Pekatnya Malam

Pekatnya Malam
Bab 10


__ADS_3

Mari dilanjut ngebaca....


But don't forget to like, vote and comment plzzz


Come on...


follow me Reader ...


🍃🍃🍃


Dipojok taman rumah sakit dua orang wanita saling menangis dan berpelukan. Mereka berdua larut dalam kesedihan didalam pikiran masing-masing.


"Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang satu-satunya didunia ini, merasakan betapa hancur dan terpuruk disaat tak ada siapapun yang menyemangati, tak ada yang mampu mengobati luka dihati ini," Ungkap Fusun dengan suara terbata-bata seraya menangis.


Mendengar perkataan dari wanita yang berusia tak berbeda jauh darinya itu, seakan bertemu dengan seseorang yang mengalami hal yang sama yang dirasakan olehnya.


Ada sebuah getaran yang sama yang tak dapat diungkapkan melalui kata, ternyata tidak hanya dirinya yang mengalami, namun ada wanita lain yang juga menderita, yang hampir sama dengan dirinya.


Fusun bercerita bahwa dirinya baru saja kehilangan saudara laki-laki satu-satunya, tiga hari yang lalu menderita penyakit yang sama dengan Azzam.


Saudaranya hanya mampu bertahan lebih kurang satu setengah tahun dengan penyakit yang menggerogoti tubuh hari demi hari seperti yang sama diderita oleh putra Aiyla.


Sampai detik terakhir, tidak menemukan satu pendonor yang cocok dan ketika saudaranya tak mampu lagi bertahan dan akhirnya meninggalkan dirinya.


Dokter Ahmed tanpa sadar bercerita hal yang sama pada Fusun, bahwa ada seorang anak lelaki dirumah sakit ini, dengan penyakit yang sama. Sedang berjuang dan menunggu pendonor yang bersedia memberikan harapan kesembuhan pada anak lelaki itu.


Fusun tergerak dan tersentuh mendengar cerita dokter Ahmed, usia anak lelaki itu jauh lebih muda dari usia saudara laki-lakinya itu.


Baru saja berusia 6 tahun dan harus berjuang dengan penyakit yang sama diderita oleh saudara laki-lakinya yang lebih dewasa.


Dari rasa kehilangan, Fusun menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalnya jika cocok untuk anak lelaki yang diceritakan oleh dokter Ahmed.

__ADS_1


Saat itu juga dokter Ahmed langsung menanggapi perkataan dari Fusun dan meyakinkan sepenuhnya atas keputusannya itu.


Setelah yakin dengan apa yang didengar, dokter Ahmed memberitahu Aiyla pada hari yang sama pada saat dirinya berkunjung menjenguk putranya.


Dokter Ahmed tidak mendapatkan kesulitan pada saat proses pemeriksa pendonor sebelum dilakukan transplantasi ginjal. Fusun dapat memberikan satu ginjalnya pada anak lelaki tersebut.


Aiyla sangat beruntung karena ginjal Fusun sangat cocok untuk putranya, ditambah lagi Fusun tidak meminta apapun atas tindakan yang dilakukan untuk permata hatinya itu.


"Kak Fusun, kau ini siapa sesungguhnya... Mengapa begitu mulia hati mu, engkau melakukan hal yang sangat besar tanpa mengharapkan apapun dari ku," ucap lirih Aiyla seraya terduduk dengan lutut sebagai penyangga dihadapan wanita itu.


"Jika engkaupun meminta nyawa dari ku, rasanya tak akan berarti dengan keikhlasan mu memberikan harapan bagi kesembuhan putraku kak," Ungkap Aiyla dengan tangis yang sangat pilu.


Fusun mengangkat tubuh Aiyla dan berdiri dihadapannya dari posisi terduduk dengan lutut sebagai penyangga, lalu menangis bersama dengan pelukan yang sangat erat.


"Aku bukanlah siapa-siapa, hanya seorang kakak yang telah kehilangan saudara satu-satunya didunia ini," Ungkap Fusun yang tahu benar apa yang sedang dirasakan Aiyla saat ini.


"Hanya satu pinta ku, jadikan aku kedalam bagian keluarga mu dan putramu sebagai pengganti saudara ku itu, karena aku tak memiliki siapa pun didunia ini, " Ungkap Fusun dengan pelan ditelinga Aiyla.


Sendu dan pilu menyayat hati terlihat jelas dibola mata dan gurat wajah wanita yang ada dihadapannya


Hatinya terenyuh setelah mendengar perkataan wanita itu, terdengar betapa rapuh dan terpuruknya setelah kepergian saudaranya.


"Tentu saja...Tanpa dimintapun kau akan menjadi bagian didalam keluarga ku kak," Ucap Aiyla seraya tersenyum menatap wanita dihadapannya.


Aiylapun menjelaskan bahwa mulai detik ini Fusun akan tinggal bersamanya dan menjadi saudari perempuan Aiyla.


Fusun dengan senang hati dan bahagia mendengar penjelasan dari Aiyla, kini yang terbesit dalam hatinya adalah uang untuk proses transplantasi tersebut.


Namun ditengah sedikit kebahagiaan diantara mereka berdua, wajah Aiyla berubah menjadi sedih kembali. Fusun menyadari perubahan diwajah wanita disampingnya itu


"Hei... Ada apa? " Tanya Fusun dengan membelai lembut pundak Aiyla.

__ADS_1


Hanya tatapan mata yang kosong dengan pikiran yang melayang tak tentu arah, Aiyla menatap Fusun.


Lidahnya kelu untuk menceritakan kesulitan lain yang dihadapinya, tak mungkin dirinya menceritakan itu semua pada wanita ini.


Yang masih dirundung duka dan masih sulit untuk bangkit dari kepergian saudara laki-lakinya


"Aku tahu kau tak akan begitu saja percaya padaku, kita baru saja berkenalan beberapa jam yang lalu, tapi jika kau benar-benar menganggap ku sebagai saudari mu, maka ceritalah kepada ku," Ucapnya dengan tatapan mata serius.


Disandarkannya kepala Aiyla dibahu, kemudian membelai lembut rambut bagian samping kepala Aiyla dengan penuh kasih sayang


"Begitu berat jika kita hanya seorang diri menanggung semua beban, aku telah merasakan sebelumya. Dimana tak ada yang dapat ku ajak berbagi atas segala derita yang kurasakan. Sungguh menyedihkan....Sekedar mendengarkan kita menumpahkan keluh kesah yang didada tak ada seorangpun disisih kita," Ungkap Fusun kembali dengan tatapan mata kosong dan tangannya masih membelai lembut kepala Aiyla.


"Kau benar sekali kak,, Aku punya sahabat tapi ku tak berani untuk bercerita padanya. Aku tak ingin menambah beban bagi dirinya. Karena aku telah banyak meminta bantuan padanya, " Balas Aiyla dengan senyum getir


"Kini aku ada, kau yang bisa mengandalkan aku," Ucap Fusun dengan menggenggam tangan Aiyla.


Akhirnya Aiyla menceritakan kesulitan dirinya untuk mendapatkan uang sebesar 250juta dalam waktu yang singkat.


Fusun mengeluarkan air matanya kembali setelah mendengar penjelasan Aiyla. Dirinya tahu kalau memang Aiyla adalah single parent dari dokter Ahmed.


Tak memiliki saudara dan kerabat dikota ini, hanya putra semata wayangnya yang menjadi penguat didalam hidup Aiyla, sama halnya dengan Fusun.


"Aku bisa membantu, walau tak banyak aku memiliki persiapan keuangan untuk saudaraku itu," Ungkap Fusun dengan suara sendu dan pelan


Aiyla langsung mengangkat kepalanya dari pundak Fusun, seperti terkejut dirinya mendengar perkataan wanita yang duduk disampingnya itu.


Tak habis pikir Aiyla dengan kemuliaan hati wanita yang baru saja dijumpainya itu. Sudah ginjalnya didonorkan kini wanita itu mampu memberikan uang untuk proses transplantasi itu.


"Wanita seperti apa, yang sekarang bersama ku ini," Batin Aiyla masih dengan wajah heran dan takjub atas apa yang didengar ditelinganya


Masih ada ternyata manusia didunia ini yang begitu ikhlas dan bermurah hati memberi dan membantu tanpa pamrih

__ADS_1


Wanita dihadapannya inilah yang bisa dikatakan 1000 satu didunia ini.


__ADS_2