
Anak-anak duduk di kursi masing-masing dengan tertib, Arsa dan Ares selalu duduk bersebelahan, memang si kembar identik ini tidak bisa dipisahkan, ada kursi bayi milik athala juga disamping Arsa.
Atiya sendiri, senang duduk di tengah-tengah Alex dan Aira.
"Arsa, makan gak boleh bunyi-bunyi ya nak" tegur Aira.
"Iyaa mama"
Aira tersenyum.
Mereka menyantap sarapan pagi dengan lahap, semua aman karena Athala masih belum bangun.
Begitu selesai dengan sarapan, Aira bergegas memberikan kotak makan siang milik putra putrinya serta sang suami.
"Ini punya Arsa" ucap Aira.
"Terimakasih mama"
Arsa mengambil kotak nasi dari Aira dengan tersenyum lebar.
"Sama-sama, ini punya Aris"
Aris juga mengambil kotak miliknya.
"Terimakasih mama" ucapnya.
"Iyaa sayang, dan iniii punya anak mama yang paaaling cantik, Atiyaa" ucap Aira.
"Atiya anak papa juga" lanjut Atiya.
'Memang ya ni anak satu'
"Iyaiya, cantiknya mama papa" balas Aira.
Alex yang menyaksikan itupun tertawa geli.
"Anak kamu tuh, selalu papanya 24 jam" ucap Aira, ia menghampiri Alex setelah selesai memberikan kotak makan siang anak-anak, tak lupa ia membawa milik Alex juga.
"Ini punya mas" ucap Aira.
Alex mengusap kepala Aira.
"Makasih mama"
Alex hendak menciumnya, tapi bibir pria itu ditahan Aira.
"Nyonsor terus, masih ada anak-anak" ucap Aira.
Alex menoleh pada anak-anaknya.
"Atiya" panggilnya.
"Iya papa?"
"Ajak adik-adik kamu ke mobil ya, nanti papa nyusul" ucap Alex.
"Papa mau ngapain sama mama?"
Aira melongo.
"Gak ada, papa mau bicara sama mama sebentar" ucap Alex.
Bukannya pergi Atiya malah menghampiri kedua orang tuanya.
"Ekhem..mama dan papa yang Atiya sayangii" ucapnya.
"Iya sayang kenapaa?" tanya Alex.
"Mama dan papa tidak boleh terlalu menempel karena Atiya tidak mau punya adik lagi" ucapnya.
Alex dan Aira membulatkan mata, mereka saling pandang.
"Jawab" bisik Aira.
"Emm Atiyaa, kamu kan tau sendiri kita sudah ada Athala" jelas Alex.
"Tapi papa, orang itu bisa hamil kalau sering berpelukan dan berpegangan tangan sama lawan jenis" ucapnya dengan wajah polos.
Reflek Aira dan Alex tertawa, karena wajah lugu putri sulungnya.
Aira meraih tangan putrinya.
"Atiya tau itu dari mana?" tanya Aira.
"Teman disekolaah"
__ADS_1
'Anak siapa woi yang ngajarin anak gue begini astaga'
"Atiya, kalau laki-laki dan perempuan sering berpelukan dan berpegangan tangan itu tidak akan hamil" ucap Aira.
"Jadi gimana cara hamil?" tanya Aira.
"Ee.."
Aira mengigit bibir bawahnya.
'Duh gimana jelasinnya'
"Wanita itu bisa hamil karena adanya proses pembuahan sel telur dengan ****** milik laki-lakii" ucap Aira.
"Pembuahan? Buah apa? Apa itu sel telur?"
MALAH MAKIN RIBET.
ATIYA NANYA SATU AJA DIJAWAB TERUS IYA GITU DONG.
JANGAN NANYA LAGI HUHU.
Alex tertawa melihat Aira kebingungan.
Aira menoleh pada suaminya itu, meminta bantuan.
"Jelasin dong, kamu kan dosen" ucap Aira.
Alex angkat tangan untuk masalah ini.
"E-Eee ituu-"
"Papaa Ayo berangkat" panggil Arsa.
Arsa yang menunggu sejak tadi diruang tamu menghampiri mereka.
"Nah itu udah dipanggil adiknya, Atiya ke mobil gih" Aira mengalihkan topik.
Atiya menoleh.
"Oke, Atiya tunggu papa dimobil, assalamuallaikum mama" ucapnya.
"Waalaikumsalam"
Gadis itu pergi menggandeng kedua adiknya.
"Hufftt..untung Dipanggil Arsa, mau jawab gimana aku" ucapnya.
"Haha kasihan"
Alex menatap sebal.
"Nyebelin banget"
Aira melangkahkan kakinya pergi.
"Eh siapa yang nyuruh kamu pergi?" tanya Alex.
Aira menutup kedua telinganya dan terus berjalan, Alex tertawa melihatnya.
"Aira tunggu dulu" ia mengikuti wanita itu berjalan kearah pintu keluar.
"Gak"
"Kamu gak mau cium? Nanti kangen..Mas pulangnya sore loh" rayu Alex.
Aira berhenti, berbalik menghadap suaminya.
"Kok jadi pulang sore?"
Alex langsung mengecup bibir Aira.
"Tapi bohong, love you" ledeknya lalu berlari keluar rumah.
"Ya Allah dikibulin ternyata" ucap Aira.
Atiya duduk dikursi depan, sambil memangku tas bergambar LOL kesukaannya.
"Ingat ya makan siangnya dihabisin!" seru Aira.
"Siap bos!"
"Ish Pinter semua anak mama" ucap Aira.
"Mas berangkat ya, kamu hati-hati dirumah"
__ADS_1
"Iyaa mas, aman kok, kamu juga hati-hati" Aira mencium punggung tangan Alex.
Alex mengecup kening Aira.
"Assalamuallaikum" ucapnya.
"Wa'alaikumsalam.."
"Dadah mama" seru ketiganya sembari melambaikan tangan lewat jendela mobil.
Aira tersenyum membalas lambaian tangan anak-anaknya.
Bahagia sekali melihat wajah mereka yang begitu menenangkan hati, terlebih ketika ketiga anaknya itu tersenyum dan berterimakasih padanya.
Luar biasa sekali, Aira si Mahasiswi yang belum siap menikahi dosen karena paksaan, sekarang sudah menjadi ibu empat anak.
Aira kembali kedalam rumah, saatnya kembali pada rutinitas setelah anak-anak berangkat kesekolah.
Aira mulai membereskan cucian piring lalu mengepel lantai rumah, semua ia kerjakan dengan gesit.
Memasuki pukul delapan pagi, Aira bergegas kekamarnya untuk melihat putri kecilnya sudah bangun atau tidak.
"Athala~" panggil Aira.
Ia mendekati ranjang bayi Athala.
Athala merespon suara ibunya dengan bergumam pelan, badannya menggeliat girang saat melihat Aira.
"Ternyata anak mama cudaah bangunnn!"
"Cari mama ya nak?"
"Uuuu kasiannya bangun tidur gak ada mama"
Ia menggendong tubuh Atiya, Aira bersyukur dati lahir anak pertama hingga si paling bungsu. Tubuh mereka sehat dan berisi, sehingga mantap untuk dipandang.
Aira mengayun-ayunkan tubuhnya serta menepuk-nepuk pelan punggung Athala.
"Athala pinter ini mama, gak cengeng, iyaya nak? uuummm gemesnyaaa"
Athala bergumam lagi, entah apa yang ingin anak itu sampaikan hingga kepalanya terus bergerak tidak bisa diam.
"Athala cari papa yaa"
"Papanya udah berangkat kerja, cari uang, biar Athala bisa mam yang banyakk, beli mainan.." ucapnya.
"Oh ini ada poto papa, biar Athala diem"
Aira mencari keberadaan handphonenya, ia membuka album poto untuk menunjukkan wajah Alex ke Athala.
Si bungsu sama dengan si sulung, sukaa sekali melihat Alex.
Athala seperti tidak sabar lagi ingin melihat Alex.
"Nih papaa nihh"
Athala tertawa, ia bergerak hingga ingin loncat dari gendongan Aira.
"Cieee, papanya ganteng ya nak"
Athala mengoceh.
"Papa kamu memang ganteng, mama aja kesemsem, sampai punya anak empat" bisiknya.
Ia membaringkan Athala diranjang tidur miliknya dan Alex.
"Athala kalau sudah besar, cari suami yang kayak papa, enak dibawa kondangan, terus manas-manasin tetangga"
Jelek sekali niatnya.
Athala menendang-nendang.
"Setuju kan? setuju kan? Pasti setuju dong, Athala harus kayak mama hehe"
Enak sekali melihat Athala yang rebahan, Aira pun ikut serta disampingnya.
Ia memperlihat poto serta video-video Alex yang sengaja ia rekam.
"Hidung kamu mancung kayak papa" Aira menciumi pipi Athala berulang kali.
Puas memandangi wajah sang papa untuk menaikkan suasana hati Athala, saatnya memberi makan bayi kecil itu.
Aira mengambil gendongan bayi agar bisa menggendong Athala sambil menyusuinya.
Hari-hari penuh kesibukan, Aira kadang enggan pergi mandi dan berias kecuali malam hari untuk dilihat suaminya.
__ADS_1
Letih rasanya, mengurus anak ternyata tidak mudah, terutama empat anaknya ini yang masuk usia aktif. Tidak ada waktu untuk memanjakan diri.