
...WAJIB DIBACA!...
BUAT PART 54 YANG KEPUBLISH DUA KALI ITU AKU JUGA GA TAU, KENAPA TIBA" GITU DAN UNTUNG CHAPTER SATU SAMPAI 40 MASIH TAHAP REVISI,KARENA ITU AKU MASIH BARU-BARU NULIS JADI BANYAK KESALAHAN DAN TYPONYA.
ADA KEANEHAN JUGA DIPART 14-15 KARENA ADA KALIMAT YANG HILANG, JADI KYK GK NYAMBUNG PARTNYA, UDH AKU CEK LAGI DIFRAF TERNYATA EMNG BENER, ENTAH AKU YANG LUPA ATAU NT YANG EROR.
AUTHOR GAK NGEPRANK MALAHAN AUTHOR IKUTAN BINGUNG KAYAK KALIAN..
DAN AUTHOR BARU PUBLISH INI KARENA LAGI DAM LAGI AUTHOR SAKIT😭GAK TAU KENAPA LEMAH BGT..MAKASIH BUAT YANG NUNGGUIN
PART SELANJUTNYA DIPUBLISH BESOK YA, DARI TADI COBA CUMA BISA PUBLISH SATU PART🙏
Aira meminta Alex untuk pergi kesupermarket sendirian, ia tidak punya mood sama sekali karena memikirkan sahabatnya Mira. Untung pria itu mau mengerti.
Begitu sampai di rumah Aira langsung membersihkan diri dan beberes rumah. Seperti saat ini, ia berada di dapur untuk memasak makan siang.
"Mira bener-bener aneh" gumam Aira.
"Haih,Nanti juga nelfon gue tu anak" lanjutnya.
Aira melanjutkan aktivitas memasaknya. Handphone yang ditaruh diatas meja makan tiba-tiba berbunyi.
Dynananana hey~
Dynananana hey~
Ketika jauh dari jangkauan Aira akan membuat handphonenya dalam mode bunyi, Ia mematikan kompornya, segera menghampiri meja makan untuk mengambil benda itu.
Aira sangat bersemangat, ia pikir Miralah yang menelfonnya. Namun saat dilihat Dahinya mengerut.
"Nomor gak dikenal? siapa ya?" gumam Aira.
"Halo?" sapa Aira pada orang ditelefon.
"Halo? ini siapa ya?"
Orang diseberang sana tidak merespon.
"Halo? halo?"
'Siapa sih?'
Kesal tak digubris, Aira mengakhiri panggilan lalu menaruh kembali benda persegi panjang itu.
"Salah sambung kayaknya"
Baru saja ingin melangkah pergi, handphonenya kembali berdering.
"Astagfirulloh, siapa sih?" gerutunya.
Diambil lagi handphonenya, tapi kali ini nomor tidak dikenal itu mengiriminya sebuah video lewat aplikasi whatsapp.
Tanpa pikir panjang Aira membuka video tersebut, belum lama video diputar spontan Aira menutup mulutnya dan matanya membulat kaget, tangannya memegang kuat handphone.
Ia shock dengan apa yang dilihatnya saat ini.
'Mi-Mira?'
Kakinya lemas hingga tubuh Aira jatuh kelantai.
Ya, divideo itu terlihat jelas sahabatnya dengan sengaja memotret dirinya yang tengah bersama Gilan beberapa waktu lalu.
"Gak! gak mungkin ini Mira!" ucap Aira tak percaya.
"Gue yakin Mira gak bakal lakuin ini, dia orang yang paling ngertiin gue..Dia..Dia.."
Air mata Aira menetes keluar membasahi kedua pipinya, Sakit sekali rasanya dikhianati oleh orang yang paling dipercaya bahkan orang yang dianggap special dalam hidup Aira.
"Aira saya pu-" ucapan Alex terhenti saat melihat Aira terduduk lemas sambil menangis dilantai.
Ia menghampiri wanita itu, membawanya kedalam pelukan, lalu tangannya bergerak menepuk pelan punggung Aira.
Apa yang terjadi sampai istrinya seperti ini.
"Hiks..Pak Alex.." isak Aira.
"Iya sayang" ucap Alex.
"Mi-Mira..Hiks.." suara Aira terbata-bata, ia tidak sanggup lagi untuk memberitahu Alex.
"Mira kenapa? kamu diapain?" tanya Alex selembut mungkin.
__ADS_1
Alex melepas pelukannya, matanya menatap Aira sendu.
"Ssutt..Jangan nangis lagi.." tangannya mengusap kedua pipi Aira.
Wanita itu malah makin histeris, ia bahkan menendang nendang kakinya beruntung Alex menyingkir kesamping.
Aira tidak mau memberitahunya alasan ia menangis, Mata Alex tertuju pada handphone ditangan Aira.
Ia punya firasat kalau penyebab Aira menangis ada dibenda itu. Alex meraih handphone Aira, saat tombol kunci dibuka langsung terpampang room chat dari nomor tidak dikenal.
Alex membuka video tersebut, barulah ia tau kenapa istrinya histeris. Sahabatnya sendiri menusuknya dari belakang.
Tangannya mengepal.
"Sakit pak..Hiks..Sakit rasanya" isak Aira sambil memukul-mukul dadanya.
Aira tampak menyedihkan.
"Saya percaya sama dia...Saya salah apa hiks...kenapa Mira bikin saya gini..Hiks"
"Ssttt kamu gak salah.." ucap Alex.
Orang yang paling Aira sayang sudah menjatuhkan kepercayaannya.
"Pak..Telefon Mira sekarang" ucap Aira sambil sesegukan.
Alex melarangnya, akan lebih rumit kalau Aira menelfon Mira sekarang.
"Enggak, kamu tenang dulu..kalau kamu telefon dia sekarang pasti kalian berantem ujung-ujungnya Mira gak akan masuk besok..Lebih baik kita selesaikan besok" ucap Alex.
Aira menyentuh dahinya.
Ia tidak habis pikir, kesalahan apa yang ia lakukan dimasa lalu, apa karena perjodohan Aira dan Alex? tapi Aira yakin waktu itu Mira menerima dengan baik perjodohan Aira.
Lalu apa masalahnya dengan Mira, sampai gadis itu setega ini.
"Itu pasti bukan Mira kan?" tanya Aira pada Alex.
Wajah Aira sangat kecewa, matanya sembab.
"Aira.."
Alex menyentuh kedua pipi Aira.
"Aira dengarkan saya-"
"Gak! Gak!" teriak Aira.
Aira menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Aira saya bakal bicara sama Mi-"
Alex menghentikan ucapannya, tatapan Aira begitu tajam.
"Ma-mana kunci mobil" ucap Aira tiba-tiba.
"Kamu mau kemana?"
"Minta kunci mobill pak"
Ia mengambil handphone ditangan Alex lalu menggeledah saku Alex, dan mendapatkan kunci mobil milik Alex. Ia bangkit lalu berjalan keluar rumah, diikuti oleh Alex.
"Aira, kamu mau kemana?"
Alex menahan tangan Aira, bahaya wanita itu kalau sampai mengemudi dalam keadaan seperti itu.
Aira menghempas tangan Alex.
"Saya mau temui Mira, dia harus jelasin semua ini" ucap Aira penuh penekanan.
Mira harus menjelaskan semuanya, agar Aira tau semuanya yang dilewati mereka bersama hanya sandiwara Mira, dan disaat ia terpuruk apa Mira berpura-pura.
Hatinya sangat sakit, mengingat Mira yang berdiri membelanya dari orang-orang yang ingin mencelakainya tapi sekarang malah Mira yang ingin mencelakai rumah tangganya.
"Biar saya temani"
Alex berusaha merebut kembali kunci mobil ditangan Aira, Namun Aira tetaplah Aira, keras kepalanya sudah mendarah daging, ia berhasil masuk kedalam mobil.
Tidak memperdulikan Alex yang berteriak mencegahnya. Ia sudah cukup sakit hati.
"Mira, gue kecewa" gumam Aira.
__ADS_1
Alex mengacak rambutnya frustasi.
Melihat mobil miliknya dibawa keluar dari rumah, Alex segera menghubungi Regi untuk membantunya mengejar Aira.
Bukannya Alex tidak ingin memahami Aira, Alex tau betapa sakitnya diposisi Aira, tapi Aira itu orang yang nekat. Lihatlah sekarang Aira akan mendatangi rumah Mira.
"Gi tolong kerumah" suaranya terdengar serak.
"Kenapa Lex?"
"Cepetan kesini Gi, Aira bawa mobil sendirian!" ucap Alex.
"Oh oke oke aku kesana sekarang"
Alex memijit pangkal hidungnya, semoga saja wanita itu tidak mengebut dan mencelakai dirinya sendiri.
Menunggu kedatangan Regi, Alex mencoba menghubungi Aira, wanita itu sempat mengambil handphone ditangannya.
Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi silah-
Titt..
Alex mengusap kasar wajahnya, Aira sengaja mematikan handphonenya karena tau Alex pasti akan menelfoni nya.
Tin! Tin!
Mata Alex tertuju pada mobil dihadapannya, itu mobil milik Regi. Alex langsung menaikinya.
"Jalan Gi, Aira pasti belum jauh" ucap Alex cemas.
Regi yang bingung pun mengikuti permintaan Alex, ia menambah kecepatannya.
"Aira kenapa Lex?" tanya Regi, ia penasaran karena wajah Alex yang pucat.
Ia tidak pernah melihat ekspresi Alex seperti ini.
"Masalah pribadi" ucap Alex dingin, matanya fokus pada jalanan.
Regi tidak bisa berkata-kata lagi karena Alex nampaknya tidak suka.
"Itu mobil mu kan?" ucap Regi menunjuk sebuah mobil di sebelah kiri depan.
Mata Alex mengerjap, benar itu mobilnya, syukurlah kalau Aira belum jauh.
"Ikutin Gi"
Regi mengangguk.
Jantung Alex berdegub dengan kencang, pasti Aira menangis didalam sana dan menyalahkan diri sendiri.
Mereka terus membuntuti mobil Aira dari belakang sampai Akhirnya mobil Aira berhenti disebuah perumahan elite.
Wanita itu turun, Alex melihat jelas tatapan mata Aira yang penuh amarah. Aira berjalan mendekati sebuah rumah.
Alex segera turun untuk menyusul istrinya.
"Lex aku ikut" ucap Regi.
"Gak usah Gi, makasih ya" ucap Alex lalu pergi.
Regi semakin heran, sebenarnya ada apa ini.
Aira menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, ia sudah yakin, apapun tanggapan dari keluarga Mira nanti, ia tidak perduli. Yang Aira mau adalah kejujuran Mira.
Tangannya mengetuk pintu rumah tersebut.
Tok tok..
"Iyaa sebentar" saut seseorang dari dalam rumah
Mata Aira memanas, suara itu adalah suara Mira. Aira mengepal tangannya menahan rasa sesak didada.
Pintu rumah perlahan terbuka menampilkan sosok Mira, Mira tersentak kaget akan kehadiran Aira dirumahnya.
"A-Aira?" ucap Mira terbata-bata.
Ia menjadi gugup sata melihat ekspresi tak bersahabat dari Aira, Sebisa mungkin Mira tersenyum.
"Aira tumben kesini? ada ap-"
PLAK!
__ADS_1
"Lo pengkhianat Mir!" ucap Aira penuh penekanan.