Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-148


__ADS_3

"Morning kiss" ucap Aira.


Alex dengan senang hati mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir.


"Sekarang waktunya bangun dan sarapan" ucap Alex.


Aira mengangguk, kemudian merentangkan tangannya dengan manja. Wanita itu meminta Alex yang membangunkannya.


"Angkat akuu~" ucapnya manja.


Alex tersenyum, ia mengankat tubuh Aira supaya duduk tegak. Aira tersenyum puas, tangannya menyentuh pipi Alex.


"Boleh tidur lagi gak habis makan?" tanya Aira dengan takut- takut.


Alex merapikan rambut Aira.


"Hum..Boleh, kamu harus banyak istirahat sebelum ke bandara, perjalanannya jauh" ucap Alex.


Aira menaikkan tangan kanannya ke dekat dahi, ia sedang memberi hormat pada Alex yang menandakan ia siap dan mengerti.


"Pinter..Ayo cuci muka" ajak Alex.


Alex mengantar Aira masuk kekamar mandi, ia tidak langsung keluar, melainkan mengambil alih sikat gigi Aira dan meminta wanita itu diam saja agar ia yang membantu Aira menyikat gigi dan membasuh wajahnya.


"Aku bisa kok mas" ucap Aira.


"Mas ada bilang kamu gak bisa?"


Aira menyengir.


"Jangan nyengir" ucap Alex.


Aira menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Jelek ya?" tanyanya.


Alex tertawa kecil, ia menurunkan tangan Aira yang menutupi mulutnya dan..


Cup..


"Mas gemes liatnya" ucap Alex setelah mencuri kecupan.


Aira memukul dada Alex dengan salah tingkah.


"Gombal terus"


"Tapi buat pelet kamu" ceplosnya.


"Haram pakai pelet" ucap Aira.


Alex tertawa, ia membenarkan posisi Aira agar sepenuhnya menghadap kepadanya. Ia mengambil handuk kecil agar baju Aira tidak basah, Alex bergerak menghidupkan air kran lalu menampung sedikit ditangannya.


"Kalau sama istri sendiri halal" ucapnya sembari tersenyum manis.


Ia mulai membasuh wajah Aira dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, Aira menutup matanya sambil senyam-senyum,


Aira tentu sangat senang, ia merasa bahagia dengan perilaku manis sang suami.


'Sebucin ini pak Alex sama gue ≧∇≦'


'Haha liat semontok apa saingan gue diluar sana gak akan bisa ngalahin gua yang gemoy dimata sayang Alex..Aaa makin cinta!'


Aira terus tersenyum hingga Alex menyeka bersih air diwajahnya.


Alex menahan tawa melihat sang istri yang keliatannya memikirkan sesuatu yang seru, dengan jahil Alex mendekatkan bibirnya ke telinga Aira.


"Mamanya bayi lagi ngebayangin apa hum?" bisik Alex.


Aira tersentak kaget, ia membuka matanya sambil melotot. Alex didepannya cekikikan.


'Astagfirulloh udah selesai dari tadi nih?!'


Wajah Aira merah padam.


"Kamu udah mau punya anak masih suka ngebayangin mas ya?" ledek Alex.


Aira menggeleng cepat.


"Bu-bukan gituu-Aku-Aku ngebayangin yang lain" elaknya.


Alex mengerutkan dahinya.


"Yang lain?"

__ADS_1


Aira mengangguk


'Gue ngomong apa sih? Ngelantur banget'


"Maksudnya yang lain gimana?"


"E-Eee- anuu.." Aira gelagapan.


"Hum?"


Aira bingung harus menjawab apa, sedangkan dia hanya sembarang bicara. Ia yakin Alex berpikir yang tidak-tidak.


"I-itu-"


Tok...Tok...Tok...


Keduanya menoleh kearah pintu kamar mandi. Aira lalu melihat Alex.


'Thanks Allah! Selamat gue'


"Kayaknya Mama" ucap Aira.


Tanpa basa basi Alex keluar kamar mandi, melangkah ke pintu kamar untuk membuka pintu.


Di sisi lain Aira mengusap dadanya sambil menghela nafas.


"Huft..memang ya keberuntungan gue itu ada aja"


Ia cekikikan.


"Hihi Sarangheo buat yang ngetuk pintu"


"Ikut mas ah~"


Alex membuka pintunya dan terlihatlah si mbak Rina dengan senyuman lebarnya.


"Eh mbak, kenapa?" tanya Alex polos.


"Tuan sama Nyonya udah nunggu mas sama mbak buat sarapan dibawah" ucap bibi.


Ya tuhan!


Sekarang Alex ingat.


Sebelum dia masuk kamar, ia bilang akan kembali ke meja makan bersama Aira setelah membangunkannya.


Bibi tersenyum ambigu.


"Yo gakpapa mas, tuan sama nyonya paham kok, yang penting kalian turun buat sarapan..begitu kata mereka" ucap bibi.


Alex terdiam melihat reaksi bibi.


Sudah terbukti.


Mau itu majikan ataupun pembantu, semuanya memiliki sifat sama. Hanya Alex yang suci dan polos namun berparas mempesona.


Siapapun tolong selamatkan Alex dari keluarga aneh Aira sebelum ia terkontaminasi.


Ah sayang sekali, Alex sangat mencintai wanita seperti Aira.


"Pagii mbak~" sapa Aira.


Kepala wanita itu menyembul dari balik pintu. Wajahnya yang tersenyum lebar nampak cerah seperti sinar matahari pagi.


"Pagi Mbak Aira.." saut bibi.


"Yasudah saya permisi dulu mas mbak"


"Iya"


Mbak Rina pergi.


"Ayo turun" ucap Alex menoleh pada Aira.


"Hah?"


"Mas lupa tadi mau sarapan banget..Gara-gara kamu" ucap Alex.


Aira melongo.


'Kok salah gue?'


"Dia yang pikun aku yang salah" gumam Aira.

__ADS_1


Keduanya keluar dari kamar menuju meja makan. Ternyata kedua mertuanya menunggu dan belum memulai sarapan.


Alex mengusap belakang lehernya, tak enak hati.


"Nah ini mereka..Ayo duduk" ucap Iren.


Alex dan Aira duduk bersebelahan.


"Nungguin kita ya?" tebak Aira.


"Iya..Tapi gakpapa kemauan mama kok..santai aja ya Lex" ucap Iren.


Alex tersenyum simpul.


"Ayo makan keburu dingin, Aira kamu makan yang banyak nak" ucap Adrian penuh perhatian.


"siap papa~"


Alex tersenyun melihat Aira.


Makan pagi pun dimulai, mereka juga berbagi cerita disela- sela makan sebagai penghibur.


"Mbak tolong ya" ucap Iren pada pembantunya.


Mereka sudah selesai sarapan.


"Aira apa ada yang sakit atau gejala-gejala lain?" tanya Iren.


Aira memiringkan kepalanya sedikit.


"Cuma ngilu- ngilu doang sih ma" ucapnya.


"Gak ada yang lain?"


Aira menggeleng.


"Ah gitu..Berarti sekarang empat hari lagi ya Ra, kapan mau berangkat buat nginep disana?" Iren beralih ke Alex.


"Dua hari lagi Ma" ucap Alex.


Iren mangut-mangut, ia melihat jam yang ada dilayar handphonenya.


"Pa kita otw ke bandara jam berapa?" tanya Iren.


"Jam sepuluh, sampai dibandara jam sebelah lewat, jadi bisa istirahat sebentar"


Ucap Adrian.


"Alex bawa mobil sendiri kan?" tanya Adrian.


Alex mengangguk.


"Nanti anaknya Kak Hendra bisa masuk mobil Alex aja pa" ucapnya.


Aira setuju.


"Kita bawa dia jajan ya mas pas direst Area jalan tol" ucap Aira bersemangat.


"Iyaa.."


Perjalanan ke bandara memakan banyak waktu, dari rumah mereka kurang lebih sekitar satu jam lebih.


"Pasti cucu Mama kecapean banget" gumam Iren.


"Ma nanti boleh gak dia dikamar aku aja tidurnya?" tanya Aira tiba-tiba.


Semua mata tertuju padanya.


"Kamu ini ada-ada aja.. Si Mbak udah siapin kamar kok.."


"Iyakan gak papa ma dia dikamar aku, auntynya" ucap Aira.


"Eh kamu tuh lagi hamil..nanti kalo anaknya kakak kamu tidur sama kamu, dia keganggu dan gak nyenyak, apalagi kamu sering kebangun tengah malam" ucap Iren.


"Enggak, Aira janjiiii"


Adrian menyentuh lengan istrinya Meminta untuk mengiyakan saja permintaan putrinya.


"Iya..Kita liat dulu anaknya mau apa tidak" ucap Adrian.


Aira tersenyum.


"Pasti mau, iya kan mas?" ia menoleh ke suaminya.

__ADS_1


"Hum.."


Alex tersenyum lalu mengelus kepala Aira.


__ADS_2