Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-135


__ADS_3

part ini aku tulis setelah puas menjelajahi instagram dan melihat banyak keuwuan😔 jadi pengen, astagfirulloh bercanda ya allah.


Tapi jujur Author minta maaf kalau gk perfect bikinn adegan uwunya, author sendiri gak pernah pacaran👉👈, tapi demi kalian semua dan karya ini, authir selalu mencari referensi, mulai dari drakor, drachin sampai ke instagram buat lihat anak tiktok uwu" wkwk.


Dari pada plagiat karya orang lain haha...**Iyuhhh.


INI DOUBLE UP KOK, KALAU BISA TRIPEL..TAPI NTAR MALEM LAGI**.


SO HAPPY READING❤...


"Ah~"


Alex merebahkan tubuh diatas ranjang, ia memejamkan matanya.


"Mas, mandi dulu" ucap Aira.


"Hum"


Pria itu memijit pelipisnya.


"Sakit kepala?" tanya Aira.


Alex menggeleng.


Aira duduk disebelah Alex, memperhatikan wajah suaminya. Kantung mata Alex semakin besar, ditambah bawah matanya mulai menghitam.


Karena banyak begadang dan tidur larut untuk menemani Aira, Alex jadi kurang tidur.


"Mas" panggilnya.


"Hum?"


"Maaf" ucapnya pelan.


Alex membuka matanya lalu tersenyum, ia menarik pelan tangan Aira agar wanita itu tidur disebelahnya.


"Mas"


"Udah, jangan mikir yang bukan-bukan, mas cuma ngantuk" ucap Alex.


Aira mempoutkan bibirnya.


"Ssshh..Gembul" ucap Alex.


Ia memeluk Aira, membuat wanita itu tersenyum kembali.


"Mandi mas" ucap Aira.


"Temenin mas tidur, sebentar ajaa" pinta Alex dengan suara manja.


"Yakin mau tidur? Katanya gerah"


Cup.


Alex mengecup kening Aira.


"Liat wajah kamu, mas langsung seger lagi" candanya.


Aira tersenyum malu-malu dibuatnya.


"Bisa gitu ya"


"Apa yang Alex tidak bisa" jawab Alex.


"Oke enam menit aja, aku mau ngerjain tugas kuliah" ucap Aira.


Alex mengangguk.


Aira awalnya ingin menemani Alex saja, tapi pelukan pria itu membuatnya mengantuk dan ikut terlelap. Keduanya tertidur, tangan Alex memeluk tubuh Aira.


Tok..Tok..


"Mbakk"


Rachel mengetuk pintu kamar tersebut.


"Kok gak dijawab?"


Tok..Tok..


"Mas? mbaak?" Panggil Rachel.


'Kemana mereka, apa aku ditinggal dan mereka jalan-jalan? Begitu?'


Rachel menghela nafas, ia memutuskan untuk mengetuk sekali lagi, jika tidak ada jawaban ia akan pergi.


Tok...Tok..


"Mbak, Mbak Aira didalam?"


Aira mengernyit, matanya perlahan terbuka karena mendengar pintu kamarnya diketuk.


Ia mengusap matanya, lalu menoleh pada Alex. Pria itu masih tertidur nyenyak.


Aira perlahan memindahkan tangan pria itu lalu bangkit.


"Kalian ada didalam atau gak, kalau dengar cepat turun kebawah makan ya" ucapnya.


'Loh suara Rachel?'


Aira melihat jam yang ada diatas meja, matanya membulat, ternyata sudah satu jam berlalu, padahal ia berniat menemani Alex selama enam menit saja.


"Astaga udah sore? K-kok... yaampun ketiduran gue" ucap Aira.


Ia membenarkan ikat rambutnya, lalu merenggangkan tangannya.


'Akhirnua Nyenyak juga tidur dipeluk pak Alex, setiap malem gue susah tidur'

__ADS_1


Aira mengambil pakaian di dalam lemari dan masuk kekamar mandi, ia sempat mengecup pipi Alex.


Aira mencuci muka dan membersihkan dirinya, hari sudah sore, ia butuh jalan-jalan disekitar rumah.


"Raa" panggil Alex dengan suara serak.


Ia mengetuk pintu kamar mandi pelan.


Aira menengok kearah pintu kamar mandi, Alex sudah bangun ternyata.


Ia buru-buru memakai pakaiannya.


"Aira.."


"Iya mas sebentar" saut Aira.


Aira berjalan kearah pintu.


Cklek..


Ia melihat Alex yang masih mengantuk, berdiri disamping pintu kamar mandi dan menyandarkan kepalanya kedinding, tangan pria itu dipakainya untuk menjadi alas kepala.


Alex berpindah, ia menyandarkan kepalanya dibahu Aira, tangannya melingkar dipinggang Aira.


"Mas ngantuk.." ucapnya.


'Oke mulai rewelnya' ucap Aira dalam hati.


"Mas udah tidur loh" ucap Aira.


"Tck..ngantuk" kesal Alex.


Aira mengusap pundaknya.


"Yaudah-yaudah tidur lagii gih" ucap Aira.


"Kamu udah mandi?" tanyanya.


Aira mengangguk.


Kepala Alex tegak kembali.


"Kenapa gak ngajak mas" ucapnya.


"Mas tidur, gak tega mau bangunin" ucap Aira santai.


Alex mengerutu dalam hatinya, padahal ia mau mandi bersama Aira.


"Jahat, mas gak mau lanjut tidur!"


Aira membeku, apa Alex barusaja bersikap imut? Kesalnya itu seperti bocah umur lima tahun.


Aira mengerjapkan matanya.


"Jadi mas mau apa?"


Alex manyun.


Alex sangat tidak cocok menjadi pria dewasa yang berumur dua puluh delapan tahun, ia lebih cocok jadi bayi.


Aira menyentuh kedua pipi Alex.


"Suami aku yang ganteng ini mau mandi uhm?" Aira menanggapi Alex dengan imut juga.


Alex mengangguk.


"Utututu sana mandiii, biar wangii" ucap Aira.


"Mandiin" pinta Alex.


"Tapi aku udah mandi mas"


"Mandi lagi, ayoo"


Alex membawa Aira, tapi Aira menahannya.


"Tunggu, aku gak bisa mandi lagi..Sebenernya aku bisa, tapi kasian babynya" ucap Aira dengan nada memelas.


Alex melihat Aira lalu perut wanita itu.


Baik dia mengalah, ia melepas tangannya.


"Mas mandi sendiri?"


Alex mengangguk, dari matanya terlihat jelas ia sedikit tidak rela.


"Gakpapa kan?"


Alex mengangguk lagi.


"Yaudah mandi gih" ucap Aira.


'Alex yang malang hahaha' tawa Aira dalam hati.


Pria itu menyentuh knop pintu, kepalanya menoleh menatap Aira.


"Sekarang mas ngalah, gak tau kalau nanti malam" ucapnya.


Aira mendelik.


"Heh"


Alex tersenyum mesum.


Ia mengambil bantal dan bersiap melempar Alex, pria itu dengan buru-buru masuk kekamar mandi menghindari amukan Aira.


"Oke sayang?" tanya Alex dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Gak!"


"Apa? Iya? Oke sayang" ledek Alex.


"Aku bilang enggak ya!" saut Aira.


"Iya iyaa tenang, nanti malem kok"


Aira menyentuh dahinya, Alex suka sekali menggodanya sampai ia marah.


"Jahil banget sih?" ucap Aira.


Pria itu tertawa puas didalam kamar mandi.


"Bodo amad, gue tinggal aja deh"


Aira keluar dari kamarnya, ia menuruni anak tangga sambil bersenandung.


Ia melewati dapur, namun beberapa detik kemudian Aira melihat kearah dapur.


Ada Rachel yang duduk disana sendirian sambil menyuap nasi.


"Eh Rachel, makan sendiri aja nih" ucap Aira.


Rachel tersentak kaget.


"Astaga mbak ngaggetin"


Aira menyengir.


"Kamu masak sendiri?"


"Iyaa"


Aira menarik kursi lalu duduk didepan Rachel.


"Kamu gak ngajak-ngajak ya" ledek Aira.


Rachel berhenti menyendok.


Langit..bisakah kau turunkan hujan? Rachel ingin menangis tanpa terlihat.


Ia butuh kekuatan.


'Calm down Rachel..'


Rachel menghela nafas.


"Mbak sama mas dari mana?" tanyanya pelan.


Aira sibuk mencicipi makanan yang dihidangkan dimeja makan.


"Mbak?"


"Iya kenapa?"


"Mbak dari mana?" tanya Rachel lagi.


"Dari kamar dek"


"Serius?"


Aira mengangguk.


Rachel menutup wajahnya.


"Aku dari tadi panggil kalian kenapaa gak nyahut?" ucapnya.


"Memangnya kamu manggil?"


'Allahuakbar..Rachel kuat..Rachel sabar'


Rachel mengangguk.


"Bahkan aku ketuk pintu berkali-kali" ucap Rachel.


"Masa sih?"


"Percayalah, aku ketuk tapi gak dibuka-buka pintunya" lanjut Rachel.


Aira mengerutkan dahi, ia diam  mencoba mengingat.


"Astaga!" ucap Aira.


"Dengar kan waktu aku panggil?"


Aira dengan kikuk mengangguk, ia baru ingat yang membuatnya terbangun tadi adalah Rachel.


Gadis itu sudah bilang untuk turun kebawah dan makan.


"Bodohnya aku...Maaf Chel, mbak lupa, mbak ketiduran soalnya" ucap Aira.


'Malu banget gueeee astaga..'


"Gakpapa, yang penting mbak inget" ucap Rachel.


"Hehe maaf ya"


"Hem..Mbak mau makan yang lain? Aku bisa masakkin" tawar Rachel.


"Gak Chel, yang kamu masak ini udah cukup" ucap Aira.


Rachel tersenyum.


"Enak kan?"


"Bangett" ucap Aira.

__ADS_1


"Habiskan mbak, biar mas Alex gak usah makan" ucap Rachel.


Aira tertawa.


__ADS_2