
Mira membawa flasdish ditangannya lalu menyerahkan benda itu pada Raka. Hatinya berdebar karena bertemu Sang pujaan hati.
"Ini pak" ucap Mira sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih"
"Saya permisi pak"
Mira bangkit dari kursinya, tugasnya mengantar benda itu sudah selesai.
"Tunggu" cegah Raka.
Mira menaikkan alisnya.
"Ada apa pak?"
Raka meminta Mira duduk kembali.
"Kamu teman dekat Aira bukan?" tanyanya.
Mira mengangguk membuat Raka menyungging senyuman.
"Kamu ternyata lebih pintar dari yang saya duga" ucap Raka.
Mira mengerutkan dahi.
"Ma-maksud bapak apa ya?"
"Sudahlah Mira, jangan pura-pura bodoh"
Raka mendorong handphonenya sehingga Mira dapat melihat gambar yang tertampang dilayar handphone.
"Kamu kan yang ada dipoto ini?"
Mata Mira membulat, tubuhnya menegang, matanya bergetar saat melihat gambar itu.
Raka berdecap.
'Darimana Raka dapet poto ini'
'Gue yakin waktu itu gak ada yang liat gue!'
"Ekspresi kamu menjelaskan semuanya" ucap Raka.
"Hebat kamu Mira"
Mira menatap tajam Raka, ia menjadi panas dingin. Rasa malu melandanya.
Bayangkan orang yang disukainya tau kebusukannya.
"Ma-maaf pak, itu bu-bukan saya, bapak salah orang" elak Mira.
"Ah bukan kamu? Yasudah saya kirim langsung ke Aira"
Mira menimang-nimang.
"Ja-jangan" cegah Mira.
Raka melihat jelas raut wajah panik dari gadis itu, kelicikan diotaknya semakin bekerja.
"Kamu kenapa? Itu kan bukan kamu?" Raka memancingnya.
Mira tampak gugup, Raka menarik handphonenya kembali lalu memasukkan kedalam kantung baju.
"Da-dari mana bapak dapat poto itu?" ucap Mira pelan.
Ia tampak panik, Raka malah mengabaikannya.
"Jawab pertanyaan saya pak!"
"Dari mana bapak dapat poto itu!"
Raka melihat langit-langit ruangannya.
'Sial!'
Mira berpikir keras, rencananya kacau karena pria itu.
"Kamu mau poto ini dihapus? Gampang..Kamu nurut sama saya dan ikuti permintaan saya" ucap Raka.
Mira mengepal kedua tangannya, Raka benar-benar sialan berani mempermainkannya.
"Maaf, saya menolak" ucap Mira dingin.
"Yasudah silahkan..Silahkan pergi kesahabatmu itu" ucap Raka santai.
"Kita lihat bagaimana reaksinya saat tau sahabatnya sendiri berusaha mengambil suaminya" ujar Raka.
Bagaimana Pria itu bisa mendapati dirinya yang tengah mempoto Aira dan Gilan saat dibelakang kantin waktu itu.
"Apapun yang terjadi Aira pasti percaya sama saya" ucap Mira.
"Oh begitu?"
"Saya juga punya videonya loh" ucap Raka.
'Vi-video?!'
"Aira mungkin tidak percaya saay melihat poto, tapi kalau video pasti dia percaya"
__ADS_1
Mira hendak melayangkan pukulan kewajah mulus Raka tapi tertahan.
"Kamu mau tampar saya? Silahkan, tepat disamping kamu ada cctv" Raka menunjuk cctv disudut atas sebelah Mira.
"Brengsek" umpat Mira.
"Saya brengsek, berarti kamu?"
Mira menahan diri untuk tidak memperdulikan ocehan Raka, ia melangkah pergi lalu menutup pintu dengan kasar.
Ia menarik nafas dalam-dalam.
"Tenang Mira, Aira pasti percaya sama lo"
"Yah..Dia pasti lebih percaya"
"Pasti!"
Mira mengusap kasar wajahnya.
"Tapi dia bisa dapet itu semua darii manaaaa" suara Mira nampak bergetar.
Ia mengigit kuku ibu jarinya.
"Gue harus bisa hapus itu semua"
"Jangan sampai Aira tau"
Dibalik itu, Raka tersenyum setan, ia merasa keberuntungan sedang memihaknya. Lihatlah betapa lucunya kehidupan Mahasiswi-Mahasiswinya, seperti difilm-film.
Menikung sahabat untuk mendapat kesenangan sendiri, Raka benar-benar tertawa geli dibuatnya.
"Anak muda..anak muda" gumamnya.
Flasback on.
Raka berjalan kebelakang kantin untuk membuang kertas yang bertumpuk diruangannya.
Tempat sampah daur ulang memang ada dibelakang kantin.
Raka awalnya tidak begitu perduli saat Mira berada dibelakang kantin juga, tapi saat melihat gadis itu mengeluarkan handphonenya, barulah rasa penasarannya datang.
Ia melihat kemana Mira memandang, ada Aira yang berdiri bersama seorang Mahasiswa laki-laki, mereka sedang berpegangan tangan.
Dengan menggunakan handphonenya juga Raka mengambil gambar Mira, dan merekam menggunakan kamera yang dizoom agar bisa melihat jelas pada siapa poto itu dikirimkan.
"Pak Alex?" gumam Raka.
Raka mengerutkan dahinya bingung.
'Bukannya tidak ada sangkut paut dengan Dosen kalau Mahasiswi punya kekasih?'
Raka segera segera bersembunyi dibalik tempat sampah, Raka ingat dengan jelas wajah Mira yang panik dan tergesa-gesa masuk kembali kedalam kantin, tak lama Aira juga masuk kedalam kantin meninggalkan si Mahasiswa laki-laki disana.
'Sebenarnya mereka kenapa?' ucapnya dalam hati.
Flasback off.
Raka berputar-putar dikursinya sambil memegang handphonenya.
"Mira benar-benar licik"
Raka menghela nafasnya.
Ruangan Alex.
Aira lega, karena Alex sedang renggang, biasanya pria itu selalu mengerjakan berkas-berkas diatas meja.
"Gimana sama Raka?" tanya Alex
"Aman"
"Eh..Pak mau tau gak?" Aira menarik kursinya lebih maju.
"Gak" jawab Alex dingin.
"Bilang iya dong" protes Aira.
"Iya"
Aira mendekatkan wajahnya.
"Pak Raka tadi pagi ketemu saya, terus saya ledekin dia gay" ucap Aira sambil senyum-senyum.
"Maksud kamu?"
"Dia ngerecokin saya mulu, jadi saya bilang 'suami saya itu emang ganteng tidak diragukan lagi, sesama jenis juga jatuh cinta' "
"Eh dianya langsung kayak cacing kepanasan haha" Aira tertawa lepas saat menceritakan kembali kejadian tadi pagi.
"Udah gitu, saya bilang saya yang menang karena dapetin bapak" ucap Aira.
Alex tersenyum simpul mendengar cerita Aira.
'HUWA SENYUMNYA GAK NAHAN'
'Fiks anak gue goodlooking pasti!'
"Kamu pinter" puji Alex.
__ADS_1
'Cie gue dipuji'
'Jarang banget dipuji dia'
"Dari dulu saya emang pinter" Aira menyibak rambutnya kebelakang.
"Dikelas dia tidak macam-macam kan?"
Aira menggeleng.
"Kalem aja dia"
Alex berdehem, hening kembali.
'Ngomong apa lagi ini?'
'Dia diem gue jadi bingung'
"Pak ngomong apa gitu, biar gak bosen"
Alex mengangkat alisnya.
"Saya?"
"Iya"
"Kembali kekelas kamu, sebentar lagi mata kuliah saya" ucap Alex datar.
Aira mendelik, bukan itu yang dia mau.
"Bapak ngusir?"
Alex mengangguk.
"Bukannya kamu yang minta saya ngomong?" tanyanya dengan wajah polos.
Aira menghela nafas.
"Maksud saya, ajak istri berbincang-bincang gitu..Masalah uang jajan atau uang skincare" ucap Aira.
"Oh.."
'Dih oh doang?'
"Naikin uang jajan" ucap Aira.
"Tidak"
"Minta kartu kredit sini"
"Tidak"
"Pinjem bentar aja"
"Saya tau, kamu bakal beli barang-barang yang tidak berguna" ucap Alex.
"Yaudah minta sama Raka"
"Gih, minta" ucap Alex dingin.
Aira menyengir.
"Bercanda, makanya pinjem"
"Tidak"
'Ya Allah pak Alex ini selain menggemaskan ternyata halal untuk dibacok'
'Depresi gue lama-lama'
'Ada yang mau sama pak Alex gak?'
'Sini deh share lock biar gue paketin'
Aira menatap sebal Alex.
"Kamu ngapain masih disini?" tanya Alex.
Aira mengerjapkan mata, ternyata Alex bersungguh-sungguh mengusirnya.
Aira mendesis lalu menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Bye!"
Blam!
Alex dibuat terheran-heran dengan tingkah Aira barusan.
"Pulang beli cemilan! gak mau tau"
Seru Aira dari balik pintu.
Wanita itu masih disana, Alex pikir ia sudah pergi sejak tadi.
"Iyaaa" jawab Alex.
"Bagus!" ucap Aira.
Alex menghela nafas.
__ADS_1
"Ngurus istri seperti latihan ngurus anak, tidak kalah rewelnya" gumam Alex.