
Sukses sudah Aira memakai piyama dan Alex? Oh pria itu pria baik yang menepati ucapannya.
Bolehkah Aira berbangga hati? Tentu tidak, karena pria itu punya beribu cara mesum padanya.
"Sudah belum?" tanya Alex.
Aira berdehem.
Alex membalikkan tubuhnya menghadap Aira, istrinya sudah rapi dengan piyamanya.
"Ma-makasih" ucap Aira.
"Buat apa?"
Aira menggaruk tengkuknya.
"Ya air hangatnya, bapak repot-repot nyiapin saya air hangat buat mandi" ucap Aira.
Kedua alis Alex naik, lalu menggelengkan kepalanya.
"Yang bilang gratis siapa?"
"Loh, ga bisa gitu dong, saya ngerjakan apapun dirumah ini dengan ikhlas, masa bapak gak ikhlas?" Aira bertanya balik.
"Itu berbeda" ucap Alex membela diri.
'Perhitungan banget sama istri'
"Kok gitu sih? Saya gak ada uang, kan belum dijatah sama bapak" ucap Aira.
Alex pura-pura terkejut, ia menepuk jidatnya.
"Aduh iya saya lupa, bayar pakai yang lain aja gimana?" ucapnya.
Aira menatap tajam Alex tapi akhirnya mengangguk.
Senyum licik Alex pun tersemat diwajahnya, entah Aira yang bodoh atau Alex yang terlalu pintar. Tapi kelihatannya Aira yang terlalu bodoh.
"Oke kesini" ucap Alex dengan wajah serius.
Ya wajah Alex begitu meyakinkan jadi Aira tidak menaruh curiga sama sekali, ia mendekat pada Alex.
"Jadi bayarnya itu seperti ini"
Alex menarik pinggang Aira agar tubuhnya lebih rapat, Aira tersentak kaget dengan pergerakan tiba-tiba Alex.
Firasatnya tidak enak.
"Eh sebentar" Aira menahan dada Alex.
Sepertinya Aira mulai paham maksud dari 'upah' ini.
'HEH?! GU-GUE DIKADALIN?!
"Kenapa?"
Aira menatap tajam Alex, ternyata dia sedang dibodohi!.
"Akh" Alex memekik kesakitan saat tangan Aira mencubit pinggangnya.
Otomatis Alex menjauhkan tangannya dari pinggang Aira, pria itu menjatuhkan tubuhnya ketempat tidur, kesempatan itu digunakan Aira untuk kabur.
"Rasain tuh!" cibirnya.
Alex tidak marah, pria itu bergerak kesakitan.
"P-pak? Sakit banget?" tanya Aira ragu-ragu.
Alex mengangguk.
Aira langsung ketakutan, ia memegang pinggang Alex yang dicubit tadi.
"Ma-maaf pak, gak sengaja" ucapnya panik.
Alex tetap kesakitan.
"Sakit Ra"
"Saya harus gimana?" Aira mulai kebingungan karena Alex semakin merengek kesakitan.
"Gak tau, sakit banget Aira, kamu segitu bencinya sama saya?"
Aira mengeleng cepat.
"Enggak, saya gak benci..itu reflek aja pak..Maaf"
Apa sekuat itu yang mencubit Alex tadi? Aira tidak tau akan separah itu.
__ADS_1
"Pak saya harus apa?" suaranya menjadi serak.
Mata Aira berkaca-kaca karena merasa bersalah, melihat Aira yang akan menangis Alex menghentikan sandiwaranya.
Ia duduk lalu menangkup kedua pipi Aira.
"Saya bercanda, jangan nangis" ucapnya sambil tersenyum.
Tatapan sendu Aira berubah menjadi tajam.
Ups?! Alex kelepasan!.
"A-aduh Aira sakit, pinggang saya sakit"
Alex menjatuhkan lagi tubuhnya ketempat tidur, harap-harap Aira akan percaya, tapi usahanya gagal.
Aira menatap Alex datar, aksinya pun dihentikan, ia kembali duduk.
Kali ini Alex pula yang tidak berani menatap wajah Aira.
"Saya bercanda" ucapnya pelan.
'Shit mau marah jadi gemes!'
Aira meremat kedua tangannya didepan Alex, sangking gemasnya tapi tidak berani menyalurkan kegemasannya.
"Hiiih!"
"Bikin orang panik" protes Aira.
Alex menyengir.
"Tapi cubitan kamu beneran sakit Ra" Alex membela diri.
'Beneran sakit berarti?'
"Co-coba sini, saya obatin" ucap Aira, tangannya bergerak membuka bagian samping kemeja Alex.
"Saya rasa bukan gitu" cegah Alex.
Aira mengerutkan dahi.
"Terus gimana?"
Cup!
"Udah sembuh?" tanya Aira.
Alex kaget sekaligus heran, tidak ada kalimat protes yang dilontarkan aira saat ia tiba-tiba mencuri ciuman.
Terlintas sebuah ide licik dipikiran Alex, kelihatannya Aira tidak keberatan kan? Maka lebih baik dilanjutkan saja!.
"Belum masih nyeri" ucap Alex.
"Terus gimana lagi?" tanya Aira.
"Coba sekali lagi"
Cup
Cup
Cup
Mata Aira mengerjap, Bukankah tadi Alex bilang sekali lagi? Ini sudah lebih dari sekali.
"P-pak Alex!"
Alex tertawa.
"Licik banget jadi orang" protesnya.
"Saya? Licik? Enggak tuh" elaknya.
Aira menggertak giginya.
"Kebiasaan tiba-tiba nyium saya, izin dulu"
Alex menahan senyumnya, posisi mereka itu duduk berhadap-hadapan diatas tempat tidur.
"Kalau izin dikasih?" tanya Alex.
Mata Aira berkedip cepat.
"Y-ya bisa dibicarakan baik-baik"
Alex mengangguk.
__ADS_1
Aira menatap Alex, ia tidak munafik kalau bilang jantungnya tidak berdebar, Aira rasa jantungnya akan keluar dari tempatnya.
Kapan terakhir kali ia dan Alex terlijat seperti pasangan suami istri? Sangat jarang bukan?.
"Mas"
"Hum?" Pandangan Alex seluruhnya dituju untuk Aira, ia tersentak kaget sekaligus tidak percaya.
Aira baru saja memanggilnya dengan embel-embel mas.
"Ka-kamu panggil saya apa?"
Pipi wanita itu memerah.
"Mas?"
Ya tuhan! Alex jadi gemas dan salah tingkah.
"Gak enak didenger ya?" tanya Aira.
Alex menggeleng cepat.
"Bagus, saya suka kok, mau ngomong apa?"
Aira menghela nafas, ia meraih tangan Alex lalu memegangnya.
"Sekali lagi saya berterima kasih sama ba- mas, karena udah perhatian sama saya, maafin saya sering ngelawan sama mas" Aira menunduk.
Alex berusaha tetap tenang, ia menahan senyuman. Apa dunia sedang berpihak padanya? Kenapa Alex merasa berdebar dan tidak kuasa melihat bibir manis Aira memanggilnya mas.
"Mas mau kan maafin saya?"
Alex tidak menggubrisnya.
"Mas?"
"Ah iya, sa-saya maafin" ucap Alex salah tingkah.
"Mas kenapa?"
Aira mengerutkan dahi, kenapa wajah Alex memerah seperti kepiting rebus.
"Mas sakit?"
Aira menaruh telapak tangannya didahi Alex.
"Gak panas tuh" ucap Aira.
Alex berdehem.
"Kenapa sih mas?" Aira mulai bingung.
Alex membuka satu kancing kemejanya, ia merasa panas sekarang.
"E-eh mau ngapain?!"
Tangan kekar Alex melingkar dipinggang Aira, bibirnya mendekat ketelinga Aira.
"Kamu harus tanggung jawab" bisiknya ditelinga Aira.
Aira baru 'ngeh', Alex tergoda karena panggilan baru darinya. Tangan Aira menyentuh dada Alex.
Ia mengigit bibir.
'Huwaaa mama Aira harus gimana'
"Gimana?"
Wajah Alex sangat dekat, hanya dibatasi oleh hidung mereka yang mancung.
Entah keberanian dari mana Aira menurunkan tangannya dari dada Alex.
"Si-siapa takut?"
Alex benar-benar banyak dibuat kaget oleh istrinya hari ini, Aira sudah berani menantang dan menggodanya.
Alex menampakkan smirknya, Aira juga memberi lampu hijau padanya. Alex langsung menyambar bibir pink dan mungil milik Aira.
"Mulai sekarang dan seterusnya panggil saya mas"
Alex mengecup lembut bibir Aira yang telihat begitu menggoda. Bahkan, Aira pun membalas, Alex menggigit lembut bibir bawah Aira, hingga Aira membuka sedikit mulutnya, dengan cepat Alex langsung mengeksplor seluruh rongga mulut Aira dengan lidahnya dan mereka saling bertukar saliva.
Ciuman kini berubah menjadi panas, Bibir Alex kini mulai menurun, menyapu leher jenjang Aira, hingga tanpa sadar Aira mendesah pelan.
"Mas" desahnya.
"Iya sayang?"
__ADS_1