Pak Dosen Suamiku

Pak Dosen Suamiku
pak dosen suamiku-102


__ADS_3

Aira dan Mira sekarang bisa duduk sebelah-sebelahan lagi seperti dulu, mereka juga saling bicara.


Cuma masih ada sedikit jarak, belum sedekat dulu.


'Ini yang lo mau Ra, Aira udah senyum lagi...'


Mira mencoba melupakan hal yang bisa dibilang kenangannya dengan Raka, ucapan Raka sudah sangat jelas.


Mira tersenyum kecut sambil menatap buku-buku dihadapannya.


"Mira" panggil Aira.


Mira menoleh pada wanita itu.


"Kenapa Ra?"


"Makasih untuk semuanya dan tetap jadi sahabat gue ya" ucap Aira.


Mira tersenyum.


"Udah ah, gue jadi keinget dosa-dosa gue" kekeh Mira.


"Apasih dosa-dosa"


"Iya dosa gue ke elu Ra, sampai seseorang bela-belain nelfon gue setiap hari dan ngelakuin ini itu..."


Aira terdiam, ia merasa janggal dengan ucapan Mira.


'Seseorang' nada bicara Mira seolah-olah dia memberi tahu kalau dirinya sulit melepaskannya.


Greb!


Aira menggenggam tangan Mira.


"Kayaknya ada yang lo sembunyiin" tebak Aira.


Mira menggeleng.


"Enggak...Cuma perasaan gue aja yang suka ngayal tinggi-tinggi"


Kalian ingat kan? Aira tidak tau menau apa yang terjadi dibelakangnya, apalagi tentang Raka dan suaminya yang berusaha menyatukan mereka kembali.


"Gue gak paham? Lo cerita aja Mir"


Mira melepas tangan Aira sambil terkekeh.


"Gak ada apa-apa bego, gue kebanyakan nonton drakor semalem jadi gini.." elaknya.


"Serius?"


"Iya serius"


Aira mengerti, mungkin ini masalah pribadi.


"Aira gue.."


"Ya kenapa?"


"Gue malu ketemu pak Alex.." lirihnya.


"Suami gue itu gak pendendam Mir, percaya sama gue, pak Alex pasti bakal maafin lo juga sama kayak gue"


'Percaya sama gue' kata-kata yang sama diucapkan oleh Raka. Dukungan lagi yang Mira terima.


"Lo mau ketemu pak Alex nanti jam istirahat?"


Mira mengigit bibirnya.


"Ayoo sama gue, pak Alex gak makan orang" ucap Aira meyakinkan.


Akhirnya Mira mengangguk. Aira tersenyum.


'Ini kayak mimpi, gue akur lagi sama lo Mir, senengnya itu gak bisa diucapkan lagi"


Aira memandangi Mira.


'Pak Alex pasti seneng juga'


"Selamat siang semua"


Mira mendongak, dia sudah tiba, Raka baru saja masuk kedalam kelas itu. Mata mereka sempat bertemu tapi Raka memalingkan wajahnya.


Raka mengajar seperti biasa, Mira juga ingin bersikap biasa.


Kelas berlangsung lancar sampai selesai, Mira menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, begitu Raka keluar kelas.


"Aira enak ya lo, punya suami Dosen, pasti nilainya ditambahin"

__ADS_1


"Enggak kok, mana boleh gitu, pak Alex tetap adil" ucap Aira.


Mira mencoba menyimak saja, ia tidak mengenali suara siapa yang bicara dengan Aira.


"Halah ngeles aja, pantes dari awal pak Alex disini nilai lo bagus-bagus aja, terus tugas kelompok lo boleh ditunda, pilih kasih banget gak sih" orang itu mulai kasar.


"Ha? Ngarang kali loh Dira" ucap Aira.


'Oh Dira..pasti bareng Melda'


"Capek deh Ra, lo mah menang banyak, nilai rendah tinggal kasih jatah jadi bagus nilainya" ucap Melda.


Aira mengertakkan giginya.


"Maksud lo apa?"


"Eh kita gak maksud apa-apa, udah yuk istri Dosen, bahaya nanti ngadu" ucap Dira.


Mira telinganya mulai panas, ia menurunkan tangannya lalu menatap sinis dua gadis itu.


"Duh kuping gue panas banget, kayaknya disekitar sini ada semacam iblis"


Dira dan Melda melihat Mira.


"Oh udah temenan ya?" sindir Melda.


Mira tersenyum.


"Iya dong, kalau sahabatan ribut-ribut dikit dimaklumin aja" ucap Mira.


"Cuma..."


"Yang gak bisa dimaklumi tuh mulut lo berdua kayak sampah" ucap Mira.


Aira menoleh pada Mira, ah ini dia Mira yang dirindukan Aira. Dira dan Melda jadi sinis.


"Jaga mulut lo, yuk cabut" ucap Dira mengajak Melda pergi.


Mira menutup mulutnya dengan ekspresi kaget, lalu merangkul Aira.


"Eh lo berdua sini dulu dong, jangan main pergi"


"Aira, denger gak? Gue disuruh jaga mulut, gimana dong? Perlu pake satpam gak sih?" ucap Mira menyinggung dua gadis itu.


Aira menutup mulutnya menahan tawa.


"Haha lucu ya, lo minta gue jaga mulut, tapi lo sendiri gak jaga mulut, lo itu tolol apa gimana sih? Mahasiswi kan? Eh apa jangan-jangan nyogok? Makanya stupid" sindir Mira.


'Lanjutkan! Gue suka gaya lo Mir'


Aira tersenyum puas melihat Dira dan melda mulai panas.


"Temennya ayam kampus sampai dinikahi dosen, yang satu mulutnya gak berpendidikan" ucap Melda.


"Ayam kampus? gak salah nih? bukannya lo yang tidur sana sini, bareng kating?" balas Aira.


Mira tertawa sampai terbahak-bahak.


"Hahaha, Aduh sakit perut gue..Melda..Melda, gue makin penasaran orang kayak lo bisa jadi Mahasiswi diUniv terbaik ini.." ucap Mira


"Otak lo itu didengkul ya? Cara lo ngomongin sahabat gue dan gue aja udah keliatan elo yang gak berpendidikan" Sambung Aira.


Dira angkat bicara mau membela Melda tapi dipotong Mira.


"Diem lo, mau gue sebar poto lo sama om lo?"


Raut wajah Dira pucat, seketika orang-orang melihatnya.


"Mira sialan" geramnya lalu pergi.


"Gila kali, anak presiden dilawan" ucap Mira.


Aira terkekeh sekaligus terharu.


"Mira kayaknya gue gak takut deh karena ada lo" ucap Aira, matanya berkaca-kaca.


Mira tertegun.


"Jangan nangis ih, marah nih gue"


"Enggak, gak nangis"


"Makasih lagi-lagi lo jagain gue, pak Alex pasti maafin" lanjut Aira.


"Ini cara gue nebus kesalahan Ra, bagi gue diterima jadi sahabat lo dan dapat kepercayaan lo lagi udah jadi hal paling indah" ucap Mira.


...

__ADS_1


Mira keluar dari toilet wanita, ia melewati ruangan Raka. Tidak satu arah ke kelasnya tapi Mira sengaja lewat disana.


Mira berhenti didepan pintunya, hanya memandangi pintu itu. Mira menunduk.


"Eh tunggu...Kenapa gue kesini?"


Ia menghela nafas kasar, lalu berbalik arah.


Cklek..


Tubuh Mira merinding.


'Aduh mampus, lari Mir, lari'


"Mira?"


Mira menarik nafas, ia menoleh kebelakang.


"I-iya pak?"


"Ehm.."


Raka tiba-tiba pergi melewatinya begitu saja. Mira terdiam.


Apa ini? Raka pergi begitu saja?. 


Jelas- jelas bibir pria itu ingin mengatakan sesuatu.


Mira mengepal tangannya, sakit rasanya, Raka kembali bersikap dingin, mereka sekarang asing.


Mira tidak suka ini, sikap Raka yang acuh seperti tidak terjadi apa-apa.


Ia mengejar Raka, persetan dengan sikapnya, Mira mau tau kenapa.


Kenapa Raka barus bersikap dingin.


"Pak!" Panggil Mira.


Raka menghentikan langkahnya.


"Bapak kenapa sih?"


"Saya kenapa?" tanya Raka.


"Semalam dan kemarin bapak masih baik-baik aja ke saya, bapak juga gak cuek, tapi setelah saya baikan sama mereka kenapa malah bapak yang musuhin saya" ucap Mira emosi.


Raka mendekati Mira, menatapnya dalam.


Mata Mira berkaca-kaca.


"Kenapa pak? Saya cuma mau berterima kasih..Emang salah?"


Rahang Raka mengeras.


"Kamu udah bilang tadi kan?"


"Tapi kenapa bapak jadi gini kesaya?" ucap Mira.


"Mira...Kita hanya sebatas dosen dan Mahasiswa" ucap Raka.


Mira meneteskan air mata, lagi-lagi ia mendengar kata-kata itu. Hatinya hancur sekali.


"Hiks..Saya yang berharap jauh.." lirih Mira.


Raka mengerjapkan mata.


"Mira, dengar.."


"Udah pak..Makasih"


Raka jadi geram sendiri, ia tidak suka melihat wanita menangis. Dan apa ini? Mira menangis dihadapannya.


Raka sudah tidak tahan, ia langsung menarik tangan Mira, membawa gadis itu masuk kedalam ruangannya.


Blam!


Pria itu mengunci pintunya.


Mira mendelik, Raka menghimpit tubuhnya ke pintu. Jantungnya mulai tak karuan.


"P-pak.." ucap Mira ketakutan.


"Kamu mau tau kenapa saya cuek ke kamu?"


Wajah mereka sangat dekat, nyali Mira ciut ia benar-benar ketakutan.


Tiba-tiba...

__ADS_1


Hayo ngapain...?


__ADS_2