Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-126


__ADS_3

Salah seorang wanita parubaya itu memberi Aira segelas teh, dan yang satunya mengusap pundak Aira menenangkannya.


Mereka membawa Aira kedalam kamar.


"Hiks..Hiks.." isak Aira.


Alex terlihat seperti monster, sangat menyeramkan.


"Istigfar mbak..ayo istigfar..." ucap si ibu, panggil saja Ira.


"Ya Allah Lanii..Badannya gemeter" ucapnya cemas pada Lani, nama wanita parubaya yang memberi Aira segelas teh hangat.


Lani pun ikut iba, ia duduk dilantai memijat kaki Aira.


"Ini tadi kenapa? Laki-laki ganteng tinggi Yang mukul laki-laki lainnya itu suaminya?" tanya Ira.


"Iya, suaminya"


"Astagfirulloh..kenapa sebenernya mbak.."


Aira menggeleng sambil sesegukan, untuk berbicara saja lidahnya kelu, ia tidak tau harus apa.


"Gakpapa, nangis aja mbak, luapin semuanya.." ucap buk Lani.


Tiba-tiba Alex muncul dari balik pintu kamar rumahnya Lani. Ia berdiri disana memandangi sang istri yang masih menangis.


Alex benar-benar gelap mata, sampai menghajar Gilan.


Ira menyengol paha Lani dengan kakinya, Lani menoleh kebelakang, ia bangkit mendekati Alex.


"Istrinya masih shock mas..pelan-pelan aja diajak ngomong" ucap Lani.


Alex mengangguk.


Lani dan Ira pun segera keluar dari kamar, Alex duduk disamping Aira, hatinya juga hancur melihat Aira menangis sampai tersedu-sedu.


Dengan ragu-ragu ia memegang pundak Aira, Aira tersentak kaget dan bergeser menjauh dari Alex.


Alex yakin istri pasti takut padanya, tubuh Aira semakin gemetar didekatnya.


Jelas, karena Alex tidak pernah marah sebesar ini.


Alex menghela nafas.


"Dek...jangan nangis" ucapnya pelan.


"Kita pulang ya?"


Aira menggeleng cepat.


"Disini rumah orang, kita pulang ya? kamu istirahat" ucap Alex lagi.


"Gak, aku gak mau pulang sama mas" suaranya terdengar serak.


Alex menangkup kedua pipi Aira, Ya tuhan mata Aira sampai sembab.


'Astaga Lex, jahat kamu, istrimu sampai begini'


Ditatap Alex, Aira semakin menangis. Alex mengusap Aira matanya, ia membawa Aira kepelukannya.


Alex mengecup kepala Aira.


"Sssutt...Maafin mas..Mas khilaf sayang.." ucap Alex.


"Mas..Kalau dipenjaga gimana? Hiks..saksinya banyak..Hiks" ucap Aira.


Ternyata Aira mengkhawatirkannya.


"Ssstttt sayangku, mas bakal aman..Kita bahas dirumah.." ucap Alex.


"Mas gak akan marah..Mas janji..Ya?" pintanya.


Alex mengangguk.


"Mas janji.."


"Kita pulang?" tanya Alex sembari melepas pelukannya.


Aira mengangguk.


Alex tersenyum, ia memapah Aira untuk berdiri. Lani dan Ira yang menunggu diruang tamu berdiri begitu melihat mereka keluar.

__ADS_1


"Mbak Aira gakpapa?" tanya mereka.


Aira mengangguk pelan.


"Istri saya gakpapa buk, makasih banyak bantuannya, maaf ngerepotin" ucap Alex.


"Haih..Ya ndakpapa mas, saya juga perempuan"


"Ini mbaknya lemes banget, apa gak digendong aja mas? Mukanya pucet juga" ucap Ira khawatir.


Beruntung ada orang baik yang membantu menenangkan Aira, Alex sangat bersyukur.


"Istri saya sebenernya lagi hamil buk" ucap Alex.


Kedua wanita itu terkejut, Lani memukul lengan Alex. Ia marah, bagaimana suami bisa ceroboh begitu didepan istrinya yang hamil muda.


"Astagfirulloh hamil muda? Kamu itu..Kalau istrinya keguguran gimana?" hebohnya.


Ira pun ikut heboh.


"Pa-panggil bambang, suruh bantu ini suaminya bawa istrinya" ucap Ira mencari anak laki-lakinya.


"Gak-gakpapa buk, mobilnya saya taruh didepan rumah ini..saya udah banyak ngereporin..Saya permisi.. Assalamuallaikum" ucap Alex berpamitan.


"Aduh..iya iya waalaikumsalam"


Mereka mengantar Alex dan Aira sampai mereka masuk kedalam mobil.


"Ayo harus minta maaf" ucap Ira.


"Lani menggengam tangan Aira lewat jendela mobil yang terbuka.


"Pukul aja suaminya ya nak? Kalau perutnya sakit, langsung kerumah sakit ya"


Aira mengangguk sambil tersenyum.


"Iya buk, terimakasih"


"Yaudah hati-hati.."


Mobil Alex melaju meninggalkan rumah Lani.


Diperjalanan Aira bersandar sambil memejamkan matanya, Alex menurunkan sedikit bangkunya agar istrinya lebih nyaman.


"Aku cuma kepantai buat nenangin pikiran..Kenapa jadi gini" guman Aira pelan.


Alex bisa mendengarnya, ia menggenggam tangan Aira.


"Kita kerumah sakit ya.." ucap Alex.


Aira tidak menjawabnya tapi ia juga tidak menolak ajakan Alex. Biarlah seperti ini dulu sampai mereka tiba dirumah sakit dan memeriksa keadaan Aira.


Rumah sakit.


"Pelan-pelan" ucap Alex saat Aira turun dari mobil.


"Perut kamu sakit?"


Aira cuma membalas dengan gelengan kepala. Wanita itu jadi diam lagi.


Mereka duduk dikursi, menunggu giliran Aira dipanggil untuk diperiksa. Alex terus menghangatkan tangan Aira dengan mengosok-gosokkan ketangannya.


"Kamu mau sesuatu?"


Aira menggeleng.


"Bibir kamu pecah-pecah, mas beliin minum dulu"


Alex hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi Aira menahannya. Tidak bicara apa-apa, dari tatapannya meminta Alex jangan meninggalkannya.


"Kamu mau mas tetep disini?"


Aira mengangguk, Alex pun kembali duduk, sampai akhirnya giliran nama Aira yang dipanggil masuk.


Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dan menuju mobil.


Begitu berada di mobil, Alex menatap lekat Aira, tatapannya sayu.


Alex merutuki kebodohannya, setelah mendengar ucapan dari dokter kandungan yang memeriksa Alex.


Dokter bilang, Janin Aira tidak apa-apa namun kalau sampai Aira terlalu banyak menangis lagi, ataupun kelelahan sampai menyebabkan pendarahan, janin Aira mungkin tidak bisa diselamatkan.

__ADS_1


Beruntung tuhan masih memberi kesempatan pada Alex hingga Janinnya hari ini tidak kenapa-napa.


"Mas minta maaf Ra" ucapnya.


Mata pria itu berkaca-kaca ingin menangis.


"Mas khilaf, karena liat kamu dipeluk dia..kamu itu istri mas, mas gak rela kamu disentuh orang lain.."


"Dan mas salah, kenapa mas gak langsung cari kamu waktu Mira telfon mas..Pasti mas yang ada disana lebih dulu" sesalnya.


"Kamu jangan diemin mas, mas gak bisa Ra..."


Aira menyentuh pipi Alex. Ia tidak boleh mendiami Alex, sampai pria ini terus meminta maaf.


Alex tidak salah, ia hanya bertindak layaknya seorang suami pada umumnya.


"Mas.." panggilnya.


Alex menyentuh tangan Aira.


"Aku mau pulang" ucapnya.


"Iya.., Kita pulang sekarang..Kita pulang"


Alex harus memeluk Aira seerat mungkin diranjang, untuk menghapus bekas Gilan disana.


Setelah menempuh perjalanan pulang, Alex menemani Aira mandi, lalu memberinya vitamin dan makan siang.


"Mas, mas gak akan kenapa-napa kan?" tanya Aira.


Wanita itu menyembunyikan wajahnya didada Alex. Aira minta Alex tidur bersamanya sambil dipeluk.


"Iya mas gak akan kenapa-napa"


"Mas jangan pernah mukul orang lain ya? Aku gak suka" ucap Aira.


Alex tersenyum.


"Gak akan pernah, kecuali ada orang yang bener-bener mau ambil kamu dari mas"


"Gak mau, aku maunya sama mas teruss!" bantah Aira.


"Iya Aira"


Aira mendongak.


"Sayang!" tegasnya.


"Iya sayang..Udah tidur..kamu harus istirahat sampai beberapa hari kedepan" ucap Alex.


"Kalau dipeluk terus aku bakal tidur, jangan ditinggalin tapi?" ucapnya imut.


Alex mengigit bibirnya sendiri.


Gemasnya tidak tertolong.


"Terus mas masak Gimana sayang?"


"Gak usah masak, maunya gini aja" kekehnya.


Tangan Alex menyelusup masuk kedalam piyama Aira, telapak tangannya mengusap perut rata Aira.


"Kalau gak makan, apa kabar yang ada disini ya?" tanya Alex.


"Yaudah boleh masak" ucapnya.


Alex tersenyum senang.


Tak terasa hari itu berlalu juga, sekarang sudah masuk hari ketiga setelah kejadian itu.


Aira ditemani Mira didalam kamarnya, karena ini hari minggu tentu mereka libur. Alex yang meminta Mira untuk menjaga istrinya.


Pria itu pergi karena dipanggil oleh Pak Rektor, beritanya sangat cepat tersebar dan sampai ketelinga dewan-dewan kampus.


Gilan sudah pulang dari rumah sakit dan dirawat dirumahnya, sebagai pertanggung jawaban Alex harus menghadapi semua kesalahannya.


Ia tidak memberitahu Aira karena wanita itu pasti mencegahnya, karena itu ia pergi menemui Rektor dan ditemani oleh Raka.


"Pak Alex..saya sangat terkejut sekaligus kecewa dengan berita yang sampai kesaya..Sikap bapak ini terlalu gegabah.."


"Maaf pak.." ucap Alex sambil menunduk.

__ADS_1


"Apa bapak siap kalau peristiwa ini dibawa ke jalur hukum?" tanya pak Rektor.


__ADS_2