
Mereka segera berangkat kerumah sakit, hanya Yana yang ada dirumah bersama kedua anaknya.
Wajah Alex cemas, dahinya dipenuhi keringat saat melihat Aira yang sedang meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.
Ia menggengam tangan Aira erat-erat.
Rintihan demi rintihan terdengar keluar dari mulut Aira.
"Mas ... sakit." Alex tidak tega melihat istrinya yang terus merintih. Dia berusaha menenangkan meski dia sendiri sedang cemas saat ini.
"Iya sayang, kamu harus kuat"
Ia berusaha menahan sakitnya rambut yang dijambak Aira, wanita itu juga memukul dan mencakarnya.
Ketika sampai di rumah sakit, Aira langsung dibawa ke ruang bersalin. Alex pun setia menemani. Dokter segera melakukan VT(Varginal Touch) untuk mengecek jalan lahir.
"Sudah lengkap." ucap Dokter.
Alex tidak paham maksud ucapan dokter itu karena sedang merasakan tangannya yang begitu sakit karena terkena kuku istrinya.
Di saat bibir Aira mengerang, di saat itu pula tancapan kuku itu semakin dalam. Namun, Alex mencoba tetap diam.
"Suaminya harus disebelah istrinya ya, kasih dukungan istrinya"
Alex mengangguk kaku, jantungnya berdetak kencang, ia keringat dingin.
"Ayo, Sayang. Aku yakin kamu pasti bisa." Alex berusaha menyemangati.
Semua perawat dan dokter sudah berkumpul diruang persalinan.
"Sakit, Mas." Aira menggeleng. Rasanya ingin menyerah karena rasa sakit itu benar-benar luar biasa.
"Ayo ibu tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan" tutur sang dokter.
Aira menarik nafas lalu menghembuskannya, tangannya masih setiap menjambak rambut Alex.
Pria itu memejamkan mata, perasaannya campur aduk, takut, sakit, dan bahagia.
"Ayo kepala bayi sudah mau kelihatan." Dokter pun berusaha memberi semangat, sambil memandu Aira untuk mengejan.
"Hiks..sakitt"
"Ayo ibu pasti bisa"
"Suaminya jangan tutup mata ya" ucap dokter.
Alex membuka matanya.
"Sayang, sebentar lagi anak kita bisa melihat dunia, kamu harus kuat" ucap Alex.
Ia mencium pipi Aira, wajah istrinya penuh keringat, urat-urat wajahnya nampak jelas.
'Ya allah selamatkanlah anak istriku, semoga keduanya baik-baik saja'
Ketika Aira mengejan ketiga kali, terdengar suara bayi memenuhi ruangan itu. Mereka pun bernapas lega. Alex tersungkur lemas kelantai.
"Alhamdulilah.." ucapnya.
Ia bisa lega sekarang, Aira berhasil.
"Selamat bapak, ibu anak kalian perempuan"
Alex bangkit menatap penuh kasih sayang pada Aira, ia menciumi kening Aira berkali-kali. Merasa bahagia karena Aira berhasil melahirkan dengan selamat.
Tak lupa senyuman manis untuk sang istri.
"Kamu berhasil Aira, terima kasih banyak"
"Terimakasih, terimakasihh" ucap Alex.
Ia memeluk Aira, menyembunyikan tangis bahagianya.
"Mas.." panggil Aira.
"Iya sayang?"
"Mas-"
Belum selesai Aira berbicara dokter sudah memotongnya, mereka harus segera membersikan Aira setelah melahirkan tadi.
Alex keluar dari ruang bersalin, diluar sudah ada mertua dan kakak iparnya yang menunggu.
"Ma, pa"
Iren memeluk Alex dengan erat, wanita itu sudah banjir air mata.
__ADS_1
"Ma Aira berhasil" ucap Alex.
"Hiks iya nak, terimakasih, terimakasih" ucap Iren.
Adrian pun bergantian memeluk Alex.
"Anak Alex perempuan pa" ucap Alex.
"Selamat ya nak, papa bangga sama kalian berdua"
Suasana haru menyelimuti.
"Alex selamat ya" Hendra menyalami adik iparnya, ia tersenyum bangga.
"Terimakasih bang"
"Abang beliin minum ya..Kamu masih shock pasti" ucap Hendra.
"Iya tolong belikan buat Alex, kasihan ini badannya dingin banget, shock udah jadi papa" canda Iren.
Hendra mengangguk lalu pergi.
"Duduk dulu dini nak" Iren membantu Alex duduk.
Ia merapikan rambut Alex, matanya tertuju pada tangan menantunya yang penuh luka cakaran.
"Ini mama obatin ya?" tawar Iren.
Alex menggeleng.
"Gak papa ma, nanti sembuh juga.." tolak Alex dengan sopan.
"Sakit?" tanya Adrian.
Alex menggeleng, sakitnya tidak seberapa dibandingkan istrinya yang bertaruh nyawa demi melahirkan putri kecilnya.
"Bagus, begitulah seorang suami" ucap Adrian.
"Harus kuat"
Alex tersenyum simpul.
Beberapa saat kemudian, Aira sudah dipindah ke ruang rawat. Alex terus memandangi wajahnya dengan tatapan dalam.
Mereka hanya berdua, yang lainnya pulang dan akan kembali malam. Bukan atas kemauan mereka, tapi itu kemauan Alex, ia meminta mertua dan orangtuanya untuk istirahat dan datang lagi nanti.
"Hum?"
Aira belum ada tenaga sama sekali, sekujur tubuhnya terasa sakit.
"Terimakasih" ucapnya.
Aira mengangguk.
"Iya mas, mau berapa kali mas bilang gitu" ucap Aira sedikit tertawa.
"Mas terlalu senang, sekarang udah jadi orang tua" ucap Alex.
"Papa Alex, tadi nangis ya?" rayu Aira.
Alex menyembunyikan wajahnya dilengan Aira, ia malu.
"Mas takut kehilangan kamu" ucapnya.
"Sekarang aku udah gakpapa mas"
Aira mengusap kepala pria itu.
"Mas minta maaf" ucap Alex tiba-tiba.
Matanya berkaca-kaca, Aira mengerutkan dahi.
'Kenapa lagi nih lakik gue'
"Mas gak jadi minta lima anak..Cukup putri kita ini aja" ucapnya.
Aira kaget, wajah Alex yang memelas juga terlihat menggemaskan. Aira menyemtuh dagunya.
"Kenapa gitu? bukannya mas pengen banget?"
Alex menunduk.
Bagaimana Alex sanggup meminta lima anak, sedangkan ia menyaksikan sendiri proses persalinan yang begitu menyakitkan dan membuatnya hampir mati ketakutan.
Alex tidak menjawab.
__ADS_1
"Mas?"
"Um?"
"Mas masih terbayang aku tadi?" tanyanya.
Alex mengangguk.
"Mas liat aku, aku sekarang gakpapa"
"Ini udah tugas aku sebagai seorang istri, melahirkan seorang anak untuk suaminya, aku gak keberatan buat menuhi keinginan mas" lanjutnya.
"Kebahagian mas, kebahagian aku juga" ucap Aira.
Alex menatapnya.
"Udah jangan sedih lagi, aku masih butuh suport kamu sampai pulih mas" ucap Aira.
Bibir Alex manyun, tapi ia tetap mengangguk.
Aira terkekeh pelan, lalu meringis.
"Ah.."
"Ke-kenapa Ra?" tanyanya panik.
"Gak, ini masih sakit bekasnya" ucap Aira.
Cklek..
perawat datang sambil membawa semacam troli tabung bayi, disana ada putri kecil mereka.
Mata Aira berkaca-kaca saat bayi dikeluarga dari tabung kaca itu, ini pertama kalinya ia akhirnya melihat sang putri. (FYI author gak tau namanya huhu)
"Ma-mas" ucapnya.
Perawat memberikan bayinya pada Aira.
"Nanti saya kembali lagi untuk bawa bayinya ya bu" ucap perawat.
Aira mengangguk.
Setelah mengajari Aira caranya, perawat pun pergi.
Aira melihat Alex.
"Mas ini kayak mimpi" ucapnya.
"Iya mas juga ngerasain yang sama, ini benar anak kita..akhirnya dia lahir"
Aira menitikkan air mata terharu.
"Hiks..sayang" ucapnya.
Alex mengusap kepala Aira.
"Mas, hidungnya mirip banget sama kamu" ucap Aira girang.
Alex tersenyum melihatnya.
Aira memandangi wajah putri kecilnya sambil tersenyum.
"Aira" panggil Alex.
"Hum?"
"Mas janji, mas bakal jaga kalian berdua, selalu ada buat kalian, mas gak akan ninggalin kalian dan bikin kamu susah" ucap Alex.
Aira tersenyum.
'Masyaallah gue dikasih suami kayak pak Alex'
"Makasih mas, aku bakal pegang ucapan mas selalu" ucap Aira.
"Iya sayang.."
Alex mendekat lalu mencium kening Aira.
(Just illustration)
"Love u and thank you so much babe" ucap Alex lembut.
"Love u too, papa Alex" ucap Aira.
__ADS_1
Alex tertawa kecil mendengarnya.
THANKS YOU SO MUCH GUYS! BILA ADA KATA YANG KURANG ATAU SALAH, MOHON DIMAAFKAN, KARENA AUTHOR MASIH REMAJA DAN BELUM MELEWATI FASE INIπ