
**Kak jangan lupa share cerita aku ya! biar lebih rajin up lagi😔 bay the way banyak pembaca baru nih! semoga betah ya! sedang diusahakan update setiap hari!
jangan lupa like dan follow💋**
Ditempat tidur, Aira memeluk erat tubuh Alex, seakan-akan takut pria itu pergi. Alex tidak keberatan, kapan lagi bisa dipeluk seerat itu oleh Aira.
Pria itu meraih handphonenya, ia ingin mencari tau tentang wanita hamil. Karena pelayan toko tadi ia terus kepikiran kalau Aira itu hamil atau tidak.
Ia membaca sebuah artikel, gejala-gejala awal dari kehamilan. Namun satupun tidak ada pada Aira.
"Aira kamu merasa mual?"
Aira menggeleng.
"Suasana hati berubah-ubah?"
Aira menggeleng lagi.
Kalau dipikir-pikir, dari dulu Aira sudah moody-an, maka tidak termasuk gejala hamil.
Alex jadi bingung, ia menutup kembali handphonenya.
"Mas liat apa?" tanya Aira.
"Bukan apa-apa, tidur yuk" ucap Alex.
Aira menatap mata Alex sebentar.
"Mas masih sakit?" tanya Aira mengalihkan.
Sakit? Ah Alex lupa itu, tapi kondisinya memang jauh lebih baik setelah dikerokin Aira.
Tapi bukan Alex namanya kalau tidak jahil.
"Uhuk..Uhuk" Alex mengusap lehernya.
Wajahnya meringis pura-pura kesakitan
Aira bangkit, tangan menyentuh seluruh wajah Alex, ia cemas dan panik.
"Tuh kan saya bilang apa, jangan ikut masih aja ikut" omel Aira.
"Kita gak bawa obat batuk, gimana nih" ucap Aira panik.
Alex menahan tawa, ia harus melanjutkan sandiwara.
"Dicium bisa sembuh" celetuk Alex, wajahnya lemas.
Wanita itu terdiam.
Cup
Satu kecupan mendarat dibibir Alex.
Aira sungguh melakukan apa yang membuat Alex senang.
Alex kepalang gemas, ia menarik Aira kepelukannya, lalu memeluk erat.
"Mas sesek tau!"
"Kamu nantangin saya ya?"
Aira menggeleng.
"Kan mas minta yaudah saya lakuin! Lepas ih!"
"Tidur atau saya bikin kamu begadang" ancam Alex.
Ucapan yang cukup membuat nyali Aira ciut.
"Kayak berani aja" cibir Aira.
Apa? Aira benar menantang lelaki sejati seperti Alex?.
"Jangan ditanya lagi"
Wajah Alex mendekat, menghapus jarak diantara mereka. Bibir Alex dengan lihai ******* bibir Aira, *******-******* yang membuat Aira terbuai.
Aira merespon ciuman Alex, bibirnya terbuka memberi lampu hijau pada pria itu agar memperdalam ciuman mereka.
Alex semakin bersemangat melahap bibir merah Sang istri.
"Emhh" desah Aira.
Ciuman menjadi panas hingga turun ke dagu Aira, Alex menjilat dagu Aira membuat tubuh Sang empu terasa digelitik.
Alex terbawa nafsu, ia menindih tubuh Aira dan menatapnya dalam.
Sial nampaknya Alex harus menahan nafsunya, ia tidak berani menyentuh Aira karena takut wanita itu benar-benar hamil.
__ADS_1
Alex takut akan menyakiti Aira.
"Mas"
Alex menyingkir dari atas tubuh Aira, ia menyibak rambutnya keatas.
'Shit! Hampir kelepasan'
"Mas, saya ngantuk" ucap Aira.
Alex menoleh.
"Ti-tidur"
Aira malah memegang lengan Alex.
"Gak bisa, mau dipeluk"
Alex membawa Aira kepelukannya, ia menarik selimut hingga menutup tubuh Aira, memastikan istrinya jangan sampai kedinginan.
"Mas"
"Apa lagi Aira?"
"Usap kepala saya biar tidur" pintanya.
Alex menelan saliva, ia mengusap kepala Aira sampai mata wanita itu tertutup rapat.
"Lebih baik, besok tanya bunda" gumamnya.
Ya, lebih baik tanyakan pada yang sudah berpengalaman, dari pada pusing sendiri.
Pukul 05:00 Wib.
Dinginnya cuaca dipagi hari membuat Alex enggan bangun dari tidurnya. Aira yang sudah bangun lebih dulu, sibuk berjalan kesana kemari.
Ia bahkan menyalakan televisi dengan volume tinggi, kemudian duduk diatas tempat tidur.
Alex mengusap kedua matanya, ia terbangun akibat suara televisi yang mengganggu.
Alex meraih handphonenya, masih terlalu pagi untuk menonton televisi dengan volume tinggi.
"Aira" panggil Alex, suara seraknua khas orang baru bangun tidur.
Wanita itu tengah duduk didepannya.
"Apa?"
"Kenapa?"
"Nanti yang lain terganggu"
"Biarin" ucap Aira cuek.
Alex bangun mengambil alih remote televisi dan mengecilkan volumenya, Dari pada mereka diprotes oleh tamu kamar lain karena kebisingan.
"Mas apa-apaan sih?!"
Dan sebaliknya Alex harus menerima protes dari Sang istri.
"Kamu tidak boleh egois Aira, kita bukan dirumah" ucap Alex.
Aira merengut, ia memalingkan wajah kearah lain.
"Gitu doang marah"
Alex mengcoba lebih sabar, ia membuat Aira menghadapnya.
"Siapa yang marah? Saya tidak marah kekamu" ucap Alex lembut.
"Tadi itu apa kalau bukan marah?"
"Itu menasehati"
"Sama aja kan marah" Aira menjawab lagi.
Alex mengatupkan gigi.
"Kalau kamu gini saya beneran marah" ucap Alex.
"Yaudah silahkan marah" balas Aira.
Mana mungkin Alex bisa marah, pria itu menghela nafas. Ia mengusap pipi Aira.
"Aira dengarkan saya, dan tolong jangan membantah"
Aira menatap Alex.
"Paham?"
__ADS_1
"Umm"
Alex tersenyum.
"Pinter...Kamu tunggu disini ya saya mau sholat shubuh"
Alex hendak menyibak selimutnya, namun Aira mencegahnya untuk pergi.
"Jangan tinggalin saya" ucapnya sedih.
"Saya cuma kekamar mandi"
Wanita itu diam sejenak lalu setuju.
"Sana deh" usir Aira.
Alex melongo.
"Labil" gumamnya.
Langit mulai terang, Alex dan Aira bersiap untuk pergi dari kamar hotel, mengingat Aira hanya memesan untuk satu malam saja.
"Mas hari ini gak kekampuskan?" tanya Aira.
Alex menggeleng.
"Tapi saya dianter kan?"
Alex mengangguk.
"Dijemput juga kan?"
Alex mengangguk lagi, Aira sangat cerewet, mulutnya tidak berhenti mengoceh. Padahal yang ditanyakan itu sama, dan biasa dilakukan sehari-hari, tapi Aira terus bertanya.
"Jadi saya diturunin diparkiran lagi?"
"Iya Aira, seperti biasa"
"Oke bagus, nanti pas pulang saya gak mau langsung kerumah, kita jalan-jalan ya?" Seru Aira.
"Jalan-jalan?"
Aira mengangguk cepat.
"Yayayayaa?" Aira menggoyang-goyangkan lengan Alex. Pria itu tengah mengunci kamar hotel yang akan ditinggal.
"Mas?"
"Kita kerumah bunda, jalan-jalannya besok saja" ucap Alex.
Aira tidak menyerah, ia terus membujuk Alex supaya mau jalan-jalan.
"Mas...Jalan-jalan~" suaranya dibuat imut.
Aira menampakkan gaya imutnya didepan Alex agar pria itu luluh. Tubuhnya dirapatkannya.
"Mas?" Panggil Aira lagi.
Alex menyentuh bahu Aira, ia tidak tahan melihat Aira yang seperti ini.
Iya tidak tahan untuk tidak mencumbu Aira.
"Oke, kalau sempat" ucap Alex.
Aira tersenyum sumringah.
"Makasih mas" ucapnya bersemangat.
Keduanya sampai dirumah, Aira sudah masuk lebih dulu, sedangkan Alex membawa tas ransel wanita itu dan beberapa bungkus cemilan yang dibeli Aira saat perjalanan pulang.
Tidak tanggung-tamggung Aira hampir memborong semua yang ia lihat.
"Wah, honeymoon ya?" tanya salah satu tetangga yang rumahnya disebelah Alex.
Alex tersenyum.
"Enggak kok buk"
"Bawaannya banyak banget mas Alex" ucap wanita itu, panggil saja ibu Anya.
"Iya buk, istri saya yang minta"
"Waduh sayang istri nih, beruntungnya Aira" puji Anya.
Alex tersenyum malu, ia punya ide, kalau tidak salah Anya itu ibu rumah tangga beranak tiga. Wanita itu pas berpengalaman.
"Oh iya buk..Saya mau tanya sedikit boleh?"
Alex menghampiri Anya, matanya melirik kedalam rumah lebih dulu; memastikan Aira tidak mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
"Apa tuh mas?"
"Ibu sewaktu hamil..Gejala awalnya bagaimana?" tanya Alex ragu-ragu.