Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-38


__ADS_3

"Mesum kekamu siapa yang berani marah?" ucap Alex.


Aira menyipitkan mata, menatap tajam Alex.


"Saya yang marah, mau apa bapak?" ucapnya menantang.


"Mau kamu"


Blush~


Pipi Aira memerah.


Alex pandai sekali membuat benteng pertahanan Aira goyah, Aira sadar dan tau kalau suaminya itu tampan dan mempesona.


"Kamu juga begitu kan?"


Alex tersenyum licik.


'Mimpi apa gue punya suami gini'


'Untung gantengnya masyaallah, kalau jelek udah gue mutilasi'


"Dih.."


Aira membuang muka, Alex terkikik pelan. Saatnya membuat Aira salah tingkah lagi.


"Aira" panggilnya.


Aira menoleh, ia melihat jelas, Alex sengaja melepas kancing piyama bagian atasnya, padahal Aira yakin tadi piyamanya terkancing dengan rapi.


Oh tuhan Alex sangat mesum.


Mata Aira tertuju pada dada Alex yang sedikit terlihat.


'Gak bener, ini gak bener!'


Aira menutup kedua matanya menggunakan tangan.


"Kancing yang bener dong!" Protesnya.


Alex mengabaikannya, ia tetap melanjutkan pekerjaan dengan kancing piyama terbuka. Aira mengigit bibir bawahnya.


'Dia sengaja kan?'


'His..Dasar!'


"Pa-pak dikancing dong, nan-nanti masuk angin" ucap Aira.


Matanya memang ditutup, tapi ia masih mengintip dari sela-sela jari.


"Saya sibuk, tolong kancingkan" ucapnya.


Wajah Aira memerah seperti kepiting rebus. Bodohnya Aira, ia menurut, matanya tetap tertutup rapat sehingga perlu meraba untuk bisa mengaitkan kancing piyama Alex.


Alex menyungging senyuman.


"U-udah" ucap Aira gerogi.


Alex menatapnya.


"Terimakasih"


'Sial gue deg-degan terus'


"Ya" ucapnya singkat lalu kembali ketempat tidur.


Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh, yap! Selimut yang ia berikan pada Alex tadi, diambil lagi.


'Ayo tidur Ra, ini masih pagi banget'


'Ck..Susah nutup mata'


'Tapi ngantuk-huhu'


Kira-kira lima belas menit telat berlalu, mata Aira tetap terbuka, ia tidak bisa melanjutkan tidurnya.


Karena posisi sofa berhadap-hadapan Aira hanya perlu menunduk untuk melihat Alex, Perlahan ia mengintip Alex dari baik selimut. Pria itu masih sibuk, satu kalimat terlintas dibenak Aira.


'Pak Alex gak ngantuk?'


Beralih melihat Alex, Aira bergerak kekanan dan kiri mencari posisi nyaman, tapi tetap saja tidak bisa tidur. Alex pun terganggu dengan suara selimut yang bergesekan dengan tempat tidur karena Aira terus bergerak.


"Kamu tidak bisa tenang?" ujar Alex.


Aira berhenti, tangannya naik keatas lalu bergerak kekanan kiri mengisyaratkan 'tidak'.


Alex menghela nafas, dilepasnya kacamata dan menaruh laptop disofa.

__ADS_1


"Saya masih kerja kamu terlalu berisik" ucap Alex melangkah ke tempat tidur.


Aira tidak berkutik, seolah-olah menunggu pria itu naik ke tempat tidur. Alex menarik selimut Aira, membuat wanita itu kaget.


Mata mereka bertemu, Aira menelan salivanya.


"Kamu kenapa?" tanya Alex.


"Gak bisa tidur" ucap Aira.


Alex melirik jam, masih sangat pagi.


"Geser sedikit" ucap Alex.


Aira menyatukan alis bingung.


"Geser sedikit saya mau tidur"


Aira pun bergeser, Alex merebahkan tubuhnya. Tangannya diselipkan dileher Aira sebagai alas kepala, perlahan ia mengusap rambut Aira.


Dengan usapan lembut, Perlahan mata wanita itu tertutup, Alex berhasil membuat Aira tertidur lagi.


"Bocah" gumam Alex sambil tersenyum memandangi wajah Aira yang tenang.


Ia menutup tubuh Aira dengan selimut. Alex harus segera menyelesaikan tugasnya agar bisa berbaring disebelah istrinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali kepasangan yang tengah berada didalam mobil, Aira sibuk dengan kertas note nya, Alex sibuk menyetir.


Aira mencatat keperluan yang akan dipakai untuk acara dirumahnya nanti, mulai pulang kuliah dirinya akan disibukkan dengan masak-masak untuk acara syukuran.


"Kentang..Ayam..Cabe.." gumamnya sembari menulis.


"Nanti telefon bibi sama si mbak buat bantu kamu masak" ucap Alex.


"Iya"


"Minta mereka juga buat belanja, atau kamu panggil orang yang bisa bantu lagi, kalau cuma bertiga gak akan sanggup" ucap Alex.


"Iyaaa"


"Paham kamu?"


Aira mendengus, kenapa Alex bisa secerewet ini daripada dirinya.


"Bagus, saya juga pulang cepat jadi bisa bantu"


Aira menoleh pada pria itu.


"Bantu? Bapakkan gak bisa masak, potong bawang aja gak bisa"


"Saya bantu doa" ucapnya santai.


Aira mencebik, memang Alex sangat payah soal urusan dapur, memasak mie saja tidak bisa. Aira selesai mencatat bahan-bahannya, ia merogoh handphonenya.


Ada tiga panggilan tak terjawab dari Mira.


"Tumben" gumam Aira.


"Kenapa?" saut Alex yang tidak sengaja mendengar Aira.


"Ini, tumben Mira miscall saya"


"Coba dichat balik, mungkin ada yang penting" ucap Alex.


Aira justru menaruh kembali handphonenya kesaku.


"Gak usah, bentar lagi nyampe, bisa saya tanyain langsung"


Mereka sampai di area parkiran Universitas, seperti biasa Aira turun lebih dulu.


"Pak nanti saya gak keruangan bapak ya? ada presentasi hari ini"


Alex memakluminya.


"Bapak jangan lirik mahasiswa lain ya" tegasnya.


Alex mengangguk patuh.


Dikelas.


Aira menghampiri sahabat tercintanya, siapa lagi kalau bukan Mira. Gadis itu asik dengan handphonenya sampai tidak menyadari kehadiran Aira.


Aira diam-diam mengejutkannya.


"Dorr!"

__ADS_1


"Aaa Bundaaa" kagetnya.


Mira menatap sinis ke Aira yang tertawa.


"Kampr*t lo Ra"


"Ululu~"


"Siapa suruh main hp mulu" ucap Aira.


Mira meletakkan handphonenya.


"Bodo ah..Lagian kenapa lo gak ngangkat telfon gue?"


Aira menyengir.


"Karena anda bukan prioritas" ucapnya pede.


Mira hendak melayangkan handphonenya ke wajah tengik Aira.


"Calm down babe..Emang kenapa sih?" ucap Aira.


"Gakpapa sih, cuma pengen kasih tau kalau..."


Aira menantikan kalimat selanjutnya dari Mira dengan serius.


"Kalau?"


"Kalau....Mira cantik banget" ucapnya pede.


Aira mencebik, sia-sia ia menanti.


"Dih.."


"Hahaha kasian udah nungguin" ejek Mira.


"Diem atau gue lempar?"


"Galak banget, jangan sampe anak lo nurut sifat ibunya"


"Mending mirip pak Alex" lanjutnya.


Aira menyipitkan mata.


"Anak-anak gue, yang bikin juga gue,  kok lo yang repot.." cibir Aira.


"Tuh kan, emaknya judes banget" Mira menunjuk Aira.


"Udah deh Mir, jangan nambah kerutan diwajah..Mending nanti pulang ngampus lo kerumah gue-"


"Ngapain?" potong Mira.


"Bantu gue masak, ada acara soalnya" sambung Aira.


Mira menatap bingung.


"Rumah yang mana? bunda apa mama lo?"


"Rumah gue sama pak Alex lah"


Mira spontan menutup mulut.


"Wah, abis baikan langsung beli rumah baru.." ucap Mira.


"Dih gak gitu, itu rumah yang dibeli pak Alex sebelum nikah sama gue"


Mira mangut-mangut.


"Oke deh nanti gue kerumah lo"


"Eh..Ngomong-ngomong siapa sih yang ngirim foto lo sama kak Gilan ke pak Alex? asli deh gue penasaran"


Aira baru ingat soal foto kemarin yang mengakibatkan perselisihan dengan Alex.


"Ssh...Gue juga penasaran Mir..Kok dia bisa ngirim itu kepak Alex, seolah-olah tau kalau gue itu istri pak Alex" ucap Aira.


Keduanya nampak berpikir dan mengingat.


'Perasaan cuma Mira doang yang tau pernikahan gue..Windy gak mungkin..Atau Nana?'


"Kita cari tau aja?" ujar Aira.


Mira menggeleng cepat.


"Enggak perlu, gue aja yang ngatasi..Lo gak usah ambil pusing.." saran Mira.


Aira mengangguk, memang Mira bisa diandalkan menurutnya. Ia langsung memasrahkan tugas penyelidikan pada sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2