
Lanjut ya guy's ...👌👌
Salam hangat untuk reader setia....😘😍
Ayo dong !!! Tinggalkah jejaknya...Author sedih loh kalau kalian hanya baca doang tanpa suportnya 😭😭😭
Author menuggu Reader....Bertambah semangat atas dukungan kalian...🌠🌠
✨✨✨
Setelah makan malam Aiyla kembali kekamar sedang Ergin menemani Azzam dan akan membaca buku cerita yang menjadi kebiasaan Ergin setiap malamnya.
Mengganti pakaian dengan baju tidur lalu merebahkan tubuh. Pikirannya melayang kesegala arah, tentu Ergin telah mengetahui bahwa pemimpin direktur utama diperusahaan Ozturk adalah dirinya.
"Mengapa seolah-olah lelaki itu tak mempermasalahkan," Batin Aiyla didalam hati.
Ergin tak menyinggung sedikitpun, mustahil laki-laki itu tak mengetahuinya. Aiyla hanya bisa merubah posisi tidurnya kekanan dan kekiri tapi tetap tak membuat matanya terasa kantuk.
Pikirannya tak menentu bagaimana cara Aiyla akan menjelaskan semua, belum lagi persoalan tentang ibu kandung Ergin yang menjadi rahasia yang dipendam selama ini.
Terdengar suara knop pintu, menandakan bahwa Ergin memasuki kamar pribadi mereka. Lelaki itu melihat Aiyla yang juga belum tertidur sedangkan jarum jam yang ada diarloginya menunjukkan angka 10.00 malam.
"Sayang... Ada apa? Kenapa belum tertidur, apa yang sedang kau pikirkan? "
Suara Ergin terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, ada rasa penasaran dari wajahnya. Aiyla mengubah posisi tidur menjadi duduk seraya bersandar dikepala tempat tidur.
"Apa kau tak melihat berita hari ini? "
Tanya Aiyla langsung pada Ergin dengan suara pelan dan raut wajah cemas. Ergin merubah raut wajahnya yang semula penasaran menjadi tersenyum. Lelaki itu telah mengetahui penyebabnya sekarang.
"Congratulation for you honey... Aku bangga pada mu sayang. Maaf sepulang kerja aku tak langsung mengucapkan itu pada mu karena terlalu terhipnotis dengan pesona mu sayang. "
Ucap Ergin dengan menangkup wajah Aiyla lalu mengecup dahi wanita itu. Sebuah gurat senyum membingkai wajah Aiyla setelah mendengar perkataan dari suaminya.
"Kau tak keberatan kah?" Ucap Aiyla dengan penuh penekanan.
Lelaki itu kembali menatap Aiyla penuh dengan kemesraan tak ada sedikitpun dari paras tampannya sebuah penolakan atau rasa tak setuju akan jabatan baru yang dimiliki oleh Aiyla.
Rasa gemuruh didadanya sekarang perlahan mereda, Aiyla hanya akan membuktikan pada lelaki dihadapannya atau pada siapapun yang mendukung ataupun tidak akan bangga padanya.
6 Bulan kedepan
Harun dengan berat hati melepas pegawai terbaiknya, namun perusahaannya tetap akan sering diperhatikan oleh Aiyla.
Itu janji yang diberikan Aiyla pada teman sekaligus atasannya itu pada saat resign dari perusahaan yang dipimpin Harun.
__ADS_1
Saat ini Aiyla telah menunjukkan kinerjanya ditempat yang baru. Nyonya Esma sedikit berdecak kagum, bahwa wanita itu tidak seperti yang dipikirkannya.
Aiyla adalah seorang pemimpin yang dapat melihat situasi dengan cepat dan dapat mencari solusi terbaik atas permasalahan yang timbul diperusahaan Ozturk.
Sedangkan Murad sudah sejak lama tahu bahwa wanita yang masih menjadi daya tarik baginya itu termasuk kedalam wanita cerdas.
"Nyonya Aiyla kita akan ada rapat dengan perusahaan dari luar negeri. Mereka menerima konsep desain yang anda buat. Sekarang mereka ingin langsung bertemu dengan anda untuk memastikan tahap akhir dari kerja sama ini. "
Dengan antusias dan penuh kesungguhan Murad menjelaskan pada Aiyla yang sekarang menjadi atasannya saat ini. Aiyla harus melakukan penerbangan pagi ini, semua telah disiapkan oleh Murad.
"Oya apakah ada hal lain yang anda butuhkan? "
Tanya Murad dengan tatapan mata menyimpan sebuah arti yang tak dapat dimengerti oleh Aiyla. Murad memang pernah menyatakan ketertarikkanya terlebih dahulu dari pada Ergin.
Namun secepatnya Aiyla menolak dan tak pernah memberikan suatu harapan pada lelaki itu. Tapi sorot mata Murad menandakan masih tersimpan rasa itu dihatinya.
"Baiklah kita diskusikan ini sebelum fix, sebelum saya bawa kesana."
Ucap Aiyla dengan penuh serius menanggapi perkataan Murad. Bersama staf lain akhirnya mereka mengulas sebentar sebelum Aiyla memaparkan pada perusahaan asing tersebut.
Sekitar 2 jam mereka mendiskusikan projek luar negeri itu. Aiyla tak ingin ada satu hal sekecil apapun yang akhirnya membatalkan kerjasama mereka.
"Jadwal penerbangan sekitar 1 jam lagi, jika Nyonya Aiyla ingin pulang untuk bersiapan disana, kita akan bertemu dibandara nantinya, "
Perkataan Murad berakhir dengan meninggalkan Aiyla, yang diikuti bersama staf bagian lainnya yang keluar satu persatu dari ruang rapat tersebut.
Diambilnya ponsel yang ada diatas meja kerjanya. Aiyla memilih satu kontak telpon yang telah tersimpan.
Terdengar suara laki-laki yang tak asing dari seberang sana. Disaat Aiyla memberitahukan bahwa ia akan terbang bersama Murad mimik wajah Gul mulai terasa perubahannya.
Gul tahu bahwa Aiyla tak memberikan respon balik pada Murad, akan tetapi lelaki itu selalu mencari kesempatan untuk mendapatkan peluang mendekati Aiyla.
"Sayang.... Aku akan pergi keluar negeri dalam waktu dua hari bersama Murad."
Ucap Aiyla dengan suara bergetar dan berat, takut Ergin tak mengijikannya. Lelaki itu memiliki rasa cemburu yang besar bahkan hanya pada sahabatnya itu.
Mungkin karena lelaki itu memang mengetahui bahwa Murad pernah menyukainya. Dengan santai Ergin berkata bahwa ia akan mengizinkan dirinya karena akan ikut dalam penerbangan yang sama.
Aiyla terkejut dengan ucapan lelaki diseberang sana, bagaimana mungkin ia melakukan pekerjaan yang sama dengan Ergin.
"Apa yang ingin kau lakukan disana? "
Rasa penasaran membuat Aiyla langsung bertanya pada lelaki itu. Dengan santai pula lelaki itu menjawab dengan candaaan
"Apa yang ku lakukan disana? Tentunya aku ingin menjaga istri ku dari mata lelaki yang ada disana!!!"
__ADS_1
Ucap Ergin dengan tawa kecil mengeluarkan suara dari mulutnya. Kemudian mengakhiri panggilan keluar yang dilakukan Aiyla, terdengar sebuah kecupan mesrah dari mulut lelaki itu.
Mendengar perkataan dari suaminya itu membuat Aiyla benar-benar tak dapat berkata apapun lagi.
Aiyla langsung meminta sopir pribadinya untuk mengantar kembali kerumah. Sebelum itu menelpon Fusun untuk menyiapkan beberapa helai pakaian kantor dan pakaian sehari-hari yang akan digunakan disana selama dua hari.
Deru mobil telah membawanya sampai didepan rumah dan Aiyla segera masuk kedalam rumah.
Langsung menuju kamar pribadinya guna mengecek barang bawaanya. Ternyata Ergin telah menyiapkan pakaian dirinya dan ia didalam satu bag besar.
"Selamat datang sayang... Aku telah menyiapkan keperluan kita selama dua hari disana nantinya."
Dengan tatapan penuh tanda tanya Aiyla menatap sendu lelaki dihadapannya itu. Kelihatan sekali Ergin tak ingin melepas Aiyla pergi berdua dengan sahabatnya itu.
"Apa kau cemburu sayang? Jika aku pergi berdua saja dengan Murad? "
Tanya Aiyla langsung pada Ergin tanpa basa basi. Tak ada jawaban dari lelaki itu, Ergin malah mendekatkan wajahnya dan terasa hembusan nafas lelaki tersebut diwajahnya.
Sebuah sentuhan lembut tepat dibibirnya tanpa ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya. Membuat Aiyla tak dapat meneruskan perkataanya.
Begitu bergairahnya Ergin menikmati sentuhan dibibir dan mendapatkan reaksi balasan dari wanita yang sekarang telah menjadi istrinya itu.
"Kau tahu sayang, bibir mu ini sangat menggoda ku. Jadi berhentilah berbicara...."
Ungkap Ergin setelah melepaskan ciumannya karena merasakan Aiyla kehabisan nafas.
Dengan menggunakan pakaian yang lebih santai lelaki itu meraih tangan Aiyla berjalan memasuki bandara.
Terlihat Murad telah berdiri tak jauh dari mereka. Ada gurat kecewa diparas wajahnya setelah melihat Ergin dengan mesrah menggenggam tangan Aiyla.
"Aku tahu... Kau memang tak akan membiarkan istrimu pergi bersama ku!!!"
Umpat kesal dirinya setelah melihat mereka berdua berjalan menuju kearahnya dan semakin mendekat.
"Kau memang begitu cantik dan menggoda Aiyla, Aku penasaran mengapa kau lebih memilih Ergin dari pada diriku!!! "
Batin Murad dengan terus menatap Aiyla tak lepas dari pandangan mata lelaki itu. Akhinya mereka berdua telah tepat didepan matanya.
"Hai... Ergin... Sepertinya kita akan menuggu jadwal penerbangan itu sebentar lagi." Sapa Murad dengan mudah mengubah rasa kesalnya dengan begiru ramah.
__ADS_1
Tidak ada satu katapun yang keluar setelah itu untuk sekedar menanyakan mengapa sahabatnya itu ikut perjalanan bisnis istrinya.