
SEDIKIT INFO, MAAF AKU SALAH NAMA AKTOR GEGARA LAGI NULIS NOVEL BARU, AKU JADI KEBAWA SUASANA, JADI BARA ITU SEHARUSNYA RAKA.
INGAT! JADILAH PEMBACA YANG BIJAK.
Mira benar-benar mengabaikan Aira, saat dikantin kampus ia duduk jauh dari Aira, bahkan melewati Aira begitu saja.
"Mir, duduk disini aja" ucap Aira.
Mira menghempaskan tangan Aira lalu pergi, sakit rasanya melihat sahabat sendiri berubah.
Aira tidak tahan, ia beranjak dari duduknya.
'Gue harus ngomong ke kak Gilan'
Aira menghubungi Pria itu.
"Kak Gilan mau jawaban dari aku kan? kita ketemu di belakang kantin" ucapnya lalu menutup telefonnya.
Belakang kantin.
Gilan mendengarkannya, pria itu sampai lebih dulu. Aira menghembus nafas, perlahan berjalan mendekati Gilan.
"Kak"
Gilan menoleh.
"Eh Ra, Gimana kamu mau kan?"
Gilan meraih kedua tangan Aira, Aira mengigit bibir bawahnya bimbang.
"Kak..Aku.."
"Iya?"
'Ayo Ra lo pasti bisa'
Aira melepaskan tangannya.
"Kak maaf, Aira gak bisa" ucapnya.
Pria itu terdiam, Gilan tidak percaya kalau Aira menolaknya.
"Haha, kamu bohong kan?" ucap Gilan.
Aira menggeleng.
"Aku gak bisa kak...Maaf"
Aira bergegas meninggalkannya, ia ingin menangis, tapi ini benar, yang dilakukannya sudah benar, ia tidak punya hak untuk menjalin hubungan dengan Gilan dan ia sudah punya tanggung jawab.
Dikoridor ia berpapasan dengan Mira, Aira pasrah, terserah Mira mau memaaafkannya atau tidak. Namun, siapa sangka Mira malah mengkhawatirkannya.
"Lo kenapa nangis?" tanya Mira dingin.
Aira semakin menangis.
"Miraaa" rengeknya.
"Miraa lo maafin gue kan?"
"Hm"
Aira memeluk Mira sangking senangnya.
"Gue-gue udah nolak dia, gue salah..Gue egois Mir..Hiks"
Mira mana tega melihat sahabatnya seperti ini, diusapnya pundak Aira agar wanita itu lekas tenang.
"Udah-udah, gue gak narah lagi, gue kayak gini supaya lo sadar Ra.." ucap Mira.
Aira tersentuh, Mira memang sahabat yang paling mengerti dirinya.
"Sekarang tugas lo cuma satu Ra"
Mira melepas pelukan Aira.
Aira mengerutkan dahinya.
"Temuin pak Alex, dia harus tau masalah ini, sebelum dia denger dari orang lain" ucap Mira.
Benar! Aira harus segera menemui suaminya.
"Jangan takut, lebih baik lo jujur, dia pasti ngertiin..Oke?"
Aira mengangguk.
"L-lo temenin gue ya?"
Mira tersenyum. "Lo harus berani Ra, gue tunggu dikelas aja ya" ucapnya.
Aira takut, takut Alex memarahinya karena berani menutupi masalah besar ini.
"Udah sana" Mira mendorong Aira.
Aira pun pergi, sempat menoleh kebelakang, ada Mira yang masih berdiri disana sambil tersenyum padanya.
"Semangat Aira" serunya.
Dengan langkah berat, Aira ke ruangan Alex. Sampailah ia didepan pintu, Aira mengatur nafasnya agar tidak panik.
Saat hendak membuka pintu, pintu itu malah dibuka oleh seseorang.
"Eh.."
"Aira?"
Ada mahasiswi lain ternyata.
"Eh Widia" sapa Aira.
__ADS_1
Widia tersenyum.
"Ada perlu sama pak Alex ya?"
'Kepo banget'
Aira mengangguk.
Widia berdecap.
"Mending gak usah dulu deh"
'Lah apa maksud? istri sah dilarang ketemu suami sendiri'
Aira menaikkan satu Alisnya, siapa Widia berani melarangnya.
"Soalnya gini yaa, pak Alex lagi jelek moodny, gue gak mau ada yang nambah buruk mood calon suami gue" ucap Widia sombong.
Aira menatap sinis wanita itu, sadarkah Widia kalau yang berdiri didepannya ini istri sah Alex.
'Kasian ya, halunya ketinggian'
"Oh calon suami?"
Widia mengangguk mantap.
"Kok pak Alex matanya minus gitu, mau sama cabe-cabean" cibir Aira.
"Lo-"
Widia mengayunkan tangannya hendak menampar Aira tapi tidak jadi.
"Widia, kamu ngapain bediri disana?Bisa tutup pintunya?" ucap Alex.
"I-iya pak"
Widia menutup pintunya, ia menatap sinis Aira.
"Awas lo"
Aira menjulurkan lidah mengejek Widia. Begitulah kehidupan kampus Aira, tidak ada yang bisa diajak berteman selain Mira.
Aira kembali fokus ketujuan pertamanya, ia membuka pintu Alex.
"Kamu bisa tidak, ketuk pintu dulu?" ucap Alex.
Aira melongo.
"Ha? saya kan istri bapak"
"Iya, tapi kita lagi dikampus, kamu Mahasiswa dan saya dosen" ucap Alex.
Oke, Aira salah.
"Duduk"
Aira duduk dikursi, ia tidak langsung bicara, pikirannya campur aduk. Aira hanya menunduk sambil memainkan jari-jemarinya.
"Kamu mau apa?" tanya Alex.
Pria itu menutup laptopnya, ia memfokuskan diri pada Aira. Aira menelan salivanya, matanya saja tidak berani menatap Alex.
"Soal tadi malam, saya salah karena pulang telat..Sa-saya minta maaf" ucapnya pelan.
"Saya maafkan" ucap Alex.
Aira mendongak.
"Serius pak?"
Alex mengangguk.
"Ta-tapi saya punya satu hal lagi yang perlu bapak tau.." ucap Aira.
"Kak Gilan...Eee.."
Ting!
Ucapan Aira terpotong karena handphone Alex berbunyi.
"Sebentar" ucap Alex meraih handphonenya.
Yang Aira lihat, wajah pria itu berubah, entah apa yang dilihatnya. Alex seperti kaget.
"Dari siapa pak?"
Tanpa menjawab Alex memberikan benda itu ke Aira, betapa terkejutnya Aira, ada fotonya dengan Gilan yang memegang tangannya, dan foto itu diambil saat mereka dibelakang kantin.
Inilah kenapa Mira bilang harus segera memberitahu Alex sebelum ada orang lain yang memberi tau.
Aira kalang kabut.
"Pa-pak saya bisa jelasin se-"
"Baju kamu sama ya seperti difoto" ucap pria itu.
'Oh sial' umpat Aira.
"Pa-pak, foto itu memang benar, tapi bukan gitu ceritanya..Kak Gilan sama saya gak ada hubungan apapun" Aira berusaha meyakinkan.
Alex bangkit dari duduknya, Aira ketakutan, apa yang mau dilakukan Alex.
"Pak please, bapak salah paham" Aira memohon pengertian Alex.
"Keluar dari ruangan saya"
Aira membulatkan matanya, tidak percaya.
"Saya bilang keluar"
"Pak.."
__ADS_1
"Kita selesaikan dirumah" ucap Alex.
Aira segera keluar dari sana, matanya terasa panas, pandangannya buram karena menahan tangis, Aira menemui Mira dikelasnya.
'Sialan yang ngirim foto itu'
"Gimana oi?" ucap Mira.
"Pak Alex salah paham soal gue sama kak Gilan dibelakang kantin tadii"
"Ha? dia tau dari mana Ra?"
Aira mengeleng.
"Gue juga gak ngerti, ada yang ngirim foto itu.."
Mira mengigit jarinya.
"Coba lo inget-inget siapa aja yang gangu lo akhir-akhir ini" ucap Mira.
Aira tampak berpikir.
"Nana sama gengnya" ucap Aira.
"Bisa jadi ini semua kelakuan Nana!" ucap Mira mantap.
'Nana brengsek!'
"Ta-tapi dia tau dari mana pak Alex suami gue?" tanya Aira.
Mustahil juga, kenapa Nana tau ia sudah menikah? padahal cuma Mira satu-satunya yang tau tentang itu.
"Ee...Lo taulah gimana liciknya Nana?"
Aira sedikit bimbang, apa benar Nana yang melakukan ini semua, atau bisa jadi Gilanlah yang melakukannya.
Skip..
Aira mondar-mandir didalam kamar menunggu Alex pulang, ia mengigiti kuku ibu jari. Berusaha menyusun kata-kata agar Alex memahaminya.
Cklek.
Pintu kamar terbuka, Alex sudah pulang. Oke Aira tidak langsung mengajaknya bicara, takut pria itu emosi.
Alex menaruh tasnya dimeja lalu mengulung lengan kemejanya sampai siku. Pria itu tampak kelelahan, dengan ragu Aira mendekat.
"Saya malas mendengar omong kosong kamu" ucap Alex menghentikan langkah Aira.
Semarah itukah Alex padanya?.
"Saya tetep ngomong walaupun bapak gak suka" ucap Aira.
Keras kepala bertemu dengan keras kepala. Aira mengambil handphonenya, ia akan menunjukan video dimana Gilan menyatakan perasaan padanya lalu menyodorkannya pada Alex.
"Liat, disitu saya terima apa enggak? jelas-jelas saya gak nyaman disana" jelasnya.
Alex menonton video itu, Aira juga mencari kesempatan menjelaskan tentang fotonya.
"Dan foto itu, itu benar, saya minta kak Gilan buat ketemuan..Ya karena itu...Karena saya mau nolak diaa"
Semoga Alex mempercayainya kali ini saja.
"Cih.."
Aira mengerjapkan matanya, apa ia tidak salah dengar? Alex baru saja mendesis.
"Pak..Percaya sama saya, saya udah ngejauh dari dia" ucap Aira.
"Saya percaya" ucapnya.
'Langsung percaya?'
Aira antara senang dengan tidak, kenapa? Alex mengatakan percaya tapi wajahnya tidak menunjukkan kepercayaan itu sendiri.
"Bapak serius percaya kan?"
"Ya" ucapnya singkat.
Baru saja Aira ingin memeluknya, Alex langsung bangkit menjauh. Oke, Aira memaklumi.
"Hm, bapak mau langsung mandi? atau makan dulu biar sa-"
"Saya mau mandi" potong Alex.
"Oke, saya siapin makan malam ya?"
"Tidak perlu"
Aira mengerutkan dahinya.
"Bapakkan belum makan" ucapnya.
"Saya bilang tidak ya tidak Aira" suara Alex meninggi.
Aira menggigit bibir, ingin menangis rasanya, kenapa Aira merasa Alex jadi kasar,bahkan tadi pagi sebelum mereka bertengkar, Alex sudah bersikap dingin.
"Bapak kenapa sih?" sengak Aira.
Alex menghentikan langkah kakinya hendak kekamar mandi, posisinya saat ini membelakangi Aira.
"Bukannya bapak bilang percaya? kenapa malah dingin kesaya?" suara Aira serak menahan tangis, Alex terlihat menakutkan baginya.
"Saya udah tolak dia, demi Allah"
Lama-lama Aira menangis juga, satu harian ini ia banyak mengeluarkan air mata, mungkin besok matanya akan membengkak.
Melihat Aira menangis, Alex masih enggan berbalik, rasa kecewa yang membuatnya seperti itu.
"Siapin makan malamnya" ucap Alex dingin.
Blam!
__ADS_1
Pintu kamar mandi ditutup kuat, Aira mengusap Aira matanya, sebelum Alex berubah pikiran lagi ia harus segera menyiapkan makan malam.