
'Parah banget pasutri satu ini'
Sekar dan pelayan saling tatap, mereka sama-sama menekuk bibir kebawah, tak sanggup melihat kemesraan pasutri yang tidak tau tempat ini.
Aira menggoyang-goyangkan lengannya, Alex sebenarnya sedikit cangung karena didepannya ada pelayan yang melihat.
Tapi istri sudah manja begini apa boleh buat.
"Sakit perut Aira" Alex tetap tidak mengizinkan.
"Mas..Ihh"
"Aira..."
Pelayan berdehem.
"Ekhem..Maaf mbak, sampai kapan saya berdiri disini? Saya ini jomblo, hati saya ngenes liat seperti ini" ucap pelayan.
Sekar mendelik.
'Anjir curhat'
Alex menurunkan maskernya membuat pelayan terpesona.
"Maaf mbak, istri saya pesan roti aja" ucap Alex.
Pelayan mengangguk.
"Ini saja pesanannya?"
Mereka mengangguk.
"Saya permisi dulu, pesenan segera kami antar kan" ucapnya lalu pergi.
Aira menatap sebal Alex.
"Padahal pengen coklat" eluhnya.
"Kamu gak nurut? Tugas kelompok kamu jadi nol" ucap Alex.
'What?'
Tolonglah, ini Aira yang mengeluh kenapa Sekar ikut jadi korban?. Tidak ada keadilan sosial bagi Sekar yang kesepian ini?.
"Loh-loh pak jangan gitu dong" saut Sekar.
"Aira gak nurut sama saya, jadi itu resikonya" ucap Alex pada Sekar.
Sekar menggaruk kepalanya frustasi.
"Pak, gak ada kah keadilan untuk saya?" ucap Sekar memelas.
"Enggak" jawab Alex dingin.
'Aduh...'
"Aira nurut Ra, kalau gak gue tabok nih?" ancam Sekar.
"Demi tugas dan keadilan Ra" bisiknya.
Aira menekan kedua sudut bibirnya, lalu melepaskan tangan Alex.
"Yaudah iya"
Alex tersenyum puas.
"Pinter, Sekar tugas kelompok kamu saya bikin perfect" ucap Alex.
Aira mengelus dadanya, kemudian tersenyum lebar sembari mengacungkan ibu jarinya.
"Makasih banyak pak ganteng" ucap Sekar.
Aira wajahnya kusut, sudah beberapa hari ia tidak makan coklat kesukaannya dicafe ini.
'Tau gini jangan bolehin pak Alex ikut'
Yah..penyesalan memang datang diakhir, kalau diawal namanya pendaftaran.
Alex mengabaikan Aira yang jutek.
"Kalian masih lama?" tanyanya pada Sekar.
Sekar melihat arloji ditangannya.
"Setengah jam lagi pak, belum bikin template buat presentasi soalnya" ucap Sekar.
Alex mengangguk.
"Yasudah saya tunggu ya, kalau bisa secepatnya" ucap Alex.
"Baik pak"
Alex kembali ketempat duduknya, ia sempat melirik Aira yang menatapnya sinis dan penuh kekesalan.
Pesanan mereka pun tiba, Alex duduk tenang ditempatnya sembari memainkan handphonenya. Ah lebih tepatnya pria itu banyak memotret wajah Aira.
Tak terasa susah setengah jam lebih, Sekar dan Aira mulai membenahi barang-barang mereka. Alex segera bangkit, menghampiri mereka.
Ini hampir pukul lima lewat.
"Sudah?"
Sekar mengangguk.
"Maaf ya pak udah nunggu lama" ucap Sekar.
__ADS_1
"Gakpapa, saya nunggu istri saya bukan kamu"
Jleb..
'Dalem banget kalau ngomong pak'
Sekar tersenyum kikuk.
"Oh iya hehe.."
"Eum..Aira besok ngampus kan?" tanya Sekar.
Aira mengangguk.
"Okedeh, pak, Aira, saya duluan ya" ucapnya berpamitan.
"Kamu mau bareng kita?" tawar Alex.
Sekar menggeleng cepat.
"Eh..Gak usah pak saya bawa mobil sendiri kok..Tuh diparkiran" ucap Sekar.
"Oh yasudah, hati-hati dijalan"
"Iya pak makasih, saya duluan, Aira hati-hati juga ya dijalan"
Aira melambaikan tangan ke Sekar. Tinggallah mereka berdua.
Ingat Aira masih sakit hati keinginannya tidak terpenuhi.
"Pulang yuk, udah sore" ucap Alex.
"Hemm"
Aira bangkir dari tempat duduk, Alex membantunya merapikan pakaian dan poninya.
"Kamu ngambek hm?" tanyanya.
"Enggak"
"Kenapa jutek?"
"Ngantuk"
Aira berjalan lebih dulu, perkara coklat pun jadi masalah.
"Sini laptopnya mas yang bawa"
Alex menawarkan diri karena wanita itu terlihat kesulitan membawanya. Tapi tawarannya ditolak mentah-mentah oleh Aira.
Alex marah? Oh tidak, Alex ini orang yang sabar.
Ia membukakan pintu mobil untuk Aira, mau wanita itu mengabaikannya atau tidak, yang penting saat sampai dirumah ia bisa meluluhkan Aira lagi.
Alex tetap menyetir dengan tenang, meskipun Aira terus bergerak sampai membuat kegaduhan. Alex tau wanita itu sengaja agar diperhatikan, Aira menunjukkan kalau dia marah.
"Yaap..Kita udah mau sampai rumah" ucap Alex.
"What ever" gumam Aira.
Akhirnya kembali kerumah, dimana Alex bisa berduaan tanpa ada bunda dan ayah.
Lebih mudah menggoda Aira, mungkin begitu maksud Alex.
"Akhirnya sampai"
Alex turun dari mobil, ia membawa tas berisikan laptop milik belahan jiwanya, yaitu Aira.
"Sayang~" panggil Alex.
Alex mengeikuti Aira yang terus berjalan masuk kedalam rumah dengan wajah datar.
"Sayang, mandi yuk" ucapnya.
"Mandi aja sendiri" ucap Aira.
Cklek..
Aira masuk kedalam kamar, Alex tetap mengekorinya.
Sepertinya Aira lupa laptopnya masih ada pada Alex.
"Aira apa yang terjadi kalau mas jatuhin laptop ini?" tanya Alex.
Alex mengangkat tas berisikan laptop.
Oh yang benar saja, jangan diambil serius, Alex cuma bercanda. Laptop itu mahal harganya.
"Mas jatohin saya aduin bunda" ucapnya.
Alex menahan tawa.
"Mas bilang kamu yang nakal, selesaikan?"
Aira menyipitkan mata.
"Mas...." ucapnya.
"Mas hitung sampai tiga, kamu gak berdiri dihadapan mas, mas jatuhin laptop ini?"
"Satu.."
Aira pura-pura tidak mendengar.
'Oke mulai budeg'
__ADS_1
"Duaaa.."
Aira mulai gelisah.
"Ti....."
Gurbrak..
Aira langsung berdiri dihadapan Alex dengan wajah juteknya.
Hei yang benar saja, laptopnya yang masih mulus mau dijatuhkan kelantai dengan tidak manusiawi.
"Ga.." lanjut Alex.
Alex puas, Aira menurut.
Pria itu menaruh laptop Aira dimeja yang ada didekat pintu.
"Masih sayang laptop ternyata" ucap Alex.
Ia menyandarkan tubuhnya kedinding, tangannya dilipat didepan dada.
"Ngapain?" tanya Alex.
'Kerjain sedikit gakpapa ya'
Aira melihat sekilas mata Alex.
"Kan disuruh sama mas" ucapnya.
Astaga wajahnya itu, menggemaskan sekali.
"Buat?"
Aira berdecap.
"Biar laptopnya gak dijatohin" Aira berbicara tapi seperti menggerutu.
"Menurut kamu, mas bakal jatuhin laptop ini beneran?"
"Gak tau"
Alex menghela nafas.
"Mas gak beneran jatuhin ini, mahal harganya" ucapnya diakhiri tawa-an kecil.
"Oh"
Alex menangkup kedua pipi Aira, supaya Aira mau menatap matanya.
"Kamu tau gak kenapa mas ngelarang makan coklat sama milkshake?"
Aira menggeleng.
Alex menatap Aira, lalu mengecup bibirnya sekilas.
Cup..
"Mama pernah bilang ke saya, kamu dulu dilarang sama bunda minum milkshake sama makan coklat, tapi kamu tetep ngeyel sampai akhirnya perut kamu sakit kan?"
Aira terdiam.
"Berapa kali kamu ngalamin itu?"
"Berkali-kali" ucapnya.
Alex tersenyum.
"Nah..Sekarang mau sakit perut lagi? minimal pikirkan anak kita" ucap Alex.
Aira mulai luluh.
"Masih mau marah, ngambek ke mas?"
Bibir Aira maju kedepan, lalu menggeleng.
"Enggak lagii"
"Hm..Baru mama yang baik"
Alex mengelus kepala Aira.
"Sekarang kamu mau mandi? atau gimana?" tanya Alex.
"Tadi udah mandi, gak mau lagi"
"Yaudah ganti baju, cuci muka sama kaki, biar mas rapiin tempat tidurnya, baru beresin ruang tamu" ucap Alex.
Aira tersentuh, ia memeluk Alex.
"Makasih ya mas, gantiin pekerjaan saya" suara Aira pelan, menahan air mata.
"Sama-sama..Sana cuci muka"
"Uhm.."
"Mau mas yang pilihin piyamanya?"
Aira mengangguk dengan senang hati.
'Pak Alex bener-bener jadi suami yang baik, sabar sama gue..'
Mari menghayal punya suami kayak Alex..
Author juga pengen Hiks....ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1