Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-132


__ADS_3

Didalam kamar suasana sangat canggung, Alex berdiri didekat ranjang Gilan.


"Gimana kondisi kamu?" tanya Alex.


"Yah..Lumayan baik, seperti yang bapak liat" ucap Gilan.


"Syukurlah..Saya gak dihajar sampai mati" lanjutnya.


"..."


Gilan membenarkan posisi duduknya. Ia menatap Alex.


"Saya tersanjung bapak mau datang kemari, walaupun, pasti Aira yang minta" ucap Gilan.


"Saya yang mengajak Aira" jawab Alex.


Gilan tertawa kecil.


"Gitu ya.."


Gilan menghela nafas.


"Aira itu perempuan yang baik.."


Alex melihat Gilan.


"Dia cantik, dan lucu.. ditambah dia gak pernah punya pikiran buruk sama orang lain, dia percaya sama siapapun, terlebih suara nyaringnya itu..Sifat Aira yang buat saya tertarik.." ucap Gilan.


Alex diam mendengarkan pria itu.


"Tapi kami memang ditakdirkan untuk tidak bersama..Saya kalah, meskipun saya yang lebih dulu dekat Aira.." ucapnya.


"Kamu salah" potong Alex.


Gilan menyatukan alisnya.


"Maksud bapak?"


"Kamu salah kalau menganggap diri kamu yang lebih dulu dekat Aira.."


"Jadi bapak yang lebih dulu? Gitu?"


Alex mengangguk tanpa ragy.


"Saya dan Aira sudah dekat dari kecil.."


Gilan menatap tak percaya.


"Mungkin Aira tidak ingat, tapi saya sudah lama mengangguminya, pernikahan kami juga ide saya.." lanjut Alex.


"Jadi..?"


"Bisa dibilang saya sudah menandai Aira milik saya sejak dulu"


Gilan menggeleng tak habis pikir.


"Haha..." tawanya.


"Ternyata Aira memang punya orang yang bakal sayang sama dia" ucap Gilan.


Alex mengangguk.


Gilan diam beberapa saat, tiba-tiba Alex mendekat lalu mengulurkan tangannya.


"Kita sudahi saja" ucap Alex.


Gilan mendengus.


"Huh...Sulit diakui tapi.." Gilan menggantung kalimatnya.


Ia membalas uluran tangan Alex sambil tersenyum.


"Bapak yang menang" ucapnya.


Alex tersenyum.


"Entah ini pantas atau gak, saya harap bapak bisa mendengar permintaan saya"


Alex mengangguk.


"Buat dia bahagia, jangan biarin Aira nangis, buat dia selalu tersenyum, karena saya gak akan tinggal diam kalau Aira kenapa-napa, Aira tetap wanita yang saya sukai..Sekali lagi tolong jaga Aira.."


"Hei.." panggil Alex.


"Permintaanmu itu, terlalu berlebihan, tentu saya akan menjaga istri saya, tanpa kamu minta" ucap Alex.


Mereka melepas jabatan tangan.


"Ya saya tau..Tapi saya tetap bilang" ucap Gilan.


"Baik..Saya juga minta maaf soal kemarin"


Gilan mengangguk.


"Dan satu lagi, saya harap kamu bisa bersama perempuan tadi" ucap Alex.


Gilan tertawa.

__ADS_1


"Supaya saya tidak menganggu Aira?"


"Hum, pola pikir setiap manusia pasti bisa berubah..hanya untuk jaga-jaga, lebih baik memilih pendamping baru kan? Perempuan yang tadi juga cantik" ucap Alex.


Sial Alex tengah mengejeknya.


'Dia pikir gue laki-laki macam apa'


"Buktinya dia mau menjaga kamu yang hampir cacat" cibir Alex.


"Cih..Hampir cacat apanya.." sinis Gilan.


"Intinya jangan coba-coba mencari celah dalam hubungan saya" ucap Alex.


"Kalau ada peluang jangan disia-siakan pak" gumam Gilan.


Alex memegang tangannya.


"Seharusnya saya hajar kamu sampai mati" ucapnya dingin.


"Tenang, bapak bisa pegang ucapan saya" ucap Gilan.


Tok..Tok..


Keduanya menoleh kearah pintu.


"Boleh kami masuk?"


Itu suara Aira.


"Gilan ingat, saya dan Aira sudah bahagia bersama" ucap Alex.


Gilan terkekeh, ia memukul lengan Alex.


"Astaga..Saya tau pak, saya dan Aira sekarang hanya teman" ucapnya.


Alex menatap Gilan penuh ketidak-percayaan.


"Masuk aja Ra" ucap Gilan.


Cklek..


Aira masuk bersama Nana. Ia mendekat lalu menggandeng lengan Alex.


"Udah selesai ngobrolnya?" tanya Aira.


Alex mengangguk.


"Untung kalian datang, pak Alex mau hajar aku lagi" ucapnya.


Aira membulatkan matanya.


"Dia bohong" ucap Alex.


Gilan tertawa melihatnya.


"Lo mau makan lagi Gi?" tanya Nana.


Gilan melihat Nana, gadis itu merapikan selimut Gilan.


"Gak usah Na, masih kenyang" ucap Gilan.


Aira yang melihat hanya bisa meringis.


"Mereka balikan" bisik Aira pada Alex.


"Siapa?"


"Mereka berdua" ucap Aira.


Alex menarik sudut bibirnya.


'Pantas Gilan tidak menghindar waktu aku bilang perempuan itu cocok untuknya'  ucap Alex dalam hati.


"Eum..Kak Gilan, Nana, kita duluan ya?" ucap Aira.


Gilan mengangguk.


"Makasih ya Ra" ucap Gilan.


"Hati-hati dijalan ya Ra" sambung Nana.


"Aira tunggu sebentar" bisik Alex.


Aira menatap bingung Alex.


"Mau ngapain?"


Alex bukannya menjawab, pria itu malah mengalungkan tangannya dipinggang Aira.


'Woilah mau ngapain ini?!'


"Mas mau ngapain?!" panik Aira.


"Gilan" panggilnya.


"Sebenarnya alasan lain,saya sangat kesal waktu itu..karena Aira sedang hamil.." ucapnya.

__ADS_1


Gilan membulatkan matanya, begitu pula Nana.


"Ha-hamil?!" ucap keduanya serentak.


'OMG PAK ALEX?'


"Ra kamu hamil?" tanya Nana.


Aira dengan salah tingkah mengangguk.


"Oh my god! Gilan.." ucap Nana melihat Gilan.


Aira melirik Gilan, pria itu shock.


"Saya khawatir Aira kenapa-napa karena dia lagi hamil, sampai disana dia malah kamu peluk" ucap Alex.


Diluar dugaan Aira, ternyata Gilan tersenyum.


"Saya gak tau kalau Aira hamil, selamat ya" ucap Gilan.


Aira mengangguk.


"Cuma itu yang mau saya bilang, kami permisi" ucap Alex, ia membawa Aira keluar dari kamar Gilan.


"Ki-kita pulang dulu yaa" ucap Aira didepan pintu.


Nana mengangguk.


"Ayo Aira" ucap Alex.


Blam..


Pintu tersebut tertutup kembali, Nana melirik Gilan.


"Gue tau lo pasti shock berat..Lo oke kan Gi?" tanya Nana.


Gilan menggeleng.


"Enggak..Gue gakpapa, gue udah ikhlas" ucapnya.


Nana mangut-mangut.


'Sebenarnya Gilan inget gak sih kemarin ngajak gue balikan pas dirumah sakit?'


Gilan meraih tangan Nana lalu menggenggamnya. Nana tersentak kaget.


"Gi?"


"Gue sekarang punya lo, gue janji Na gak akan ninggalin lo lagi.." ucap Gilan.


Nana menahan senyumannya.


"Maaf gue yang dulu langsung putusin lo, gue sadar betapa bodohnya gue.."


"Lo maukan maafin gue"


Nana terharu, akhirnya Gilan tau, bukan Nana yang salah. Dari dulu semua itu hanya kesalahpahaman.


Dan dia bisa bersama lagi dengan Gilan.


"Gue maafin lo kok..Tapi gak semudah itu" ucap Nana.


Gilan mengerutkan dahinya.


"Tunggu setelah lo baikkan, biar gue hajar lagi, baru bisa gue maafin" kekeh Nana.


Gilan mengacak-acak rambut Nana.


"Iya gue gak keberatan, apapun itu buat nembus kesalahan gue"


Nana mendesis, ia memukul dada Gilan.


"Alay" ucapnya.


"Akh..Sakit" pekik Gilan.


"Mampus"


"Gue masih menjabat Presma Na, lo mau gue hukum?" ancam Gilan.


"Gak takut" tantang Nana.


Gilan memeluk Nana.


"Kita mulai dari awal lagi ya?"


Nana membalas pelukan Gilan, ia mengangguk.


"Ngomong-ngomong..Gimana kita jelasinnya ke Mama?" tanya Nana.


Orangtua Gilan dekat dengan Nana, mereka juga tau hubungan keduanya telah kandas. Mama Gilan marah besar waktu itu, tidak heran karena wanita itu sangat menyayangi Nana.


Kemarin saat tau Nana ada dirumah sakit kedua orangtua Gilan kaget dan melihat Nana penuh tanya.


Gilan mengusap punggung Nana.


"Tinggal Bilang kita balikan"

__ADS_1


"Lo yang jelasin dari awal ya..Gue gak mau" ucap Nana.


"Aih..Bawelnya Nana~" ucap Gilan.


__ADS_2