
"Alex ini kakaknya Aira namanya Mawar, udah tau kan?" ucap Reva.
"Mawar busuk" cibir Aira mendapat tatapan sinis dari si pemilik nama.
"Sudah ma"
Adrian diam diam memperhatikan cara duduk Aira yang sangat rapat dengan Alex, tidak ada jarak sama sekali padahal sofanya luas. Dalam hatinya tenang, berarti keduanya sudah dekat.
"Ya papa berharap rumah tangga kalian baik-baik aja, Alex bisa menjaga Aira dengan baik, Aira juga harus gitu" ucap Adrian.
"Bener, Aira jangan suka ngebantah ya, dosa nak"
Aira menunduk, berarti selama ini ia punya banyak dosa, dia sering kesal dan membantah Alex.
Alex menggenggam tangan Aira.
"Aira istri yang baik ma, walaupun masih kuliah Aira bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan ngurus saya dengan baik" ucap Alex.
Sungguh! Aira tersentuh, Alex menutupi kesalahan Aira didepan orang tuanya, suami idaman!.
Mereka kagum, tidak menyangka putri mereka begitu hebat.
"Alhamdulilah, Aira mama bangga sama kamu" ucap Iren.
Aira tersenyum.
'Karena dibantu, pasti ada upahnya kan?'
Skip..
Mereka menyantap makan siang bersama, sebelum kembali kerumah orang tua Alex untuk mengambil barang-barang. Aira sempat meminta Alex untuk pulang sore, tapi ditolak karena hari ini akan pindah.
"Ma, pa, besok bisa datang kerumah baru ya?" ucap Alex disela-sela makan siang.
Iren mengangguk antusias.
"Pasti, mama sama papa pasti datang" ucap Adrian.
"Kak Mawar gak usah, nanti makanannya dihabisin"
Aira melirik Mawar yang makan dengan damai, ia suka sekali mengusik Mawar.
Mawar mengayunkan sendokkan kesal.
"Mawar..." tegur Adrian.
Mawar langsung berhenti.
"Iya papa bercanda"
Melihat Mawar kena tegur, Aira menjulurkan lidahnya. Adrian menyaksikannya.
"Aira jangan gitu, gak malu sama suami kamu?" tegur Adrian.
Aira menyengir.
Usai sudah acara makan siang, Alex berada diruang tamu bersama Mawar dan Adrian, sedangkan Aira pamit untuk kekamarnya. Ia ingin membawa barang-barang waktu belum menikah.
"Ah kamar gue jadi tempat hantu" ucapnya.
Ia menatap ranjangnya.
"Huh...Dulu ini tempat favorit, adem, tidur sendirian, peluk guling, bangun tidur udah ada mama yang bangunin"
Aira bernostalgia.
"Ck..Gak kerasa udah jadi istri orang"
"Ehh dipaksa sih" lanjutnya.
Ia duduk dikurdi tempat belajarnya yang, tangannya membuka laci meja belajar.
"Banyak buku note buat nulis kehaluan gue dulu haha" kekehnya.
"Kok gue tukang halu sih dulu"
Ia membaca beberapa lembar buku, lalu tertawa geli.
"Allahu...Serius gue nulis ini..Masa ada plus-plusnya"
Tidak habis pikir pada dirinya sendiri. Setelah mengambil buku notenya dan beberapa baju favoritnya Aira turun kebawah.
Ia duduk disamping Alex yang asik berbicara dengan kakaknya, ya wajar mereka seumuran.
"Jadi kamu mau tetep jadi Dosen terus Lex?" tanya Mawar.
"Hmm, belum ada rencana buat berhenti" ucap Alex.
"Soalnya gini Lex, nanti ada Maba yang cantik gimana? terus dia ganjen kekamu..Aduh gak kebayang" ucap Mawar, ia merayu Aira.
Aira yang hanya menyimak langsung sadar kemana arah bicara Mawar, ditatapnya Mawar penuh kekesalan.
"Eh, kok marah?" tanya Mawar.
Alex menengoknya.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
Aira menggeleng.
"Oh iya, kemarin ada temen aku yang ngajakin bisnis, kira-kira kamu tertarik gak Lex? Soal bisnis apa nanti aku kabarin" ucap Mawar.
__ADS_1
Alex mengangguk.
"Boleh"
Aira sudah kesal, ia cemburu melihat suaminya terus berbincang dan mengabaikannya.
Jam didinding menunjukkan pukul dua siang, Alex dan Aira berpamitan untuk pulang.
"Kamu bawa apa?"
Alex melihat istrinya itu membawa totebag berukuran sedang.
"Hum? Ah ini baju tidur sama buku"
jawabnya.
Sampailah dirumah orang tua Alex. Alex menaruh koper miliknya dan milik Aira dibagasi mobil.
"Bunda, ayah kami berangkat assalamuallikum" ucap Alex.
"Waalaikumsalam hati-hati ya nak" ucap Reva.
"Kalau udah sampai kabarin" ucap Hero.
Reva dan Aira berpelukan.
"Duh...Bunda kangen sama menantu bunda ini" ucapnya.
"Huhu Aira juga, bunda sering-sering main kerumah ya nanti?" ucap Aira.
"Iya pasti, intinya siapin cucu buat bunda sama ayah..Kita udah tua nak mau cepat-cepat gendung cucu, kalau ngarepin adeknya Alex gak mungkin, dia masih sekolah" ucap Reva.
Aira mengiyakan.
"Doakan ya bunda" saut Alex.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aira menjatuhkan tubuhnya disofa akibat keletihan, ia merapikan pakaian dan hal-hal lainnya sendirian, ingat! Sendirian. Dimana Alex? Oh pria itu melarikan diri dengan embel-embel memeriksa makalah para Mahasiswa.
'Kalau tiap hari gini, mampus gue'
"Airaa" panggil Alex dari lantai dua.
Aira bangun.
"Apa?"
"Saya mau kopi" ucapnya.
Aira mendengus.
"Nyuruh mulu!" Ketusnya.
"Gula yang mana sih!"
Dibukanya satu percatu botol lalu dicicipi.
"Ah ini gula"
Barusaja ingin menuangkan gula ke cangkir, sebuah niat buruk melintas dikepalanya.
"Hehehe gue kerjain lo" ucapnya tersenyum setan.
Lantas ia langsung pergi kekamar dilantai dua.
"Pak ini kopinya" ucapnya.
"Hm"
Alex mengambil cangkir kopi tanpa melihat wajah Aira yang sangat licik itu.
'Satu'
'Dua'
'Tiga'
Byurr!
Alex menyemburkan kopinya alhasil kertasnya terkena semburan, Aira tertawa lepas hingga terbahak-bahak. Alex paham sekarang kenapa kopinya terasa aneh.
"Kamu sengaja?"
Aira mengangguk sambil terus tertawa.
"Kamu pikir lucu?"
Aira menghentikan tawanya, ia melihat kertas-kertas yang terkena kopi.
'Mampus gue!'
"Aa-em-anu pak sa-saya gak sengaja swear" ucapnya terbata-bata.
Lihat wajah Alex sudah kesal, pria itu memijit pangkal hidungnya, Aira jadi ketakukan dan panik.
"Sa-saya buatin lagi"
Aira segera beranjak dari sana, tapi dengan cepat Alex menarik Aira hingga terduduk dipangkuannya.
Aira merutuki kebodohannya.
__ADS_1
"Kamu mau kabur?"
Aira menggeleng cepat.
"Sa-saya cuma mau bikin kopi yang baru"
Alex menampakkan smirk nya.
"Kamu pikir saya percaya?"
Matilah Aira, ia sudah tertangkap mana bisa kabur lagi.
"Tunggu!"
Aira menahan bibir Alex yang ingin menciumnya.
"Hum?"
'Cepat cari alasan!'
"Saya mules banget pak" ucapnya pura pura kesakitan sambil mengusap perutnya.
Alex mengerutkan dahi.
"Kamu makan apa tadi?"
Melihat Alex mulai lengah Aira segera bangkit dan berlari kencang sampai keluar kamar.
"Selamat anda kena prank ahahahhaha!" serunya.
Alex mengeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana Aira bisa mudah mengelabuhinya.
Pukul 20:00 Wib.
Aira sibuk mengotak-atik dapurnya menyiapkan makan malam, cukup lama ia disana. Dapurnya masih baru jadi Aira perlu beradabtasi.
Ia memotong dadu daging ayam bagian dada, lalu dibaluri dengan tepung, Aira ingin membuat sesuatu yang manis dan pedas, Alex tidak terlalu suka pedas.
"Masak apa?" tanya Alex.
Pria itu mengosok-gosok rambutnya dengan handuk, ia baru selesai mandi.
"Diem aja disitu jangan banyak tanya" ucap Aira.
Alex tidak ambil pusing, ia langsung duduk menunggu makan malambya siap.
"Tadaaa!"
Aira menyajikan masakan diatas meja.
"Ayam crispy pedas manis ala Aira alkeyna" ucapnya.
"Saya gak suka pedas" ucap Alex.
Aira mencebik.
"Cobain dulu, ini saos bukan sambel"
Ia menaruh lauk yang dipasang ke piring Alex. Alex tidak yakin, makanan itu sangat merah pasti pedas.
Alex tidak bereaksi, akhirnya Airapun turun tangan, ia menarik kursi agar dekat dengan Alex, memgambil Alih piring.
"AAaaa~" serunya.
Alex harus disuapi agar mau makan.
"Ayo AAaaa~, ini gak pedes..Nih kalau gak percaya"
Aira melahap satu suapan.
"Tuh kan enggak, cepetan makan!" Tegasnya.
"Enggak, masakan mie instan aja"
"No no no! makan ini, biasanya juga mau kan" omel Aira.
"Karena itu buatan bunda saya gak mau mau nolak" ucap Alex.
Aira mengangkat sudut bibirnya, apa-apaan Alex ini, jadi walaupun ini buatan Aira, Alex tetap menolak?.
"Ooo kalau saya yang masak gak mau?"
"Bukan gitu Aira"
"Yaudah makan!"
Mulut Alex terbuka sedikit-demi sedikit, Aira yang tidak sabaran langsung menyodorkan ayam kemulutnya.
The real suami takut istri.
Pria itu tampak tidak senang dengan kelakuan Aira, Aira tidak perduli, ia menunggu reaksi mengenai masakannya.
"Pedes gak?"
"Sedikit" ucap Alex.
Senyuman terukir dibibir Aira.
"Gakpapa, udah gede harus tahan pedes" ejek Aira.
Alex menatap tajam.
__ADS_1
"Canda bapak" ucapnya.