Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-101


__ADS_3

Tak


Tuk


Tak


Tuk


Raka mengetuk-ngetuk pulpen ditangannya ke meja.


"Semoga anak itu berhasil" gumam Raka.


Mira tadi menemuinya saat ia baru sampai, kelihatannya anak itu memang menungguny lama dan bilang kalau dia sudah siap, bahkan minta Raka mendoakannya.


Sebagai Dosen yang baik, Raka memberinya semangat serta dukungan.


"Pak Raka, hari ini saya bakal bicara sama Aira" ucap Mira.


Raka menatapnya lalu tersenyum.


"Bagus, temui dia dan keluarkan semua unek-unek kamu"


Mira mengangguk.


"Saya nanya satu hal lagi, boleh?"


"Iya silahkan"


"Bapak percaya sama saya kan?"


Tanpa pikir panjang Raka mengangguk lalu itu membuat Mira tersenyum.


"Saya boleh dengar bukti kepercayaan bapak?"


"Hem, semangat, jangan overthingking dulu, karena itu bikin kamu tambah down dan mundur, jangan dipikirin apa yang gak akan terjadi, saya ada dibelakang kamu, saya pasti bantu apapun itu" ucap Raka.


"Te-terimakasih pak! Saya permisi dan selamat pagiii"


Mira berangsur pergi.


Raka memijat pelipisnya, Padahal yang bermasalah bukan dia tapi jadi gelisah dan tidak tenang.


"Ck..Kenapa aku yang gelisah" kesalnya.


Ia menyandarkan punggung ke bangku sembari memejamkan mata.


Tidak dapat dipungkiri, Raka memang kepikiran dengan Mira.


Brak!


Raka tiba-tiba terlonjak dari bangkunya.


"Kalau dia gak dimaafin gimana?"


Karena ia tidak tenang, Akhirnya Raka bergerak ingin mencari dan menyusul gadis itu, ya setidaknya memberi bantuan untuk meyakinkan  Aira, kalau seandainya Mira tidak dimaafkan.


Ia menengok kekelas mereka, tapi disana tidak ada Mira maupun Aira.


'Kemana dia?'


"Pak?"


Raka tersentak kaget, ia menoleh kebelakang.


"Bapak cari siapa?" tanya Mahasiswi itu.


Raka mengusap belakang lehernya.


"Ehm.."


'Bilang gak ya aku cari Mira'


"Cari siapa pak?" tanyanya lagi.


"E-e Mira, saya tadi minta dia bawa flashdish saya untuk diprint, tapi terlalu lama jadi saya kemari"


Mahasiswi itu mangut-mangut.


"Mira belum masuk kelas dari tadi pak"


"Oh gitu, kamu gak liat dia kemana?" tanya Raka.


Barangkali lihat.


"Tadi sama Aira pak jalan berdua"

__ADS_1


Raka mulai cemas.


"Kearah mana?!" ucapnya dengan volume sedikit tinggi.


Gadis didepannya mengerutkan dahi, Raka bersikap santai kembali.


'Bodoh Raka, kenapa aku keliatan cemas'


"Maksud saya dia ke arah mana kamu tau? Soalnya itu flasdish saya sama dia" elak Raka.


"Oooh, saya kurang yakin pak.."


"Iyaa kemana?"


'Tinggal ngomong aja pakai bertele-tele anak ini'


"Antara ke belakang kampus atau keperpustakaan pak" ucapnya.


'Perpustakaan dan belakang kampus itu melewati koridor yang sama..'


'Jadi diantara dua itu pasti Mira ke belakang kampus, gak mungkin diperpustakaan'


"Saya permisi dulu ya pak"


"Iya terimakasih"


Raka dengan tergesa-gesa menuju belakang kampus, tapi belum sempat sampai ditempat tujuannya ia berpapasan dengan Mira.


Raka melihat sekeliling Mira.


'Dia sendiri?'


Mereka saling tatap-tatapan, Raka juga tidak bergerak, padahal dari tadi ia cemas.


Tiba-tiba Mira tersenyum lebar lalu melangkah lebih dekat.


"Pak saya berhasil!" ucapnya bersemangat.


Rasa cemas dan gelisahnya hilang begitu saja. Senyuman Mira membuatnya lega.


"U-udah?"


Mira mengangguk.


"Alhamdulilah, plong~ rasanya"


'Bagus, setidaknya Mira gak kelihatan kayak orang depresi lagi'


Mata Mira jadi memerah karena menangis tadi. Ia masih terharu sekaligus tidak menyangka, pintu maaf Aira masih ada untuknya.


Ditambah mata Raka saat melihatnya, tergambar jelas kalau pria itu mengkhawatirkannya.


Mira menunduk sembari memainkan jarinya.


"Saya awalnya ragu dan mau batalin aja niat saya begitu liat Aira, tapi saya inget apa yang bapak bilang"


Mira mendongak.


"Dan sekarang semua kembali baik-baik aja" ucapnya.


Degh!


Jantung Raka berdebar.


"Terimakasih pak! Berkat pak Raka, saya berhutang budi sama bapak" ucap Mira


"Kamu berubah jadi pribadi yang lebih baik udah cukup" ucap Raka.


Mira tersipu, tapi ia berusaha menutupinya. Mira cukup sadar diri.


"Ya..Saya janji pak"


"Jangan, jangan janji sama saya, janji sama diri kamu sendiri" ucap Raka.


Mira mangut-mangut.


"Airanya kemana?" tanya Raka.


"Oh itu, Aira tadi bilang dia masih canggung, jadi mau ke ruangan pak Alex" ucap Mira.


'Dasar bucin, mentang-mentang semua udah tau dia istri Alex'


"Oh, kalau gitu kamu balik ke kelas, saya juga permisi dulu" ucap Raka hendak pergi.


"Eh pak tunggu"

__ADS_1


Spontan Mira memegang tangan Raka, Raka menatapnya. Tatapan pria itu membuatnya segera melepas tangannya.


"Ehm..Maaf, saya masih gak bisa diem aja pak, bapak baik sama saya, mungkin saya bisa traktir bapak di-"


"Mira saya cuma membantu mahasiswi saya, karena ini tugas saya sebagai dosen, saya harap kamu tetap menjaga batasan" ucap Raka dingin.


"Y-ya?" ucapnya kaget.


Raka langsung pergi begitu saja.


Dada Mira sakit, ia tertampar kenyataan. Kenyataan bahwa Raka hanya ingin membantunya sebagai Mahasiswi atau muridnya.


Apa yang Raka katakan Mira rasanya sulit untuk bisa terima. Yang selama ini Mira rasakan hanya perasaannya sendiri.


Perlakuan Raka yang setiap hari menelfonnya dan ingin bertemu, semua tidak akan ada lagi, Raka cuma mau menyatukannya dengan Aira.


Sekarang mereka sudah bersatu, maka Raka juga akan pergi.


Mira tertunduk lemas sambil mengepal tangannya.


"Udah gini aja Mira, gak usah berharap lebih" gumam Mira.


"Kenapa pak Raka ngomong gitu, dada gue sesek banget" lanjutnya.


Raka meninggalkan Mira, ia menghela nafas. Memang begini seharusnya, ia tidak perlu repot-repot lagi menelfon Mira apalagi mengajaknya bertemu.


'Kewajiban sebagai dosen yang baik udah kelar, jangan mikirin apa-apa lagi semua udah berlalu' ucap Raka dalam hati.


Raka menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang.


'Aduh kenapa jadi gini'


Ia kembali berjalan hingga keruang kerjanya.


Blam!


Pintu ditutup kasar, Raka mengusap wajahnya.


"Sialan, aku mikir apa sih?!" kesalnya.


"Jangan jadi pedofil kayak Alex, gak boleh!"


Raka menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Huft..Tenang..."


Ia memejamkan mata, lagi-lagi eajah Mira yang ada dibenaknya.


"Gak bisa! Aku gak bisa"


Raka membuat orang lagi bahagia, tapi malah dia yang sengsara.


Lihatlah, ia jadi depresi.


Raka mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan fokus pada laptopnya.


"Fokus kerja, hanya kerja yang ada"


Seperti mantra agar bayang-bayang Mira hilang dari kepalanya. Beberapa menit ia coba tapi gagal.


Benar, rasanya ada yang mengganjal.


"Mira saya cuma membantu mahasiswi saya, karena ini tugas saya sebagai dosen, saya harap kamu tetap menjaga batasan" ucap Raka dingin.


"Y-ya?"


Raka mengacak rambutnya frustasi.


"Kenapa aku bilang gitu, mukanya kaget banget"


"Apa ini semacam penyesalan? Oh ayolah Raka, kamu sendiri yang ngomong gitu kenapa kamu yang nyesel" ucapnya pada diri sendiri.


Ia memijat pelipisnya.


"Apa aku.."


"Suka sama Mira?"


Raka menggeleng cepat.


"Gak, gak"


"Mungkin ini efek sering ketemu jadi jadwal aku padat"


"Tapi kan seharusnya aku senang? Aku bisa lebih nyantai"

__ADS_1


"Argh! Gak tau lah!" Kesalnya.


Maaf banget Author baru sempat up..Ada masalah pribadi


__ADS_2