangat sampai lupa suami sendiri.
"Yaampun anak mama sama menantu mama datang!!" ucap Iren girang.
Ia berlari memeluk Aira sambil menangis haru, Adrian memeluk Alex.
"Huhuu mama kangen bangett" ucap Iren.
"Aira juga maa"
Keduanya berpelukan erat sambil menangis, kaum laki-laki hanya terheran melihat mereka.
"Papa dengar kalian mau pindah kerumah baru hari ini?" tanya Adrian pada Alex.
"Iya pa, tadi lihat rumah dulu baru kesini" ucapnya.
"Gimana tanggapan Aira soal rumahnya?"
"Alhamdulilah suka pa, sampai seluruh tempat digeledah"
Para pria becengkerama santai.
"Ayo sini duduk" ucap Iren.
"Alex, mama mau tanya boleh?" ucap Iren.
Mereka sekarang duduk bersama.
"Boleh ma"
Aira menatap curiga ibunya, firasatnya buruk untuk pertanyaan yang akan disampaikan ibunya.
"Aira rewel gak?"
'Pertanyaan macam apa itu mama?!'
Alex tertawa kecil.
"Enggak kok ma, Aira nurut"
Adrian menyenggol lengan istrinya.
"Jangan gitu ma, anak kita udah gede, malu nanti" ucap Adrian.
Aira mengacungkan jempol pada papanya.
"Ih bercanda papa" ucap Iren.
Mereka lanjut berbincang-bincang, Aira cuma diam mendengarkan suaminya dan orang tuanya berbicara, karena apa? Iren tidak mengizinkannya buka suara sejak tadi, setiap Aira ingin bicara selalu dipotong.
'Sebenernya gue apa Alex sih anak kandungnya'
Mawar tiba-tiba datang, ikut bergabung dengan mereka.
"Eh ada tamu" ucapnya.
Aira langsung memeluk saudarinya.
"Aduh kakakku yang kucel.." ucapnya sambil berpelukan.
Mawar memukul lengan Aira.
"Sembarangan aja kucel! Beruntung ya kamu lagi ada Alex, kalau gak udah kakak cekek-cekek kamu"
Astaga apa Mawar ini psikopat, kenapa begitu kejam padanya.
"Jangan dong War, nanti siapa yang ngasih ponakan buat kamu?" Sambung Iren.
Mawar tertawa, Aira menatap ibunya.
"Apa? mama bener kan lex?"
Alex mengangguk.
'Dasar mama!'
__ADS_1