Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-166


__ADS_3

Setelah mendapat izin Mira, Raka berjalan keluar toko. Segeralah ia mengabgkat panggilan tersebut.


"Assalamuallaikum.." ucap orang diseberang sana.


"Waalaikumsalam..Ayah" ucapnya pelan.


Ayahnya Mira akhirnya menelpon balik.


"Maaf tadi Raka telpon ayah gak sempat angkat nak, oh iya semua persiapan pernikahan kalian udah selesai?" tanyanya.


"Sudah yah, sudah Raka dan Mira urus semua" ucap Raka.


"Alhamdulilah, Mira pasti gak sabar sekali itu" kekehnya.


Ayah Mira tertawa, ia seolah-olah menyembunyikan hal yang tengah dihadapi didepan calon menantunya.


"Mira lebih menanti kepulangan Ayah" ucap Raka serius.


"..."


Tidak ada balasan dari sana, hening.


"Ayah?"


"Ah iya, ayah juga gak sabar" lanjutnya dengan canggung.


Mira telah selesai membayar dikasir, ia melihat Raka yang bersandar didekat pintu masuk. Muncul ide jahilnya untuk mengagetkan pria itu, ia berjalan kecil mendekati Raka yang tengah menelpon.


"Ayah..Raka tau Ayah gak bisa pulang sesuai janji ayah" ucap Raka.


Mira menghentikan langkahnya, dahinya mengerut.


'Ayah?'


'Ayah kenapa?'


Ia melangkah lebih dekat untuk mendengar percakapan lebih jelas, Mira penasaran karena tadi terdengar samar-samar karena berisiknya mall.


Sialnya Raka tiba-tiba mundur, sehingga tubuhnya mengenai Mira yang bersembunyi dibelakangnya.


"Mi-Mira?" kagetnya.


Mira tersenyum kikuk.


"Y-yah, Nanti Raka hubungi lagii" ucapnya pelan.


Pria itu menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku, lalu menatap Mira.


"Dari kapan kamu dibelakang aku?" tanyanya dengan wajah serius.


"Baru aja" ucap Mira.


Raka menghela nafas lega.


'Untung Mira gak mendengarkan dengan jelas'


"Yaudah, ayo makan, kamu lapar kan?" ajaknya.


Mira mengangguk.


"Tadi kamu telpon ayah? atau aku salah dengar?" tanyanya.


"Salah dengar, tadi itu Aya..Kakak sepupu" elaknya.


'Semoga percaya'


"Aya? tapi aku denger kayaknya kamu bilang ayah bukan Aya" ucap Mira.


Raka tidak mau terlihat kebingungan, takut menambah kecurigaan Mira.


"Ayah sama Aya bisa terdengar sama sayang.." ucap Mira.


"Bener juga sih..Yaudah deh ayo makan"


Mira menggandeng lengan Raka.


"Nah..Ayo hehe" tawanya kaku.


Keduanya pergi kesebuah restoran makanan jepang, Mira suka sekali sushi dan makanan jepang lainnya.


Ia memesan banyak menu, menyantap dengan lahap.


"Sayang, kamu gak makan?" tanyanya pada Raka yang fokus ke handphone ditangannya.

__ADS_1


"Hum? Enggak, aku kurang suka" ucapnya.


Mira mengerutkan dahinya.


"Kalau gak suka, kenapa nurut banget aku ajak makan disini" balas Mira.


"Kan udah aku bilang, hari ini mau bikin kamu senang, udah lanjut gih" ucap Raka.


"Aaa sweet banget ayang aku" Mira tersenyum lebar.


"Yaudah aku pesenin udon aja yaa? mau?" tawarnya.


Raka mengangguk lalu fokus kembali pada handphonennya. Mira memanggil pelayan untuk memesan menu makanan Raka.


Tak berselang lama pesanan Raka tiba.


"Nih makan" ucap Mira.


Raka berdehem.


"Taruh dulu handphonenya sayang, nanti di mainin lagi" pinta Mira.


"Iya sayang, iya" balasnya.


Bibirnya mengatakan iya tapi tangan masih enggan meletakkan benda tersebut.


"Iya-iya tapi gak ditaruh juga handphonenya, kamu ngapain sih?"


Raka melihat kekasihnya.


"Mama chating aku sayang, ada urusan kecil" ucapnya.


Mira menyipitkan matanya, wanita itu curiga.


Perlahan Raka menurunkan tangannya kebawah, dan menghapus pesan-pesan yang ia dan ibunya kirim, agar tidak dilihat kekasihnya.


"Masa chatingan sama mama muka kamu tegang banget" ucap Mira curiga.


"Enggak, perasaan kamu doang itu" balasnya.


"Mana sini aku liat" tangannya menjulur didepan wajah Raka, meminta handphone ditangan pria itu.


Raka langsung memberikan benda itu secara suka rela, Mira membaca semua chatnya dengan teliti.


Wanita itu tersenyum kikuk.


"Eh iyaa...Dari mamaa" ucapnya malu.


Dikembalikannya handphone Raka, lalu Raka menarik hidung kekasihnya sambil tertawa kecil.


"Jangan curiga terus, gak baik, kita udah mau halal" tegurnya.


"Maaf-Maaf, abisnya si laki-laki memancing kecurigaan" jawabnya.


"Sempet-sempetnya kamu ngejawab aku ya" ucap Raka.


Mira menyengir.


"Cepetan makan deh, nanti jadi gak enak" ucap Mira.


"Gak ada niatan mau suapin aku?" goda Raka.


"Mau?"


Raka mengangguk.


"Males gerak" ucap Mira dengan wajah melas.


Raka tersenyum lalu mengusap kepala Mira.


"Bercanda, aku punya tangan sendiri"


"Kecewa ya gak disuapin ayang haha" ledek Mira.


"Punya pacar kok nyebelin begini" cibir Raka.


"Tapi cantik kan?"


"Can-"


Dreett...Dreettt..


Handphone Raka berdering, mata mereka tertuju pada layar benda tersebut.

__ADS_1


"Mama telpon tuh" ucapnya.


"Boleh aku angkat?" tanya Raka.


"Ya diangkat dong, orang tua sendiri masa gak diangkat" ucap Mira.


"Oke"


Raka mengambil handphonenya, lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Loh?" kaget Mira.


"Aku angkat di toilet aja, disini berisik, nanti gak kedengeran" ucap Raka.


"Ooo iya juga, oke-oke"


"Aku tinggal sebentar ya?"


Mira mengangguk.


Raka berlari-lari kecil menuju toilet pria yang ada di restoran tersebut.


"Halo ma? gimana? udah ada kejelasan?" tanya Raka.


"Sudah, tadi papa yang bicara sama ayah Mira, baru aja selesai mereka, papa bilang ayah Mira sulit sekali diajak berbicara" ucap Mama Raka.


"Papa udah tanya apa masalahnya?"


"Karyawan mereka, menggelapkan uang perusahaan dan kabur tanpa kabar, orang suruhan ayah Mira, sudah ngelacak, alhasil itu sangat berpengaruh bagi perusahaan, papa kamu sudah coba negosiasi, memberi tawaran untuk memberi suntikkan dana ke perusahaan mertua kamu itu, tapi dia enggan menerima tawaran papa, papa tidak bisa memaksa juga, takut merendahkan"


Keluarga Raka sendiri termasuk keluarga mampu, papanya pengusaha properti. kenapa Raka tidak melanjutkan bisnis keluarganya? sebenarnya Raka ingin, tapi ayahnya tidak ingin memaksa, ia meminta Raka menjalankan tujuan dan keinginannya, dan bisnis keluarga tersebut dijadikan sampingan.


Raka memijat pelipisnya.


"Kurang ajar karyawannya " umpatnya pelan.


Pantas Ayah Mira tidak mau memberi taunya, takut Raka dan keluarganya khawatir dan turun tangan.


"Oke, ma nanti Raka coba bujuk lagi ayah Mira, orangnya memang sulit, tapi Raka pastikan ayah Mira mau" ucap Raka.


"Iya tolong ya Raka, mama percaya sama kamu, jangan sampai Mira tau, mama khawatir sama dia" balas Mama raka.


"Iya ma, Raka bawa Mira kerumah nanti, udah dulu ya ma, Raka lagi sama Mira, nanti dia curiga"


"Oke-oke, hati-hati ya nak"


"Iya ma.."


Raka menghembuskan nafasnya, mengatur ekspresinya agar lebih santai, lalu keluar dari toilet. Mira menunggunya di meja makan, wanita itu langsung tersenyum begitu melihat kekasihnya kembali.


"Gih, buruan makan, udah dingin itu" ucap Mira.


Raka mengangguk.


Ia menyuap udon ke mulutnya menggunakan sumpit.


"Enakkan?" tanya Mira.


"Emmmm.."


"?"


"Enak" ucap Raka sembari tersenyum.


Mira menepuk kedua tangannya dengan puas.


"Kan udah aku bilang, udon enak..Ayo habisin" ucapnya senang.


Raka memperhatikan kekasihnya sambil tersenyum.


"Kamu gak pesan lagi?" tanya Raka.


"Aku? enggak ah, nanti enduut, gaunnya gak muat hehe" ucap Mira.


"Gapapa, aku suka yang gemuk, gak suka cewek kurus" godanya.


"Tapi kamu kurus tuh" cibir Mira.


"Ini udah disetel dari pabriknya haha" tawanya.


"Hahaha, pokoknya setelah nikah, berat badan kamu bakal aku bikin naik" ucapnya yakin.


Raka mengusap pipi Mira.

__ADS_1


"Iya sayang.."


__ADS_2