Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-140


__ADS_3

HAI maaf baru up, author lagi menyusun buat ending dari novel ini..hehe


Beberapa part lagi pak dosen suamiku bakalan tamat yaa~


"Assalamuallaikum.."


Alex membuka pintu rumahnya, pria itu melangkah kedapur lebih dulu untuk menaruh plastik berisikan bakso bakar.


"Aira.." panggilnya.


"Aira Alkeyna?"


Aira tak menyahut, Alex memutuskan melihat kekamarnya.


"Aira ini mas udah pulang" ucapnya.


Lagi-lagi tidak menyahut, dikamar pun kosong.


"Punya istri pecicilan banget yaallah" gumamnya.


Alex coba mengecek kekamar sang adik, perlahan ia masuk, ruangan juga kosong.


"Rachel?" panggilnya.


Terdengar suara cekikikan dari arah balkon kamar Rachel. Wajar tidak dengar, karena balkon ditutupi oleh pintu kaca dan gorden besar.


"Oalah..Disitu ternyata"


Alex segera menghampiri kedua wanita itu.


"Disini ternyata kalian" ucap Alex menarik kembali pintu kaca balkon.


Aira dan Rachel menoleh kebelakang.


"Eh mas udah pulang?" tanya Aira.


"Belum" ledeknya.


"Ish..."


Alex menarik satu kursi yang ada dibalkon untuk duduk disampaing istrinya, ia meraih jari jemari Aira sambil menatap dengan lembut.


"Mas liat sunset juga yuk?" ajak Aira.


Alex mengangguk, ia merangkul Aira.


Rachel? gadis itu seketika menjadi nyamuk.


"Ajak aku dong, masa aku sendirian?" protesnya.


Mereka berdua terkekeh.


"Yaampun kasian single.." ucap Aira.


"Sini dek, tarik kursi kamu ke tengah kita" ucap Alex.


Rachel tersenyum lebar, dengan senang hati ia menarik kursi miliknya ke tengah-tengah kakaknya.


Aira tersenyum, ia mengelus rambut Rachel penuh kasih sayang.


"Rambut kamu cantik banget, lembut pula" puji Aira.


"Hehe makasih mbak..Bunda juga bilang gitu" ucapnya.


"Oh ya?"


Rachel mengangguk.


Aira mencium pipi kanan Rachel, Alex menyaksikan semua perlakuan Aira pada adiknya yang sangat keibuan, caranya mengelus rambut Rachel membuat Alex bangga.


Samar-samar ia tersenyum, membayangkan dimasa depan Aira juga melakukan hal yang sama pada sang anak.


Aira melirik pria itu.


"Kenapa mas?" tanyanya.


Alex menggeleng sambil tersenyum manis.


"Mbak udah mulai terbenam tuh!" seru Rachel sambil menunjuk langit.


Ketiganya memandang langit, melihat matahari terbenam secara perlahan. Alex merasa hangat dengan suasana ini, ia merangkul adiknya, rachel.


Puas melihat, Aira pun bangkut dari kursinya.


"Masuk yuk, udah mau magrib.." ucapnya.


Rachel mengangguk, begitu pula Alex.


"Kamu udah beresin baju kamu ke koper Chel?" tanya Aira.


"Udah mbak, baju aku cuma sedikit kok"


Alex melihat Rachel.


"Mau kemana kamu?" tanyanya.


"Mau kerumah bunda, ayah sama bunda mau liburan sama aku..Sekarang kan aku anak tunggal di keluarga" ucapnya.


"Balik kesini lagi?"


Rachel menggeleng.


"Aku mau nemenin bunda, bunda bosen sendirian..Tapi aku bakal mampir kok, mas tenang aja, aku bakal setia menyusahkan mas" ucap Rachel.

__ADS_1


Alex mengacak rambut Rachel.


"Ih mas.."


"Haha, enak ya jadi anak tunggal..inget jangan nyusahin bunda sama ayah kamu udah dewasa" nasehat Alex.


"Iya mas cerewet, mas juga tuh..Jangan pergi-pergi terus ninggalin mbak Aira sendirian dirumah kecuali pas kerja" ucap Rachel.


Alex mencubit kedua pipi Rachel.


"Iya sayang" ucap Rachel.


Wajah Rachel kelihatan kesal namun sebenarnya gadis itu senang, Aira tertawa melihat tingkah malu dari adik iparnya.


"Dasar kalian ini" ucap Aira.


"Sayang, kekamar kita sendiri yuk" Alex menggandeng tangan Aira.


Aira tersenyum.


"Mbak bakso bakarnya tanyain" bisik Rachel.


Alex melongo.


"Astaga..Baksonya lupa sayang" ucap Alex.


"Mas taruh mana?!" tanya Aira.


"Dapur..Udah dingin pasti" ucap Alex.


"Aduh..Gak bisa sih dari tadi" eluh Aira.


"Gara gara liat kamu mas lupa segalanya" candanya.


Aira melangkah keluar dari kamar adik iparnya, Alex mengusap dadanya.


'Bakso bakar memang tidak terlupakan' ucapnya.


Rachel menahan tawanya saat Alex dimarahi Aira.


"Sana tuh susulin mbak Aira haha" ledeknya.


Alex pun melangkah, sebelum itu ia sempat mencubit lengan Rachel dan berlari secepat mungkin.


"Mas Alex kurang ajar!" bentak Rachel.


Di Dapur..


Alex menghampiri Aira kedapur, ia melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.


"Mau diapain bakso bakarnya"


"Panasin, aku gak suka kalau dingin.." ucap Aira.


Aira melepas satu persatu tusuk bakso, menaruhnya disatu tupperware bulat dan meletakkan wadah tersebut kedalam microwave.


"Oke tinggal tunggu"


Alex masing bermanja-manja sambil memeluknya.


"Yaampun mas, pegel pundak aku tuh" eluh Aira.


"Hum.."


'Hum tapi gak dilepas, pegel nih pundak dilendotin mulu'


"Mas.."


"Iya-iya"


Alex melepas tangannya dari pinggang Aira.


"Aira, siapin baju mas" ucap Alex.


"Loh pakai baju ini aja, kan tadi udah mandi" ucap Aira.


Alex menyipitkan matanya, tangannya dilipat didepan dada sambil memajukan wajahnya, Aira otomatis memundurkan wajahnya.


"Siapa yang bilang mas udah mandi?" tanyanya.


Aira Menatap bingung Alex.


"Haha..Mas itu belum mandi" tawanya.


"Kok-?!"


Alex tersenyum, Aira tidak tau kalau Alex hanya membasahi rambut lalu mencuci wajahnya dan mengganti pakaian.


"Jadi bener belum mandi?" tanya Aira.


Alex mengangguk.


"Astagfirulloh..Berarti nemenin aku jalan-jalan mas gak mandi.." kagetnya.


"Hum, entah kenapa mas malas Ra"


'Jorok banget, nempel-nempel gua lagi, sejak kapan pak Alex males mandi, bisanya paling anti kotor'


Alex melihat wajah Aira, takut-takut istrinya itu marah besar.


"Sayang?" panggil Alex.


"..."

__ADS_1


"Jangan.." Alex menggantung ucapannya.


Pria itu menyentuh jari telunjuk Aira mencoba merayu agar tidak dimarahi.


"Marah ya?" lanjut Alex.


Aira menekan sudut bibirnya menatap Alex.


"Gak, buat apa aku marah? ini cuma masalah sepele-Ah bukan masalah juga..Tenang aja" ucap Aira.


Alex senang mendengarnya.


'Salah aku ternyata..Aira memang jadi baik semenjak hamil'


Ia cekikikan sambil merangkul Aira.


"Bener gak marah kan?"


"Hu'um..Gak marah"


"Istriku Makin cantik" puji Alex.


Cara ampuh ala Alex adalah memuji istrinya.


"Iya aku tau kok.."


Ting!


Microwavenya berbunyi, Aira memakai sarung tangan yng ada diatas microwave dan mengambil bakso bakar yang ia panaskan.


Aira meletakkannya disamping microwave. Wanita itu diam.


"Mas"


"Iya kenapa Aira?"


Aira menoleh, Wajahnya berubah datar.


"Aku hitung sampai tiga, masuk kekamar terus mandi" tegasnya.


"Hah?"


"Satu.." Aira mulai menghitung.


'Kirain benar jadi baik..Ternyata..'


'TAMBAH PARAH'


"Dua.."


Alex meneguk salivanya.


"Ra tunggu dulu.."


"Sampai hitungan ketiga mas masih disini, aku lempar mas sampai balik ke kampung halaman" ancam Aira.


"Ja-jangan, nanti yang nemenin kamu lahiran siapa?"


Aira melotot.


'Masih sempet ngejawab ya brodi'


"Mas!"


"Aira!"


'What?! berani ya'


Aira berjalan melihat kesekitar dapur, matanya tertuju pada vakum cleaner tanpa kabel yang ada disudut. Seingat Aira, Alex baru membeli benda itu.


"Ini mahal kan mas?"


"Eh mau ngapain?!"


"Menurut mas?"


'Itu baru beli Aira..'


"O-oke ini mas mandi hehe" ucapnya.


"Bagus"


"Ditaruh dulu itu.." pinta Alex.


"Oke ini aku taruh"


Aira meletakkan kembali vakum cleaner tersebut.


"Pinter"


"Yaudah sana mandi!" tegas Aira.


Alex membalikkan tubuhnya tapi ia menoleh kembali ke belakang.


"Sayang..now you look like a medusa" ucapnya pelan.


Mata Aira membulat.


"Mas Alex!"


Alex berlari secepat kilat meninggalkan dapur. begitu pria itu pergi Aira tidak sanggup menahan diri, ia pun tertawa.


"Haha jahanam banget.."

__ADS_1


"Untung sayang"


__ADS_2