Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
BONCHAP-PDS


__ADS_3

Atiya telah tumbuh menjadi gadis yang lucu dan periang, diusianya yang memasuki delapan tahun ini, ia banyak membantu Aira, pemikirannya dewasa dan cerdas.


Ia memahami posisinya sebagai kakak sulung dari tiga orang adiknya.


Yap! Aira dikaruniai tiga anak lagi, yaitu Arsa, Ares sikembar yang berusia lima tahun dan anak bungsu mereka Athala, bayi lucu itu sebentar lagi menginjak usia satu tahun.


Setiap harinya, Atiya akan membantu Aira mengawasi si kembar dan Aira bisa dengan tenang menjaga Athala.


Aira membagi kasih sayang dan perhatiannya dengan adil.


"Mama" panggil Atiya.


Aira yanhlg tengah berada didapur untuk memasak sarapan pagi keluarganya itu menoleh.


Sungguh Aira bangga pada Atiya, ia selalu bangun lebih awal dari yang lain, tanpa diperintah ia sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya sendiri.


"Ya sayang ada apa?" tanya Aira.


"Atiyaa sudah mandii" ucapnya.


Aira mendekati anak sulungnya, ia berjongkok didepan Atiya lalu mengusap kepalanya sambil mengulas senyuman.


"Pinternya anak mamaa, panutan adek-adek ya sayang ya?"


Atiya mengangguk malu-malu.


Aira mencubit pipi gadis itu dengan gemas, kulitnya yang putih membuat pipinya yang memerah terlihat jelas.


"Yasudah Atiya mau nonton televisi atau bantu mama nih?" tanya Aira.


"Umm Atiya pergi bangunin Arsa sama Ares aja ma" ucapnya


Aira mengangguk.


Atiya pun pergi meninggalkan dapur, tapi beberapa saat kemudian kembali dengan kaki kecilnya yang imut.


"Mama mama" panggilnya.


"Hum?Butuh sesuatu?" tanya Aira.


"Apa Atiya boleh bangunin papa? Papa masih tiduurrr, hari ini papa berangkat kerja kan?" tanyanya sembari memainkan jari.


"Uuuumm boleh!"


Atiya tersenyum lebar.


Atiya menjadi putri kesayangan Alex, dan Ia sangat menyayangi papanya itu, sama seperti waktu bayi, Atiya akan cemburu melihat Mama dan Papanya bermesraan didepan matanya.


Apapun itu pasti selalu ada nama Alex, Aira hanya mendapat bagian sedikit sepertinya.


Atiya saingan terberat Aira saat ini.


Langkah kecil gadis itu perlahan menghampiri ranjang besar milik Alex, ia mengendap-endap takut membuat suara gaduh karena ada adik bayi didalam kamar itu.


Dengan perlahan, Atiya naik ke atas ranjang dan tampaklah Alex yang masih terlelap.


Atiya menompang dagunya, memandangi wajah papanya.


"Hihihi papa ganteng" kagumnya.


"Papaa~" panggil Atiya dengan suara lembutnya, ia menyentuh pipi pria itu.


"Papa wake up"


Mata Alex bergerak, perlahan terbuka. Atiya siap menyambut pagi Alex dengan senyuman lebar menampakkan gigi-giginya.


"Yeayy! Morning papaa"


Alex tersenyum melihat putrinya yang gembira.


"Morning princess" ucap Alex, suaranya serak.

__ADS_1


Ia merentangkan tangannya agar putrinya mendekat untuk dipeluk, Atiya dengan senang hati menyambutnya.


"Papa Atiya sudah mandiloh" ucapnya.


"Ooh ya? Pinter banget anak papa, coba papa cium"


Atiya segera menutupi pipinya menggunakan kedua tangannya, bibir mungilnya maju.


Astaga reaksi lucu macam apa ini!.


"Noo papa, papa bauu! No kiss!" tegasnya.


Alex tertawa dibuatnya, Atiya kalau marah begini membuatnya teringat pada Aira, mirip sekali.


"Papa harus mandi dulu baru Atiya kiss papa"


Alex pura-pura sedih.


"Yahh..yaudah papa kiss mama aja" ucap Alex.


'Kiss mama?!'


Atiya menahan leher papanya.


Ini tandanya gadis itu cemburu.


"Papa gak boleh kiss mama"


Alex gemas, ia mengambil kesempatan mencium pipi gembul Atiya.


"Dapatt" ledek Alex.


Atiya membulatkan pipinya.


"Ih papa curang! Aku aduin mama"


"Sstt jangan teriak-teriak, Athala masih bobo" ucap Alex.


"Intinya Atiya tetap aduin papa ke mama" ancamnya dengan berbisik.


Gadis itu pergi menuju pintu kamar dengan turun perlahan dari ranjang.


Atiya berlari dengan tergesa-gesa, ia harus melaporkan sang papa yang mencuri ciuman pagi dari Atiya.


"Mama, mamaa" ia menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


Beruntung ia berpapasan dengan Aira, Aira menghentikan putri sulungnya itu agar tidak jatuh.


"Atiya, turun tangga itu jangan buru-buru, kalau jatuh bahaya" ucapnya.


Atiya menyengir.


"Mama Atiya mau melaporkan papa" ucapnya.


"Kamu diapain papa lagi?"


Aira menatap bingung, kelakuan jahil apalagi yang diperbuat suaminya pada Atiya. Hampir setiap hari ada saja tingkah mereka berdua.


"Papa cium Atiya! Papa belum mandi mamaa, pipi Atiya nanti bauu" adunya.


Aira tertawa mendengarnya, astaga lucunya anak ini.


"Mama kenapa ketawain Atiyaa, Atiya  lagi marah" ucapnya.


"Enggak mama gak ketawain Atiya, ini tadi mama batuk..Atiya mau mama marahin papa?" tanya Aira.


Atiya mengangguk cepat.


"Puk! Papanya ma"


Aira tersenyum.

__ADS_1


"Uhm, biar mama puk papanya, sekarang Atiya pergi bangunkan Arsa sama Ares dulu, oke?"


"Oke mama"


Gadis itu hendak pergi tapi Aira menahannya.


"Atiya gak mau kiss mama?" Aira menyentuh pipi miliknya sendiri.


Atiya menepuk dahinya.


"Hehe maaf mama Atiya lupa"


Ia mendekat lalu mengecup kedua pipi Aira.


"Wah mama dapat dua kiss, terimakasih" ucap Aira.


"Hum! Karena mama membantu Atiya jadi dapat dua, love you mamaa"


Atiya berangsur pergi dengan berlari kecil menuju kamarnya dan adik kembarnya.


Aira membuka pintu kamar, ia menyenderkan tubuhnya didekat pintu.


"Kamu jahil banget sama Atiya mas" ucapnya.


Alex tertawa.


"Lucu dia tuh, kalau marah mirip kamu" ucap Alex menyibakkan selimutnya.


Aira mendengus, ia menghampiri Alex lalu melingkarkan tangannya dipinggang pria itu.


Alex mendekatkan wajahnya laku mengecup bibir Aira.


"Morning" ucapnya.


"Morning mas"


"Kamu udah selesai masak?" tanya Alex.


"Lauknya udah tinggal nunggu supnya mateng, aku kesini mau ngecek Athala  bangun apa enggak" ucap Aira.


"Kamu mandi gih"


"Kamu udah?" tanya Alex.


Aira mengangguk.


"Pantes cantik, keringetan gini tetep wangi" puji Alex.


Aira tersenyum.


"Gih mandiii, biar aku siapin kemeja kamu, hari ini pulangnya agak lambat kan?"


Alex tetap pada pekerjaannya menjadi seorang dosen, lalu sorenya mengurus perusahaan milik ayahnya dari rumah, tetapi sesekali ia mendatangi kantor.


Aira sempat mengusulkan suaminya itu untuk berhenti dari salah satu pekejaannya agar tidak terlalu lelah.


Tapi Alex belum ingin meninggalkan posisinya sebagai dosen.


Ia memang akan berhenti nantinya. Bagi Alex pekerjaan ini sangat berharga dan karena pekerjaan inilah ia bisa dekat dengan istrinya.


Meskipun Aira sudah selesai dengan kuliahnya.


"Hu'um, anak-anak udah siap semua?"


"Itu Atiya lagi bangunin si kembar mas"


"Yaudah mas mandi dulu ya" ucapnya.


Alex pergi menuju kamar mandi.


'Huft..tinggal siapin bekal suami sama anak-anak, nyusuin Athala, beberes rumah baruuu istirahat dan sore nanti ngecek toko!' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Aira membuka toko roti dan meneruskan butik Iren. Ia sudah punya karyawan sendiri, jadi tidak perlu repot dan hanya perlu mengecek toko dua hari dalam seminggu.


__ADS_2